Orissa di Museum Peranakan

Suatu ketika saya baru saja menunaikan shalat di Masjid Jamae, seorang perempuan setengah baya bertanya pada saya.

“Orissa?”

Saya, tidak mengerti apa yang dia maksud dengan ‘Orissa’, menggeleng pelan sambil bertanya-tanya dalam hati, apa itu ‘Orissa’.

Jawabannya saya temukan ketika saya mengunjungi Peranakan Museum beberapa hari sesudahnya.

Peranakan Museum terletak di suatu jalan yang tidak terlalu ramai, Armenian Street, sekitar 15 menit berjalan kaki dari Asian Civilisations Museum. Dulunya museum ini adalah Tao Nan Chinese School yang dibangun tahun 1912. Seingat saya, museum ini terbagi atas tiga lantai dengan sembilan galeri yang tersebar didalamnya. Museum ini mungil dan cantik dengan warna-warna yang sangat girlie. Baby pink, baby blue, purple, cream. Tampilannya lebih santai, tidak seserius dua museum yang saya kunjungi sebelumnya. Tak salah memang, dioramanya pun dibuat lebih atraktif. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah ada salah satu galeri yang khusus menyajikan bagaimana para Nonya kaum peranakan dahulu bercakap-cakap.
Apanya yang menarik?
Cara pengelola museum menyampaikannya pada pengunjung.
Jadi kalau mau tau gimana sih para Nonya itu nge-gosip, kita tinggal angkat gagang telepon model kuno, seolah-olah kita sedang menelpon dan bicara dengan mereka, trus kedengeran deh mereka ngomongin apa aja.
Selain cara unik seperti itu, tentu masih ada cara yang lazim seperti mendengarkan penjelasan melalui headphone.

Lalu, apa yang dimaksud dengan Peranakan?
Saya yakin deh, secara umum pasti udah pada tau ya Peranakan itu berarti para keturunan orang lokal dan pendatang. Tapi mungkin belum banyak yang tau kalo istilah Peranakan itu gak hanya untuk mereka yang mixed lokal dan Cina, tapi juga diperuntukkan untuk keturunan campuran lainnya🙂
Misalnya, kalo catatan saya gak salah, ada yang peranakan Indians, disebutnya the Chitty Melaka. Ada juga the Jawi Peranakan atau Jai Pekan yang merupakan peranakan muslim pedagang asal India Selatan dan perempuan lokal. Di Filipina ada yang namanya Tsinoys yang merupakan campuran Cina dan Filipina atau Cina dan Hispanik.

Pernah dengar kata ‘Chulia’?
Nah, Chulia itu muslim India Tamil dari pesisir Koromandel, daerah India Tenggara, tempat dimana Kerajaan Chola berpusat. Chulia dikenal juga sebagai Klings *mungkin ini yang mendasari mereka disebut sebagai India Keling alias India Hitam?*
Klings diambil dari nama kerajaan India kuno, Kalinga, yang dalam terminologi Melayu disebut juga Orissa. Dengan kata lain, Orissa adalah cara Melayu menyebut kaum India Tamil.

Eh??? Jadi maksud ibu-ibu yang menyapa saya di masjid itu, saya itu keturunan India Tamil???😮
Dari mananyaaaaa??? Udah jelas mata sipit kulit putih begini sih… kok bisa-bisanya dibilang Orissa. Kalo dituduh sebagai cina peranakan sih masuk akal lah ya, dari dulu jaman masih bayi juga selalu disangka begitu😆😆

Btw, dari tadi saya nulisnya ‘Nonya’ ya?
Yup, begitulah rupanya para perempuan peranakan disebut.

Seperti biasa, saya menyempatkan diri mencatat hal-hal ringan yang menarik dari museum ini. Misalnya, saat berlangsungnya pesta perkawinan peranakan, tamu undangan yang disukai adalah perempuan bersuami yang suaminya masih hidup dan memiliki banyak anak laki-laki karena dipercaya membawa energi positif dan keberuntungan bagi mempelai.
Anak laki-laki peranakan diharapkan untuk menjadi dokter atau lawyer atau pedagang yang sukses *jaman dulu belom ada pesawat ya cuy…😆 *
Sementara anak perempuan harus bisa memasak, menjahit, bordir, dan kerajinan tangan jenis apapun karena dari hal-hal itulah dia akan dinilai sebagai calon menantu yang baik. Semakin rumit hasil kerjanya, semakin tinggi nilainya dihadapan calon mertua. Bahkan, hiasan-hiasan yang mempercantik rumah semuanya adalah hasil kerja Nonya rumah. Gak kebayang kalo akika hidup di jaman itu ya… bisa-bisa gak ada yang mau ngambil akika jadi menantu. Gambar komik gak bisa bikin rumah jadi cantik, brur…:mrgreen:

Terus, soal makanan. Makanan pun udah di plot buat masing-masing acara loh. Makanan untuk pernikahan dan pesta-pesta adalah ayam buah kluwak dan ee pio (fish maw) soup alias sup perut ikan. Terus untuk social gatherings dan acara wiken biasanya dihidangkan mee siam dan laksa. Sementara untuk acara seserahan pernikahan selalu ada paha babi. Dan makanan-makanan itu disajikan di piring-piring porselen yang cantik dengan warna-warna menarik hati.

Selanjutnya ngomongin soal kematian dalam budaya peranakan. Mengamati informasi yang tertera, saya jadi berpikir, budaya tiga atau tujuh hari yang biasanya kita pakai saat ada yang meninggal, mungkinkah sebenarnya merupakan budaya peranakan yang diadaptasi dari budaya leluhur Cina?
Karena seperti itulah budaya peranakan.
Saat ada yang meninggal, selama tujuh hari itu para tetangga dan sanak saudara akan datang ke rumah duka dan memberi uang dalam amplop putih, disebut juga pek kim. Uangnya harus berjumlah ganjil, karena kalau jumlahnya genap biasanya untuk event kebahagiaan. Nah, sebagai balasannya para tamu akan disuguhi teh, kopi, permen atau makanan-makanan manis, dan kacang-kacangan.

Khusus untuk menantu perempuan yang sedang berkabung, berkabung pun ada masanya lho… jadi masa berkabung itu adalah 3 tahun, khusus untuk menantu perempuan ada masa tambahan 4 bulan. Gak ngerti juga kenapa begitu. Baju berkabung juga ada aturannya. Ketika almarhum baru saja meninggal, mereka yang berduka harus pake baju dari karung, kemudian meningkat jadi pake baju dari bahan kain biasa warna hitam, lalu hitam kebiruan *agak abu-abu gitu deh seinget saya*, terus biru kehijauan, nah pas akhir masa berkabung baru deh pake warna hijau. Pada akhir masa berkabung juga mulai diperbolehkan untuk pake baju atau kebaya peranakan dengan motif kuning atau ungu dengan latar hijau. Alas kaki pun turut disesuaikan ya… mulai dari yang paling sederhana yang terbuat dari karung juga, sampe model selop yang penuh dengan hiasan bordir rumit di akhir masa berkabung.

Ada satu hal yang menarik perhatian nih, dan bikin miris juga sebenarnya.
Sesuai dengan namanya, museum peranakan pastinya menampilkan pula busana-busana para Nonya yang identik dengan kebaya encim ya. Saya perhatikan, dari kebaya-kebaya yang dipamerkan, semuanya dijahit dan dibordir di Indonesia lho. Hmm kan… lagi-lagi kita yang mengerjakan tapi orang lain yang menuai hasil. Apa yang salah dengan Indonesia sih???

Oh, baiklah… museum peranakan ini memang menarik dan worth to visit, menurut saya. Dan satu lagi yang saya catat, setelah mengamati foto-foto para peranakan yang dipajang di galeri perkenalan, kayaknya kalo Cina ketemu Melayu yang menang gen Cina ya… lalu Cina sama India jelas yang menang ya gen India. Terus kalo Cina ketemu Arab kayaknya hasilnya agak-agak bule. Uhm tapi yang terakhir ini melihat dari dua pengalaman di sekitar saya sih…:mrgreen:

Yang jelas, sejauh yang saya amati, yang namanya mixed itu biasanya hasilnya bagus. Mari semangat yuk!
*maksud lo???*😆

Expenses:
– Singapore Flyer SGD 29.50
– Skypark at Marina Bay Sands SGD 20
– Asian Civilisations Museum & Peranakan Museum joint ticket SGD 10
– Diet Rootbeer SGD 1.20
– Double Cheeseburger McDonald SGD 2
– Milo McDonald SGD 2.35

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s