The Raid: Redemption

Akhirnya nonton The Raid juga:mrgreen:

Setelah lama tertunda karena paling males nonton sendiri dan gak ada yang bisa diajak nonton bareng *baby brother udah nonton sama pacarnya dan Nyonya Besar gak yakin kuat batin dan mentalnya nonton film yang full bloody body contact gitu* akhirnya secara cukup mendadak, berangkatlah saya dan Fitri ke bioskop termurah *utamakan murah daripada jarak ya cuuuyyy…* sore seusai jam kerja. Ke mana kah itu? Braga City Walk… yang bikin saya sama Fitri menggumam, “Ya olooohh… ini mol kok suram bener yak?”😮

Laluuuuu… gimana? Gimana? Apakah saya akan membuat review film tersebut di sini?
Kayaknya sih gak ya. Saya cukup yakin review film ini sudah banyak bertebaran di mana-mana dan bisa diakses dengan mudah. Apalagi saya juga bukanlah pengamat atau kritikus film. Bukan pula maniak film yang wajib nonton semua film yang baru beredar.
Saya adalah orang yang mikir dua kali kalo harus beli tiket bioskop. Tiga hal yang bisa bikin saya rela ngeluarin uang dari dompet buat nonton di bioskop adalah, satu, nyenengin nyokap lewat acara nonton bersama, dua, film tersebut dapat resensi yang bagus dari masyarakat umum, dan tiga, nonton sama gebetan #eh #eaaa #ingetpasnontonHANCOCK:mrgreen:

The Raid ini termasuk film yang bisa bikin saya pengen nonton sejak pertama kali saya melihat dan membaca beritanya di media. Sama seperti ketika tadi saya melihat majalah Marie Claire terbaru yang berhadiah tas yang langsung bikin saya pengen beli #eh

Sedikit ketinggalan menit-menit awal film, saya baru mulai nonton ketika adegan sudah sampai di dalam mobil yang membawa pasukan khusus kepolisian ke sasaran operasi.
Selanjutnya, bisa ditebak, penuh dengan baku hantam tingkat tinggi, entah itu dengan senjata ataupun tangan kosong. Cukup menegangkan di beberapa bagian, walaupun menurut saya ada beberapa adegan dan dialog gak penting yang cukup mengganggu yang sebaiknya dihilangkan saja.

Gak usah ngobrolin soal cerita deh ya, karena sebenernya sih gak ada ceritanya nih film. Yang dijual yang adegan berantem-berantemnya aja. Cerita hanyalah pelengkap agar bisa dibilang film. Kalo gak ada ceritanya kayak nonton pertandingan bela diri aja dong:mrgreen:
Dialog dalam film ini sebenarnya sedikit. Para pemain lebih ber’dialog’ lewat bahasa tubuh. Ekspresi muka, kedipan mata. Sulit memang, jadi kalau soal akting, rasanya baru bisa nge-like oom Ray Sahetapy deh. Spesialisasi aktor watak ya?
Bagi saya, Joe Taslim, Iko Uwais, dan Yayan Ruhian terlihat ‘megang’ banget karena keahlian bela diri yang memang mereka miliki diluar film, bukan karena akting mereka. Donny Alamsyah? Oke kok. Not bad. Really.
Anyway film ini seperti reuni pemain-pemain Merantau ya *yang kebetulan saya tonton juga sama Mpok Dedew dan sakseus bikin saya ngelap iler setiap ngeliat Iko Uwais, sampe sekarang*😆

Tapi yaaa… adegan perkelahiannya emang nendang banget. Indah di satu sisi dan sadis di sisi lain. Koreografinya terlihat sangat real dan sukses bikin penonton nahan nafas untuk kemudian tepuk tangan setelah satu adegan perkelahian usai. Dan yang jelas, berhasil memperlihatkan pada dunia seni bela diri tradisional Indonesia yang dinamis yang gak kalah sama bela diri yang dimiliki negara lain *ehem*

I’ll list down some of this movie that catch my attention a lil bit more.

Yang bikin merasa ‘need to improve’:
Obviously, akting para pemain. To be specially noted: Joe Taslim dan Iko Uwais *tapi untuk Iko, dimaapin kok * *lap iler* *nelen ludah*:mrgreen:
Yang bikin mikir ‘eh?’
1. Di awal-awal film, Joe Taslim (as Sersan Jaka) memanggil Pierre Gruno (as Letnan saya-lupa-namanya-euy) dengan sebutan “Letnan”. Dalam adegan lain, dia memanggilnya “Sersan”. Itu sejauh pendengaran saya loh…
2. Ada adegan dimana Iko Uwais dan orang jahatnya #ergh jatuh sama-sama dari lantai 6 ke beberapa tingkat dibawahnya. Ketika kembali ke dalam apartemen, kenapa langsung ada di lantai 6 lagi?
3. Eh, yang jadi bapak-bapak yang beli obat buat istrinya yang sakit itu anggota P Project kan ya?:mrgreen:
4. Eh, kenapa deh si Mad-Dog gak langsung nembak si Joe Taslim dalam duel pertama? Mad-Dog pegang pistol, Joe Taslim punya piso. Sekali jedor harusnya lewat dong? Ya namanya juga film… kalo maen tembak aja langsung tamat dong film-nya. Film itu panjang, Jendral!
5. Eh, mereka pada minum suplemen apa sih? Udah digebukin sampe kayaknya darahnya abis, teteup aja bisa ngamuk dan mengeluarkan jurus-jurus silat yang mempesona! *nelen ludah lihat Iko Uwais*
6. Eh, kok ada ya yang mau tinggal di apartemen yang isinya bandit semua itu? Hello, kiddos!
7. Eh, keahlian Pierre Gruno itu adalah ‘menjatuhkan barang seberat apapun dengan mudah’ ya? Oh, selain penembak jitu, tentunya.
8. Eh, ini mau cerita apa sih sebenernya?

Ooo, jadi ini pengen cerita bahwa:
1. Pencak silat gak kalah sama judo! *lihat berantemnya Joe Taslim dan Mad-Dog. Joe Taslim kalah dan penonton tepuk tangan! Hei, penonton, Joe Taslim itu polisi dan dia kalah! Di mana hati nurani kalian???!!! Oh… ternyata karena Joe Taslim itu judoka dan Mad-Dog adalah master silat ASLI OLAHRAGA INDONESIA. Kami sungguh penonton dengan nasionalisme hingga ke ubun-ubun bukan? TEPUK TANGAN UNTUK PENONTON!!!*
2. Dan bahwaaa… orang endonesa juga bisa bikin film genre action dengan lumayan mulus seperti ini lho!!! *kibarkan merah putih*

Dan… ini yang saya suka:
1. Ray Sahetapy makan indomi dong aaaaahhh!!! Itu Indonesia sejati sekaliiiiii… *well, actually saya gak tau dia makan mi instan merk apa, let’s assume it was indomie, the world’s largest instant noodle maker* Yiha!:mrgreen:
2. Musik yang jadi backsound adegan perkelahian pertama antara Iko Uwais dan musuh-musuhnya di lantai… err… enam? Bukan jenis musik yang menghentak-hentak, tapi musik yang menggambarkan kesunyian dan ketiadaan pilihan *ehem*
3. “Menurut gw, tiga. Menurut lo?” Sukaaaaa sama dialognya oom Ray yang ini!
4. And the way Donny Alamsyah answered it “kurang lebih” along with his acting… Suka jugaaaaa!!! Persiiiss kayak saya kalo pas ditanya sama bos besar saat RKK soal masalah hukum:mrgreen:

Oh, and some spoiler *udah banyak yang nonton kan? Jadi gak apa-apa lah ya…*
1. Tim elit kepolisian tersebut bergerak tanpa restu dari para pejabat tinggi kepolisian. So,in case of anything bad happened, no back up supported. Pertanyaannya, kalo gitu kenapa mereka menyerang apartemen tersebut dan berambisi menangkap oom Ray?
Jawabannya, menurut saya, adalah demi ambisi pribadi Letnan… err.. Pierre Gruno. Entahlah… demi karier, mungkin? Menutup masa bakti dengan manis?
2. Sejak lampu di lantai lima *atau enam?* dipadamkan, seketika itu juga pertempuran berubah tujuan. Yang tadinya mau menangkap oom Ray Sahetapy sebagai penjahat nomor satu, menjadi bagaimana menyelamatkan diri sendiri dan keluar dari situ hidup-hidup. Ketiadaan pilihan: dibunuh atau membunuh.
3. Iko Uwais dan Donny Alamsyah itu adik-kakak! In that movie, of course…

Hei! Never thought that this is going to be quite a long post! Hihihi…
Oh well, oh well, time to hit the pillow. Siap-siap mimpi Iko Uwais:mrgreen:

Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah* Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah* Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah*
Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah* Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah* Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah*
Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah* Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah* Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah*
Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah* Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah* Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah*
Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah*… ok.. stop it.😆😆😆

4 thoughts on “The Raid: Redemption

  1. Vika says:

    knp isi post lo kali ini temanya menjadi Iko Uwais *lap iler* *nelen ludah* ya?
    Bukan mjd The Raid: Redemption ya???
    :p

    • ukechin says:

      aaahh itu kan tema di bagian akhir aja bo *dan beberapa bagian sebelumnya hihihi*
      tema umumnya tetep film-nya kok #eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s