Ketemu Teman Sekampung di Chinatown

November 2nd, 2011: First Day in Singapore

Oke, mari kita lanjutkan cerita tentang kegalauan saya di Singapur.

Setelah lumayan nyasar di Changi, norak dan terkagum-kagum dengan kecanggihannya, sedikit kaget dengan ketidakramahan petugas-petugas di Terminal 1 Kedatangan, ngisi EZ Link hasil dipinjemin orang kantor, akhirnya saya mencicipi naik SMRT untuk pertama kalinya. Bersih dan teratur, mirip dengan subway-nya Korea dengan sistem yang lebih mirip dengan Metro-nya Paris.


Foto ini diambil hari Senin, 7 November 2011, dalam perjalanan ke Bugis Street, oleh Saodah dan Markonah *bukan nama sebenarnya* teman sesama Indonesia yang kebetulan sekamar sama saya dan kebetulan juga, bekerja di sesama bank plat merah saingan tempat saya bekerja😆

Di dalam SMRT yang mengantarkan saya dari terminal 2 Changi ke interchange Tanah Merah, saya menyadari bahwa di subway yang saya naiki itu ada lebih banyak turis daripada Singaporean itu sendiri. Ya iya lah ya… namanya juga SMRT yang mengantarkan kita dari bandara menuju downtown. Dan, selama itu pula saya selalu mendengar bahasa Indonesia. Saya memperhatikan rombongan turis asal tanah air yang sibuk berfoto di dalam SMRT. Ramai, narsis. Khas turis.

Turun di stasiun Tanah Merah, saya menyambung East West Line SMRT tujuan Joo Koon, transfer di stasiun Outram Park dan kembali naik SMRT. Kali ini naik yang North East Line tujuan Punggol, dan turun di stasiun Chinatown.
Sesuai dengan petunjuk dari website Pillows & Toast, hostel yang saya pilih sebagai tempat tinggal selama enam malam di Singapura, saya pun keluar stasiun melalui Exit A.
Begitu keluar stasiun, ternyata saya berada di Pagoda Street, disambut oleh warna-warni ceria khas Chinatown dan ramainya para penjual souvenir di sepanjang jalan tersebut. Tampaknya isi Chinatown itu memang gak jauh-jauh dari hostel, pedagang souvenir, dan pedagang makanan termasuk babi dan antek-anteknya.

Dan, melihat kemeriahan itu, saya jatuh cinta seketika dengan Chinatown. Sukaaaaa banget sama Chinatown!!!

The lights, the roads, the buildings, the crowded. All those colorful and cheerful things that boost your mood.
Spend 3 or 4 hours to have a pleasant walking tour on its streets; Mosque Street, Pagoda Street, Smith Street, Temple Street, Trengganu Street, and Sago Street, termasuk 40 minutes-guided tour at Chinatown Heritage Centre, and you may end up on bargaining some cheap and cute and attractive souvenirs for your beloved ones. No need to go to Mustafa Centre! You can get 30 keychains for SGD 10, 3 pashmina shawls for SGD 10, 7 magnets for SGD 10… or anything else you want.
Oh and… for you TINTIN lovers, grab your Captain Haddock action figure and Milo doll at TINTIN SHOP. I didn’t buy anything there. It’s just too expensive for me😆

By the way, sekilas mengenai Chinatown, bagi yang menyukai wisata sejarah bisa dicoba mampir ke Chinatown Heritage Centre. Segera setelah saya menyelesaikan urusan hostel, saya kembali berpetualang di Chinatown dan karena saat itu hujan rintik-rintik, saya memutuskan untuk masuk ke Chinatown Heritage Centre itu.
Saya beruntung sekali, tepat ketika saya sampai di Chinatown Heritage Centre yang berdiri nyelip di belantara Pagoda Street, tur gratis berbahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang perempuan India Keling baru saja dimulai. Kita tidak diizinkan mencatat apap-apa yang ia jelaskan dengan alasan copyright, tapi saya masih ingat beberapa penjelasannya mengenai kehidupan masyarakat Cina tempo dulu di Singapura, seperti 4 evils for the Chinese adalah alcohol, opium, judi, dan seks.
Saya pikir, diorama Chinatown Heritage Centre ini menakjubkan. Mereka menampilkan segala sesuatunya persis seperti aslinya. Seolah-olah kita memang sedang berada di rumah keluarga Cina miskin yang hidup berdesak-desakkan dalam satu atap, awal dari kehidupan mereka di Singapura ketika mereka baru saja sampai dari daratan Cina setelah mengarungi lautan ganas.

Setelah menikmati kilas sejarah di Chinatown Heritage Centre, saya kembali berjalan. Kali ini ke daerah Ann Siang Hill yang penuh dengan gedung cantik dan kontur jalan yang cenderung menanjak. Berlanjut ke daerah Tanjung Pagar Road, sekitar pukul enam sore saya memutuskan untuk mendatangi Sri Mariamman Temple untuk melihat upacara keagamaan para pendeta Hindu di sana.
Tidak lama kemudian, saya beranjak ke Jamae (Chulia) Mosque yang terletak bersisian dengan kuil tersebut, hanya dipisahkan oleh Pagoda Street. Saya beruntung, lagi-lagi, masjid ini terletak hanya dua menit berjalan kaki dari hostel tempat saya menginap. Dan di masjid inilah, seperti yang telah saya ceritakan di post sebelumnya, saya bertemu dengan rombongan ibu-ibu asal Indonesia yang mengajak saya bergabung untuk makan malam bersama mereka.

Expenses sejak mendarat di Changi:
– Top Up EZ Link *dipinjemin orang kantor* SGD 10
– Air mineral SGD 1
– Tiket masuk Chinatown Heritage Centre SGD 10
– Makan sore di Maxwell Hawker Centre SGD 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s