A Brief on Asian Civilisations Museum

Masih cerita tentang hari keempat saya di Singapura. Salah satu cara menyejukkan diri setelah dipanggang teriknya matahari Singapur adalah dengan memasuki museum-museumnya. Setelah mengunjungi National Museum of Singapore dua hari sebelumnya, sekarang saatnya kita menikmati Asian Civilisations Museum.
Saya membeli semacam tiket terusan seharga SGD 10 untuk masuk ke dua museum sekaligus: Asian Civilisations Museum dan Peranakan Museum. Keduanya berlokasi dalam walking distance dan tiket terusan itu bisa digunakan dalam rentang waktu tujuh hari.

Asian Civilisation Museum ini juga terletak dekat dengan One Fullerton, jadi setelah narsis didepan si patung, saya tinggal jalan aja beberapa menit terus nyampe deh. Di sekitar museum ini terdapat pula Dalhouse Obelisk dan patung Raffles yang menandakan tempat mendaratnya Tuan asal Inggris itu di Singapura. Sayangnya saat itu patung Raffles ditutupi seng, mungkin sedang direnovasi ya… saya kurang tau juga.

Asian Civilisations Museum terdiri dari empat lantai yaitu Basement, level 1, level 2, dan level 3. Terdapat delapan galeri yang tersebar di tiga lantai tersebut, mulai dari Singapore River Gallery, Introductory Gallery, Southeast Asia Gallery, Southeast Asia (Mary & Philbert Chin) Gallery, West Asia/Islamic Gallery, dan China Gallery. Southeast Asia menempati jumlah galeri paling banyak yaitu empat galeri. Sama seperti Chinatown Heritage Centre dan National Museum of Singapore, museum inipun memiliki diorama yang menarik. Sejujurnya saya agak miris melihat koleksi mereka terutama dibagian Batak, Jawa, dan Dayak, bahkan lengkap dengan koleksi gamelan dan tampilan rumah khas Tana Toraja, yang notabene adalah bagian dari tanah air beta tercinta Indonesia tapi Singapur lebih bisa menampilkannya dengan menarik dan komprehensif. Pada bagian West Asia/Islamic Gallery mereka bahkan memperdengarkan azan dan lantunan beberapa ayat suci Al-Quran. Keren deh pokoknya…

Walaupun saya belum bisa menjadi penikmat museum yang baik sepenuhnya, dalam arti benar-benar membaca seluruh penjelasan dari koleksi-koleksi yang ada, tapi I tried to note some light and interesting facts of some galleries.

From Singapore River gallery we may know that the original inhabitants of the island was the Orang Laut. Yet, by the end of 19th century, the Orang Laut was no longer an existing term because of pressures of commercial development.

Of the Southeast Asia gallery, I just knew that flooding of the Sunda shelf nearly 10.000 years ago created island South East Asia.

And China gallery told us the person who established the Qin empire and also standardised systems of writing and measurement was Ying Zeng (221 – 206 BC).

Sungguh deh, sebenarnya waktu 2 jam gak akan cukup untuk menyerap seluruh informasi yang disajikan di museum ini😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s