[Qahwa] The Middle East Restaurant

Awalnya sih saya janjian sama Neng Erma hanya untuk ketemu di Informa IBCC untuk mencari hadiah pernikahan seorang rekan sekantor yang menikah satu bulan yang lalu. Setelah sakit hati cukup lama di Informa *karena barangnya lucu-lucu setengah mati tapi budget saya cekak setengah idup* akhirnya saya memutuskan membeli ocha-set karena unik dan… masuk budget *teteup*
Seusai shalat maghrib, kok tiba-tiba muncul ide di pikiran saya ‘gimana kalo sekarang aja makan makanan timur tengah?’
Kami memang punya rencana ingin mencoba makanan timur tengah dan india.
Gak pake acara mikir lama, Neng Erma pun setuju.

Beberapa saat sebelumnya, saya pernah googling, di mana kira-kira yang menyajikan dua jenis makanan tersebut. Ketemulah satu tempat bernama Qahwa. Lokasinya cukup strategis, Jalan Progo No. 1.
Berdasarkan informasi yang saya baca, Qahwa baru dibuka pada akhir tahun 2011 lalu, bisa dibuktikan dari masih adanya rangkaian bunga papan sebagai ucapan selamat atas pembukaan Qahwa. Qahwa sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “kuat” dan merupakan asal-muasal kata “kopi” yang kita kenal sekarang. Menurut kisahnya, pada awalnya kopi ditemukan di Etiopia. Saat itu ada seorang gembala yang heran karena kambingnya tidak tidur selama dua hari. Setelah diamati, ternyata setiap sore kambingnya memakan biji kopi. Setelah dibawa ke Turki, istilah “Qahwa” berubah menjadi “Qahve”. Ketika dibawa ke Belanda, namanya menjadi “Coffee” [sumber: internet]

Dari luar, memang terlihat ada sentuhan timur tengah. Didominasi dinding warna putih dipadukan dengan motif pastel, sofa merah bata, beberapa lukisan gaya eropa tapi dengan aura timur jauh, dilengkapi aksesoris bernuansa timur tengah… Kesan sederhana tanpa banyak pernik sangat terasa. Oh ya… Saya gak bisa membedakan sederhana dan minimalis dan ‘seadanya’ sih…:mrgreen:
Tapi suasana timur tengahnya kurang kental. Yang ada malah kesan ‘ini rumah tinggal yang disulap jadi tempat kongkow ya?’. Soalnya ada bilik-biliknya gitu…
Musik yang diputar pun bukan lagu-lagu syalalalalalalala gitu, tapi lagu-lagu western biasa.
Sayang… Jadi makin kurang deh nuansa padang pasir dengan segala keeksotisan dan kemisteriusannya.

Kami pun melihat-lihat menu. Pilihan makanannya tidak terlalu banyak, tapi juga tidak terlalu sedikit. Disertai sedikit penjelasan tentang tiap makanan, cukup memberikan gambaran seperti apa makanan tersebut. Sementara untuk minumannya, memang ada banyak pilihan, mulai dari kopi khas Arab sampai dengan jenis yang umum kita temui.


Sweet Green Tea | Umu Ali | Kapsah Djaj | Hummus | Qahwa Punch

Sebagai pembuka, kami memesan Hummus, yang kata mbak pramusajinya, paling sering dipesan oleh orang arab asli. Terdengar menarik. Hummus [27.000 rupiah] merupakan kacang pistachio yang dihaluskan dan dicampur dengan bumbu khas timur tengah dan minyak zaitun, disajikan dengan roti khubus. Tampilannya pucat, dengan genangan minyak zaitun berwarna kekuningan. Rasanya?
Saya dan Neng Erma merobek sedikit roti khubus dan mencelupkannya ke dalam hummus. Hmm. Hambar. Saya tidak tau apakah cita rasa timur tengah memang demikian atau kokinya kurang pandai mengolah. Entahlah.

Untuk main course, kami memesan Kapsah Djaj [54.000 rupiah]. Kapsah merupakan nasi khas timur tengah dengan campuran rempah-rempah, disajikan dengan potongan kambing (laham), atau ayam (djaj), atau ikan bakar (samak), salad, dan sambal. Untuk Kapsah Laham, harganya sedikit lebih mahal. 56.500 rupiah, kalo gak salah inget. Sementara untuk Kapsah Samak, saat ini belum tersedia.
Selain kapsah, ada juga biryani dan satu jenis lagi yang saya lupa namanya. Jadi kalo kapsah itu bercita rasa asam segar karena menggunakan tomat, biryani memiliki cita rasa gurih, sementara yang satu lagi merupakan nasi bakar.

Lalu apa bedanya nasi-nasi tersebut dengan nasi kebuli? Kan sama-sama menggunakan rempah-rempah?
Kapsah, biryani, dan seorang kawannya menggunakan beras impor yang bentuknya pipih panjang, sementara nasi kebuli menggunakan beras lokal Indonesia.

Mata saya tertumbuk pada gambar gelas kecil berupa mangkuk berisi semacam pudding atau klappetaart. Sepertinya manis dan menyegarkan. Rupanya itu Umu Ali [10.000 rupiah], pudding khas timur tengah dengan tekstur lembut, manis, dengan topping kismis, coklat, dan narajil (kelapa parut) diatasnya. Neng Erma yang pertama kali menyendok pudding tersebut mengernyitkan dahi. Ternyata rasanya sungguh manis. Kelewat manis, malah. Sekali lagi, kami tidak tau apakah cita rasa timur tengah memang demikian atau kokinya kurang pandai mengolah.

Neng Erma cepat-cepat menyeruput minumannya, Qahwa Punch [15.000 rupiah], perpaduan jus mangga, nanas, jeruk, dengan sirup grenadine dan soda dingin. Rasanya menyegarkan, sehingga bisa sedikit menghilangkan rasa manis Umu Ali yang terlalu pekat di lidah dan tenggorokan.
Sebenarnya, minuman khas Qahwa adalah Shay Adane [15.000 rupiah], campuran teh dan susu khas timur tengah yang direbus dengan cardamom, cengkeh, dan kayu manis. Tapi karena saya baru saja minum teh susu untuk buka puasa, saya memilih Sweet Green Tea [16.500 rupiah], teh hijau dan susu segar yang di blend dengan es krim vanilla dan diberi topping whipped cream dan buah ceri merah. Mmmhh… rasanya kok gak asing… apa ini ya… mirip dengan apa ya? saya menerka-nerka. Oh! “Kayak karbol deh,” saya menyodorkan ke Neng Erma. “Hmm,” Neng Erma menelengkan kepala, “Bukan karbol, Ke. Lebih mirip apa ya… oya, kayak minum parfum!”
Saya menjentikkan jari, “itu lebih tepat!”
Memang, menyeruput Sweet Green Tea itu seolah membawa kita berada ke tengah-tengah “seperti dikelilingi oleh para lelaki bergamis putih, celana cungkring lengkap dengan sorban dan janggut melebihi dagu,” mengutip komentar Neng Erma:mrgreen:

Oya, selain minuman, seluruh makanan kami pesan dalam satu porsi, jadi makannya bagi dua gitu deh. Namanya juga menjelang tengah bulan, harus pinter-pinter patungan kalo pas makan-mewah:mrgreen:
Dan dari seluruh hidangan yang kami pesan, bisa ketahuan kan yang mana yang paling bersahabat rasanya di lidah?
Kapsah Djaj. Kami bahkan merasa kok kayaknya rempah-rempahnya kurang ‘berani’ ya?

Hihihi… dasar sok tau. Penikmat kuliner amatiran aja belagu😆 *padahal dikasih voucher 20.000 rupiah juga pas pulang… buat kunjungan berikutnya, kata si aa pelayan*

Anyway, untuk gambaran lebih jelas sepertinya memang perlu mencoba makanan india nih, yang katanya punya tipikal makanan yang sama, tapi dengan cita rasa rempah-rempahnya lebih nendang daripada makanan timur tengah *buka google*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s