So Little Time, So Much To See!

Yak! Cerita tentang saya dan Erma yang bimbang #eh di Penang masih berlanjut, Sodara-sodara!
Masih ada waktu hingga tengah hari sebelum harus minggat ke Kuala Lumpur. Masih banyak yang belum dilihat! Sabar bacanya ya kakaaaaakkk:mrgreen:

***

Sabtu pagi, seperti hari sebelumnya, saya dan Erma berusaha untuk menepati rencana yang kami buat sendiri. Kami masih punya beberapa jam untuk menjelajahi George Town sebelum akhirnya harus bertolak ke Kuala Lumpur.
Sebenarnya, setidaknya ada tiga tempat yang belum kami kunjungi. Wat Chayamangkalaram, sebuah kuil Budha yang memiliki patung Budha Tidur didalamnya, lalu Dharmikarama Burmese Temple, dan rumah seniman Melayu serba-bisa, P. Ramlee. Namun, karena keterbatasan waktu dan fakta bahwa ketiga tempat itu terletak diluar area George Town, yang berarti tidak bisa ditempuh dengan jalan kaki, kami urung mendatangi tempat-tempat tersebut. Lagipula, bila mengacu pada itinerary, seharusnya kami mengunjungi tempat-tempat itu pada hari sebelumnya, jadi sekali jalan sama Kek Lok Si dan Penang Hill *tipikal orang ambisius, pengennya sekali jebret dapet semua*😆

Baiklah, maka seperti hari sebelumnya, setelah selesai mandi, tanpa sarapan kami langsung meninggalkan hostel. Acara gak sarapan ini emang disengaja sih… jadi ceritanya pengen menuntaskan hasrat yang sudah luar biasa menggebu-gebu dalam diri ini makan roti canai Argyll Road. Kemarin kan gak jadi tuh ya makan roti canai-nya gara-gara kedainya tutup… atau gak ada? Gak tau juga deh:mrgreen:
Jadi yaaa… dengan penuh semangat, kami menuju Argyll Road, dengan mengambil rute yang berbeda dari biasanya. Kan ceritanya mau memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menelisik sudut-sudut George Town yang belum terjamah mata.

Begitu keluar hostel, kami langsung menyeberang jalan, masuk ke Lorong Stewart. Melewati Goddess of Mercy Temple yang dibangun tahun 1728 untuk memuja Dewi Kwan Im, kami terus menyusuri Lorong Stewart yang memang tampak tersembunyi. Lorong Stewart ini dulunya tempat tinggal para pelaut deh kalo gak salah. Ada penjelasannya pada papan penunjuk nama jalan yang dipasang di salah satu dinding rumah yang mengapit Lorong Stewart yang berbentuk gang kecil.


Lorong Stewart! Ternyata di luar negeri pun ada gang kecil #eh Hebatnya, gang kecil ini punya sejarah dalam penamaannya lho…

Melewati gang kecil di Lorong Stewart, kami berbelok sebentar ke Lorong Chulia. Pemandangan di sini sungguh khas masyarakat lokal membuka pagi di awal hari.

Melanjutkan ke Love Lane. Di Love Lane, dan Lebuh Muntri yang nantinya akan kami singgahi juga, terletak banyak penginapan-penginapan kelas backpacker. Ciri-cirinya sih hampir sama. Serba mungil tapi dengan fasad dan interior yang unik dan cantik menarik hati. Tiga hostel yang terletak bersebelahan di tikungan Love Lane ini merupakan hostel-hostel yang cukup terkenal dan diminati para pelancong. Setidaknya begitulah yang ada dalam peringkat agoda.com maupun hostelworld.


The Famous Old Penang Guest House, Red Inn Heritage, and Reggae Penang. Kami pernah menimbang-nimbang untuk menginap disini sebelum akhirnya memutuskan hostel yang kami tempati saat itu

Terus ke Lebuh Muntri, kami menyempatkan diri berhenti di Hainan Temple. Hainan Temple adalah sebuah kuil yang dibangun tahun 1866 untuk menghormati Mar Chor, Dewi Para Pelaut. Selain Hainan Temple, bangunan lain yang masuk dalam daftar perlu untuk dikunjungi adalah Benggali Mosque, yang dari namanya aja udah ketahuan kan kalo masjid ini diperuntukkan bagi orang India Muslim yang datang dari Bengal.

Dari Lebuh Muntri, kami menyeberangi Jalan Penang, dan tanpa basa-basi langsung menuju ke Argyll Road. Wah… kali ini, kami tidak salah. Ada sebuah kedai roti canai ramai dipadati para pembeli, walaupun klinik WONG-nya tetap tidak terlihat. Dan kedai roti canainya pun tampak bagus, sebuah bangunan permanen. Saya dan berspekulasi, mungkin klinik WONG-nya bangkrut, tidak bisa bertahan dengan klinik lain yang memang bertebaran di sepanjang Argyll Road, dan malah si roti canai yang dulunya cuma kaki lima, berkembang pesat dan akhirnya mampu membeli sebuah ruko:mrgreen:


“Ais milo one!” teriak si bapak pelayan. One, supposed to be read ‘wan’, bener-bener di baca ‘o-ne’ oleh mereka. Tentunya lengkap dengan goyangan kepala dan gerakan tangan khas orang India😆

Seikh Usman Gerai Roti Canai, begitu nama yang tercantum didalam kedai. Papan nama diluar bilangnya Roti Canai Argyll Road since 1955. Penampakan kedainya sendiri sih biasa aja. Mirip-mirip dengan kedai roti canai yang kami sambangi malam sebelumnya. Rasanya pun sama. Sama-sama enak, maksudnya. Erma bilang, kuah karinya lebih mantap di kedai ini, sementara bagi saya, roti canai telurnya lebih oke yang di Tajjudin Hussein karena lebih tebal dan telurnya lebih rata. Overall sih, tetep… enak!
Kedai ini buka dari pukul 6 pagi hingga pukul 1 siang. “Pokoknya, waktu shalat kami tutup,” kata salah seorang mas-mas pelayan berkulit keling di sana. Dan setelah dilihat-lihat, roti canai itu memang menu sarapan sehari-hari penduduk lokal. Gak heran jika kedainya tutup lewat tengah hari.
Kami agak takjub melihat bahwa menu seperti roti canai ataupun nasi dengan kuah santan pekat adalah santapan sehari-hari untuk mengawali hari di Penang. Bayangkan berapa banyak kolesterol ditimbun di situ? *tapi teteup dimakan ya cuuuyy*

Lega setelah akhirnya kesampaian makan roti canai Argyll Road, kami segera beranjak ke Lebuh Campbell. Kami berencana untuk melihat-lihat kawasan sekitar Masjid Kapitan Keling dan sekitarnya yang sebenarnya direncanakan untuk dikunjungi di hari pertama kami sampai di Pulau Penang.
Lebuh Campbell merupakan suatu jalan yang dipenuhi toko obat tradisional cina, juga beberapa toko sejenis toko yang menyediakan peralatan konveksi. Berbeda dengan Argyll Road yang didominasi keturunan India, Lebuh Campbell dan sekelilingnya ini dipenuhi oleh mereka yang bermata sipit *termasuk saya dong kalo gitu :mrgreen:*

Setelah Lebuh Campbell, jalan selanjutnya dinamakan Lebuh Buckingham. Berbelok ke kanan, kita bertemu dengan Lebuh Canon. Jalan terus, diujung jalan terlihat menjulang menara masjid. Itu dia Masjid Melayu Lebuh Acheh, sebuah masjid yang didirikan oleh Tengku Syed Hussain bin Abdul Rahman Aideed pada tahun 1808 untuk kaum Arab pendatang dari Hadramaut. Bila kita masuk ke area masjid, kita kan melihat rumah-rumah yang berdiri berdempetan, seolah tanpa batas dengan masjid. Sepertinya itu adalah rumah-rumah tempat tinggal keturunan Arab Hadramaut yang masih berlanjut sejak abad ke 19 hingga kini.


Suatu sudut Lebuh Canon


Masjid Melayu Lebuh Acheh

Tidak lama di masjid ini, kami melanjutkan perjalanan sepanjang Lebuh Acheh dan berbelok ke kiri. Sebenarnya di kawasan ini ada satu lagi tempat wisata layak kunjung. Khoo Kongsi, sebuah kuil yang cukup luas yang dibangun sekitar tahun 1906 yang dimiliki oleh Khoo Kongsi klan. Tapi lagi-lagi, dengan alasan keterbatasan waktu, kami melewatinya.
Di Lebuh Armenian, tak sengaja kami melihat dua orang turis sedang berfoto. Setelah diamati, ternyata mereka berfoto dengan sepeda tua yang sepertinya sengaja dipasang di salah satu dinding bangunan yang ada di situ. Segera saja kami mengikuti langkah turis tersebut, dan segera saja kami diikuti oleh turis-turis lainnya. Ada-ada aja deh, idenya bagus juga ya menaruh sepeda tua dan dilengkapi dengan lukisan didindingnya.


Gowes, Mang!😆

Kembali ke hostel, kami hanya memastikan bahwa semua barang sudah aman masuk koper dan segera saja check out untuk menuju KOMTAR. Ada dua pilihan untuk bisa mencapai KOMTAR. Pertama, naik Rapid Penang dari Lebuh Chulia. Tentu dengan membayar tarif RM2 seperti biasa. Pilihan kedua, naik bus Hop On CAT yang gratis. Nah… pastinya kami pilih yang haratis dong. Jadilah kami berjalan sedikit ke Lebuh Farquhar, menunggu tumpangan gratis di halte bus di depan St. George’s Church. Lumayan juga nunggunya, 10 menit baru deh kelihatan tanda-tanda ngebutnya. Dan karena ngebut, nyampe di KOMTAR-nya juga cepet. Celangak-celinguk, setelah turun dari bus kami segera menuju tempat penjualan tiket bus luar kota. Counter-nya mudah ditemukan, ada tulisan besar “KONSORTIUM BAS EKSPRESS”. Saat kami sampai di depan mbak-mbak penjaga loket, jam menunjukkan pukul 11:40.
Menurut informasi mereka, ada bus yang berangkat dari KOMTAR menuju Puduraya di Kuala Lumpur tiap satu jam sekali. Sesuai jadwal, bus akan berangkat pukul 1 siang. Itu berarti, kami masih punya waktu sekitar 70 menit untuk makan dan bersantai-santai, ya mungkin mau beli oleh-oleh lagi dari Giant atau Carrefour di mall sekitar:mrgreen:
Setelah menyelesaikan pembayaran sebesar RM 35 *kali ini kami dapet invoice-nya dong ah!* dan memilih tempat duduk persis di belakang pak supir, kami segera masuk ke 1st Avenue, mall yang punya semboyan “when you come first”, yang tampaknya merupakan salah satu mall paling wokeh seantero Pulau😆
Dan bener ajaaa… kami, setidaknya… saya lah:mrgreen:, tergiur untuk kembali membeli satu bungkus besar teh berperisa.

Setelah dirasa lama berkeliling, dan ternyata baru memakan waktu sekitar 30 menit *ngamuk*, kami duduk-duduk di halte bus CAT yang terletak tepat di depan counter Mustika Ratu, berseberangan dengan counter Konsortium Bas Ekspress.

Mendekati pukul 1, kami pun kembali ke counter bus. Ternyata bus-nya datangnya ngaret, baru muncul sekitar pukul 1:15, dan judul bus-nya pun bukan Konsortium Bas Ekspress, tapi Seasons. Ruang untuk kaki lebih sempit jika dibandingkan dengan KKKL Ekspress, bus yang membawa kami ke Sungai Nibong, tapi masih tetep nyaman kok untuk perjalanan selama 5 jam.
Dari KOMTAR, bus mampir dulu ke terminal Sungai Nibong untuk menaikkan penumpang. Gak lama di terminal tersebut *karena fungsi terminal di Malaysia kayaknya emang cuma buat naik turun penumpang dan bukannya ngetem nunggu sampe penumpang penuh* bus langsung meluncur di atas jalan beraspal mulus, melewati Penang Bridge, meninggalkan Pulau Penang, menuju Kuala Lumpur.

Tips berselancar di Pulau Penang:
– Penang itu panas, Je! Sebelas duabelas sama Cirebon atau Karawang. Jadi jangan lupa pake sunblock, baju berbahan katun yang nyaman, dan kaus kaki… biar gak belang. Senjata lain yang penting adalah kaca mata item. Atau topi besar seperti yang suka dipakai para bangsawan Inggris. Boleh juga kalo mau bawa kipas, dan air khusus untuk nyemprot muka kalo udah mulai kucel.
– Selalu sedia payung. Bukan hanya sebelum hujan, yang turun gak tentu waktu, tapi juga untuk melindungi diri dari terik matahari. Cuaca Penang terkenal cepat berubah.
– Siapkan uang pas buat ongkos Rapid Penang, karena mereka gak sedia kembalian. Atau, kalau masih dalam area George Town, maksimalkan saja penggunaan kaki, atau sabar menunggu Hop On CAT Free Bus. Cara yang agak ekstrem, misalnya cuma punya uang kecil RM 1, ya bilang aja terus terang sama supirnya. Tetep dikasi naik sih *ya masa’ iya mau diturunin lagi* tapi ya gak dapet tiket.
– Selain berjalan kaki ataupun menumpang bus gratis, cara lain untuk menikmati Penang adalah dengan naik becak seperti yang lazim dilakukan oleh turis bule. Lha tapi kalo mau naik becak sih, di komplek rumah aye juga bejibun *sombooooonnnggg* Enihooo, becak di Penang lucu juga sih, penuh hiasan persis kayak becak buat karnaval atau 17 Agustus-an, dan yang jelas lebih lebar daripada becak di Depok #eh
– Balik lagi, Penang itu panas, cuy… maka selalu sedia air mineral dalam tas. Beli aja di toko terdekat. Air keran mereka masih sama kayak air keran Indonesia, gak bisa langsung diminum. Mungkin bisa, tapi ya siap-siap aja kena resiko cacingan atau sakit perut:mrgreen:
– Peta itu penting, Jendral! Oh my… gak usah ditanya lah ya apa gunanya…
– Berdasarkan pengalaman, waktu ideal untuk menikmati Pulau Penang itu setidaknya 3 malam deh. Karena sebenarnya banyak yang bisa dilihat dan dikunjungi. Pulau ini benar-benar kaya akan peninggalan sejarah. Walaupun minim akan penjelasannya. Maka supaya gak sia-sia, sebelum berkunjung alangkah baiknya browsing-browsing dulu mencari informasi-informasi terkait.
– Roti canai itu pagi dan nasi kandar itu malam. Lha siang? Gak tau deh… tidur kali? #eh…

Expenses:
– Sarapan di roti canai Argyll Road RM 8,10
– Tiket Konsortium Bas Ekspress (KOMTAR – Puduraya) RM 35
– Jajan lagi di Carrefour RM 14,50

2 thoughts on “So Little Time, So Much To See!

    • ukechin says:

      hihihi… iya gw tau kok yang lo maksud… tapi gak gw tulis di sini karena dua alasan:
      1. gw tidak mengalaminya
      2. takut ntar kena ancaman pidana bo, mencemarkan nama baik subsider perbuatan tidak menyenangkan… #eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s