Madame Sari Restaurant

Super late post dikarenakan hilang mood, laptop rusak *ini laptop pas banget deh bertingkahnya… pas galau sedih kangen numpuk jadi satu, eh dia isdet. Tapi yagapapa juga sih, secara Mr. Engineer juga gatau sedang apa dimana dengan siapa*, pleuuuss cuti seminggu. Alhasil utang postingan banyak banget deh. Dan karenanya mohon maaf yang sebesar-besarnya kalo gak bisa menyertakan informasi harga sebagaimana biasanya. Kayaknya sih bill pembeliannya udah raib ditelan entah-apa :mrgreen:

Agak lupa apakah tempat menyanyah gw dan Neng Erma kali ini masuk ke dalam waiting list tempat main kami atau gak, tapi kayaknya sih gak. Tempat kali ini dipilih hanya karena gw pernah makan di sini bareng orang kantor trus iseng aja pengen ngajakin Neng Erma nyoba makanan di sini.

Setau gw, awalnya tempat ini dikenal sebagai pusat oleh-oleh khas bandung, terutama pisang bolen kejunya yang terkenal banget itu. Entah sejak kapan dibuka juga semacam café didalamnya.
Kalo ada yang nebak Kartika Sari, bener banget.
Kali ini gw dan Neng Erma memang memilih mencoba sedikit dari yang ditawarkan di Madame Sari Restaurant di daerah Dago.

Pilihan makanan dan minuman yang ditawarkan sih gak terlalu banyak. Papan menunya bilang kalo mereka menyediakan makanan tradisional Indonesia dan western food. Tapi kenapa Pho, mie khas Vietnam, masuk ke dalam daftar masakan tradisional Indonesia?

Sambil menunggu pesanan kami datang, gw berkeliling melihat-lihat. Selain menjual oleh-oleh khas bandung, ada juga beberapa tenant yang menawarkan apparel things seperti pakaian dengan motif batik yang lucu-lucu hingga alas kaki merek crocs dan melissa dan fitflop yang diaku sebagai barang original tapi rejected karena gak lolos fit and proper test produksi.
Saat kembali ke meja, ternyata pesanan kami sudah datang dan… sudah disantap oleh Neng Erma yang saat itu terkena penyakit akut berjenis LAPAR *capslock kepencet*
Sebelum tata letak dan kecantikan hidangan berubah drastis, gw segera menyambar kamera dan jepret sana-sini, kemudian ikut berjibaku menghabiskan makanan.

Kartika Sari

Hmm.
Fettucine Carbonara yang gw pesan sungguh creamy. Rasanya tidak luar biasa, tapi cukup pas, dan yang jelas itu tadi, creamy banget. Sementara Spaghetti Tuna yang Neng Erma santap juga berkesan biasa, tuna yang dijadikan campuran kami curigai sebagai tuna kalengan. Untuk cemilan dimakan berdua *gw dan Neng Erma emang romantis. Tapi antara romantis dan medit itu kadang bedanya tipis :lol:* kami memilih Potato with Cream Cheese or something with name sounds alike lah…
Agak kaget melihat tampilannya. Kirain kan kentang goreng yang disajikan dengan saus keju, ternyata kentang dipotong balok dan dipanggang bersama suspect krim keju. Jadi kayak mashed potato versi tidak lumat. Catat ya, lain kali kalo namanya itu pake ‘potato’ dan bukannya ‘french fries’, ya yang begitu itu yang keluar. Barangkali. Yamaap, sini bukan culinary expert, cuma melupakan kesedihan aja melalui makan-makan :mrgreen:
Gimana dengan minumannya?
Kan, saking udah lamanya acara memamah ini dilakukan, gw bener-bener lupa gw minum apa dan Neng Erma menyeruput apa. Yang pasti sih gw memesan jenis kopi-kopian atau yang sebangsanya karena gw hampir selalu memesan kopi-kopian dimanapun gw berada *kecuali saat gw ke Malaysia, gw akan memesan ais milo at the time*
Sementara Neng Erma memesan sesuatu berbau jeruk-jerukan dan dikomentari oleh yang bersangkutan sebagai, “rasanya kayak inzana.”
Yang gak tau apa itu inzana, pasti bukan angkatan tua :lol:

Put aside urusan makan-memakan, dibelakang gw duduk sebuah keluarga terdiri dari kakek nenek ayah ibu dan anak-anak mereka. Melalui ujung mata, gw dan Neng Erma noticed satu hal, anak kecil laki-laki yang duduk di belakang kami memiliki tampang bule, sementara anak perempuan dan anggota keluarga lainnya berwajah Indonesia pada umumnya. Pertanyaannya, kenapa anak itu lain dari yang lain?
Karena baik gw maupun Neng Erma termasuk ke dalam golongan orang-orang kepo, mulailah kami membuka percakapan dengan anak perempuan yang untungnya sangat talkative, sangat informatif, dan yang jelas, ramah dan gak malu-malu sama ‘orang asing’.
Ternyata, mereka sekeluarga mengikuti sang ayah yang sedang menuntut ilmu bedah tulang sekaligus bertugas di rumah sakit hasan sadikin. Tanah asal mereka ada di pulau seberang, di tanah Riau di semenanjung Sumatera. Pantas saja logat mereka sangat kental rasa melayunya.
“Pekanbaru lebih bersih daripada Bandung. Bandung kotor, sampah di mana-mana,” kata si gadis kecil berusia 5 tahun penggemar Hello Kitty tersebut. Dia memperlihatkan dua buah cincin hello kitty yang dia kenakan. Namanya Nasywa. Dan pada suatu titik, Nasywa bertanya,

“Tante, Tante udah nikah atau belum?”

Gw dan Neng Erma serta merta mengambil gitar dan bernyanyi, “anak sekecil ituuu…”
Kamu kok kepo sih deeeeekkk??? Satu turunan sama kakak-kakak yaaa??? *geplak*

Dan misteri kenapa adiknya Nasywa berwajah bule remains secret.

Kembali ke si Madame Sari, dugaan gw sih kenapa mereka melakukan ekspansi ke bidang usaha café adalah untuk menjaring pasar yang semakin luas. Di Kartika Sari sendiri kan selain pusat oleh-oleh, sekarang juga ada konter tiket Air Asia. Jadi kayaknya pas banget kalo ada turis mampir cari oleh-oleh terus melipir cari makan. Boleh juga idenya.

2 thoughts on “Madame Sari Restaurant

  1. Assalamualaykum. Bow hp gw ilang. I lost ur no. Kontak gw donk lwt whatsap. No gw msh sama. Kangen!

    • Wa’alaykumussalam. Eh? Di amrik ada maling juga toh? *yamenurutngana*
      Oke bok ntar gw kontak yeee in syaa Allaah :D

      Btw bo’e, i miss your writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s