Tentang Bunga Mimpi dan Kenyataan

Mari mencoba memberanikan diri menulis apa yang ada dalam pikiran yang sungguh tak tenang akhir-akhir ini. Walaupun… bingung bagaimana harus memulainya dan seperti apa harus menuliskannya.
And this writing ditujukan secara khusus hanya untuk orang-orang yang peduli dan aware with how i feel these days.

Well then. Read this.
I’m a 28 years old woman and I’m single in every meaning it would have in any possible vocabulary.

Sebagian besar sahabat-sahabat yang sebaya dengan saya telah menggenapkan setengah dien mereka dengan pasangan pilihan mereka masing-masing. Mereka telah memutuskan untuk menghabiskan hidup dengan orang yang mereka cintai, and luckily, love them in return.
Sebelumnya hal ini tidak pernah menjadi suatu hal yang penting sehingga terpikirkan berhari-hari.
Tapi saat orang terakhir menyatakan bahwa dia telah dilamar, saya mulai berpikir yang tidak-tidak. Sedikit rasa takut dan putus asa menyelinap di relung hati, walau masih membentuk setitik noktah kecil.
Ketakutan dan putus asa itu membuat saya berpikir ulang tentang mimpi yang saya punya. Ada tanya yang menyeruak, haruskah saya membuang mimpi-mimpi yang saya punya dan menyerah pada keadaan?
Atau mungkin lebih tepat jika dikatakan, berani menghadapi kenyataan?

Satu sisi hati meminta saya untuk menyerah. Satu sisi lainnya menantang saya untuk bertahan. Mempertahankan impian. Mengapa harus menyerah pada hidup? Pernikahan bukanlah suatu perlombaan tentang siapa yang lebih dulu tiba di garis finish.

Namun ketika saya memenangkan ego yang mungkin menantang Tuhan, saya seketika merasa ragu. Sudah tepatkah keputusan saya untuk menggelengkan kepala dan berkata tidak?
Apakah tepat jika kita mengambil keputusan tanpa melakukan shalat istikharah?
Keputusan yang mana mungkin saja sangat penting dan berpengaruh besar terhadap sisa hidup seumur hidup kita.
Saya tidak bermimpi tinggi diminta untuk menikah dengan laki-laki impian di menara Eiffel, atau dilamar dalam acara makan malam paling romantis oleh laki-laki yang menghiasi bunga mimpi dalam tidur malamku. Di’minta’ di Singapore Flyer cukuplah bagi saya. Saya hanya ingin menikah dengan laki-laki yang saya cintai. Saya seketika merasa takut dan arogansi yang saya miliki membuat saya merasa tersinggung ketika ada yang mengatakan, “I’m ready to tie the knot with whomever I can get,” atau kasarnya, “sama siapapun boleh deh, yang penting nikah.”
Hey. Am I that bad so I can’t do choosing and can’t be chosen?

Tapi pertanyaan dan keraguan itu pada akhirnya memunculkan pertanyaan baru dalam benak saya.
Apakah yang sebenarnya saya inginkan?
To be with particular person whom I’ve been expecting this far or to be with whomever I can get, simply because i’m afraid of becoming the one and only left behind?

Should I give up?
Maybe i should.
But i don’t want to.

Sampai detik ini saya masih memberanikan diri memelihara mimpi saya, tanpa tau apakah bunga-bunga harapan masih diizinkan mekar atau tidak.

Mari berdoa. Paling tidak untuk hal yang paling sederhana: diizinkan untuk kembali bersilaturahim seperti dulu ketika cinta belum menghiasi hati.

Oh… and for you whom i don’t need to mention a name *and i dare not to; yet i know you know yourself since i disclosed all things to you*, in case you read this, tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk memaksamu menikah denganku. Sedikit pun aku tidak akan berani meminta hal itu. Pengalaman mengajarkanku banyak hal. Jadi, tenanglah. Tak perlu takut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s