A Hello. A Hi. Priceless Meaning

“Hun”
“Are you there?”

“I’m on meeting, Hun. W’sup?”

“Nothing. Just wanna ask how are you. Are you doing well?”

“Quite okay. How about you and your adorable little princess?”

“She’s doing fine. I love her so much. Don’t work too hard, hun. Please take care of yourself”

It was my conversation with Vy, my Vietnamese classmate, yesterday.
Adalah suatu hal yang biasa bagi kami, saya dan Vy – maksudnya, memanggil ‘honey’ satu sama lain. Sudah sejak di Korea dulu seperti itu dan tidak ada yang mempermasalahkan hingga kini karena siapapun tau bagaimana sebenarnya pertemanan saya dan Vy.

Tapi bukan itu yang ingin saya tulis saat ini.

It’s about friendship.
Suatu hal yang menyenangkan bukan, ada seorang teman lama yang bahkan kita tidak tau seperti apa rupanya sekarang, yang lama tak bersua, lama tak terdengar kabarnya, namun masih menyempatkan diri menyapa kita di tengah-tengah kesibukannya?
Walau hanya sekedar satu kata sederhana, satu kalimat pendek, tapi keinginannya mengetahui kabar kita sungguh tak ternilai harganya.
Beruntunglah saya yang masih punya teman seperti Vy, beruntunglah teman-teman yang punya teman seperti Vy. Ini mungkin yang sebenarnya jauh di mata tapi dekat di hati.

Saya pikir, adalah suatu hal yang menyedihkan bila ada orang yang menolak uluran silaturahim yang dipersembahkan kepadanya. Sungguh disayangkan bagi yang diminta, sungguh menyakitkan bagi yang meminta. Kenapa bisa ada orang yang menolak uluran pertemanan, apapun motifnya, ketika bagi beberapa orang menjalin persahabatan adalah hal yang sangat sulit dilakukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s