Sekejap Saja di Batam

Saya mengunjungi Batam pada pertengahan November lalu, hanya beberapa hari sejak kepulangan saya dari Singapur…

Batam di sore hari, dilihat dari lantai 9 Planet Holiday Hotel.

Batam at night, dikeker dari roof top hotel.

Dan pada siang hari jika cuaca cerah, kita bisa melihat Singapura dari kejauhan. Foto ini diambil dari lantai 8, ketika saya numpang tidur di kamar Michan, teman sesama legal ketika di retail risk dulu. Terlihatkah Marina Bay Sands di kejauhan?
Bagi saya yang baru pertama kali ke Batam, tentu pemandangan ini cukup menakjubkan. Betapa dekatnya! Tapi juga betapa jauhnya! Contradictory ironic kan?

Batam yang menjadi bagian dari Kepulauan Riau ini terkenal sebagai tempat belanja barang-barang branded dengan harga miring, entah itu original atau kualitas kelas ke sekian. Beberapa hal yang terkenal dari Batam adalah tas, parfum, coklat, dan sop ikan. Maka gak heran, beberapa hari sebelum saya menghadiri Forum Nasional Legal Officer di sana, beberapa rekan kerja sudah bersemangat menitipkan beberapa benda lengkap dengan spesifikasinya.
Dan mungkin, pemilihan Batam sebagai tempat diselenggarakannya forum juga karena hal ini, atau mungkin juga supaya selanjutnya bisa nyebrang ke Singapur. Sepertinya esensi Legal Forum jadi terlupakan. Beberapa bulan sebelum hari H, yang ramai diperbincangkan di milis legal adalah wisata Batam atau nyebrang sekalian😆

Kalau tujuannya memang ingin beli tas dan parfum branded dengan harga miring, gak salah kalo para perempuan yang jadi kaum minoritas dalam forum legal menjadi sangat kompak. Apalagi mereka yang berangkat dengan penerbangan pertama ke Batam memiliki banyak waktu luang yang dimanfaatkan untuk menjelajahi Nagoya, suatu kawasan bisnis di Batam. Satu toko bisa dimasuki hingga berkali-kali. Siang hari melihat sebuah tas di toko A, misalnya, lalu berpikir menimbang-nimbang mau beli atau tidak, kemudian membandingkan harga ke toko lain, setelah lama berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, akhirnya kembali lagi ke toko A, dan masih berpikir juga. Begitulah.
Saya, kebetulan, berangkat dengan penerbangan kedua dari Jakarta. Jadi, saya berangkat pagi dari Bandung, sampai jam 11.30 di Soekarno-Hatta, dan ketemuan sama Nyamuk, legal-nya Makassar. Pesawat baru take off jam dua, telat setengah jam dari jadwal, dan mendarat jam empat. Mungkin karena jam pulang kerja atau bubar pabrik, Batam agak macet sore itu, sehingga saya baru tiba di hotel sekitar jam 17.30 dan gak sempat ke mana-mana.

Kesempatan mencari oleh-oleh baru saya dapatkan keesokan harinya. Saat makan siang saya manfaatkan berburu coklat ke toko Anggrek Rasa di kawasan Nagoya, disebelahnya toko sop ikan yongki, bersama Nyamuk dan Becak, legal-nya Procurement and Fixed Asset, yang juga adik kelas saya ketika di FH. Hanya dalam waktu 15 menit kami sukses memindahkan berkotak-kotak coklat ke dalam dus besar dan kembali mengangkutnya ke hotel. Sementara malam harinya saya ngekor rombongan ibu-ibu yang heboh berburu tas dan parfum, masih di kawasan Nagoya, tepatnya di toko Gold Hill, Angel, Italy, dan Milan. Menurut informasi yang saya dapatkan hasil ngobrol-ngobrol sama supir taksi, Gold Hill menyediakan barang-barang branded yang original, tapi harganya memang lebih tinggi dibandingkan toko-toko lainnya.
Yang jelas, pengalaman saya keluar masuk toko selama dua hari memperlihatkan gaya pelayanan Batam kepada wisatawan. Entah memang seperti itu atau kebetulan toko yang saya datangi saja, tapi para pelayan toko yang notabene cina sama sekali tidak ramah. Mungkin karena mereka tau, tidak ramah pun pembeli pasti datang. Rombongan ibu-ibu ini, misalnya. Oh… tapi saya pulang dengan tangan hampa karena tidak berhasil menemukan titipan orang kantor:mrgreen:

Selain itu, Batam juga kota yang panas dengan tanah merahnya, dan serba mahal. Sop ikan dengan rasa yang biasa-biasa saja dihargai 50.000 rupiah. Tidak ada taksi yang menggunakan argo. Untuk jarak tempuh selama 5 menit dari Harbour Bay ke Planet Holiday mereka mematok harga 30.000 rupiah, itupun setelah kita tawar dari harga 40.000 rupiah yang mereka sodorkan. Dari Harbour Bay ke bandara Hang Nadim dipatok 80.000 rupiah. Taksi yang berafiliasi dengan hotel juga sama saja. Dari Planet Holiday ke kawasan Nagoya dipatok 80.000 rupiah per jam. Kalau kita menghabiskan waktu 3 jam berkeliling belanja-belanji, ya silakan mengeluarkan 240.000 rupiah. Padahal dari hotel ke Nagoya itu paling lama 10 menit.
Katanya, pernah ada taksi yang menggunakan argo. Namanya Silver Cab. Saya melihat iklannya ketika menunggu penyebrangan dari Harbour Front menuju Harbour Bay. Tapi kemudian taksi ber-argo itu didemo dan diboikot oleh taksi-taksi lain hingga akhirnya mereka pun hilang dari peredaran. Taksi non-argo sepertinya suatu hal yang legal di Batam. Buktinya, ada daftar harga taksi beserta jarak tempuhnya di bandara Hang Nadim.
Well tapi, semahal-mahalnya Batam, tetap saja tempat ini menjadi tempat favorit diadakannya berbagai macam acara, yang saya cukup yakin, untuk alasan belanja dan melanjutkan perjalanan plesir ke Singapura, yang Marina Bay Sands-nya tampak cukup jelas bahkan sebelum kita menaiki kapal cepat menuju Harbour Front. Orang Indonesia senang menyebrang, orang Singapur pun senang mengunjungi Batam. Kalau kita mungkin berbelanja ke Singapur demi alasan gengsi atau mengejar mode terbaru, Singaporean melipir ke Batam karena harga-harga di sana lebih murah daripada harga di negara mereka.

2 thoughts on “Sekejap Saja di Batam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s