Sedikit Tentang Sekejap di Surabaya

Time for story, Dear!:mrgreen:

Awalnya, Linda mengajak saya untuk serah terima dokumen agunan ke Surabaya dalam kapasitas saya sebagai legal officer. Saya jelas seneng dong ya, apalagi saya kan belom pernah ke Surabaya. Begitu dengar mau jalan ke Surabaya, secara otomatis saya langsung mencari-cari informasi tentang tempat-tempat yang bisa dikunjungi di kota tujuan:mrgreen:
Ajakan ini bukannya tanpa hambatan. Persis seperti orang mau nikah ya, adaaaaa aja hambatannya #eh
Mulai dari rekan sesama kolega yang tampak tak rela dengan kepergian saya sehingga menggosok-gosok bos besar supaya keberangkatan saya bisa dibatalkan, sampai bos besar sendiri yang sepertinya senaaanngg sekali menimbuni saya dengan tugas-tugas menjelang keberangkatan.
Tapi sepertinya saya memang ditakdirkan ke Surabaya ya #eaaa karena ketika saya berjuang menyelesaikan pekerjaan, Linda juga tiba-tiba saja memiliki masalah dengan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan Surabaya Trip ini. Jadilah kepergian yang awalnya direncanakan untuk hari Kamis, di-reroute menjadi hari Senin.
Jadi yang tadinya berangkat dari Bandung, berubah jadi berangkat dari Jakarta. Kebetulan baik saya maupun Linda memang tinggal di Jakarta.

Senin pagi, saya berangkat dari rumah jam 7:25 dan sampai di terminal 1B bandara jam 9:45. Saya mencoba pintu tol Cisalak yang baru saja dioperasikan pada hari Jumat sebelumnya. Keluar di pintu tol Cimanggis 2 dengan membayar uang tol sebesar 2500 rupiah. Sebelum masuk pintu tol Cililitan, kok tumben-tumbennya macet. Eh ternyata ada kecelakaan beruntun, 1 bus dan beberapa mobil. Jalanan sungguh makin mengerikan😦
Saya dan Linda menggunakan Sriwijaya Air yang berangkat jam 11:05, kemudian delay jadi jam 11:20, dan akhirnya baru benar-benar take off jam 11:50.
Sejujurnya agak serem deh naik pesawatnya. Kami lama mengalami turbulensi dan seolah-olah pesawatnya gak kuat menembus awan gemuk. Seolah-olah pesawatnya bisa jatuh kapan saja. Alhamdulillaah sampai dengan selamat di bandara Juanda, Surabaya, jam 13:00, dan ternyata debitur sudah menunggu kami. Pertama kalinya naik Toyota Alphard:mrgreen: norak deh. Kampungannya kelihatan😆
Gimana rasanya naik Alphard? Ya biasa aja. Gak bedanya sama naik jenis lain. Bedanya mungkin ada dari bagaimana cara orang luar memperlakukan kita.


Bandara Internasional Juanda, diambil dari dalam pesawat Garuda ketika akan pulang menuju Jakarta

Mungkin melihat tampang saya dan Linda yang kayaknya bisa-bisa aja makan orang, atau mungkin juga untuk memasarkan usahanya, ibu debitur membawa kami makan ke Golden Rama. Golden Rama, yang mengkhususkan diri pada hidangan suki, ala carte, dan dimsum, ini hanya ada satu-satunya di Surabaya, gak buka cabang di tempat lain.
Yang mengelola adalah anak tertuanya ibu debitur, dan katanya koki-kokinya adalah koki-koki terbaik. Koki suki berasal dari Malaysia, sementara yang ala carte dipegang koki asal Singapur. Beberapa menu dikeluarkan, mulai dari sup ikan, udang, ikan dori, hingga salmon sashimi. Kami menolak hidangan pencuci mulut karena perut sungguh sudah penuh hingga rasanya tak ada ruang tersisa😆

Selesai memanjakan perut dengan hidangan lezat di Golden Rama, kami langsung menuju kantor ibu debitur untuk menyelesaikan urusan dokumen-dokumen agunan ini. Karena dokumen sudah lengkap, maka cepat pula selesainya. Setelah pembuatan berita acara serah terima dan berdiskusi dengan notaris, ibu debitur mengajak kami makan malam.
Bakwan kapasari di jalan Mayjen Sungkono menjadi pilihan yang direkomendasikan ibu debitur. Sampai di sana, para pelayan melihat saya dengan tatapan aneh. Oh ternyata, mereka merasa aneh karena saya yang muslim ini mau makan di bakwan kapasari yang ternyata mengandung babi.
Yah.. mana saya tau bakwan kapasari itu gak halal kan? Akhirnya kami memutuskan untuk mencari tempat makan lain, dan akhirnya pindah ke rumah makan Ria di daerah kaliasin. Di sini, saya mencoba lorjuk untuk pertama kalinya. Lumayan. Lorjuk itu katanya semacam hewan yang hidup di laut. Selesai makan malam, saya dan Linda langsung kembali ke hotel dan berburu tiket pesawat untuk pulang esok hari.

Esok harinya, setelah sarapan dan check out, supirnya ibu debitur sudah siap menjemput kami untuk mengunjungi Jembatan Suramadu dan mencari bebek goreng Sinjay yang digadang-gadang sebagai bebek goreng dengan kenikmatan yang luar biasa #eh
Jembatan Suramadu itu ternyata dioperasikan sebagai jalan tol ya… Hanya, selain kendaraan roda empat, motor pun bisa melintas di jembatan ini. Dan ada jalur khusus motor yang dipisahkan pembatas jalan dengan jalur mobil.
Masuk Jembatan Suramadu, kendaraan roda empat golongan 1 harus membayar uang tol sebesar 30.000 rupiah, sementara motor bayar 3000 rupiah saja. Sepanjang jembatan dipasang kamera pengawas untuk mengawasi siapa tau ada pengguna jalan yang berhenti dan foto-foto atau bahkan mencuri bagian-bagian jembatan sepeti mur atau paku atau benda lain apapun.

Lepas dari Jembatan Suramadu, kami berbelok ke kiri ke arah Bangkalan. Lurus terus sampai ketemu pertigaan, belok kanan dan lurus lagi sampai ketemu warung pinggir jalan yang terkenal itu. Nasi Bebek Sinjay: Spesial Kremes dan Sambal Pencit. Letaknya di sebelah kanan jalan, tepatnya di jalan raya ketengan no. 45, Bangkalan, Madura.
Abis itu kami melihat-lihat batik di pinggir jalan. Penjualnya sih bilangnya itu batik tulis. Entah deh… kalopun itu benar batik tulis, mungkin itu adalah batik tulis yang tidak rapih. Tapi tetap saya dan Linda mengambil masing-masing satu untuk menghargai jasa baik debitur:mrgreen:

Kami melanjutkan perjalanan menuju daerah Ampel.
Oya ternyata masuk pintul tol Madura di Jembatan Suramadu pun bayar uang tol lagi ya 30.000 rupiah.
Di daerah Ampel dan Kembang Jepun, kami gak turun dari mobil. Ke Ampel itu semata-mata memuaskan hasrat terpendam #eaaa saya yang penasaran sama daerah Ampel ini. Dan karena gak turun dari mobil, maka saya gak ketemu rumahnya si Habib maupun kambing guling rekomendasinya. Oh dan sebelum ada yang cemburu #eh? Habib itu temen kantor saya. Saya tetep setia sama you-know-who kok #eaaa #maaplagigalau #kecup

Setelah muter-muter gak jelas, kami langsung menuju bandara. Makan siang dengan menu nasi campur khas Surabaya, shalat, iket bawaan yang ditaruh di bagasi *baru tau deh kalo Garuda wajib iket bagasi*, check in, bayar airport tax 40.000 rupiah, terus masuk gate deh…
Btw, semua penerbangan domestic Garuda dipusatkan di terminal penerbangan internasional ya…
Kali ini Garuda tepat waktu. Tepat jam 13:25 kami take off, satu jam kemudian mendarat di Soekarno Hatta, dan setelah menunggu sekitar 30 menit, kami menaiki bus Primajasa menuju Bandung.


Touchdown Jakarta! Sempet-sempetnya moto tepat saat landing ya cuuuyy…😆

Sebentar saja di Surabaya. Mudah-mudahan nanti ada kesempatan untuk menikmatinya sedikit lebih lama😉
Soalnya, kemarin itu sama sekali gak sempet ke mana-mana dan gak foto-foto di mana-mana:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s