Di Penang Aku Dengan Bismillaah

Agak-agak mirip sama judul sinetron ya, tapi sumpedeh gak ada niat untuk melanggar hak cipta kok. Kalo niat niru sih ya ada lah sedikit #eh
Dan jelas bukan typo juga. Memang PENANG, bukan PINANG. Kalo yang disebut terakhir itu masih agak burem kayaknya. Coba saya lihat list dulu, belom ada yang daftar tuh #galaumenerpa #eh😆

Sebelum kegalauan saya menjadi-jadi, sebaiknya dihentikan saja kata pengantar gak nyambung ini, dan langsung masuk ke inti cerita. Ini akan jadi postingan yang panjang. Sabar yuk dibaca ya kakaaaaakkk…

***
Sejak beberapa bulan yang lalu, saya dan Erma berencana untuk mengunjungi Pulau Penang di Malaysia. Kami memang punya kegemaran yang sama. Senang belajar sejarah dan mengetahui budaya lain dengan cara terjun langsung berbaur dengan masyarakatnya dengan budget sederhana. Hihihi…
Nah, maka direncanakanlah perjalanan ke Pulau Penang ini karena penasaran dengan George Town-nya yang dinobatkan sebagai UNESCO World Cultural Heritage City sejak 7 Juli 2008. Kalau melihat segala informasi yang ada sih, sepertinya kota ini cukup menarik karena penuh dengan warisan sejarah dan kaya dengan akulturasi budaya.
Saat kami berburu tiket promo sekitar 8 bulan yang lalu, belum ada penerbangan langsung Air Asia dari Bandung ke Penang. Jadi kami memesan penerbangan Bandung ke Kuala Lumpur, dan untuk mencapai Pulau Penang akan digunakan jalan darat.

Saya dan Erma sepakat untuk ketemu di depan Optik Internasional yang terletak di perempatan Lengkong Besar-Lengkong Kecil pukul 06:15. Walaupun judulnya budget travelers, tapi menuju bandara Husein Sastranegara teteup pake teksi ya booo… secara akika bawaannya koper, dan bukannya ransel:mrgreen: *dan mumpung bandaranya masih di dalam kota ya, belom dipindah ke Majalengka seperti yang saat ini mengemuka*
Pagi itu, walaupun sudah menjelang pukul 7, Bandung masih berkabut lumayan tebal. Gak seperti biasanya memang. Saya berdoa dalam hati semoga pesawat bisa lepas landas dengan sempurna dan aman selama perjalanan. Kecelakaan pesawat Sukhoi sedikit banyak menerbitkan rasa khawatir dalam benak saya.

Ini pertama kalinya saya berangkat dari Husein Sastranegara. Pas sampai pertama kali… doeeeeennnggg!!! Kaget deh karena bandaranya mungil sekali:mrgreen: kayaknya kok kurang cucok gitu karena kan katanya bandara internasional…
Karena saya dan Erma udah melakukan web check in sebelumnya, kami langsung menunaikan kewajiban membayar airport tax. Rp 75.000 untuk tujuan internasional, sementara untuk tujuan domestik dikenakan tax sebesar Rp 25.000.

Air Asia yang kami tumpangi berangkat tepat waktu: pukul 08:30. Kalau waktu ke Singapur tahun lalu dandanan para awak pesawat saya rasakan bertema gothic, kali ini saya melihat mereka bergaya vampire-look #eh

Selama perjalanan, saya hampir mati gaya. Saya yang biasanya duduk dekat jendela dan menghabiskan waktu dengan membidik langit yang cantik, kali ini harus gigit jari karena kebagian duduk di tengah. Erma duduk di bagian aisle. Dekat jendela, duduk seorang anak kecil yang heboh ketakutan sendiri ketika akan take off dan selepasnya malah sibuk dengan playstationnya.

Kami tiba di Low Cost Carrier Terminal atau LCCT Kuala Lumpur pukul 11:10 waktu Malaysia yang satu jam lebih cepat dari waktu Indonesia bagian barat, 20 menit lebih awal dari yang dijadwalkan. LCCT berjarak 20 km dari KLIA. Ada shuttle bus khusus yang menghubungkan LCCT dengan KLIA.


Oh… ini toh LCCT yang katanya cocok menyandang predikat terminal budget airlines😆


Antri menunggu pemeriksaan imigresen di LCCT

Ketika saya menyerahkan paspor, petugas imigrasi mengamati dengan seksama, dan bertanya:

Petugas Imigresen LCCT: “Are you Chinese?”
Saya: “Nope”
Petugas Imigresen LCCT: “Tapi ibu kau Chinese?”
Saya: “Bukan”
Petugas Imigresen LCCT: “Tapi kau sangat mirip dengan Chinese”

Eh… kok si mas-nya ngeyel ya:mrgreen:


Antri ke tandas sambil foto-foto:mrgreen:
Si bapak-bapak ini pasti bingung kenapa gak ada ATM M*ND*R* di situ #eh

Sesuai dengan petunjuk internet, untuk menuju Pulau Penang kami harus mencapai Terminal Puduraya terlebih dahulu. Terminal Puduraya sekarang bernama Pudu Sentral. Sebelum keluar dari LCCT, ada beberapa booth penjual tiket bus dengan beragam tujuan. Ada yang ke KLIA, Ipoh, Melaka, maupun Puduraya. Para penjual tiket di booth-booth itu ramai berteriak-teriak menarik pembeli. Hampir gak ada bedanya dengan di Indonesia sih.

Saya dan Erma membeli tiket bis Star Shuttle seharga RM 8/seat dari LCCT ke Puduraya. Menurut waktu yang tertera di tiket, bus akan berangkat pukul 12:45. Tapi dalam kenyataannya, bus baru berangkat pukul 13:02.
Untuk menemukan bus-bus yang akan membawa kita ke berbagai tujuan dari LCCT ini tidak sulit. Setelah keluar dari terminal, jalan sebentar saja kita akan menemukan barisan bus-bus tersebut.

Selain tidak tepat waktu, tampilan bus Star Shuttle ini pun biasa aja. Gak cakep-cakep banget. Mungkin seperti DAMRI ya. Sebelas duabelas deh sama MGI atau Primajasa #eh
Hanya jarak antara kursi lebih besar sehingga membuat ruang untuk kaki lebih nyaman.


Pandangan pertama pada Kuala Lumpur. Gak jauh beda sama Jakarta kan?😉

Baru 20 menit berjalan, Star Shuttle ternyata memasuki kawasan KLIA. Mampir dulu ternyata untuk menaikkan penumpang. Tapi gak lama sih. Kurang dari 5 menit, bus sudah kembali bertolak menuju Puduraya. Sampai di Puduraya pukul 14:15 dan oh oh… ternyata bus tidak masuk ke terminal Puduraya, melainkan hanya melewatinya. Ketika kondektur bus meneriakkan “Pudu! Pudu!”, kami pun harus turun dan langsung dikelilingi calo bus antar kota-antar propinsi.
Para calo itu tidak kalah agresifnya dengan calo bus di tanah air. Salah satunya bahkan mengaku dari Medan dan sudah tinggal bertahun-tahun di negeri orang, ceunah. Si calo membawa saya dan Erma ke terminal Pudu dan mengarahkan kami ke bus bernama Sri Maju.
Satu hal yang penting saat melakukan perjalanan adalah, percayalah pada kata hati. Saat itu baik saya dan Erma enggan menaiki bus berbadan biru itu. Entah kenapa kami merasa tidak nyaman dan tidak yakin terhadap tampilan bus ataupun calonya. Apalagi mereka ngotot bahwa bus Sri Maju itu hanya sampai Butterworth, sehingga untuk sampai ke Pulau Penang kami harus menyambung perjalanan lagi menggunakan ferry. Akhirnya saya dan Erma menetapkan hati untuk mencari bus lain, dan bertemulah kami dengan bus KKKL Ekspress.
Awak bus mengiyakan ketika kami bertanya apakah bus itu berakhir di terminal Sungai Nibong Pulau Penang. Dengan sedikit ragu dan mengucap basmalah, kami pun memilih KKKL Ekspress. Kami bayar tiket RM 35/seat, dan gak dikasih tiket walaupun kami sudah berkali-kali memintanya pada pak supir dan kondektur. Mereka dengan kalemnya keukeuh menjawab, “Yang penting kan udah duduk dan nanti nyampe ke Penang.”
Saya dan Erma khawatir kalau tiba-tiba kami diturunkan di tengah jalan #eh


KKKL Ekspress yang cukup nyaman. Kursi bisa direbahkan, demikian juga dengan bagian kakinya

Di dalam bus, kami bertemu dengan seorang TKW asal Indonesia yang ingin ke Penang mengunjungi suaminya. Kami sedikit tenang karena setidaknya ada yang bisa dijadikan tempat bertanya.
KKKL Ekspress berangkat pukul 14:45 dan mampir dulu ke terminal Duta untuk menurunkan penumpang.
Sekitar pukul 16 lebih sedikit, bus berhenti di rest area yang terletak di daerah Slim River, negeri bagian Perak, tidak lama setelah lepas dari negeri bagian Selangor.
Bentuk rest area-nya sedikit mengejutkan, mungkin karena saya membayangkan bentuk rest area seperti rest area km 97 tol cipularang:mrgreen:
Menurut Erma, rest area yang kami singgahi itu lebih mirip dengan rest area yang ada di perjalanan mudik ke kampung-kampung di Jawa.
Oya, bus tidak menyediakan toilet. Jadi kalau mau buang hajat, tersedia tandas di rest area yang dikenakan bayaran. Hajat kecil bayar RM 0,20, beli tisu barter dengan uang RM 0,50. Kalau hajat besar? Gak tau juga ya karena gak ada di daftar harga. Yang jelas, pastinya gak bisa hajatan di sana #eh


Salah satu fasilitas di rest area: ini adalah bentuk telepon umum yang lazim dan berfungsi dengan baik di Malaysia

Setelah 30 menit di rest area, kami melanjutkan perjalanan. Pak supir yang tadi memegang kendali setir kali ini meringkuk di kursi khusus driver, dan digantikan oleh pak kondektur selaku rekannya.


“Saya tidur dulu ya,” kata Pak supir baik hati yang mungkin capek

Saya dan Erma sebenarnya agak lapar, tapi kami menahan diri untuk tidak jajan di rest area tersebut. Padahal lumayan lho, ada pisang goreng dan donat yang bisa mengganjal perut. Tapi kayaknya sayang aja, ke Malaysia kok beli pisang goreng dan donat.
Ketika bus akan berangkat, pak kondektur membawa satu plastik pisang goreng dan roti. Saya dan Erma berandai-andai, seandainya makanan itu untuk kami.
Dan ternyata makanan itu memang untuk kami lhooo… ihikihikihik…

Pak supir dan pak kondektur memaksa kami menerima makanan itu. Dan karena kami cukup waspada, maka yang pertama makan adalah Erma. Ditunggu-tunggu, setelah beberapa saat tampaknya tidak terjadi apapun yang mengkhawatirkan kepada Erma, maka saya pun tanpa ragu-ragu langsung mengembat pisang goreng yang ada.
Pisang goreng dan donat ini menjadi pembicaraan saya dan Erma ketika kami menyadari bahwa kami adalah satu-satunya orang asing di dalam bus itu.

Kenapa kami diberi makanan?
A. Karena kami terlihat kelaparan
B. Karena kami satu-satunya orang asing yang ada di situ
C. Karena kami duduk tepat dibelakang supir
D. Karena mereka baik hati
E. Lainnya
Apakah kami akan tetap diberi makanan seandainya kami duduk di belakang?
A. Ya
B. Tidak
Apakah kami akan tetap diberi makanan seandainya kami bukan satu-satunya orang asing di bus tersebut?
A. Ya
B. Tidak
Dan pertanyaan-pertanyaan pilihan berganda lainnya yang tak pernah terjawab

Perjalanan dari Puduraya ke Sungai Nibong sedianya memakan waktu 5 jam. Kami melewati Selangor, dimana Kuala Lumpur yang merupakan federal territory terletak. Setelah Selangor, giliran Perak yang beribukota di Ipoh. Tidak banyak yang bisa dilihat selama perjalanan. Pemandangan berganti-ganti antara pepohonan kelapa sawit atau bebatuan kapur yang mirip dengan yang ada di lintas Sumatera. Pemandangan yang itu-itu saja bukan masalah, saya dan Erma menghabiskan waktu berjam-jam dengan mengobrol banyak hal, sementara penumpang lain tertidur pulas.


Ipoh


Sudah sore. Perjalanan semakin dekat dengan Jembatan Penang


Penang Bridge, eventually…

Waktu menunjukkan pukul 19:30 dan matahari sudah hampir terbenam sempurna ketika kami melewati Penang Bridge. Pak supir dan pak kondektur terlihat senang melihat kami yang tampak gembira melihat kerlap-kerlip Penang Bridge dan hebohnya kami mengambil gambar. Menurut mereka, tidak akan cukup 2 hari kami habiskan untuk mengelilingi Pulau Penang. Mereka terbukti benar later on.

Tak lama, kami sampai di Terminal Bas Ekspress Sungai Nibong.


Terminalnya sepi. Mungkin karena udah malem. Tapi, jadinya malah serem…

Kesan pertama, pulau ini benar-benar pulau yang sepi ya. Bus ada jadwalnya. Mulai dari 15 menit hingga 30 menit sekali. Pak supir dan pak kondektur tidak menyarankan kami menggunakan taksi karena taksi di Penang tidak menggunakan argo. Mereka menyarankan kami untuk menunggu bus di dalam terminal.
Mungkin karena kami orang asing sehingga tidak terbiasa, mungkin juga karena saya terbiasa dengan Depok yang angkotnya siap sedia 24 jam tanpa jadwal tanpa jeda. Ketika butuh angkot tinggal nongkrong di pinggir jalan tanpa perlu khawatir. Keadaan Penang yang sudah mulai sepi padahal baru pukul 20:00 membuat kami was-was. Apalagi terminal Sungai Nibong tampak sepi. Hanya ada sedikit orang yang lewat.

Informasi yang saya dapatkan, dari terminal Sungai Nibong ke hostel tempat kami menginap bisa ditempuh dengan Rapid Penang nomor 401 jurusan Jetty. Tapi mbak-mbak TKW bilang bahwa kami harus ke KOMTAR dulu. Karena merasa dia lebih paham urusan per-Penang-an, kami pun menurut.
Setelah menunggu sekitar 30 menit, datanglah Rapid Penang No. 401.


Ini dia dalamnya Rapid Penang. Kalah deh Metromini, Miniarta, atau Kopaja-nya Indonesia:mrgreen:

Rapid Penang bisa dibilang sebagai moda transportasi utama untuk mengelilingi Pulau Penang. Tarifnya berbeda-beda, tergantung jarak yang ditempuh. Bayarlah dengan uang pas, karena supir tidak menyediakan kembalian. Karena jarak antara satu tempat dengan tempat lainnya tidak terlalu jauh, biasanya saya mengeluarkan RM 2 untuk satu kali perjalanan.

Dari Sungai Nibong, sesuai arahan mbak-mbak TKW, kami turun di KOMTAR. KOMTAR ini sebenarnya singkatan dari Komplek Tun Abdul Razak. Selain sebagai terminal, ada beberapa pusat perbelanjaan di KOMTAR. Ada 1st Avenue, Parkson Mall, Giant, Carrefour, dan lainnya yang saya gak hafal. KOMTAR juga merupakan bangunan tertinggi seantero Pulau Penang.
Ternyata keputusan kami untuk mendengarkan kata-kata mbak-mbak TKW adalah keputusan yang kurang tepat. Dengan bus yang kami naiki dari Sungai Nibong, seharusnya kami gak perlu turun di KOMTAR, melainkan bisa langsung ke hostel kami di jalan Masjid Kapitan Keling atau dikenal juga dengan nama Pitt Street.

Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kami duduk termangu menunggu bus yang tak kunjung datang di terminal KOMTAR. Jangan bayangkan terminal KOMTAR seperti terminal bus di Indonesia ya. Terminal di sini murni hanya disinggahi beberapa menit bus-bus, gak ada yang ngetem.
Setelah bertanya sana-sini dan tak ada yang tau bus menuju jalan Masjid Kapitan Keling, kami akhirnya mendapatkan petunjuk bahwa kami harus menunggu bus di luar terminal KOMTAR. Ketika sedang menunggu bus, kami bertemu dengan seorang ibu yang tampaknya berasal dari ras cina, dan dia membantu kami memilih bus yang tepat.

Kami akhirnya naik Rapid Penang No. 101 dan turun di Lebuh Chulia. Nyasar-nyasar sedikit, pukul 21:40 akhirnya sampai juga kami di hostel pilihan kami: Red Inn Court.
Acara muter-muter sekitar penginapan yang kami rencanakan sebelumnya terpaksa dibatalkan karena kami lelah luar biasa. Lebih baik tenaga kami disimpan untuk esok hari mengelilingi Penang sampai hati puas. Kamis, 17 Mei, itu ditutup dengan duduk selonjoran di kamar kami yang nyaman dan makan pisang goreng pemberian pak supir sisa siang hari tadi.

Expenses:
– Tiket Bandung – Kuala Lumpur PP IDR 550.000
– Taksi dari lengkong besar ke bandara IDR 28.000 (termasuk parkir taksi di bandara IDR 3.000)
– Airport tax untuk tujuan internasional IDR 75.000 (kalau yang domestic itu IDR 25.000)
– AQUA di ruang tunggu boarding IDR 4.000 (yang ukuran paling kecil)
– Kitkat di ruang tunggu boarding IDR 13.000 (bahkan lebih mahal daripada harga di dalam pesawat!)
– Beng-beng di ruang tunggu boarding IDR 3.000
– Tiket bus Star Shuttle LCCT – Puduraya RM 8
– Tiket bus KKKL Ekspress Puduraya – Sungai Nibong RM 35
– Rapid Penang #401 RM 2
– Rapid Penang #101 RM 2
– Hostel Red Inn Court RM 70 (2 nights, standard 2 bed mixed dorm with shared bathroom)

One thought on “Di Penang Aku Dengan Bismillaah

  1. Rakyat Dunia says:

    Hai Mas

    Ejaan Penang tu adalah untuk Bahasa Inggeris
    Ejaan untuk Bahasa Melayu (Malaysia) adalah Pulau Pinang ya, bukannya Pulau Pineng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s