Saya Pusing, Erma Pusing… Kami Pusing-pusing!!!

Penang, konon, terkenal sebagai daerah yang memiliki kuliner yang kaya dan bercita-rasa lezat. Banyak orang mengatakan, belum ke Penang kalau belum mencicipi nikmatnya nasi kandar dan roti canai, dua makanan yang memiliki akar tradisi mendalam dari para pendatang India. Atas dasar ini pula, saya jadi terobsesi ingin mencoba kedua jenis makanan tersebut. Apalagi, karena rajin browsing segala sesuatu tentang Penang menjelang keberangkatan, saya jadi terperangkap dalam keasyikan membaca sebuah blog milik seorang Indonesia yang sedang menemani suaminya berkarya di Penang. Dari blog-nya, saya mendapatkan referensi tempat makan-tempat makan yang menjual nasi kandar dan roti canai yang patut dicoba.

Ah, ah… tapi sebelum ada yang salah menyangka dengan mengira saya seorang penikmat kuliner, atau seorang budget traveler yang senantiasa mencoba setiap makanan lokal dalam setiap kunjungannya, sebaiknya saya tegaskan sejak awal bahwa saya sama sekali bukan traveler seperti itu.
Kuliner tidak terdapat dalam top list saya ketika melakukan perjalanan. Lebih tepatnya sih, kuliner yang aneh-aneh atau ekstrem tidak pernah masuk dalam to-do-list saya. Pada dasarnya, saya adalah seorang food picker. Tapi bukan berarti saya tidak berani mencoba jenis makanan baru. Sepanjang tidak aneh, tidak ekstrem, dan halal, saya mau-mau saja menjajalnya😉
Tambahan pula, saya termasuk orang yang tahan tidak makan; saya tidak akan rewel atau mengeluh hanya karena belum makan atau belum makan nasi. Kebetulan, dalam perjalanan kali ini, saya bepergian dengan Erma yang memiliki kesamaan dalam dunia makan-memakan sebagaimana yang saya tegaskan di atas. Jadi, maafkan saya jika cerita-cerita saya sama sekali tidak bisa memberikan petunjuk kuliner lokal:mrgreen:

***
Melanjutkan cerita dari post sebelumnya, masih di hari yang sama, setelah mengunjungi Kek Lok Si dan Penang Hill alias Bukit Bendera, saya dan Erma memutuskan untuk kembali ke George Town. Rencana awal, sebelum makan siang kami ingin mampir sebentar ke Giant di KOMTAR untuk membeli oleh-oleh. Iya, serius, oleh-oleh. Kalau ingin membawa teh tarik atau teh Lipton rasa peach atau MILO Malaysia yang rasa coklatnya terkenal lezat itu sebagai buah tangan ke tanah air memang sebaiknya beli di Giant atau Carrefour saja. Tapi karena Erma tampaknya sudah tidak kuat menahan lapar #eh akhirnya kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.

Sebelum berangkat ke Penang, saya sudah mencatat beberapa tempat makan yang direkomendasikan, salah satunya adalah roti canai Argyll Road. Saya mengusulkan agar kami mencobanya dan Erma pun setuju. Setelah menempuh perjalanan cukup lama *jalan kaki cuuuuuyyy dari KOMTAR ke Argyll Road… dan itu lumayan jauh aja lho! Gara-garanya, kami turun di KOMTAR karena tadinya kan mau beli oleh-oleh ya, eh taunya Erma pengen makan dulu… akhirnya malah balik ke deket hostel. Kebetulan si Argyll Road itu terletak di sekitar hostel – kalo kata peta sih gitu…* ketemu deh yang namanya Argyll Road. Ditelusuri sampe tamat, kok gak ada ya kedai roti canainya?

Ada sih, tapi tutup. Dan bentuknya kedai yang permanen gitu. Saya jadi ragu apakah kedai itu yang dimaksud oleh si pemilik blog? Soalnya di blog tersebut dibilangin kalo roti canainya itu tempatnya seadanya, cuma pake tenda nempel sama sebuah klinik bernama klinik WONG. Lha ini klinik WONG-nya aja gak ada…

Dua kali kami menelusuri Argyll Road dari ujung ke ujung, tetap saja si penjual roti canai tak terlihat batang hidungnya. Kami menyerah. Dan berpaling hati ke… nasi kandar.
Celangak-celinguk, kami tak melihat kedai nasi kandar yang buka. Mungkin karena hari itu Jumat siang, bertepatan dengan waktunya shalat Jumat. Lalu kami teringat bahwa rata-rata nasi kandar baru buka malam hari. Di tengah kebingungan, kami melihat sebuah kedai yang tampak buka. Letaknya persis di sebelah Nasi Kandar Line Clear di Jalan Penang. Nama kedainya: Nasi Kandar Jasmeene.

Erma memesan nasi yang bentuknya mirip dengan nasi biryani dan lauk yang kata penjualnya sih otak ikan. Saya tidak begitu berselera, jadi saya hanya memesan satu gelas ais milo. Hohoho… sepertinya selama di Malaysia, saya tidak pernah minum minuman lain selain ais milo.
Menurut Erma, rasa nasi kandarnya acceptable. “Masih jauh lebih enak daripada nasi biryani yang aku makan di Singapur,” ceunah:mrgreen:
Dan otak ikannya? Apa rasanya?
“Gak beda sama daging ayam,” katanya lagi. Kalo melihat penampakannya sih, saya juga ragu apakah itu memang otak ikan atau bukan. Lebih terlihat seperti dada ayam, terus terang saja!
Nasi kandar sendiri, dalam pendapat saya, mirip dengan Nasi Padang. Hanya bedanya, kalo makan di restoran Padang kan, begitu kita duduk di meja, langsung deh uda-udanya ngegambreng seluruh lauk yang ada ke hadapan kita. Nah… kalo si nasi kandar ini, sebelum ketemu meja, kita harus terlebih dahulu ngomong ke bapak-bapak yang jual, lauk apa aja yang kita mau.

Selesai makan, kami berjalan melalui Lebuh Chulia untuk kembali ke hostel untuk re-charge batere kamera. Tak lama di hostel, kami segera ke tujuan berikutnya. Pinang Peranakan Mansion.
Objek wisata andalan Pulau Penang yang satu ini terletak di Lebuh Gereja, tak jauh dari hostel kami, hanya sekitar 10 menit berjalan kaki. Bagi yang menyukai sejarah kaum peranakan, mengunjungi bangunan ber-cat hijau telur asin ini tidak boleh dilewatkan.

Pinang Peranakan Mansion dibangun pada akhir abad ke 19 oleh salah seorang tokoh di daerah setempat. Mansion ini pernah menjadi tempat tinggal sekaligus kantor salah seorang Kapitan Cina yang terkenal, Chung Keng Kwee, walaupun dia bukanlah seorang Baba. Baba dan Nyonya adalah sebutan bagi kaum Peranakan, dan Pinang Peranakan Mansion ini merupakan tipikal rumah kaum Peranakan yang kaya raya saat itu.
Kaum Peranakan dikenal dengan budayanya yang merupakan akulturasi budaya Melayu dan kolonial Inggris dengan budaya dari negeri asal mereka di dataran Tiongkok. Kekayaan budaya ini diwariskan turun temurun dengan yang paling kentara dalam kuliner dan bahasa mereka.

Saya tidak tau apakah Mansion ini merupakan ‘sister museum’ dengan Museum Peranakan yang ada di Singapura, tapi kedua bangunan itu sama-sama di cat dengan warna hijau telur asin yang lembut. Bentuk dan penataan ruangannya pun tidak jauh berbeda. Sama-sama memperlihatkan gaya hidup mewah dan standar selera kaum Peranakan kaya pada zamannya. Porselen dari Inggris dan Itali, pemutar piringan hitam, radio, dan pesawat televisi dari Jerman, bahkan peralatan golf-pun mereka sudah punya. Dan tentu mereka juga senang bepergian, terbukti dengan adanya koper-koper kulit yang tampak mewah, dan pastinya hanya orang kaya yang bisa memilikinya.

Sayangnya, kami tidak meneliti hingga ke lantai dasar. Padahal disitulah terletak dapur dan, sepertinya, ruangan berupa altar tempat pemujaan nenek moyang.

Pinang Peranakan Mansion ini buka pukul 09:30 hingga 17:00 dan dikenakan biaya tiket masuk sebesar RM 10 per orang. Hal yang saya sayangkan adalah, tidak adanya keterangan secara tertulis yang menjelaskan diorama-diorama yang ada. Kalau ingin mengerti Mansion tersebut, sepertinya kita hanya bisa mengandalkan tour guide, itu pun dengan perjanjian terlebih dahulu. Untungnya, saat ke Singapura tahun lalu, saya puas mengelilingi Museum Peranakan. Sehingga sedikit banyak saya bisa paham tentang Mansion beserta isinya.
Oh ya, dalam situs resmi Mansion, disebutkan bahwa pengunjung tidak boleh mengambil gambar di dalam Mansion. Dalam kenyataannya, kami bebas berfoto sebanyak apapun yang kami mau. Kami bahkan duduk di atas properti Mansion. Saat kami datang, kebetulan ada sepasang calon pengantin yang sedang melakukan pre-wedding photo shoot di sana.


Mbak-mbak Bule ini membuat sketsa dari pasangan calon pengantin yang saat itu sedang photo session di Mansion

Rasanya hampir dua jam kami di Mansion ketika batere kamera yang terpasang pun akhirnya habis juga *menyusul batere yang sedang di re-charge di hostel*
Kami pun memutuskan untuk ke Giant KOMTAR sebelum melanjutkan walking tour di pesisir George Town. Berjalan sedikit ke Lebuh Pantai, disana kami menunggu bus yang akan membawa kami ke KOMTAR. Saat itulah kami mengetahui bahwa sebenarnya, kami bisa saja tidak keluar uang sama sekali untuk mengelilingi George Town, asal sabar menunggu shuttle bus yang charge-free bertuliskan CAT alias Central Area Transit yang datang setiap 15 menit sekali!
Sejak saat itu, kami selalu bersabar hati menunggu CAT bus, kecuali jika ingin mengunjungi tempat-tempat yang terletak di luar George Town.

Dari KOMTAR, setelah menaruh belanjaan di hostel dan memasang batere yang sudah *dipaksa* selesai re-charge kembali ke kamera, kami memulai walking tour di pesisir kota dan sekitarnya. Saat itu menjelang sore hari. Walaupun Penang masih membara panasnya, tapi sudah sedikit lebih adem dibandingkan saat tengah hari ketika matahari sedang garang-garangnya tersenyum.

Dan seperti inilah rutenya.
Dari hostel, kami berjalan ke kanan, menyusuri Jalan Masjid Kapitan Keling dan Lebuh Farquhar, dimana terdapat Goddess of Mercy Temple *yang terletak tepat didepan hostel*, St. George’s Church, Penang State Museum *yang tampak tidak terawat dan memprihatinkan*, dan Cathedral of Assumption.


St. George’s Church; gereja Anglikan tertua di Asia Tenggara, dibangun oleh Sir Francis Light pada tahun 1816 dan selesai pada tahun 1818. Foto yang diatas itu adalah Cathedral of Assumption

Dari Lebuh Farquhar, kami menyeberang ke Lebuh Light. High Court, Dewan Sri Pinang, Penang Art Gallery, Town Hall, dan City Hall, terletak di sini.


Tampak belakang High Court yang terlihat dari Lebuh Farquhar. Pintu masuknya ada di Lebuh Light


Town Hall yang bersisian dengan Esplanade

Kami berdiam lama di area Esplanade yang mencakup Town Hall dan City Hall untuk menunggu matahari terbenam, menikmati memudarnya cahaya langit dari pinggir laut. Tampaknya tempat ini juga merupakan tempat berkumpul favorit masyarakat lokal. Banyak yang menghabiskan waktu menghirup udara sore sambil mendengar gemercik air laut. Mulai dari anak kecil, muda-mudi yang memadu kasih, hingga kakek-nenek yang masih setia saling menautkan tangan mereka.
Tambahan lagi, saat itu di padang, sebutan mereka bagi tanah lapang yang cukup luas, sepertinya sedang ada suatu acara, semacam bazaar atau pentas seni. Banyak stand menjual rupa-rupa barang, mulai dari makanan hingga perkakas lainnya.

Setelah gelap, kami melanjutkan perjalanan, kembali ke Lebuh Light, melewati State Assembly Buildings dan Queen Victoria Memorial Clock Tower yang dibangun pada tahun 1897. Berbelok ke kanan, menapaki Lebuh Pantai, sambil menikmati Penang yang bercahaya dari lampu-lampu yang menerangi berbagai klub dan restoran.


Pengen makan di Subway… tapi belom mampu. Yaudah, nikmati aja dulu fotonya deh ya…


Pengen ngopi di sini juga kakaaakk… tapi yuk ah masih kere… Pandangi saja fotonya:mrgreen:

Jam sudah menunjukkan pukul 20:30 ketika kami mulai memasuki Jalan Masjid Kapitan Keling, dan ini berarti sudah waktunya makan malam. Sebenarnya kami ingin mencoba Nasi Kandar Beratur yang terletak tepat disebelah Masjid Kapitan Keling, tapi nasi kandar itu baru buka pukul 22:00. Akhirnya kami memutuskan untuk hanya ke Masjid Kapitan Keling saja tanpa menunggu Nasi Kandar Beratur itu.

Masjid Kapitan Keling yang merupakan masjid terbesar seantero Pulau. Masjid cantik berarsitektur khas Moghul ini dibangun tahun 1801. Jam berkunjung bagi turis dibatasi hingga pukul 6 sore saja.


Begini lho, penampakannya kalo siang hari…

Mendekati hostel, kami sengaja berbelok ke Lebuh Queen yang sudah termasuk ke dalam kawasan Little India, suatu kawasan di mana kita bisa melihat segala hal berbau India dan mendengar lengkingan suara para penyanyi India dengan lagu-lagu mereka yang khas yang disetel dalam volume tinggi oleh kios-kios yang berderet memenuhi sisi kanan dan kiri jalan.
Tujuan kami ke sini sih jelas ya… cari makan. Dan seperti biasa, kalau udah urusan mengunyah, kami ini bawaannya suka galau. Bimbang. Gundah gulana. Bingung mau makan apa dan di mana. Lebih dari dua kali kami mondar-mandiri dari ujung ke ujung Lebuh Queen dan sekitarnya. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke sebuah kedai sambil berdoa semoga makanannya enak. Tajjudin Hussein, namanya. Saya memesan roti canai kosong dan satu gelas ais milo *I always ordered such beverage… I LOOOOOVE the chocolate taste!* sementara Erma memesan roti canai telur dan segelas orange juice, yang percayalah, dibuat dari Sunquick:mrgreen:
Kalo ditanya, enak? Saya akan jawab: enak. Ya buat lidah saya yang gak terlalu peka rasa ini sih, roti canai itu enak-enak aja. Apalagi, pada dasarnya saya emang suka roti canai😉
Erma pun bilang kalo roti canai pesanannya enak. Jadi sepertinya gak salah kalo saya bilang, the taste is good. Sebelum masuk ke kedai itu kan kami juga mengamati dulu. Cari yang rame, biasanya kalo rame kan makanannya enak. Hihihi…


Dalam perjalanan kembali ke hostel, saya melihat pemandangan ini. Senang dan terharu melihat bapak-bapak ini. Dia memisahkan daging dari tulangnya untuk diberikan kepada kucing-kucing yang mengelilinginya. Jadi inget si emeng di rumah…

Perut kenyang, saatnya menenangkan pikiran. Kami kembali ke hostel, membereskan barang-barang yang berserakan karena esok hari, kami harus kembali ke Kuala Lumpur, menikmati semalam saja di sana.

2 thoughts on “Saya Pusing, Erma Pusing… Kami Pusing-pusing!!!

    • ukechin says:

      Salam kenal juga, Mbak Wiwi🙂

      Thank you for the compliment. Saya pake kamera saku biasa. Panasonic Lumix serinya lupa euy… seri TZ tapi lupa yang mana, produk lama sih yang jelas. Hehehe…:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s