Of The Clueless, The Naughty, and The Loved One

Saya hitung-hitung, saat ini tiga masalah yang menggelayuti pikiran.

Terkait ijazah
Sejak awal minggu ini, entah kenapa tiba-tiba saya teringat selembar kertas agak tebal bernama ijazah yang saat ini masih dalam masa penahanan oleh perusahaan hingga… nah, masalah hingga kapannya ini yang jadi persoalan.
Jadi gini ya, saya ini kan kerja di suatu perusahaan yang cukup bonafide *ceunah* yang mana dibalik kedahsyatan nama jualnya itu tersimpan banyak hal-hal yang gak asik dan sebenernya sih udah jadi rahasia umum ya kayaknya *cari aja di kaskus, pasti nemu*
Salah satunya adalah bahwa pegawai yang masuk lewat jalur rekrutmen khusus diwajibkan untuk menyerahkan ijazah asli untuk disimpan oleh perusahaan selama masa ikatan dinas 3 tahun *lama ya booo’*. Nah dulu tuh waktu tandatangan kontrak kok ya saya sama sekali gak alert sama masalah pengembalian ijazah itu ke tangan kita ya? Idealnya kan ada klausula yang menyatakan bahwa ijazah akan secara otomatis dikembalikan pada pemilik ijazah pada kesempatan pertama-tama atau selambat-lambatnya sekian bulan sejak berakhirnya masa ikatan dinas. Tapi ini gak ada lho.

Zzzzziiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnggggg…

Jadi, logikanya, kalo kita gak minta ijazah itu, mau sampe berapa tahun kerja pun gak akan dikembalikan dong ijazah itu?
Astagaaa… kenapa dulu saya dengan tenangnya tanda tangan kontrak siiiiihhh???

Jawabannya, karena saya butuh pekerjaan. Pedih.

Terkait agunan
Morning briefing hari ini agak menyeramkan bagi saya. Imbasnya cukup serius bila mengingat setelahnya saya langsung gemeteran dan keringet dingin.
Di depan seluruh pegawai, si Papih berbagi informasi mengenai satu debitur yang saat ini sedang mengalami masalah keuangan dan pemenuhan kewajiban kreditnya mulai batuk-batuk. Jadi ceritanya si debitur ini agak bandel. Kredit yang diterima bukannya dipake untuk modal kerja, malah buat benerin penthouse-nya yang milyaran rupiah. Penthouse-nya sendiri gak dijadikan agunan di tempat saya, tapi pihak kami mempunyai surat kuasa untuk menjual dalam bentuk notarial. Sejujurnya saya agak kecolongan di sini. Saya baru ngeh bahwa penthouse itu gak dijadikan agunan, dan karenanya gak diikat Hak Tanggungan.
Sebenernya hal itu gak perlu jadi masalah kalo si debitur gak main mata sama tempat lain.
Masalahnya, si debitur ternyata punya fasilitas kredit di tempat lain yang mana penthouse-nya dijadikan agunan, dan secara otomatis diikat Hak Tanggungan.

Zzzzzzzzzzzzzzzzziiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnggggggg…

Saya bengong. Secara legal sejak awal kami sudah kalah jika penthouse mau diperkarakan di pengadilan. Surat kuasa untuk menjual tidak punya kekuatan eksekutorial, kalah jauh dibandingkan Hak Tanggungan yang selain punya kekuatan eksekutorial, juga memberikan hak preferensi kepada pemegangnya.

Tiba-tiba terbayang-bayang bagaimana kalau si debitur wanprestasi di tempat lain itu? Lalu bagaimana kalo sampai berperkara di pengadilan? Belum lagi audit, KPK, risiko reputasi…
Kalau si debitur sampai wanprestasi di tempat lain itu, sudah jelas penthouse akan dieksekusi untuk dijadikan sumber pelunasan hutang, dan tempat saya tidak akan dapat sepeser pun kecuali hasil eksekusi berlebih dari hutang debitur di tempat lain itu.
Kalau si debitur sampai wanprestasi di tempat saya, penthouse tetap tidak dapat dijual hanya dengan bersenjatakan Surat Kuasa untuk Menjual, selain karena sebab yang sudah saya tulis di atas, juga karena dokumen-dokumen bukti kepemilikan penthouse pasti dipegang oleh si tempat lain sebagai pemegang Hak Tanggungan. Gimana bisa jual rumah kalo gak ada surat rumah?
Selain itu, kalaupun tempat saya nekat menjual penthouse tersebut, bisa dipastikan akan ada gugatan dari si tempat lain.

Sekarang saya hanya bisa berdoa dan berharap agar debitur beritikad baik dan segera melunasi hutangnya.

Pertanyaannya, kenapa kok dulu si penthouse gak dijadikan agunan aja sih???

Lalu, masalah ketiga.

Mr. Engineer. All those our differences thingy😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s