To Become An Inhouse Lawyer… Is Not That Easy

Saat masih berstatus sebagai mahasiswa di FH dulu, saya dan beberapa teman berpendapat, sungguh gak asyik rasanya bekerja sebagai inhouse lawyer atau legal officer di suatu perusahaan😆

Selain jelas kalah gengsi dari rekan-rekan yang bekerja di lawfirm baik itu sebagai corporate lawyer ataupun litigator yang gajinya bisa mencapai ribuan dollar bahkan ketika masih berada di posisi paralegal ataupun junior associate, secara keilmuan rekan-rekan lawfirm pastilah lebih berilmu karena mereka setiap saat setiap waktu setiap detik pasti selalu deal with all legal matters yang nampak pelik itu. Pandangan seperti itu didukung pula oleh kenyataan bahwa sebagian besar dosen-dosen kami juga adalah pratisi hukum. Para dosen muda yang sebenernya gak ganteng-ganteng banget itu tiba-tiba terlihat sangat keren ketika mereka melontarkan argumen-argumen hukum, dan abang-abang dosen itu tentu saja menjadi idola para mahasiswi muda kinyis-kinyis yang dengan mudahnya terpesona pada mereka, termasuk saya yang kala itu dengan serius selalu mendengarkan kuliah dengan seksama yang disampaikan oleh abang dosen gebetan saya:mrgreen:
Saat itu saya dan teman-teman merasa sayang akan ilmu hukum yang kami dapatkan apabila kami hanya menjadi inhouse lawyer yang semuanya seolah-olah sudah terkonsep, sudah punya template, sehingga pada dasarnya an inhouse lawyer practically do nothing.

Bertahun-tahun kemudian, tanpa pernah saya bayangkan sebelumnya, I’m currently one of those inhouse lawyers. Dan prasangka-prasangka saya dulu buyar seiring berjalannya waktu dimana saya menjalani keseharian di mana saya deal with legal issues. Siapa bilang mudah menjadi inhouse lawyer? Siapa bilang semuanya terkonsep dan punya template sehingga kita gak perlu mikir ketika bikin kontrak dan tinggal masukin nama para pihak sambil merem?
Jadi inhouse lawyer gak segampang itu kok. Bekerja jadi inhouse lawyer tetap punya dinamikanya sendiri, yang pasti berbeda porsinya dengan mereka yang menjadi lawfirm lawyer.
Banyak hal yang diharapkan dari saya. Tentunya gelar LL.M yang melekat dibelakang nama saya turut mempertinggi harapan tersebut. Orang-orang berharap saya hafal diluar kepala segala peraturan yang ada di muka bumi. Tidak peduli bahwa kekhususan saya adalah hukum internasional publik dan bukannya hukum ekonomi atau minimal hukum perdata, mereka mengharapkan saya selalu bisa memberi jawaban atas semua masalah hukum yang disodorkan pada saya. Saya diharapkan mampu memberikan solusi hukum seketika itu juga saat ditanya.

Tidak berhenti sampai disitu, sebagai orang hukum saya dituntut memiliki ketelitian tingkat dewa dan kemampuan membaca cepat diatas rata-rata. Sebelum dilaksanakannya penandatanganan perjanjian-perjanjian, seluruh draft dokumen harus lolos sensor saya terlebih dahulu. Saya harus memeriksa semuanya kata per kata, sampai typo yang paling kecil sekalipun. Dan pemeriksaan itu harus bisa saya lakukan dengan baik dalam waktu yang sempit. Karena draft dokumen sering datang mepet waktu, saya harus bisa memeriksa banyak dokumen dalam waktu satu jam. Memeriksa kata per kata lima dokumen perjanjian dalam waktu satu jam bukan perkara gampang. Saya sering panik karena dituntut sempurna.

Saya harus selalu siap RKK kapanpun diminta. Dan sebelum RKK dimulai, saya harus siap dengan legal review atas segala legal concern, nota analisa kredit yang dibuat oleh teman-teman RM selayaknya sudah saya periksa sehingga klausula-klausula yang tertera pada nota seharusnya sudahlah tepat secara legal. Diluar official job description saya sebagai legal officer, saya juga mendapat tugas tambahan untuk mengatur jadwal RKK, yang seringnya tidak dipedulikan oleh teman-teman RM.
Saya sering menahan kesal melihat betapa para RM seringkali mengadakan percakapan-percakapan rahasia dan tiba-tiba saja terjadi RKK tanpa saya tau. Tanpa saya pernah lihat dokumen-dokumennya, tanpa pernah saya baca kontrak-kontraknya, tanpa pernah saya buat legal reviewnya, tanpa pernah saya periksa notanya.
Beberapa kali, ketika jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan saya sudah siap mematikan komputer, sekonyong-konyong ada yang berkata, “Mau ke mana, Ke? Kita kan mau RKK!”
GONG!!!
RKK baru mau dimulai without prior notice to me dan itu baru akan dimulai? Mau selesai jam berapa???
Padahal pada jam-jam segitu kepala saya sudah berat rasanya. Otak sudah mulai gak bisa diajak diskusi, dan mata saya yang manja ini mulai kiyep-kiyep akibat memeriksa perjanjian-perjanjian pada siang harinya.
Padahal saat RKK berlangsung dan orang-orang ramai berdebat mengenai masalah-masalah neraca keuangan, saya hanya duduk diam sambil menerawang memikirkan mr. engineer dan proyek besar yang saya impikan, menunggu bos besar melirik saya dan bertanya, “legal concern?”

Begitulah LO, RKK-nya tiada akhir.
Dan di tahun yang baru ini, saya punya proyek baru. Bos besar meminta saya melakukan verifikasi dokumen-dokumen terkait agunan. Tidak mudah, dan proyek ini sebenarnya merupakan suatu on going process yang tiada ujung, tapi saya senang-senang saja menjalaninya.

Kadang ada juga kesalnya karena saya merasa teman-teman RM seperti kurang peduli pada account pegangan mereka. Ketika saya tanya perjanjian-perjanjian yang mendasari pengikatan agunan, kadang mereka menjawab tidak tau dan menyuruh saya untuk mencarinya sendiri ditumpukan arsip yang menggunung. Bahkan ada juga yang tidak tau akte-akte terakhir account binaannya, atau tau tapi belum pernah membaca apa isinya dan bahkan tidak menyimpan fotokopinya.
Dalam tataran ideal yang saya punya dalam pikiran saya, seharusnya setiap RM memiliki sistem administrasi dokumen yang tertata rapih, yang terklasifikasi dengan baik dan ter-update secara teratur.
Mungkin saya menuntut terlalu banyak. Mungkin mereka pun berangan-angan punya LO yang bisa jadi tempat bertanya atas segala masalah kapanpun mereka mau.

Mungkin ini celoteh saya semata karena saya masih sangat baru di bidang ini. Saya masih berusaha beradaptasi dan memenuhi ekspektasi seluruh rekan kerja saya atas kinerja saya. Saya sadar sepenuh-penuhnya, kinerja saya masih jauh dari baik. Mudah-mudahan saya bisa berkembang lebih baik dan punya kontribusi terhadap perusahaan😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s