Ditolak Duluan

Sejak beberapa bulan yang lalu, berhembus kabar bahwa akan diluncurkan unit kerja kedua yang sama tanggung jawab dan lapangan operasionalnya dengan unit kerja saya saat ini. Penciptaan unit kerja kembar ini tentu merupakan permintaan jajaran top management melihat peluang pasar yang demikian besar.
Berbulan-bulan misteri unit kembar ini tak tersentuh, karena sepertinya tak ada seorang pun yang tau kecuali si Papi, alias Pak Bos Besar.

Jauh setelah itu, awal minggu kemarin beberapa orang baru mulai berdatangan untuk menempati berbagai posisi di unit kembar tersebut.
Salah satunya adalah seorang bapak, yang tadinya kami berpikir, akan dijadikan salah seorang pejabat di bagian kridit.

Ngobrol punya ngobrol, terkuaklah bahwa bapak tersebut akan dijadikan legal officer di unit kembar itu. Hee… berarti bukan saya dong? Padahal, demi menghindari keriput di wajah dan makan hati yang berlebihan akibat perilaku seorang senior citizen di unit sekarang, saya berharap bisa dipindahkan ke unit kembar, tentu tetap sebagai legal officer. Jadi biarlah orang baru yang mengisi posisi saya sekarang. Harapannya sih begitu ya… tapi harapan tinggal harapan. Saya sedikit kecewa ketika, di depan seluruh rekan kerja, si Papi berkata dengan senyum khasnya,

“Selamat datang, saya ucapkan pada Pak A, untuk menempati posisinya yang baru sebagai LO di unit kembar. Sebagai LO, tentu Bapak punya benchmark, tentunya dengan LO kami di sini, ya Ruske? Jadi yang jadi LO di unit kembar ini Pak A ya, kamu tetap sebagai LO di unit kita”

Saya hanya tersenyum, lebih tepatnya meringis, diiringi tatapan mata penuh arti dari rekan-rekan kerja. Dan setelahnya, H berkata dengan ceria pada saya, “LO di unit kembar itu Pak A ya Ke, kamu jadi LO di sini saja,” menirukan kata-kata si Papi.

Sementara J berkata dengan penuh kejujuran,

“Berarti Ke, si Papi tuh udah ngerasa klik banget sama lo. Chemistry-nya udah dapet banget. Chemistry buat diinjek-injek, maksudnya. Mana bisa senior diinjek-injek? Gak mungkin kan dia nyuruh-nyuruh Pak A untuk keliling ke setiap kubikal, bikinin jadwal rapat kridit?😆😆 :lol:”

Saya menghembuskan nafas. Pasrah dan menyerah. Padahal saya belum juga ‘nembak’ si Papi, tapi udah ditolak duluan. Apa bahasa tubuh saya demikian nyatanya ya, sampai-sampai terbaca oleh si Papi?
Dan ditolak pula. Huhuhu…

Menyedihkan ah… apa-apa ditolak. Semua-semua ditolak…😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s