[After Orchard] To Learn, To Understand, To Accept, To Be Patient

Awalnya, ketika kemarin saya mengerling tak sengaja pada jendela mobil travel dalam perjalanan menuju Jakarta Depok, saya tertegun ketika melihat barisan gigi saya yang tampak semakin tak beraturan dan berantakan. Rasanya dulu gak sekacau ini deh, batin saya😆

Ketika sampai di rumah dan bercermin, saya menyadari bahwa tambalan gigi saya lepas. Dengan segera, saya membuat janji dengan dokter gigi langganan. Keesokan harinya, sabtu pagi ini, saya menghabiskan beberapa jam berbincang-bincang dengan ibu drg, berkonsultasi kemungkinan saya menggunakan kawat gigi. Rasa selalu-ingin-berbagi yang sudah tertanam dalam karakter saya, membuat saya mengetik sebaris sms dan mengirimkannya pada seorang teman.

“Menurut lo, gimana kalo gw pake kawat gigi?”

Berjam-jam setelah itu, saya sudah tergeletak malas-malasan di atas lampit di ruang keluarga di rumah, saya belum juga mendapatkan balasan dari teman tersebut. Saya menyuntikkan kata-kata pemberi kesabaran kepada otak saya yang memang tidak pernah sabaran ini. Saya belajar membiasakan diri pada doktrin ‘tidak semua sms harus dibalas’ dan bahwa ‘people get their own life, get yours, Ke!’ alias semua orang punya kesibukannya masing-masing, dan gak semuanya mengisi akhir pekan dengan selonjoran kaki di rumah, tidak melakukan apapun kecuali hair-masking, bergumul dengan kucing-kucing piaraan, ngobrol dengan bayi celepuk, dan ngupil #eh

Sekali lagi saya menatap hape yang bergeming.

Tanpa ada alasan, saya bergerak menuju rak buku, mencari-cari apa yang bisa dibaca. Dan tangan saya meraih satu buku, yang sudah pernah saya baca. Buku itu saya beli hampir dua tahun yang lalu, seingat saya, saat saya sedang begitu bersemangatnya mengetahui hal-hal berbau Singapura.
Secara acak, saya membuka “After Orchard,” yang merupakan kumpulan tulisan Margareta Astaman, sang penulis yang menghabiskan waktu empat tahun berkuliah di Nanyang Technological University. Buku bersampul putih itu memang bercerita tentang kehidupan sang mahasiswi yang sehari-harinya bersentuhan langsung dengan kehidupan warga Singapura, jauh berbeda dengan apa yang dikecap oleh para turis yang tinggal hanya beberapa hari lamanya.

“Singapura memang bukan negara teramah yang pernah gue tinggali. Kuota senyum tampaknya cuma cukup untuk disebar di Bandara Changi, yang sudah mendapat latihan untuk tersenyum lebih sering guna memberi citra baik pada turis. Sisanya punya kejutekan yang merata, mulai dari bibi pembersih hingga dekan.”

Page 119-120

“Lagipula, tak ramah bukan berarti tak baik. Hanya memang seperti itulah gaya bicara dan interaksi orang-orang di sini. […] diharapkan interaksi danpercakapan tidak terlalu membuang waktu yang berharga.
Membentak dianggap gaya bicara yang paling apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, singkat, padat, jelas, tidak makan waktu. […]
Menjadi tersinggung hanya membuat susah hati, terlalu perasa dan mengambil makna di balik perkataan.”

Page 120-121

“[…] gue beradaptasi, menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan agar bisa bertahan hidup. Dan, hari ini, gue sudah tak lagi dijuluki FOB. Gue diberi julukan baru oleh teman-teman: I’m a machine. I’m fast and efficient. I can work constantly without rest. Everything I do is controlled and planned. I pay little tolerance to mistake. I don’t give a damn about non-sense.”

Page 160

“Dosen yang terkait skandal besar NTU-Indonesia dikenal mahasiswa di bawah bimbingannya sebagai dosen yang tak kenal wajah. Tata letak ruangannya agak aneh. Tempat duduknya selalu menghadap komputer, sedangkan tempat duduk tamu diletakkan disampingnya. Mahasiswa yang berkonsultasi hanya disuguhi tampak samping tanpa ada kontak mata sedikitpun.
Sepanjang bimbingan, tidak banyak kata yang diucapkan, kecuali bahwa seluruh skripsi tak berguna dan harus diulang total, seminggu sebelum final draft harus dikumpulkan. Kasus hidup dan mati ini diputuskan tanpa kompromi, tanpa bantuan ditawarkan, dan tanpa tatapan mata penguatan.”

Page 39

“Skripsi mereka yang dicaci macam sampah tak akan disetujui menjadi sebuah skripsi jika tak punya nilai ekonomi yang tinggi […]”

Page 41

“[…] kami dilihat hanya berdasarkan apa yang dapat kami hasilkan, bukan sebagai anak manusia. Hak paten apa yang bisa kami hasilkan? Tulisan untuk jurnal mana yang bisa kami terbitkan? Dapatkah penghasilan kami meningkatkan pendapatan nasional?”

Page 13

Meskipun ini bukan pertama kalinya bagi saya membaca buku ini, tapi khusus hari ini, buku tersebut, yang lembar demi lembarnya saya buka secara acak, seolah-olah membuka mata dan pikiran saya yang tanpa bosan memeriksa hape, apakah ada sms balasan atau tidak.

Saya tidak tau seperti apa persisnya kehidupan teman saya di negeri itu, tapi membaca cerita-cerita sang penulis, mau tak mau membuat saya semakin membesarkan hati, jika sms lama atau bahkan tidak dibalas. Atau jika telepon lama atau bahkan tidak diangkat.
Di negara yang iklim kompetisinya sangat tinggi, yang masyarakatnya bergerak sangat cepat dalam sistem yang sangat teratur cenderung kaku, membalas sms yang isinya sekedar bercerita mungkin masuk dalam urutan ketiga puluh. Dan hal itu sungguh harus dipahami, juga diterima.

Terlepas dari perbedaan tinggi-rendahnya kesibukan masing-masing, saya juga harus memahami bahwa setiap individu punya kesibukannya sendiri-sendiri. Dan bahwa apa yang penting bagi saya, belum tentu penting bagi orang lain.
Akhir pekan bagi saya adalah sabtu dan minggu, dan itu berarti waktu santai, berkumpul bersama keluarga atau teman-teman, mengisi ulang batere tubuh untuk kembali bekerja lima hari berikutnya. Tapi akhir pekan bagi orang lain, apalagi bila tinggal sendiri jauh dari keluarga, mungkin tidak ada bedanya dengan hari lainnya. Entah kesepian atau tidak, entah bahagia atau tidak, akhir pekan mungkin akan digunakan untuk membunuh waktu, mencari-cari kesibukan untuk melupakan rindu tanah kelahiran, atau bahkan mungkin menyelesaikan pekerjaan yang selalu menumpuk. Kehidupan yang keras, yang mungkin membuat hati diam-diam menangis, tapi dituntut untuk selalu terlihat kuat, kalau tidak mau dibilang pengecut atau gagal, tanpa peduli apakah yang dilakukan sesuai dengan cita-cita atau tidak, sejalan dengan minat atau tidak.

Sore hari, ditengah-tengah semangat saya dalam menulis post kali ini, hape saya berbunyi.

“Struktur gigi yang sekarang, mengganggu atau tidak.”

Wah! Sebuah balasan. Yang sangat efisien:mrgreen:
Saya, tak pelak lagi, tersenyum membacanya.

Entah apa kesibukanmu, tapi semoga kamu senantiasa sehat dan bahagia. Tanpa kesedihan, tanpa kesepian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s