A Night at A Corner of Kuala Lumpur

Perjalanan cukup panjang yang saya dan Erma isi dengan berbagai macam obrolan dan disuguhi pemandangan alami bebatuan kapur dan kelapa sawit di sisi jalan akhirnya berakhir di Pudu Sentral.

Touchdown Kuala Lumpur!!! Yeaaaaayyy!!! *senam tulang setelah lima jam meringkuk di kursi bus*

***

Ini kedua kalinya kami mendatangi Pudu Sentral, setelah sebelumnya hanya singgah untuk mencari bus menuju Pulau Penang. Sebagai terminal, Pudu Sentral ini cukup rapih, bersih, dan teratur. Tidak semrawut dan kotor seperti terminal-terminal di Indonesia. Jadwal keberangkatan bus juga tampaknya telah tersistemisasi dengan baik. Ada layar khusus yang menginformasikan tujuan dan jam keberangkatan dari bus-bus yang ada. Agak sedikit canggung bagi kami untuk memperhatikan jadwal bus di layar datar tersebut, selain karena jadwal berganti agak cepat sehingga tidak sempat terbaca, mungkin juga karena kami terbiasa dengan jadwal bus ala Indonesia. Kalau mau tau bus apa menuju ke mana dan kapan berangkatnya, tinggal tanya saja pada calo yang banyak bertebaran di terminal. Tapi di Pudu Sentral ini kita dituntut untuk mandiri, dan jika mau bertanya sebaiknya tanya langsung pada supir, tentunya kita juga sudah membekali diri dengan informasi yang didapat dari internet ya.

Jika sebelumnya kami hanya ke bagian bawah terminal, di mana bus-bus menunggu para calon penumpang, kali ini kami tentu ke lantai atas karena kami harus keluar menuju penginapan. Saat itu sore hari, sekitar pukul 18:00, Kuala Lumpur sedang diguyur hujan. Karena tidak ada pilihan, kami memutuskan untuk tetap keluar dari terminal dan mencari penginapan kami dengan berjalan kaki karena, jika dilihat dalam peta, penginapan kami yang terletak di Jalan Tun HS Lee tampak cukup dekat dengan Pudu Sentral.
Benar saja. Hanya 10 menit waktu yang diperlukan untuk sampai di penginapan. Kami berjalan di tepi Jalan Tun Perak, jalan pertama yang ada di sisi kanan adalah Jalan Raja Chulan Changkat, kemudian setelahnya adalah Jalan Hang Lekiu. Karena penginapan kami katanya terletak di ujung Jalan Tun HS Lee, dekat dengan Telekom Museum, kami memutuskan untuk masuk ke Jalan Hang Lekiu. Berjalan terus hingga ujung jalan, berbelok ke kiri, kemudian belok kiri lagi, kami sudah ada di Jalan Tun HS Lee.

Bangunan yang ada di kedua sisi jalan sangat tipikal bangunan ruko, yang sepertinya memang dimanfaatkan untuk usaha, seperti rumah makan, misalnya. Jalan Tun HS Lee ini, walaupun dekat dengan Jalan Perak yang merupakan jalan raya maupun dengan stasiun Rapid KL Masjid Jamek, tapi selalu tampak sepi. Bahkan di akhir pekan pun sepi.
Kami celingak-celinguk, dan melihat bangunan bercat putih yang tampak kusam entah karena usia atau memang sengaja dicat seperti itu, dengan kain berwarna merah kusam semacam bendera yang bertuliskan nama tempat itu. Itu dia tempat kami menumpang tidur semalam saja di Kuala Lumpur. BackHome KL.

***
Kami hanya menaruh tas dan sedikit membasuh muka saja di BackHome, dan seterusnya mencoba menikmati daerah sekitar hostel pada malam hari. Kami memilih untuk mengunjungi Central Market dan Petaling Street. Karena berdasarkan yang kami tau, Central Market itu tutup pada pukul 22:00, kami memutuskan untuk mengunjunginya terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan, kami mendapati bahwa sebenarnya Kuala Lumpur gak jauh berbeda dengan Jakarta kok. Bus-bus besar berjejeran dipinggir jalan, ditingkahi suara kernet bus berteriak-teriak memanggil calon penumpang. Tapi bus-bus tersebut berhenti memang di tempat yang disediakan untuk mereka. Ukuran bus juga lebih besar daripada Kopaja dan secara fisik pun sedikit lebih baik dari yang Jakarta punya. Kebanyakan bus-bus tersebut adalah bus yang menempuh trayek cukup jauh, seperti ke Genting.

Cahaya disepanjang jalan pun agak sedikit remang-remang, banyak lorong gelap dimana banyak pula orang India keling nongkrong di situ karena memang banyak rumah makan menjual roti canai bertebaran di sisi jalan. Jalanan agak basah sisa hujan sore tadi. Dalam perjalanan pulang, kami melihat beberapa lelaki berseragam ala militer tampak menciduk seorang lelaki berperawakan India.

Central Market terletak tak jauh dari hostel kami, kurang lebih hanya 15 menit berjalan kaki. Di sini kita bisa menemukan banyak pilihan barang untuk dijadikan oleh-oleh. Mulai dari pernak-pernik ‘common’ seperti keychain atau magnet, hingga mainan edukatif untuk anak-anak seperti puzzle atau pesawat terbang rakitan. Kios-kiosnya teratur rapih, terletak di dalam gedung berpendingin ruangan dengan tampilan fasad yang modern. Harga yang dibandrol sudah merupakan harga mati, tapi biasanya dapat diskon sedikit jika membeli dalam jumlah banyak atau membeli beberapa jenis barang. Saya dan Erma berkeliling, dan mendapati banyak sekali barang produksi Thailand di sini. Dan barang-barang tersebut khas Thailand pula, penuh dengan sulaman benang warna-warni dan bentuk gajah di mana-mana. Kami jadi berpikir, kami ini ke Malaysia atau ke Thailand sebenarnya?

Sebenarnya saya sudah mendapatkan beberapa barang yang dijadikan target operasi untuk dijadikan oleh-oleh, tapi saya masih menunda untuk membeli karena ingin membandingkan dengan Petaling Street.

Petaling Street itu sendiri mirip dengan Pasar Baru di Jakarta. Area pedestrian yang semakin lama semakin sempit karena dipenuhi oleh banyak lapak yang menjual beragam barang. Jadi Petaling Street ini udah bukan sentra oleh-oleh khas Malaysia lagi karena barang-barangnya bukan hanya barang-barang khas mereka tapi juga barang-barang KW yang biasa kita temukan di Mangga Dua dan harganya pun bisa dinegosiasikan. Hanya Mangga Dua tentu punya lebih banyak variasi.
Setelah melihat-lihat dan menyusuri sepanjang jalan Petaling Street yang dihiasi lampion-lampion merah, saya dan Erma memutuskan untuk kembali ke Central Market dan membeli oleh-oleh kami di sana. Kebetulan kalau untuk pernak-pernik kecil pilihannya jauh lebih banyak dan lebih bagus di Central Market. Apalagi untuk oleh-oleh yang sifatnya ‘common’ seperti magnet atau gantungan kunci, walaupun di Petaling Street harga bisa ditawar, tapi jatuh-jatuhnya gak jauh beda dari Central Market. Saya membeli beberapa magnet untuk penghias kulkas karena memang koleksi, juga tempat kartu nama dan sebuah gantungan henpon berbentuk ikan lumba-lumba yang terbuat dari kain perca berwarna pink dan abu-abu.

Menjelang pukul 10 malam, toko-toko di Central Market bersiap-siap tutup. Kami pun beranjak pulang. Tadinya mau makan malam dulu di es teller 77 yang terletak tepat di depan Central Market, tapi ternyata udah tutup duluan. Akhirnya kami kembali ke hostel sambil berharap bisa menemukan tempat makan yang masih buka pada jam segitu.

Dan ternyata tidak. Daerah sekitar hostel sungguh sepi. Saya hanya menyempatkan diri memotret KL Tower yang terlihat puncaknya dari kejauhan. Setelahnya saya dan Erma segera masuk ke hostel dan, karena tidak diperkenankan membawa makanan dari luar, kami membeli dua buah instant cups noodles, masing-masing seharga RM3. Di ruang duduk hostel yang nyaman itu tersedia air panas. Kami menyeduh mi instan tersebut dan makan di teras, langsung dibawah langit malam yang gelap pekat, memperhatikan puncak KL Tower yang terlihat. Tinggal satu hari lagi libur long weekend yang tersedia. Kami berbincang-bincang membicarakan rencana perjalanan esok hari sambil menyeruput kuah hangat mi masing-masing, dan terhenti ketika seorang cowok keluar dari kamar mandi hanya dengan sehelai handuk menutupi sebagian kecil tubuhnya.
Saya dan Erma terbengong-bengong dan kemudian terkikik.

“Itu sih masih mending,” kata Erma kalem sambil menyendok mi, “Waktu di Penang, aku lihat cewek handukan doang ngobrol di ruang tamu hostel sama cowok-cowok.”

Kami terkekeh lagi. Perjalanan mengantarkan kami melihat banyak hal, yang dalam beberapa hal berbeda, dan tak jarang mengejutkan.

Expenses:
– Hostel BackHome KL RM 55 (1 night, double bed private with shared bathroom)
– Oleh-oleh di Central Market RM 39
– Instant cup noodle di hostel RM 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s