Say It Clearly, Ask It In Detail

Kamis, satu hari sebelum Idul Adha. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Saya duduk di kubikal, sedikit gelisah karena tinggal satu jam lagi waktu tersisa menuju jam kerja usai. Saya akan pulang ke Depok, dan walaupun saat itu ritme kesibukan di kantor sudah mulai mengendur, tapi gejala-gejala akan dilangsungkannya Rapat Kredit sangat kuat terasa.

“Jangan pulang dulu. Stand by di sini kalau-kalau ada legal issue,”
Demikian dua orang rekan kerja mewanti-wanti saya. Jam merangkak naik mendekati pukul 4 dan Rapat Kredit belum juga dimulai.
Oke, saya butuh keajaiban. Saya beranjak bangun, menuju mushala untuk menunaikan shalat Asar. Salah satu doa yang saya panjatkan dalam sujud terakhir adalah saya ingin pulang ke rumah dengan bis MGI jam 6 sore hari ini.

Selesai shalat, ternyata Rapat Kredit sudah dimulai. Sesuai pesan, saya duduk di kubikal, sambil beres-beres dan mematikan komputer. Sudah lewat pukul setengah lima sore. Tak lama, rapat selesai. Saya menghembuskan nafas lega.
Tapi terlalu dini untuk bersenang hati. Saat melintas dengan tas di pundak, seorang rekan kerja yang terkenal sebagai musuh-bersama memanggil dan memaksa saya membuat draft surat yang menurutnya luar biasa penting. Baiklah.

Surat selesai. Sudah pukul 5 lewat, saya melesat meninggalkan ruangan. Selama perjalanan ke terminal leuwipanjang saya berharap-harap cemas. Jalanan macet, sementara jarum panjang jam tangan penumpang angkot yang duduk didepan saya terus bergerak mendekati angka 6. Untungnya pak supir berinisiatif mengambil jalan tikus. Saya sampai di terminal leuwipanjang kurang dari 10 menit menuju jam 6. Sambil berlari, saya mengamati sekeliling.

Sore itu terminal leuwipanjang lebih ramai dari minggu-minggu sebelumnya. Calon penumpang berbaris-baris, penuh membentuk kerumunan manusia. Mungkin karena besok Idul Adha, semua perantau yang bekerja di Bandung tentu memilih berlebaran di rumah sendiri dengan keluarga masing-masing. Saya terus berjalan cepat, dan ketika dari kejauhan saya melihat pool tempat bis-bis MGI berbagai jurusan biasa mangkal, saya terkejut.

Tidak ada bis MGI!
Hanya ada satu bis MGI dan itu bukan jurusan Bandung-Depok, tapi Bandung-Cileungsi. Tanpa pikir panjang, saya melompat masuk ke dalam bis. Toh saya bisa turun begitu keluar pintu tol cibubur, begitu pikir saya.

Dan saya membuat keputusan yang tepat. Ketika saya sudah berada di atas bis, hanya ada 2 bangku kosong tersisa. Beberapa orang yang naik setelah saya dengan berat hati terpaksa duduk di lantai beralaskan koran, hanya supaya bisa sampai ke tempat tujuan.
Bis MGI jurusan Bandung-Cileungsi itu biasanya berangkat pukul 7 malam. Tapi karena saat itu bis sudah penuh, bahkan melebihi kapasitas tempat duduk, pukul 6 lebih sedikit, bis mulai bergerak meninggalkan terminal leuwipanjang.

Dari peristiwa itu saya seperti diingatkan, bahwa ketika kita meminta sesuatu pada Allaah, kita harus memintanya dengan jelas. Apa yang kita minta. Apa yang kita mau.
Jangan takut, jangan malu, karena hanya Allaah yang bisa mengerti kita apa-adanya dan gak mungkin mencerca permohonan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s