Enjoying the Garden and the Museum

Masih cerita tentang hari kedua saya di Singapura.
Seperti yang telah saya gambarkan dalam post sebelum ini, tempat pertama yang saya kunjungi adalah kampus besar di ujung negeri. Sejujurnya yaaa… waktu dalam perjalanan ke sana sih masih tenang-tenang aja. Tapi ketika sampai di tempat eksekusi #eaaa ya deg-deg-annya semakin meningkat dong ah. Terutama setelah melihat betapa sepinya kampus itu! Ini orang-orangnya pada ke mana sih???
Jadinya ya gitu deh… jadi heart-bumping momen seperti yang udah saya bilang.
Tampang sih boleh aja ya rada-rada nyaru sama mahasiswa chinese, tapi kan gak ada mahasiswa yang nyasar di kampusnya sendiri? yang celingukan gak jelas kayak saya kan gak ada juga?
Mana gak ada pohon-pohon besar yang bisa dipake sebagai tempat melilitkan selendang sembunyi dibalik dedaunan tiba-tiba kalo misalnya saya ke-gap. Semak belukar juga gak ada. Tempatnya tuh yang bener-bener bagus untuk mengumpankan diri sendiri buat diguyur seember air bekas percobaan kimia dari atas gedung😆

Nah, karena saya udah lumayan memperkirakan hal-hal tersebut, maka di itinerary yang saya buat saya merencanakan akan main-main ke Chinese Garden yang memang gak jauh dari kampus ituh. Jadi, tidak lama setelah saya mencapai Pioneer MRT station, beberapa menit kemudian saya udah sampe di Chinese Garden. Untuk mencapai tempat ini ya tinggal turun di stasiun MRT yang bernama sama ya. Chinese Garden station. Yang sekilas tampilannya agak mirip dengan stasiun subway Gyeongbokgung di Korea.

Alhamdulillaah cuaca saat itu cerah. Langitnya lagi lumayan cantik walaupun kering karena Singapura yang kayaknya gak punya angin. Senangnya menghabiskan waktu sekitar 1 1/2 hingga 2 jam menikmati taman cantik ala Tiongkok kuno yang juga dihiasi patung-patung para tokoh dalam sejarah Cina. Ada banyak tokoh, tapi saya cuma bisa ingat Confucius, Cheng He, Guan Yu, dan Mulan. Iya, Mulan yang ada film-nya itu lho, yang cewek menyamar jadi cowok demi membebaskan ayahandanya dari kewajiban wajib militer. Jadi kepingin browsing soal Mulan deh…
Ketika arloji menunjukkan pukul 1, saya yang saat itu sedang mampir membeli sebotol minuman bertanya pada nci-nci penjaga toko:

Saya: “Nci, di taman ini ada mushala gak? Yang buat sembahyang itu loh”
Nci: “Oh, kalo mau sembahyang sih kamu naik aja ke lantai 5 pagoda yang itu” *sambil nunjuk pagoda yang paling dekat dengan pintu masuk*
Saya: “Eh?”
Nci: “Kalo akhir pekan banyak orang Filipin datang dan berdoa di sana”

Eh?😆

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke hostel. Selain untuk shalat di Masjid Jamae, juga karena saya perlu re-charge batere kamera. Selesai urusan di hostel dan masjid, saya melanjutkan perjalanan mengunjungi National Museum of Singapore. Lagi-lagi, mereka punya museum yang mengagumkan. Singapore Living Gallery-nya menjelaskan kehidupan Singapura sejak zaman prasejarah hingga kini. Kalau kita mau mendengarkan seluruh penjelasan diorama yang ada, rasanya gak cukup waktu dua jam. Banyak yang saya skip di sini, tapi saya ingat cukup jelas sedikit cuplikan speech-nya Lee Kuan Yew, Bapak Singapura Modern, saat dia melakukan kampanye pemilu sekitar tahun 60-an yang memang saya dengarkan dengan seksama *belagu* atau cerita tentang kaum berpendidikan pada awal 1920 atau 1930-an. Pada masa itu mulai bermunculan asosiasi kaum elit yang rata-rata berprofesi sebagai lawyer atau dokter, yang sayangnya *menurut saya* asosiasi itu masih berdasarkan suku. Misalnya, asosiasi para lawyer dan dokter keturunan chinese, atau india keling, atau arab, atau melayu. Dan sepertinya, pengelompokan berdasarkan ras ini masih bertahan di Singapura hingga sekarang.
Pada zaman itu, para perempuan akhirnya mulai mengenyam pendidikan formal di sekolah-sekolah khusus perempuan, dan tidak lagi hanya diajarkan ketrampilan kewanitaan seperti menjahit, tapi juga pengetahuan lain seperti bahasa dan berhitung.

National Museum of Singapore
“Kita tidak bisa berpikir hanya untuk saat ini. Kita harus berpikir bagaimana lima, sepuluh tahun ke depan. Kalau tidak, kita hanya akan jadi bangsa kuli, negara kita akan hancur, bangsa kita akan tenggelam. kita hanya jadi supir taksi. Semuanya. Hanya jadi pasar dari negara-negara maju.”

Expenses:
– Donat dan roti *ini makan siang sekaligus makan malam saya* di toko roti di Pioneer MRT station SGD 2.40
– Air mineral di Chinese Garden SGD 1.50
– Tiket National Museum of Singapore SGD 11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s