When September Ends

Satu minggu terakhir di bulan September ada banyak hal yang terjadi. Gak ada yang istimewa sih, tapi ya tetap membuat saya merasa sedih dan kehilangan dan semakin kesepian😉

Senin sore, saya dan Lupita mengusahakan keluar kantor lebih cepat dari biasanya. Pokoknya hari senin itu dipaksa banget deh pulang hampir tenggo. Karena waktu kami yang tersisa untuk bersama tinggal dua setengah hari lagi.
Jam 5 kami udah ngacir, ceritanya mau cari kado buat Lupita. Jadi dia yang pilih, saya tinggal bayar. “Kamu gak romantis banget deh Mbak, masa’ kado buat aku, aku sendiri yang nyari, gak ada surprise-surprise-nya sama sekali,” ceunah. Ya daripada saya yang pilih terus yang bersangkutan gak suka? Kan lebih baik pilih sendiri, everybody’s happy toh? Lagipula, seperti jawaban saya pada Lupita, “Ya sipat romantisku udah dikhususkan buat Mr. Engineer, Lu.” Tetep ya bawa-bawa Mr. Engineer:mrgreen: Selesai cari kado, giliran cari makan malam. Kali ini giliran Lupita yang traktir. Makanannya murah meriah. Javan steak kesukaannya Lupita.

Esoknya, selasa, saya dan seorang RM berangkat ke Ciamis untuk mengurus dokumen-dokumen agunan dalam rangka take over kredit dari suatu bank daerah. Dalam bayangan kami, pihak bank daerah itu udah menyiapkan seluruh dokumen sehingga kami tinggal bikin berita acara serah terima dan bisa langsung cuuuss balik ke Bandung.
Sampai di Ciamis jam 11 siang, disambut debitur dan makan siang dulu sampai jam 1. Jam 1/2 2 kami sudah di bank daerah tersebut, dan terkejut karena mereka ternyata tidak menyiapkan apapun. Dokumen-dokumen berantakan dan berceceran di mana-mana, bahkan ada yang hilang, sistem dokumentasi arsip-arsip mereka luar biasa parah sampai-sampai membuat kami emosi jiwa. Siang dan sore itu kami mengejar-ngejar bank daerah tersebut dan mendesak supaya bisa diselesaikan secepatnya karena batas waktu untuk mencairkan kredit sudah sangat mepet. Kami berusaha untuk tidak menginap, walaupun kami sudah ada persiapan membawa baju ganti, karena esok harinya, hari rabu, akan ada farewell dengan beberapa rekan kerja yang akan resign maupun mutasi. Jam 8 malam, setelah urusan dianggap selesai, kami kembali ke Bandung dan saya sampai di kos jam 1/2 12 malam. Alhamdulillaah gak nginep😉

Rabu. Akhirnya hari itu tiba juga. Setelah farewell lunch, saya, Lupita, dan Rere keranjingan berfoto dengan kamera iphone kepunyaan Rere.
Jam 3 sore, Lupita akhirnya berpamitan dengan semua orang. Saya dan Rere mengantarnya sampai ke parkiran.
Lupita adalah teman terdekat saya dikantor, dan sejak rabu kemarin, dia dipindahtugaskan ke Cirebon, masih dalam daerah kewenangan Bandung. Kami berpelukan. Kami merasakan kesedihan yang sama, tak ada yang mau menatap mata satu sama lain. Saya takut saya akan menangis kalau melakukannya.
“Sering-sering cek dokumen ke cirebon ya, Mbak, nanti nginep di kos-ku aja. Aku traktir juga deh” | “Traktir apa? nasi jamblang?” | “Ho oh” | “-____-” | “Aku pasti dateng kalo kamu nikah. Tahun depan ya Mbak” | “Aamiin. Gak perlu disebutin ya namanya?” | “Errr…” | “Kamu juga, undang-undang ya Lu” | “Iya Mbak” | “Kalo mau ngadoin aku, jangan sprei. Cari yang lain kek, kreatip dikit” | “-____-”

Lupita pergi. Kubikal sebelah saya kosong. Sendirian lagi.


Our daily with Lupita, and last day with her… and her gifts: a doll, mug, bag, traveling bag, scarf, necklace, brooch… everybody loves her in here😆

Sorenya, saya menghubungi Erma. “Ma, temenin gw mabok-mabokan yuk, gw lagi patah hati nih”

“Hah? masih patah hati? kok lama banget?” | “Iya gw kan daleeeeemmm”

Patah hati saya berkepanjangan dan berkelanjutan. Agustus menjadi bulan paling menyedihkan. Seorang teman meninggalkan saya *yang bikin makin sedihnya itu karena saya yang dikatakan pengen ninggalin huhuhu*. Lalu September, Lupita dipindahkan ke kota lain.
Kalau ada yang bertanya, apakah saya baik-baik saja? apakah saya menangis?
Tidak, sejujurnya saya tidak baik-baik saja. Saya menangis. Bagaimana saya bisa baik-baik saja saat saya patah hati dan putus cinta?

Saya melihat buku mimpi saya. Sampai hari terakhir di bulan September, tidak ada mimpi saya yang jadi nyata.
Mudah-mudahan ada keajaiban indah di bulan Oktober. Aamiin.

2 thoughts on “When September Ends

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s