To Whomever It May Concern

Disclaimer: Ini adalah tulisan penuh keluh kesah. Jadi kalau tidak merasa sebagai teman atau sahabat saya, sebaiknya tidak perlu membacanya.

Saya sedang bosan. Saya jenuh dan kesepian.

Saya beberapa kali menulis tentang lingkungan kerja. Mulai dari keberadaan musuh-bersama yang sebisa mungkin saya hindari bermasalah dengannya karena dia sungguh berkuasa sampai-sampai si Papi pun tak berkutik didepannya *tapi alhamdulillaah saat ini dia sudah mulai melunak pada saya*, hingga kecenderungan manusiawi tiap manusia untuk lebih menghargai mereka yang memiliki penampilan fisik lebih cantik dan menarik, atau mereka yang dikarunia harta kekayaan yang lebih dari sekitarnya.

Lebih dari itu semua, saat ini saya merasakan bosan dan jenuh yang luar biasa terhadap pekerjaan saya. Saya merasa stuck di satu tempat, seperti tidak berkembang. Saya bosan dengan segala tetek bengek rapat kredit ataupun akad kredit. Mungkin karena saya melakukan hal yang bukan menjadi passion saya sejak kecil? Saya tau saya beruntung bekerja di bidang yang sesuai dengan ilmu yang saya pelajari ketika kuliah. Tak banyak yang seberuntung saya. Sebagian besar pengelola akun di kantor adalah anak-anak dengan latar belakang keilmuan teknik, rata-rata lulusan terbaik dari ITB atau STT Telkom.

Tapi saya, sungguh-sungguh sedang merasakan bosan yang luar biasa. Mungkin, seperti yang saya bilang tadi, karena meskipun saya bekerja di bidang keilmuan saya, tapi sebenarnya ini bukanlah passion saya. Bolehkah saya menyalahkan ayah saya yang sedikit ‘memaksa’ saya menempuh sekolah hukum dulu?
Tapi mungkin akan ada yang berkata, kalau saya tidak nyaman dengan hukum, kenapa saya sampai melanjutkan ke jenjang S2?
Jawabannya, karena saya mengambil jurusan hukum internasional, satu-satunya yang bisa diterima dengan cukup baik oleh otak saya yang terbatas kapasitas analitis dan argumentatifnya *Mr. Engineer jauh lebih cerdas dan pandai dalam berargumentasi* dan S2 saya memang berkonsentrasi pada hukum internasional publik. Saya suka hukum internasional, tidak peduli perdata atau publik, saya suka keduanya. Bahkan dulu sempat bercita-cita menjadi arbiter internasional.
Sementara yang saya hadapi sekarang adalah segala hal tentang keperdataan dan bisnis.
Jawaban kedua, karena tempat saya S2 saat itu menawarkan program jalan-jalan ke Eropa. Intinya saat itu sih saya hanya ingin jalan-jalan. Jalan-jalan ke tempat-tempat yang sepertinya jauh dari impian kalau harus menggunakan uang sendiri.

Lupakan soal S2 itu, mari kita kembali pada kebosanan saya akan pekerjaan saya sehari-hari.
Mungkin, saya merasa bosan karena saya merasa kesepian juga. Atau mungkin selain rasa bosan, saya juga merasa kesepian? Entahlah.
Tapi saya sungguh merasa kesepian.
Saya terkadang iri melihat rekan-rekan kerja bersenang-senang merencanakan sesuatu dengan tim-nya. Seluruh rekan kerja di kantor memiliki tim. Kecuali saya. Sebagai legal officer, saya bekerja sendiri. Saya tidak punya tim. Saya sendiri.
Maka terlupakanlah saya ketika tim-tim itu mengadakan acara, entah makan-makan ataupun senang-senang lainnya. Saya diingat hanya ketika ada masalah, dan barulah mereka menoleh pada saya. Mungkin ini hanya keluhan hati saya yang memang sangat sensitif. Mungkin seluruh legal officer merasakan hal yang sama. Mungkin lumrah bagi legal officer jika tidak diingat kala gembira. Atau mungkin lumrah karena saya belum bisa menjadi legal officer yang baik. Hingga saat ini saya memang masih tergagap-gagap jika tiba-tiba ditembak kasus.

Kesepian karena sendiri seperti itu mungkin bisa dilupakan, kalau saya bisa ngobrol atau berkumpul dengan sahabat-sahabat saya. Tapi sebagian besar sahabat-sahabat saya telah menikah. Sebagian sudah memiliki anak dan sebagian yang lain tinggal di negara yang berbeda, entah mengikuti suami atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pembicaraan kami tak lagi sama. Saya sudah tak bisa lagi menye-menye menceritakan segala kegalauan dan kesedihan yang melanda, hal itu sudah tidak termasuk ke dalam bahan obrolan kami. Mereka yang berbahagia tampak berat hati mendengarkan saya yang hingga kini tak pernah beruntung dalam hal cinta. Mereka yang berbahagia berbicara tentang perjalanan, masak apa hari ini, anggrek yang berbunga, dan si kecil sudah bisa apa. Galau karena pujaan hati tentu sudah jauh tertinggal kelasnya.
Ah… maaf, teman-teman… maaf, Mr. Engineer, seandainya saya punya kuasa untuk memilih ingin jatuh cinta pada siapa. Seandainya saya bisa melihat masa depan dan membaca hati orang, tentu saya cukup jatuh cinta sekali dan tak perlu patah hati berkali-kali…

Saya sungguh sedih. Kadang air mata mengalir dengan sendirinya, ketika sendiri di mushala kantor atau sepi di kos kala membaca ayat-ayat-Nya.

Semua perasaan campur aduk jadi satu. Bosan, kesepian, merasa sungguh sia-sia; apa yang saya lakukan selama ini? apa yang sudah saya lakukan selama usia hidup saya sampai saat ini? rasanya saya tak pernah sekalipun menghasilkan karya. Karya kecil sekalipun yang bisa membuat saya berkata, “I’ve lived once and I did it”

Saya ingin melakukan hal-hal yang saya sukai. Paling tidak, supaya saya tidak menyesali hidup, tidak merasa sia-sia, tidak merasa tidak dihargai. Tapi sungguh, saat ini, saya merasa sendiri. Saya merasa, dan saya tau, saya tidak dicintai.

4 thoughts on “To Whomever It May Concern

  1. Vika says:

    waaaahhhh….
    lo lg depresi y?😀
    cb berlibur aja (it’s works 4 me! *dilarang komplain*), ktm tmn2 lama yg bisa bikin lo ktawa atau ntn film korea yg silly2 ituh.he…
    cb mdekatkan diri sm Allah aja (klise yak?!),tp kl lo g dalam posisi down sprt saat ini, lo g akan melihat betapa berhargany hidup lo dimata tmn dan keluarga lo.
    One thing that I always believe, Allah tdk akan memberikan cobaan diluar kemampuan umatnya! akan ada hikmah dibalik semua ini.
    be strong,girl!

    Luv U! *kisskiss*

    • ukechin says:

      In my recent case gw lebih ke shalat malam dan dzikir, Sha… Puas nangis-nangisnya hehehe…
      Aamiin semoga doa kita diijabah-Nya. Gak ada yang sulit buat Allaah kan😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s