Pulang Basamo: Eventually A Minangkabau Trip

Dalam diri gw, mengalir darah Minang dari Nyonya Besar. Oma berasal dari Padang Panjang, sementara Opa dari Padang Painan. Jika ditanya lebih jauh, apa nama keluarga gw, sesuai dengan jawaban yang gw dapat dari Nyonya Besar, yang mana katanya beliau dapat dari Oma gw, gw akan menjawab, “Koto.”
Ada rasa penasaran akan siapa nenek moyang gw, apalagi kalau ketemu teman-teman yang juga berdarah Minang, yang selama ini sebagian besar memiliki nama keluarga Sikumbang, Chaniago, atau Piliang. Rasa penasaran itu bertambah saat mendengar cerita Nyonya Besar tentang silsilah gw yang, menurut kisah beliau dan kakak-kakaknya, sambung menyambung membuat garis lurus ke lingkungan Istana Pagaruyung.

Dan rasa penasaran itu bukan hanya masalah keturunan dan silsilah belaka, tapi gw juga ingin tau seperti apa alam Minangkabau yang katanya elok itu, belum lagi ada begitu banyak pahlawan nasional dan tokoh-tokoh intelek awal abad 20 yang merupakan putra-putri Minangkabau. Pasti pernah dengar kan nama-nama seperti H. Agus Salim, Hj. Rangkayo Rasuna Said, Rahmah El-Yunusiah, Tan Malaka, Sutan Syahrir, hingga Bung Hatta? Nama Sutan Syahrir dan Bung Hatta bahkan diabadikan sebagai nama jalan di Belanda. Apalagi seumur-umur, gw belum pernah berkunjung ke Sumatera Barat. Nyonya Besar juga baru satu kali. Nyonya Besar lahir dan besar di Serang, Banten, dan setelah menikah dengan Mr. Babeh, hampir setiap Idul Fitri selalu mudik ke Lampung, tempat asal Mr. Babeh. Makin menjadi deh, keinginan gw untuk bisa mengunjungi ranah Minang.

Dari waktu ke waktu, gw terus saja menuliskan keinginan gw, suatu saat gw harus ke Sumatera Barat. Masa’ urang awak belom pernah sekalipun pulang kampuang?😉

Suatu ketika, saat gw melakukan aktivitas rutin melihat-lihat promo penerbangan murah, gw menemukan bahwa Garuda Indonesia menawarkan tiket penerbangan domestik yang kompetitif. Langsung deh semangat, apalagi pas tau kalo mereka memberi harga IDR 835.000 all in untuk rute Jakarta-Padang pp, sementara biasanya tiket untuk rute itu dikasih harga 1,3 sampai 1,4 juta. Gak pake mikir lama, langsung ngompakin Nyonya Besar untuk bikin acara ‘Pulang Basamo’.
Setelah itu, gw bergerak mencari tempat nginep. Awalnya ditawarin nginep di rumah Dina, namun karena beberapa alasan, akhirnya berbelok jadi nginep di hotel. Dipilih satu-satu di agoda, setelah diskusi sama Nyonya Besar dan Mr. Babeh, dimantapkan pilihan di Hotel Gran Malindo. Letaknya strategis, di Jalan Panorama No. 30, Bukittinggi, berada dalam walking distance ke tempat-tempat wisata di Bukittinggi. Iya, selama di Sumatera Barat, kami memang menginap di Bukittinggi, karena katanya kota itu terkenal sejuk dan kaya akan tempat wisata, lebih menarik daripada Padang. Dipesanlah kamar untuk 3 malam, kami pesan lewat agoda dan dapat harga promo. IDR 749.500/orang/3 malam, termasuk pajak dan tentunya sarapan.

Urusan penginapan selesai, selanjutnya ritual ngoprek-ngoprek bikin itinerary langsung dilakukan. Andalannya dua, internet dan tanya-tanya Dina, salah seorang sahabat gw yang asli urang awak mulai dari lahir hingga tumbuh disana, cuma sekarang doi udah boyongan ke Qatar mengikuti suwami tercinta:mrgreen:
Setelah itinerary awal selesai, Nyonya Besar menghubungi seseorang yang biasa jadi driver di daerah sana. Namanya belom jodoh, si calon driver malah bikin itinerary sendiri dan gak mau ngikutin itinerary yang kami bikin. Langsung coret dari daftar. Lha gw yang pengen jalan-jalan, kenapa dia yang ngotot?
Pilihan beralih ke driver yang ditawarkan Dina. Ngobrol-ngobrol, dia mau mengikuti itinerary. Deal di harga IDR 500.000/17 jam termasuk bensin dan supir. Kesepakatan awalnya, kami bakal pake jasa Pak Zul, nama driver itu, selama 2 hari.

***
Rabu, 23 Januari, gw dan Nyonya Besar berangkat pukul 3.15 menuju bandara. Sampai di bandara sekitar pukul 4.30, langsung cari mushala, terus beresin urusan check in, bagasi, dan imigrasi. Menurut jadwal, pesawat yang kami tumpangi, GA 160, akan terbang menuju Padang pukul 6.20 dan akan mendarat pukul 8.10. Pukul 6 kami boarding, dan pesawat mulai lepas landas 15 menit lebih lama daripada yang dijadwalkan. Tapi keterlambatan itu ternyata tidak menyebabkan molornya waktu kami tiba di Padang. Kami bahkan mendarat 10 menit lebih cepat.
langit jakarta
langit lautan
the sky between the islands
langit sumatera
langit padang
langit padang 2
Beautiful views from the sky. Amazed as always!😉
***
Pertama kalinya menginjakkan kaki di Bandara Minangkabau, kesan yang didapat sebagaimana bandara-bandara di daerah-daerah lain di Indonesia. Sederhana dan tidak terlalu besar, dan tentu masih jauh lebih layak menyandang nama bandara dengan predikat internasional jika dibandingkan dengan Bandara Husein Sastranegara yang kecil dan kumuh, mirip terminal.
Gw mengedarkan pandangan, mencari-cari kemungkinan adanya stand kementerian pariwisata atau dinas pariwisata setempat yang menyediakan informasi lengkap seputar Sumatera Barat beserta peta wilayah yang jelas. Tidak ada. Yang banyak justru brosur-brosur agen-agen pariwisata yang menawarkan wisata bahari, atau island hopping ke pulau-pulau sekitar. Sungguh, bagi pelancong yang baru pertama kali ke Sumatera Barat tanpa ada keluarga atau sahabat yang bisa dijadikan guide dan tidak menggunakan jasa sewa mobil, sepertinya akan sulit untuk menjelajahi provinsi ini. Selain kurangnya informasi yang memadai, lokasi wisata yang berjauhan juga meningkatkan tantangan berwisata. Jadi, yang namanya menyewa mobil bukan berarti kita gak mau bersusah-susah ngegembel, tapi emang harus begitu kalo pengen berwisata dengan cukup nyaman dan bisa menjangkau semuanya dalam waktu yang terbatas. Soalnya, ketika gw bilang jarak antara lokasi wisata itu berjauhan, literally emang jauh, bukan karena macet atau gimana-gimana karena kan emang gak ada macet. Medannya juga lumayan, jalan kecil dan berkelok-kelok tanpa penerangan yang memadai.

Sekitar pukul 8.30, gw dan Nyonya Besar sudah keluar pintu kedatangan dan menunggu Pak Zul. Sama seperti Batam, di bandara Minangkabau pun tidak ada taksi argo. Harga sudah ditentukan untuk jarak tempuh tertentu.
tarif resmi taksi bandara
***
Pukul 9 tepat Pak Zul sampai. Ternyata orangnya masih cukup muda, berkulit hitam dan berperawakan seperti orang India keling, dan bicara dengan logat Minang yang kental. Gw langsung memberikan itinerary yang sudah gw print, tapi gw juga memberikan kebebasan pada Pak Zul untuk menentukan rute mana yang sebaiknya dikunjungi terlebih dahulu. Pokoknya gw cuma kasih ancer-ancer tempat-tempat wisata yang ingin gw kunjungi di hari pertama itu, masalah rute dan lewat mana itu Pak Zul yang atur. Oya, berdasarkan diskusi dengan Dina dan Pak Zul, karena gw menginap di Bukittinggi, dari bandara sebaiknya langsung mendatangi beberapa tempat wisata yang memang terletak di arah menuju Bukittinggi. Jadi diperkirakan sampai di Bukittinggi memang malam hari, supaya begitu sampai di hotel langsung cuuuuusss ke alam mimpi.

***
Mobil menggelinding keluar area bandara, dan tak lama langsung disambut oleh deretan sawah-swah yang menghijau dengan latar belakang gunung yang menjulang. Gw lupa, apakah gunung singgalang atau merapi, gak bisa membedakan juga sih… tapi yang jelas, pemandangannya sungguh cantik. Berbeda dengan Lampung, begitu keluar Bakauheni, kita akan disambut oleh abu-abunya gunung kapur di kiri-kanan jalan. Sementara di Padang, sepanjang mata memandang yang ada adalah paduan hijau-kuning persawahan dan langit biru dengan awan putih menggumpal-gumpal. Pemandangannya menyegarkan mata.
Mendekati Teluk Bayur, mulai terlihat truk-truk pengangkut barang. Selain membawa komoditas, sebagian besar juga membawa karet karena di sekitar sana memang banyak terdapat pabrik karet. Menurut Pak Zul, air di daerah itu sudah tidak bersih karena tercemar limbah pabrik, dan jika kita membuka jendela mobil, akan tercium bau busuk akibat keberadaan pabrik-pabrik tersebut.
padang view
padang view 2
sekitar teluk bayur

Setelah menempuh perjalanan sekitar 90 menit, akhirnya kami sampai juga di tujuan kami yang pertama.

Pengeluaran dalam rupiah:
Taksi rumah – airport 155.000
Airport tax 40.000/orang
Tiket Garuda Indonesia Jakarta-Padang pp 835.000/orang

4 thoughts on “Pulang Basamo: Eventually A Minangkabau Trip

    • ukechin says:

      imigrasi? hmm… maksud gw, custom kali ya? soalnya pas gw beli tiket garuda itu, garuda belum mengeluarkan kebijakan mereka yang harga tiket domestik udah include airport tax…

      ya maklumin lah Vik, kalo lagi sumangat nulis, gw suka gak kira-kira😆

  1. Vika says:

    sprtnya sih itu namanya airport tax…😀
    kl custom sih kyk bea cukai trutama kl qt pulang dari luar negeri dan mau masuk negara orang.

    • ukechin says:

      hahaha… iya deh nurut deh gw sama traveler senior yang satu ini… maklum lah cuy. lagi galau menunggu-nunggu ucapan HBD dari yang paling ditunggu yang tak kunjung datang:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s