Singapore For The First Time

Sedikit *eh? iya gitu sedikit?😆 * cerita ketika saya menggalau sendirian di negeri seberang.

Semuanya berawal ketika setahun yang lalu saya dan seorang sahabat dengan semangat tinggi memesan tiket promo Air Asia tujuan Jakarta – Singapura. Saat itu tak pernah terbersit dalam pikiran bahwa salah satu dari kami akan menikah dalam waktu dekat atau dimutasi ke luar daerah. Maka kami mengambil keputusan untuk menikmati cuti pertama kami dengan berjalan-jalan ke Singapura.

Kenapa ke Singapura?

Sebagian orang mungkin akan menduga, orang Indonesia kalau keluar negeri, negara tujuan pertama yang dikunjungi pasti Singapura. Selain karena memang negara tetangga yang mudah dicapai lewat berbagai tiket promo pesawat yang menjamur tahun-tahun belakangan ini atau lewat jalur lain yang sama familiarnya, mungkin juga karena Singapura terkenal sebagai surga belanja, dan bagi seorang backpacker pemula, Singapura adalah negara yang ramah bagi orang asing bahkan bagi yang baru pertama kali menjejakkan kaki di sana.

Tetapi sesungguhnya tidak.

Ini bukan kali pertama kami melakukan perjalanan keluar negeri. Jadi, kenapa kami memilih Singapura, tentu karena ada sesuatu yang menarik hati di sana. Sahabat saya itu sudah pernah mengunjungi negara tersebut, dan Singapura tidak pernah masuk ke dalam must-visit-place-before-you-die dalam list pribadi saya.

Ada alasan lain dibalik kedekatan jarak dan gemerlapnya belanja.

Maka rencana pun disusun. Penginapan dipesan. Itinerary dimatangkan. Hati dimantapkan. Tabungan direlakan *ini yang paling berat, sebenarnya😆 *
Segala sesuatunya direncanakan sebaik dan sedetail mungkin.

Sampai suatu ketika, sahabat saya yang baru saja kembali dari kampung halamannya di Sumatera sana menelpon saya dan berkata-kata gembira.

Booo… kayaknya gw gak bisa pergi bareng lo, deh… rencananya gw mo nikah nih dua bulan lagi…

Eh?
Rasanya pingin nelen gunting.

Dia bertemu pangeran impiannya dan mantap untuk menikah. Saya terbengong-bengong dibuatnya. Lalu bagaimana dengan rencana perjalanan kami??? *lempar golok ke Qatar*

Dia menegaskan dan dengan menyesal menyatakan bahwa tak mungkin baginya untuk pergi bersama saya setelah menikah. Dia akan mengikuti suaminya bertugas di Qatar.

Tapi tiket sudah ditangan. Semuanya hanya tinggal dijalankan; menunggu waktu eksekusi. Maka saya menguatkan tekad dan memberanikan diri untuk pergi sendiri. Saya ingin tahu seperti apa Singapura; benarkah negara itu memiliki magnet yang mengundang orang untuk kembali datang menyambanginya *soalnya kalo magnet buat saya sih udah jelas emang ada di sana:mrgreen: *

Jujur saya agak takut pada awalnya. Nyali saya tidak cukup besar untuk menaklukkan negeri seaman Singapura. Memang saya penakut. Hehehe. Apalagi saya akan tinggal di sana untuk waktu yang tidak cukup wajar bagi orang-orang yang biasanya bergelar turis. Jika biasanya orang-orang mungkin tinggal untuk waktu dua hingga tiga malam di Singapura, maka saya mencoba untuk tinggal selama enam malam di sana. Saya yakin pasti banyak hal yang bisa dieksplorasi dari sekedar surga belanjanya *lempar poni* *belagu*

Selasa dini hari pada 2 November saya terbangun dan mempersiapkan diri.

Meluncur menuju Soekarno-Hatta, menjalankan ibadah shalat subuh di bandara, masuk melalui entrance 2D di terminal 2, membayar airport tax, pemeriksaan imigrasi, akhirnya saya lepas landas dengan maskapai milik Malaysia dimana salah satu pramugaranya seolah-olah melapisi wajahnya dengan dandanan gothic ala boyband Korea.

Sembilan puluh menit perjalanan ditempuh, dan pukul 9:30 SGT saya sudah mendarat di Changi Airport.

Sendirian, menyeret-nyeret koper menuju downtown Singapura, akhirnya saya berhasil sampai di Chinatown, tempat hostel pilihan saya berada.

Hari pertama di Singapura sungguh tidak buruk. Ketika saya menunaikan shalat maghrib di masjid dekat hostel setelah selesai mengelilingi Chinatown, saya bertemu dengan empat orang ibu asal Indonesia. Awalnya ya seperti biasa, karena sifat saya yang sok kenal dan sok akrab, saya memberanikan diri menyapa mereka.
Tidak pernah saya menyesali sapa saya itu. Karena dunia sungguh sempit! Satu diantara mereka ternyata orang tua rekan kerja saya di unit terdahulu. Dengan ramah mereka mengajak saya berjalan-jalan bersama mereka.

Maka malam itu saya menjadi bagian dari ibu-ibu tersebut. Menikmati makan malam gratis di kawasan Kampong Glam. Menyantap nasi biryani dan martabak dengan saus kari yang nikmat tepat dibelakang Sultan Mosque di Jalan Pinang, sekitar 10 menit berjalan dari Bugis MRT.

Alhamdulillaah.

Expenses:
– Tiket AirAsia pp IDR 324.000
– Taksi dari rumah ke Soetta IDR 158.000
– Airport tax IDR 150.000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s