Pulang Basamo: Bertemu Malin Kundang, Sejenak di Minangkabau Village, & Too Late To Enjoy the Maninjau Lake

Siapa yang tidak mengenal kisah Malin Kundang?
Diceritakan bahwa pada suatu masa yang lampau di ranah Minang, pergilah seorang pemuda bernama Malin merantau. Ketika sudah jaya, dia kembali ke kampung halaman, dan saat berlabuh dia disambut oleh ibunya yang sudah renta. Tapi ternyata Malin, yang saat itu datang bersama istri dan pengikut-pengikutnya, merasa malu akan kehadiran ibunya yang tua dan miskin, hingga dia menolak mengakui ibunya itu sebagai ibunya, dan malah melontarkan cacian dan makian.
Sang ibu merasa sangat sedih dan sakit hatinya, hingga terucaplah kutukan agar Malin berubah menjadi batu. Memang ridha Allaah itu tergantung pada ridha orangtua. Pedih hati ibu berakibat fatal pada si anak. Demikianlah seketika itu juga Malin berubah menjadi batu. Tak cuma Malin, kapalnya pun berubah menjadi batu. Sebelum berubah menjadi batu keseluruhan, Malin sempat meminta maaf dan bersimpuh, apa daya sumpah serapah sang ibu telah terucap dan tak dapat ditarik kembali.
Konon, sejak saat itu orang dapat melihat batu berbentuk manusia dalam keadaan sujud bersimpuh, dan didekatnya terdapat pula batu yang menyerupai reruntuhan kapal. Bahkan, sebagian mengatakan bahwa ketika ombak menghempas batu-batu itu, suara gemericik air terdengar seperti ratapan dan tangisan, yang dipercaya sebagai ratapan dan tangisan Malin.

***
Terlepas dari benar tidaknya kisah tersebut, yang jelas ada pelajaran yang bisa kita petik. Dan kisah itu telah pula membuat kami penasaran ingin melihat langsung batu Malin Kundang tersebut.
Dari bandara, setelah melewati jalan bypass telukbayur dan persimpangan kereta api, kami melewati jalan kecil berkelok-kelok, terus menanjak dengan tanjakan yang cukup curam, dan ketika mencapai puncak, kembali menuruni jalan yang tetap berkelok-kelok tajam.
Di awal kami masih bertemu dengan rumah-rumah penduduk, tak lama pemandangan berganti menjadi pepohonan di kiri kanan jalan seolah kami berada di tengah hutan, kemudian kembali bertemu perkampungan, seperti itu terus berganti-ganti antara perkampungan dan pepohonan hingga daratan akhirnya mulai landai dan pantai mulai terlihat.
Disepanjang pantai berdiri rumah-rumah penduduk dan dipayungi pohon kelapa. Tampak begitu alami dengan suasana desa. Beberapa ekor anjing berbaring santai di tengah jalan, mungkin milik penduduk sekitar.

Pak Zul sengaja mengarahkan mobil ke bagian pantai dimana terletak batu si Malin Kundang.

Inilah Pantai Air Manis yang terkenal itu.
Pantai Air Manis terletak di kota Padang. Sebelum masuk, pengunjung akan diminta membayar retribusi IDR 5.000/orang. Karena kami bertiga, gw, Nyonya Besar, dan Pak Zul, kami diminta membayar IDR 20.000. Oh, mungkin mobil dihitung juga. Entahlah. Sayangnya petugas yang ada di sana tidak memberikan tiket pada kami, dan gw juga lupa memintanya, mungkin karena terlalu excited ya… akhirnya bisa mengunjungi Padang, gitu:mrgreen:
pantai air manis
pantai air manis 2

Pak Zul memarkir mobil tepat disebelah batu si Malin Kundang, yang terletak di ujung kiri Pantai Air Manis.
Mungkin karena saat itu bukan akhir pekan dan haripun masih sangat siang, Pantai Air Manis sangat sepi. Hanya ada kami dan satu rombongan lain yang saat itu sedang berpose diantara batu Malin Kundang, juga beberapa peselancar.
Pantainya panjang dengan pohon cemara laut berjejer membentuk lukisan yang indah menyatu dengan birunya langit. Ada sungai kecil, mungkin lebarnya hanya 30 senti, yang mengalir langsung ke laut. Pasirnya kecoklatan dan sangat solid. Itulah kenapa Pak Zul dan pengunjung lain memarkir mobilnya di pantai, hanya beberapa meter dari laut. Bahkan karena solid itu pula, banyak orang belajar mengemudikan mobil di sini.

Begitu turun dari mobil, gw dan Nyonya Besar langsung melangkahkan kaki ke batu si Malin Kundang. Ternyata bentuknya memang menyerupai orang yang bersimpuh. Agak kedepan, lebih dekat ke laut, terdapat batu-batu yang menyerupai kapal. Bahkan menyerupai tali tambang, jangkar, dan lambung kapal. Ada yang mengatakan, sebagian memang asli bangkai kapal, tapi sebagian lagi memang hasil renovasi dan modifikasi oleh dinas pariwisata setempat, untuk menarik wisatawan.
batu si malin kundang
perahu si malin kundang
Dibelakang batu-batu itu, berdiri berjejer warung-warung kecil yang menjual makanan dan minuman. Hmm… menurut gw, sayang juga sih, soalnya jadi mengganggu pemandangan batu-batu itu.
Selain itu ada juga yang menawarkan jasa foto, yang bikin kurang nyaman itu karena nawarinnya agak-agak maksa. Kan gak enak ya, berwisata tapi kayak dikejar-kejar gitu.

Kami mengedarkan pandangan. Ada sebuah pulau tak jauh dari Pantai.
Menurut informasi, diseberang Pantai Air Manis terdapat dua buah pulau, yaitu Pulau Pisang Gadang dan Pulau Pisang Ketek. Ternyata yang kami lihat itu Pulau Pisang Ketek. Jaraknya memang hanya 200 meter dari Pantai. Saat sedang surut, banyak orang berjalan kaki ke pulau itu.
Tidak lama kami menikmati pantai dan batu-batu legendanya, kami bergegas menuju tujuan berikutnya untuk semakin mendekati Bukittinggi.

***
Setelah melewati kota Padang, untuk sampai ke Bukittinggi itu kita akan melewati berturut-turut Padang Pariaman, Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, barulah kemudian sampai di kota Bukittinggi. Nah, selama perjalanan itu, ada beberapa tempat menarik untuk disinggahi.
Sekitar dua jam sejak meninggalkan Pantai Air Manis, ketika sudah sampai daerah Padang Panjang, bersiap-siaplah untuk memusatkan perhatian ke sebelah kiri jalan. Tepat disuatu kelokan, terdapat air terjun setinggi 30-35 meter yang menarik perhatian karena lokasinya yang unik, tepat di pinggir jalan.

Itulah air terjun Lembah Anai.
air terjun lembah anai
nyonya besar lembah anai
Pertama kali melihatnya, gw kaget juga. Kirain kan air terjunnya tuh yang pake perjuangan gitu mencapainya. Eh ini ternyata dipinggir jalan:mrgreen:
Turun dari mobil, kami disambut gerimis dan deretan warung-warung kecil menjual makanan dan minuman, mulai dari yang lazim dijumpai di mini market hingga oleh-oleh khas Sumatera Barat.
Jika ingin memasuki hingga jarak terdekat dengan air terjun, pengunjung harus membayar retribusi masuk IDR 3000/orang. Gw ingat, ada sebuah travel magazine yang bilang tiket masuknya itu berharga IDR 10.000, tapi yang gw lihat di ticket box ya yang IDR 3000 itu. Gw gak tau mana yang valid, karena gw dan Nyonya Besar tidak berfoto tepat di area air terjun. Kami malah menyeberang jalan, dan berfoto dari rel kereta api yang sudah tidak digunakan lagi sejak gempa. Selain tidak perlu membayar retribusi masuk, air terjun Lembah Anai bisa tertangkap secara utuh dalam bingkai kamera digital gw. Yang jadi PR ya saat menyebrang jalan itu. Karena terletak tepat di tikungan, kehati-hatian super tinggi sangat diperlukan, apalagi kendaraan yang lewat cenderung berkecepatan tinggi.
contoh orang pelit foto dari rel KA
lembah anai
Bonus lainnya mungkin bisa terbebas dari monyet-monyet yang berkeliaran di sekitar air terjun. Kenapa banyak monyet, kurang tau juga. Mungkin karena air terjun ini sebenarnya merupakan bagian dari Cagar Alam Lembah Anai Air Terjun, cuma kayaknya air terjunnya itu lebih terkenal daripada cagar alam itu sendiri. Dalam pikiran gw, yang namanya cagar alam itu kan luas ya, mungkin monyet-monyet itu termasuk bagian cagar alam itu dan air terjun memang tempat bermain mereka.

Pantai Air Manis udah. Air Terjun Lembah Anai udah. Kami pun melanjutkan perjalanan. Dari dalam mobil gw melihat di sekitar air terjun dibuat beberapa kolam renang dan pemandian sederhana untuk penduduk berwisata. Namanya pemandian Mega Mendung. Airnya diambil langsung dari sungai sekitar. Saat itu kondisinya tampak kurang terawat. Ternyata menurut Pak Zul, tempat-tempat wisata hanya dibenahi menjelang musim liburan. Pokoknya menjelang liburan itu semua tempat dibersihkan dan dipoles habis-habisan. Setelah masa liburan berlalu, tempat-tempat wisata tersebut kembali dibiarkan kotor dan berdebu.

***
Selamat datang di Serambi Mekkah!
Bukan, bukan. Gw gak ke Aceh kok, dan gak bablas ke Aceh juga:mrgreen:
Yang gw maksud dengan Serambi Mekkah adalah Padang Panjang. Kota ini terkenal dengan religiusitasnya yang tinggi, karenanya menyandang sebutan kota Serambi Mekkah. Disinilah terletak pusat pendidikan keagamaan, seperti Perguruan Diniyyah Puteri dan Perguruan Thawalib.
Ada satu kawasan dinamakan Bukit Berbunga, dimana disebelah kiri jalan kalau dari arah Padang, dipenuhi bunga berwarna-warni, yang ternyata sengaja di tanam oleh pemerintah setempat. Tepat ditikungan, kita bisa melihat jalan raya berkelok-kelok dari kejauhan. Ada juga yang memanfaatkannya untuk piknik bersama keluarga. Piknik sederhana. Duduk dipinggir jalan sambil menikmati udara sejuk dan menyantap bekal yang dibawa.
padang panjang
Tak jauh dari situ, kami berbelok memasuki kawasan Minang Fantasi Water Park di daerah Silaing Bawah. Semacam Dufan kalau di Jakarta. Tapi bukan itu tujuan kami. Perhentian yang sebenarnya adalah Minangkabau Village, nama lain untuk menyebut Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau.
minangkabau village
Minangkabau Village ini didirkan atas prakarsa A. Hamid dan Bustanul Arifin sebagai persembahan bagi Padang Panjang, kampung halaman beliau. Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal yang mudah diingat, 8-8-88, dan diresmikan pada 17 Desember 1990 oleh Hasan Basri Durin yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat.
Pusat informasi ini berbentuk rumah gadang yang dikelilingi oleh pohon-pohon dan rerumputan yang menghijau asri dan teratur, dengan halaman yang luas dan bersih. Begitu menginjakkan kaki ke dalam, kita akan disambut oleh petugas dari dinas pariwisata, dan selanjutnya akan ditemani berkeliling setelah membayar retribusi IDR 4000/orang. Tak lupa potongan karcis diberikan pada kami.

Di dalam rumah gadang ini tersimpan koleksi buku dan foto-foto tentang sejarah Minang. Ibu petugas menjelaskan bahwa ada dua tipe rumah gadang, yaitu rumah gadang Bodi Chaniago dan rumah gadang Koto Piliang. Rumah gadang Bodi Chaniago tidak memiliki anjungan atau tempat yang lebih tinggi dari lantai dasar. Hal ini menggambarkan sifat pemerintahan Bodi Chaniago yang lebih demokratis daripada Koto Piliang, dimana rumah gadang Koto PIliang memiliki gonjong tujuh dan anjungan berundak di sisi kiri dan kanan, selaras dengan sistem pemerintahan Koto Piliang yang bersifat otokratis. Dengan gaya Koto Piliang inilah Pusat Informasi ini dibangun.
minangkabau village 2
minangkabau village 3
minangkabau village 4
minangkabau village 5
minangkabau village 6
Rumah gadang itu berbentuk sederhana, empat persegi panjang yang memiliki sembilan kamar. Setiap kamar berukuran kecil, dan memiliki ‘teritori’ masing-masing berupa ruang makan sendiri-sendiri didepan kamar, membentuk garis lurus ke depan. Sementara dibelakang kamar yang pada masanya hanya diisi dengan tempat tidur dan peti penyimpanan baju, terdapat dapur.
Jadi begini, rumah gadang itu dihuni tidak hanya oleh satu keluarga, tapi oleh satu kaum, yang menempati masing-masing kamar, dan karenanya memiliki ruang makan dan dapur sendiri-sendiri. Sebenarnya dapur digunakan bersama, namun di dapur terdapat lumbung dan tungku masing-masing yang tidak boleh digunakan oleh penghuni kamar lain.
Saat kita memasuki rumah gadang, kamar yang terletak di ujung kiri kita adalah kamar pengantin. Anak perempuan yang baru menikah akan tinggal di kamar itu, sampai anak perempuan berikutnya menikah. Ketika anak perempuan berikutnya menikah, keluarga yang tadinya menempati kamar paling ujung kiri tersebut harus bergeser, pindah ke kamar sebelahnya. Begitu terus hingga akhirnya tiba di kamar paling ujung kanan. Saat sudah menempati kamar di ujung kanan, mereka harus bersiap-siap keluar dari rumah gadang tersebut dan menempati rumah sendiri. Jadi, filosofi yang terkandung dengan adanya ‘teritori’ dan kamar yang sangat kecil, adalah semacam pecutan halus bagi sang suami, bahwa sebagai kepala keluarga dia harus bekerja keras mencari nafkah agar bisa sesegera mungkin membangun rumah untuk keluarganya.

Selain pembagian ruangannya, konstruksi rumah gadang pun tak kalah unik. Rumah gadang dibuat dari kayu yang sangat kuat, semacam kayu ulin, tanpa dipaku atau ditanam ke dalam tanah, melainkan hanya dipasak ke sebuah batu besar, namanya batu sandi. Hal ini mendatangkan keuntungan ketika terjadi gempa, misalnya, kayu tersebut akan berputar pada pasaknya, melawan gravitasi. Bentuk rumah gadang membuat rumah gadang tetap stabil ketika menerima guncangan dari bumi. Konstruksinya memiliki daya lentur dan soliditas, hingga ketika ada getaran yang datang, akan terdistribusi ke seluruh bagian bangunan. Risiko ambruk atau hancur dapat dihindari, karena saat gempa, rumah gadang akan berayun mengikuti gelombang.

Setelah melihat-lihat lantai utama, kami turun ke bawah. Di bagian bawah terdapat contoh pelaminan Minang dan busana pengantin yang bisa dipinjam untuk berfoto-foto di pelaminan itu. Gw teringat ketika Dina menikah, dia mengenakan suntiang tinggi keemasan khas Kota Padang, sementara Tisha mengenakan semacam kerudung dari bahan beludru merah dengan benang emas khas pengantin Koto Gadang. Ternyata busana pengantin Minang pun ada bermacam-macam, tidak semuanya menggunakan suntiang tinggi yang megah yang selama ini sering kita lihat. Dari ruangan bawah itu gw mencatat, ada beberapa foto yang memperlihatkan ragam busana pengantin, seperti busana pengantin Palembayan Matur, Kurai Limo Jorong, Kota Payakumbuh, Lintau Buro, Kota Padang Panjang, Kota Padang, dan Koto Gadang.
pelaminan
***
Sudah pukul 3 sore dan kami belum makan. Tak jauh dari Minangkabau Village, mungkin sekitar 100 meter, terdapatlah sate padang yang sudah terkenal seantero jagad. Sate Mak Syukur yang pada awalnya pada tahun 1941 dijajakan berkeliling oleh Syukur Sutan Rajo Endah. Maka mampirlah kami kesana, ke jalan Sutan Syahrir No. 250.
sate mak syukur 2
Bangunan Sate Mak Syukur terdiri dari dua lantai, dilengkapi dengan mushala dan tempat parkir yang luas. Begitu duduk, seorang pelayan segera menghampiri, bertanya apa yang ingin kami minum. Kalo soal makanan tak perlu ditanya, karena hanya satu menu yang tersedia.

Dari apa yang pernah gw baca, ada tiga gagrak sate padang. Sate Padang khas Padang Pariaman, Sate Padang khas Padang Panjang, dan Sate Padang Danguang-danguang. Sate Padang khas Pariaman berkuah lebih merah dan ditaburi keripik balado, sehingga menambah sensasi kriuk-kriuk ketika memakannya dan kuahnya pun lebih pedas. Sate Mak Syukur adalah sate padang gagrak padang panjang. Kuah kentalnya lebih kuning karena campuran kunyit, tidak terlalu pedas, dan tanpa taburan kripik balado. Sebagai gantinya, di meja tersedia karupuak jangek, kerupuk yang terbuat dari kulit kerbau atau sapi. Orang Sunda menyebutnya sebagai dorokdok.
Sementara pada sate padang danguang-danguang, potongan daging sapinya sudah dibumbui parutan kelapa yang sebelumnya sudah dibumbui juga sebelum dicampur dengan dagingnya. Kuah sate padang danguang-danguang lebih kental, tapi bumbunya lebih ringan, tidak segurih bumbu dua gagrak sate padang lainnya.

Datanglah sate padang kami. Satu porsinya terdiri dari tujuh tusuk sate dan ketupat dengan taburan bawang goreng, disajikan beralaskan daun pisang dan pring kaleng sebagai wadahnya. Sate Mak Syukur terbuat dari daging rusuk, punuk sapi, usus, jantung, dan lidah sapi. Paduan dalam tusuk sate bisa dicustomized sesuai keinginan kita, misalnya ada yang gak suka usus, bisa diganti dengan yang lain.
sate mak syukur
Rasanya gimana?
Yah, karena gw gak bisa membedakan rasa sate, bagi gw rasanya sih sama-sama aja sama sate padang di tempat lain. Gak yang gw sampe bilang bahwa sate mak syukur itu wuenaaaaakkk luar biasa. Gak gitu juga. Terus terang aja nih gw justru sempat berkata dalam hati, rasanya kok biasa aja ya… malah kayaknya lebih enak sate padang pal cimanggis:mrgreen:
Maapkan saya wahai para pecinta kuliner, tapi kalo udah masalah hati kan gak bisa dipaksa ya, selera orang kan beda-beda hihihi…

***
Meninggalkan Sate Mak Syukur setelah menunggu Pak Zul shalat asar, tujuan berikutnya adalah Danau Maninjau. Untuk sampai ke sana kami harus melewati kelok ampek-ampek, atau 44 kelokan yang terkenal tajam itu. Melihat hari sudah sore dan pertimbangan kekuatan fisik kami, terutama Nyonya Besar, kami memilih untuk melihat Danau Maninjau dari Puncak Lawang.

Setelah memasuki daerah Agam dan melewati jalan kecil beraspal dan berkelok-kelok, gw sungguh lega ketika akhirnya bisa sampai di Puncak Lawang. Untuk sampai ke sini sepertinya butuh keimanan yang kuat dan pendirian yang teguh, karena waktu tempuh dirasa sangat lama. Kalo gak ditahan-tahan rasanya pengen putar balik aja langsung ke Bukittinggi, soalnya kok kayak gak sampe-sampe, gitu!

Danau Maninjau merupakan danau terbesar kedua di Sumatera Barat dan merupakan jenis danau vulkanik yang berasal dari letusan gunung Tinjau. Letusan gunung Tinjau yang menjadi Danau Maninjau ini erat hubungannya dengan legenda Bujang Sembilan, kisah tentang 10 bersaudara yang terdiri dari satu perempuan dan sembilan anak laki-laki. Dendam membuat para kakak laki-laki menjebak perempuan adik bungsu mereka beserta kekasihnya. Mereka dibawa ke hadapan sidang adat dan dijatuhi hukuman atas hal yang tidak pernah mereka lakukan. Sebelum hukuman dijatuhkan, si lelaki berdoa, jika mereka sebenarnya tidak bersalah, letuskanlah gunung Tinjau dan kutuklah Bujang Sembilan menjadi ikan.
Setelah itu, mereka meloncat ke dalam kawah. Tak lama, gunung Tinjau pun meletus, dan Bujang Sembilan menjelma menjadi ikan, yang hingga kini dipercaya masih menghuni Danau Maninjau.
danau maninjau
puncak lawang danau maninjau
Saat sampai di Puncak Lawang, kabut sudah mulai menutupi pandangan. Tak mengherankan, saat itu mendung dan memang sudah sore, sekitar pukul 5. Sayang, kami jadi tidak bisa menikmati Danau Maninjau. Padahal kalau langit cerah atau kami datang saat hari masih siang, kami bisa melihat kecantikan Danau Maninjau dari atas. Penyesalan karena tidak melihat secara sempurna keelokan Danau Maninjau, muncul ketika gw mengunjungi Danau Singkarak keesokan harinya.

Pengeluaran dalam rupiah:
Retribusi masuk Pantai Air Manis 5000/orang
Retribusi Minangkabau Village 4000/orang
Sate Mak Syukur:
Sate Padang 18.000/orang
Kopi 3000
Teh manis hangat 3000
Jus Alpukat 9000
Karupuk Jangek 3000/buah

6 thoughts on “Pulang Basamo: Bertemu Malin Kundang, Sejenak di Minangkabau Village, & Too Late To Enjoy the Maninjau Lake

    • ukechin says:

      ya naik aja… eh iya gw lupa nulis ya? itu rel udah gak berfungsi lagi karena usia… dulu dipake buat ngangkut batubara, cuma katanya sejak gempa padang udah gak dipake lagi…

      • ukechin says:

        waaahhh orang solok kau rupanya???😆 booo aduh tanpa bermaksud apa-apa, tapi gw kok kurang amazed ya sama danau singkarak dibandingin danau maninjau?😥 *sungkem sama Vika*

    • ukechin says:

      huah! gak ada edisi dapet jodoh orang sono, Nin… gw adanya edisi ‘penembakan di gurun pasir’, ada season 1 dan season 2 lengkap, season 3 masih on going. Mau?😆😆

      Kalo masalah orang solok, wah tanya Vika langsung aje yeee *kasih mikropon ke Vika*:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s