Kuala Lumpur All In

Akhirnya ya akhirnya, menulis tentang pelesir ke KL tempo hari lagi. Setelah sekian lama tertunda ya… Oya, peringatan sebelumnya ya kakak, ini akan jadi post yang sangaaaaaattt panjang. Dan ada beberapa foto yang kurang oke. Ihik. Bear with me, dear, bear with me:mrgreen:

***
Saya dan Erma masih punya waktu beberapa jam sebelum kami akhirnya harus kembali ke Bandung. Entah kenapa, kami merasa tidak terlalu bersemangat untuk mengeksplorasi KL, dan ini berimbas pada semangat kami membidik objek foto. Saya masih sedikit lebih baik karena saya berusaha untuk tetap memotret sekeliling, walaupun minat saya yang biasanya ada pada detail, hilang menguap entah ke mana. Erma malah gak semangat sama sekali baik, baik untuk memotret ataupun dipotret. Dia hanya ingin berjalan menikmati KL tanpa melakukan apapun. Mungkin tenaga kami sudah terkuras di Penang. Entahlah.

***

Pagi itu setelah selesai packing dan sarapan, kami mencoba untuk melakukan eksplorasi kecil-kecilan daerah sekitar hostel. Tentu saja dengan berjalan kaki seperti yang selalu kami lakukan di Penang.
Minggu pagi itu begitu sepi. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 8.
Keluar dari hostel, kami berjalan ke kanan hingga ke ujung Jalan Tun HS Lee yang ada Muzeum Telekom, berbelok ke kiri, kemudian berbelok ke kiri lagi hingga bertemu Bank Muamalat dan stasiun Rapid KL Masjid Jamek.
Dari situ kami menyusuri Jalan Perak kemudian menyeberang dan… voila!!! Sampailah kami di kawasan Jalan Raja di mana terletak Dataran Merdeka!

Menurut buku petunjuk yang dikeluarkan oleh Tourism Malaysia, Dataran Merdeka adalah starting point yang bagus untuk mengeksplorasi KL. Dataran Merdeka itu sendiri, sesuai dengan namanya, adalah sebuah lapangan besar yang digunakan untuk memperingati kemerdekaan setiap tahunnya, selain digunakan juga untuk berbagai pertandingan olahraga seperti cricket, hockey, tennis, dan rugby. Di tengah-tengah lapangan berdiri tiang bendera setinggi 100 meter, di klaim sebagai tiang bendera tertinggi di dunia, di mana terpasang bendera Malaysia.

Sebelum kita bisa menemukan Dataran Merdeka, mata kita akan terpaku terlebih dahulu pada sebuah gedung yang memanjang di sisi jalan. Gedung cantik tersebut berasitektur khas Moor, lengkap dengan menara jam dan atap berbentuk kubah. Itulah gedung Sultan Abdul Samad. Baik dalam peta maupun buku petunjuk wisata, gedung Sultan Abdul Samad tersebut diinformasikan sebagai Mahkamah Tinggi dan Mahkamah Agung-nya Malaysia. Tapi saat kami ke sana, tulisan yang ada berkata bahwa gedung tersebut berfungsi sebagai Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia.

Di sisi Dataran Merdeka terdapat Royal Selangor Club yang didirikan oleh Kolonial Inggris pada tahun 1884 sebagai tempat berkumpulnya kaum berpendidikan dan pejabat tinggi dari kalangan Inggris. Walaupun demikian, keanggotaan klub ini lebih diprioritaskan pada jenjang pendidikan dan strata social, dan bukan pada ras ataupun kewarganegaraan.


Gedung Sultan Abdul Samad yang berfungsi either sebagai High Court atau sebagai Kementerian Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia

Saat berjalan menyusuri Jalan Raja, kami berpapasan dengan serombongan turis yang turun dari bus mereka dan kemudian sibuk berpose. Hanya sebentar, karena setelahnya mereka terburu-buru kembali ke dalam bus. Saya dan Erma mempertanyakan esensi berwisata mereka. Semata-mata berfoto tanpa mau mengenal lebih dekat sudut kota atau entah apa, tapi tentu masing-masing orang mempunyai preferensi yang pasti berbeda satu dengan lainnya. Kami tidak punya hak menghakimi orang lain kan? Kebetulan saja kami lebih memilih untuk mengayunkan langkah kaki, memaksa betis kami hingga berkonde menelisik kota.

Dari Dataran Merdeka, kami berbelok ke kiri keLebuh Pasar Besar dan menyeberangi sebuah jembatan diatas sungai Klang, mencari jalan kea rah Masjid Jamek, tujuan kami berikutnya. Ketika berada diatas jembatan, kami menengok ke kiri, dan melihat sebuah bangunan terhalang pepohonan. Penasaran apakah itu Masjid Jamek atau bukan, biarpun sempat ragu kami pun masuk ke jalan kecil yang tampaknya mengarah ke bangunan tersebut.

Eh… ternyata beneran Masjid Jamek. Kami pun memutuskan untuk mampir sejenak dan mendapat sambutan yang, menurut saya, seadanya. Hanya mungkin karena kami berjilbab dan bilang mau shalat, kami dipersilakan meneruskan langkah melihat-lihat. Kami tidak bohong ketika mengatakan mau shalat. Erma, yang baru saja bersih, ingin menunaikan shalat Dhuha. Saya pun menunggu di tepian, sementara Erma melaksanakan shalat di bagian luar Masjid setelah sebelumnya diwanti-wanti oleh seorang ibu supaya shalat di luar saja dan tidak terlalu lama.
Oya, selayaknya memasuki tempat ibadah, bagi turis lain yang dirasa berpakaian kurang pantas dan tetap ingin melihat-lihat Masjid pun sudah disediakan gamis dan kerudung.


Masjid ini dibangun pada 1909 dan merupakan masjid tertua di kota Kualalumpur.Terletak di pertemuan Sungai Klang dan Sungai Gombak, tempat asal muasal kota Kuala Lumpur.
Masjid indah dengan arsitektur khas Moghul India ini dibuka secara resmi sebagai Masjid Negara pada 1965.


Neng Erma si muslimah shalihah anti galau #eh

Selesai shalat, karena jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, kami memutuskan untuk kembali ke hostel untuk check out. Maksudnya sih supaya ketika di Petronas nanti kami tidak terburu-buru.
Malam sebelumnya, ketika berkunjung ke Central Market, kami menyempatkan diri melihat-lihat majalah Malaysia. Tak jarang kami terkikik geli melihat nama majalah atau headline-nya.Semata karena bahasa Melayu yang memang berbeda dengan bahasa Indonesia.

Tapiiiii… gak ada yang ngalahin ini nih, yang kami temui di lapak koran dekat hostel:


Dan apakah misteri siapa Bubu sebenarnya terkuak? *cium tangan Syahrini*😆

Setelah menyelesaikan urusan check out, saya dan Erma kembali lagi ke jalan. Tujuan kali ini, Menara Kembar Petronas, yang kalau menurut peta, cukup dekat dari hostel sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Website hostel pun seia sekata. Dalam website mereka berpromosi hanya 20 menit berjalan kaki untuk mencapai Twin Towers.

Setelah dijalani, ditambah nyasar karena tiba-tiba berubah tujuan mau ke Pavilion Mall dulu, ternyata 20 menit itu perlu dikali 2 sehingga jadi 40 menit berjalan kaki. Tapi karena hari belum terlalu siang dan sepanjang jalan yang kami lalui dipenuhi pohon rindang, perjalanan jadi terasa tidak terlalu melelahkan. Nikmati saja pemandangan sekitar. Kapan lagi bisa berjalan santai di sepanjang jalan protokol tanpa harus khawatir diseruduk motor? *nyinyir abiiiss*


Gereja cantik dan rindang: salah satu pemandangan menuju Petronas Twin Towers

Tujuan pertama adalah Suria KLCC, yang isinya gak beda jauh sama Pondok Indah Mall 2. Saya bermaksud mencari beberapa benda untuk Nyonya Besar. Yang pertama disasar adalah outlet Vincci, salah satu brand asli Malaysia yang menawarkan ragam apparel dengan harga terjangkau. Sesampainya didalam gedung, kami celingak-celinguk, berkali-kali berjalan dari ujung ke ujung, tapi kok ya gak ketemu juga gerai yang dimaksud. Setelah bertanya pada Pak Satpam, akhirnya ketemu juga tokonya Vincci. Oya, selain menunjukkan arah, Pak Satpam pun tak lupa mengingatkan agar kami berhati-hati dengan barang bawaan kami.

Mungkin saat itu bukan waktu yang pas bagi saya untuk belanja. Tak ada satu pun barang yang dipajang di situ yang menarik hati saya. Padahal udah dilama-lamain, satu benda dipelototin lamaaa…maksudnya sih biar naksir terus beli, eh tapi tetep dong ah gak tertarik. Malah bingung karena di mata saya kok warna-warna neon itu terlihat…ehm…norak dan berlebihan:mrgreen:
Padahal sebagai alay nasional, saya biasanya juga norak dan kampungan. Tapi entah kenapa all those Vincci things kelihatan biasa aja saat itu. Dan saya cukup yakin, kalau Nyonya Besar juga gak akan suka sama benda-benda itu, karena biasanya Nyonya Besar selalu nurut sama apa yang saya pilihkan *anak durjana*:mrgreen:

Tanpa diduga, malah Erma yang akhirnya membeli sepasang sepatu. Saya yang putus asa *eh…agak berlebihan ya? Hihihi…* bergerak ke gerai Charles & Keith yang terletak disebelahnya, dan lagi-lagi tidak menemukan sesuatu yang istimewa.
Dalam kebingungan itu, tiba-tiba sebuah lampu bohlam menyala dalam kepala saya. Tring!!! Saya melihat Sephora! Iya ya, kenapa tidak saya bawakan saja sebotol parfum untuk Nyonya Besar? Nyonya Besar, sebagaimana perempuan pada umumnya, senang menggunakan parfum. Tentunya eau de parfum digunakan hanya pada momen khusus, sehari-hari body mist sudah cukup menyegarkan badan beliau.

Baiklah, mari kita tinjau sephora ini. Saya, yang tidak biasa menggunakan lapisan-lapisan kosmetik ataupun perawatan tubuh kecuali dalam jenis yang paling sederhana, langsung berjalan lurus ke konter parfum. Saya melihat j’adore-nya Dior, parfum yang sudah lama saya impikan sejak saya pertama kali melihatnya di Paris tahun 2008 silam, dan tentu saja, harganya masih selangit, sehingga bisa dipastikan, hingga saat ini saya belum mampu membelinya:mrgreen:
Oke, usut punya usut, setelah kusut membaui berbagai macam parfum sehingga saya bahkan tidak bisa membedakan wangi yang satu dengan yang lain, akhirnya saya menenteng satu kotak kecil Chloe, dan sebuah kartu sephora dengan doa saya akan sering menggunakannya *aamiin* hihihi…

Baik saya maupun Erma merasa tenang karena target awal telah terpenuhi. Target berikutnya adalah makan-mahal-sekali-saja. Kami memang mencanangkan agenda makan-mahal-sekali-saja dalam agenda perjalanan hemat ini. Kere-kere belagu😆


The BackpackGirls dalam makan-mewah mereka:mrgreen:

Secret Recipe jadi pilihan kami. Di Indonesia juga ada sih ini, tapi ya gak ada salahnya juga kan mencicipi langsung di negeri asalnya? Siapa tau ada perbedaan-perbedaan tertentu?

Dan ya, perbedaan itu ada *alah bahasanya ya booo’ :lol:*
Yang paling kelihatan oleh mata kami adalah: perbedaan porsi dan pelayanan.
Secret Recipe di KL ini menyajikan hidangan dalam porsi jumbo, dan di sini juga pertama kalinya saya makan lasagna yang disajikan bersama dengan sepotong roti bantal.
Pelayanannya pun cukup cepat, dibandingkan dengan Secret Recipe di Pejaten Village. Pesanan segera dating tak lama setelah kami memesannya, dan hebatnya, para pelayan di sini tidak memerlukan notes untuk mencatat pesanan para pengunjung, seolah-olah mereka hafal diluar kepala dan memang begitulah tampaknya!
Dan yang terpenting dalam acara makan memakan kali ini adalah, terpuaskannya hasrat Erma memamah tom yam kung, setelah makan hati selama di Penang ngikutin kemauan saya menyantap roti canai lagi dan lagi *sungkem sama Erma*

Menyadari waktu yang terus merangkak naik, segera setelah perut terisi kami pun melangkah keluar dari Suria KLCC, dan pemandangan KLCC Park serta merta menyambut kami.
Sambil terus mencari spot foto yang oke dengan latar belakang the famous twin towers, baik saya maupun Erma beberapa kali dimintai tolong oleh orang-orang untuk memotret mereka. Ternyata berpergian berdua pun, tetap saja kami dimintai pertolongan. Mungkin aura malaikat terpancar jelas dari wajah kami *dilempar batako*

Sejujurnya, ketika keluar dari Suria KLCC dan menatap Twin Tower, saat itu juga kami merasa, oh…ini ya twin towers yang jadi landmark KL itu? Terus apa? Tiba-tiba perasaan istimewa yang menggebu-gebu hilang menguap begitu saja. Entah karena langit mendung saat itu sehingga twin towers terlihat begitu biasa, atau karena kami memang kehilangan semangat, tapi ketika kami mendongakkan kepala ke atas, menatap puncak twin towers, yang jelas kami merasa alangkah baiknya jika kami ke sini pada malam hari, dengan kamera DSLR yang canggih, memuaskan diri mengambil ratusan gambar menara kembar yang bermandikan cahaya dan pasti tampak sangat indah.

Ah tapi, jika kami ke sana pada malam hari, bagaimana kami dapat menikmati segarnya pemandangan hijau KLCC Park yang membentang memanjakan mata? Dan mungkin pula kami tidak akan melihat anak-anak kecil yang bermain di kolam renangnya, atau mendengar serombongan TKI yang ribut bergerombol, saling berteriak memanggil rekannya dalam bahasa Jawa, dengan rambut gondrong dan aksesoris yang mengatakan seolah-olah mereka itu preman, atau kaum perempuannya dengan dandanan menor dan selera berpakaian yang kurang…hmm…ya gitu deh. Kok ya gak enak ngomongin bangsa sendiri. Saya dan Erma dengan agak sedih memperhatikan mereka. Kami teringat dengan seorang mbak asal Jawa di Penang yang kami temui dalam bis, yang menyebut ‘Indonesia’ dengan ‘indon’. Saya terhenyak saat itu. Walaupun dalam nada bercanda, saya tidak bisa menerima dan memahami penyebutan tersebut🙂

***
Kami melirik jam. Sudah pukul 2. Sudah waktunya kembali ke hostel untuk seterusnya melanjutkan perjalanan ke bandara. Saya dan Erma melangkah terburu-buru, mencari stasiun KLCC, dan dalam ketergesaan membeli tiket rapid KL. Wow! Kami surprised dengan ticketing system Rapid KL ini. Sungguh jauh lebih maju daripada Jakarta!
Dengan ketidaktahuan akan cara kerja si mesin dan rasa takjub dan kagum yang tergambar jelas di wajah kami, kami memencet-mencet layar sentuh, memilih titik keberangkatan dan destinasi, berapa tiket yang kami perlukan, dan memasukkan uang sebesar tarif yang tertera. Setelah sentuhan terakhir, voila!!! Keluarlah dua buah koin plastik berwarna biru, persis seperti koin mainan untuk main otelo atau halma:mrgreen:

Dengan noraknya, kami mengamati koin tersebut lekat-lekat. Lalu nanti koin ini untuk apa ya? Untuk koin menaiki Rapid KL, tentu. Tapi bagaimana cara penggunaannya?
Kami go with the flow saja. Ketika ada benda yang tampaknya jodoh dengan si koin, kami pun memasukkan koin tersebut ke dalamnya. Dan yup! Kami sukses masuk ke peron Rapid KL:mrgreen:

Dalam perjalanan singkat dengan Rapid KL tersebut, kami melihat sepasang muda-mudi yang tampaknya sedang dalam masa pendekatan. Kebetulan mereka turun di stasiun Masjid Jamek, sama seperti saya dan Erma. Kontan saja kami melakukan permainan kesukaan: dubbing pasangan tersebut. Saya jadi yang cowok, yang kebetulan tampak macho dengan rambut kriwil gondrongnya, Erma jadi yang cewek, yang berjilbab warna pastel. Sepanjang jalan ke hostel, kami ngikik-ngikik dengan lelucon kami sendiri, sampai-sampai kami cukup yakin, pasangan itu tau bahwa mereka diikuti😆

Mungkin kualat terhadap pasangan tersebut, tak lama sesampainya di hostel turun hujan sangat deras. Bingung pun menghinggapi kami, karena waktu yang semakin mendesak membuat kami mau tak mau harus berangkat saat itu juga ke KL Sentral untuk kemudian dari sana melanjutkan lagi ke LCCT. Hujan sangat deras sehingga agak berisiko jika kami harus berlari-lari hingga stasiun Masjid Jamek ataupun terminal Puduraya.
Alhamdulillaah petugas resepsionis hostel sangat baik hati dan berjiwa penolong. Dengan rela hati, dia bersama rekannya nongkrong dipinggir jalan, memayungi diri dari derasnya hujan dan cipratan air dari setiap kendaraan yang lewat, menyetop setiap taksi yang terlihat sementara saya dan Erma duduk ongkang-ongkang kaki di dalam hostel.
Cukup lama kami menunggu hingga akhirnya ada juga taksi yang bersedia mengangkut kami ke KL Sentral. Setelah negosiasi harga dengan si supir *taksi di Penang maupun KL semuanya spesialis argo tembak*, akhirnya saya dan Erma duduk tenang di dalam taksi, mendengarkan celoteh supir taksi yang kecewa dengan kebijakan pemerintahnya yang membedakan perlakuan kepada pendatang berdarah Melayu dan Asia Selatan.

Kami sampai di KL Sentral tepat pada saat Sky Bus yang menuju LCCT akan berangkat. Kami melompat naik dan seperti biasa, tak henti-hentinya mengobrol selama perjalanan sambil sesekali mengamati dua orang abang-abang bule yang duduk di kursi sebelah, tak lain dan tak bukan karena mereka termasuk ke dalam kategori tampan:mrgreen:

Sampai di LCCT, segera kami kembali berlari-lari untuk urusan imigrasi dan… makan. Ya! Kami kembali lapar! Maka kami melompat ke dalam McD, terburu-buru memesan, terburu-buru makan, dan lagi-lagi berlari menuju ruang tunggu.

Seperti biasa, Air Asia berangkat tepat waktu pukul 18:26 local time…

…dan sampai tepat waktu pukul 19:30 local time. Kami kembali satu pesawat dengan Sammy, si anak kecil yang ketakutan saat take off dan langsung asyik dengan playstationnya setelah pesawat mengudara.

***
Suatu ketika, akibat sifat pecicilan saya yang suka sok akrab sama orang asing *dalam hal ini supir taksi gemah ripah* saya pun mendapatkan informasi berharga. Tidak ada taksi berargo yang boleh mangkal di bandara Husein Sastranegara!
Saya pun bengong mendengarnya. Benar, tidak ada taksi yang boleh mengambil penumpang dari bandara itu selain taksi milik Angkatan Udara yang jelas-jelas tidak menggunakan argo. Gak beda sama taksi Penang dan KL, mereka pun menggunakan argo tembak. Lima puluh ribu rupiah dari bandara ke Lengkong Besar. Lalu bagaimana bila kami ingin naik taksi dengan tarif yang masuk kantong?

Jadi, menurut pak supir taksi gemah ripah, setelah sampai di pintu keluar bandara, ya kita tinggal berjalan kaki ke jalan pajajaran, sambil menelpon gemah ripah dan mengabarkan,

“halo, saya si anu, mau pesan taksi ya Pak, saya gupai-gupai di pinggir jalan pajajaran di pintu bandara”

And it definitely works. Itulah yang saya dan Erma lakukan. Sambil menggeret koper, kami mengikuti kekeraskepalaan kami menolak taksi-taksi berargo tembak, berjalan ke jalan pajajaran *kalo kata Mr. Engineer, “gak sekalian aja lo jalan sampe kos lo?” :mrgreen:* dan di sanaaa… tak lama taksi pun menepi. Hasil gupai-gupai via telepon.

Lalu apa yang kami dapat saat ke KL?
Banyak!
Tapi kami menangkap kesederhanaan masyarakat KL dalam menjalani keseharian kehidupan mereka. KL dan Jakarta sama-sama menyandang predikat sebagai ibukota negara, sama-sama metropolis, sama-sama megah dengan landmark-nya masing-masing.
Tapi entah kenapa, beberapa jam di KL membuat kami berkesimpulan bahwa mereka tidak sebegitu hiruk pikuk seperti Jakarta. Paling tidak, kami melihatnya dari jenis mobil yang melaju di jalan-jalan protokol mereka. Sebagian besar mobil-mobil sederhana, bukan tipe yang macam-macam yang mungkin sering kami temui di Jakarta atau Bandung.
Dan kami pun menduga, mereka mungkin menjunjung tinggi transparansi. Kami hampir tidak pernah melihat mobil dengan kaca film. Semua seperti aquarium. Kami bisa melihat jelas isi mobilnya.
Dan sepeda motor? Oh… mereka menaruh sebuah keranjang pada sepeda motor mereka, persis seperti keranjang sepeda. Mungkin ini terlihat sederhana, atau tidak penting, tapi kami justru memperhatikan detail seperti itu.

Kita memang tidak jauh berbeda dengan mereka, tapi harus diakui, sistem transportasi mereka jauh, jauh kebih baik daripada yang kita punya.

Pertanyaannya sekarang, apa yang bisa kita perbuat agar negara kita, atau paling tidak, tempat tinggal kita menjadi lebih baik untuk warganya? *tiba-tiba serius😆 tapi, saya memang serius. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran saya beberapa minggu terakhir ini*

See you in the next post! *kecup*

Expenses:
– Makan siang di Secret Recipe Suria Mall KLCC RM 25
– Chloe EDP 30 ml RM 190
– Rapid KL ke stesen Masjid Jamek RM 1,60
– Taksi ke KL Sentral RM 15 (berdua sama Erma jadi each RM 7,50)
– Tiket Sky Bus KL Sentral ke LCCT RM 10
– Karena lapar, makan lagi di McD LCCT RM 14,25
– Taksi ke kos (agak muter ke jalan Aceh karena nge-drop Erma dulu) IDR 20.000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s