Pulang Basamo: Bertamu ke Rumah Kelahiran Bung Hatta

Kami sampai di perbatasan Agam dan Bukittinggi ketika langit sudah gelap. Kami memutuskan untuk mencari makan malam lebih dulu, jadi tinggal tidur aja ketika sudah sampai di hotel.
Di daerah Padang Luar, atau dikenal juga dengan nama jalan raya Kapeh Panji, ada beberapa tempat makan yang cukup menarik perhatian. Gw beberapa kali menemukan di internet bahwa Nasi Kapau Uni Cah dan Martabak Kubang Hayuda adalah dua yang patut dicoba. Menurut Dina, Nasi Kapau Uni Cah sama terkenal dan sama enaknya dengan Nasi Kapau Uni Lis yang sudah tersohor itu. Nasi Kapau Uni Cah terletak di sebelah kanan jalan kalau kita datang dari arah Padang. Tapi gw teringat, lagi-lagi menurut Dina, satu bungkus nasi kapau bisa untuk dua sampai tiga orang. Porsinya memang benar-benar mantap. Menimbang kapasitas perut Nyonya Besar yang minimalis dan gw yang sok-sok-an diet, ditambah pula gak napsu makan nasi, gw bilang ke Nyonya Besar bahwa gw pengen makan roti canai. Sebenernya emang karena udah ngincer Hayuda juga dari awal. Bukan karena belum pernah nyoba, tapi lebih ke penasaran pengen membandingkan rasa antara Hayuda yang di Jakarta dan yang di tempat asalnya di Minang sini.

Kami berhenti di Jalan Raya Kapeh Panji Km 3 No. 25, tempat Martabak Kubang Hayuda terletak. Sederhana, dan ketika melihat menu yang ditawarkan, gw agak kaget karena tidak banyak variasi seperti di Jakarta dan Depok. Tidak tercantum harga pada menu, tapi kalau mau tau tinggal tanya saja pada pelayannya.
Gw memesan Roti Canai Telur dan karena penasaran dengan rasanya, gw memilih Teh Talua atau Teh Telur sebagai minumannya, sementara Nyonya Besar memesan Roti Canai dan Bandrek Susu. Pak Zul menolak ikut makan dan lebih memilih merokok dekat mobil.

roti canai
Roti Canainya terlihat renyah, kulitnya memang krispi, namun bagian dalamnya terasa lembut. Disajikan dengan gula pasir, walaupun tanpa gula pasir sekalipun rotinya sudah terasa manis. Sayang amis telur sebagai campuran adonan roti, masih tercium. Bandrek susu, disajikan hangat-hangat sehingga cocok dengan udara sejuk Bukittinggi, merupakan kombinasi bandrek dengan susu kental manis yang susunya agak kebanyakan sehingga jadi luar biasa manis.
Sementara Roti Canai Telur lebih mirip seperti roti yang digoreng berselimutkan telur, dengan tampilan akhir seperti telur dadar. Roti Canai Telur dimakan dengan cara mencelupkannya ke dalam saus martabak yang diberikan irisan acar.
roti talua
teh talua hayuda
Nah, sekarang Teh Talua-nya nih. Ini pertama kalinya gw minum teh yang dicampur telur mentah. Sempat kepikiran sih gimana rasanya karena dicampur telur, apa bakal amis atau gimana… ternyata rasanya lumayan enak, mirip dengan teh susu. Tapi emang harus diminum panas-panas. Selain menghangatkan badan, teh telur juga dipercaya meningkatkan energi. Gak heran kalau ternyata, teh talua ini merupakan minuman yang lazim ditemui sebagai menu sarapan di Bukittinggi, bisa disajikan bersama roti goreng.

***
Gw dan Nyonya Besar diberikan kamar di lantai dua. Melalui agoda, gw memesan dan membayar penuh satu kamar tipe superior di Hotel Gran Malindo, hotel berbintang dua di Jalan Panorama No. 30, Bukittinggi.
Begitu sampai di resepsionis sekitar pukul 7.15 malam, dengan cekatan petugas hotel segera mengantar kami ke kamar. Kamarnya lumayan nyaman, kamar mandi dengan shower dan toilet duduk serta air panas tersedia, cukup bersih. Kalau mau menyeduh minuman panas, harus telepon resepsionis dulu minta dibawakan air panas matang.

***
Pukul 6.30 pagi, belum mandi, gw dan Nyonya Besar berjalan kaki ke arah kanan hotel, tak jauh dari hotel ada perempatan. Belok ke kiri ke arah Ngarai Sianok, tak jauh dari tikungan itu ada satu tempat bernama Pical Ayang. Pical merupakan modifikasi ala Minang untuk pecel di Jawa. Sebenernya hotel menyiapkan sarapan, tapi kami memilih untuk mencoba kuliner khas Minang, ya mumpung ada di tanah asal:mrgreen:

pical ayang 2
pical ayang
Tidak hanya menyediakan pical, Pical Ayang juga menyediakan jenis makanan dan minuman lain yang biasa disantap saat sarapan, seperti bubur candel, bubur kampiun, lontong sayur, teh susu, teh talua, kopi susu, dan menu lainnya yang gw lupa *tepok jidat*.
Begitu masuk, langsung saja ke pojok kanan di mana layanan jual beli pesan makanan berlangsung. Gw dan Nyonya Besar memesan lontong sayur dengan telur dan teh manis hangat. Pical Ayang selalu ramai pembeli, sejak buka pukul 6 pagi hingga tutupnya di pukul 5 sore.
Biasanya lontong sayur ala padang terkenal dengan kepekatan kuah dan rasa pedasnya, lontong sayur dengan telur –nya Pical Ayang tidak terlalu pedas dengan kuah kekuningan yang ringan, tidak berbeda dengan yang biasa gw makan di Jakarta. Tampilannya pun sama, dilengkapi kerupuk merah, dan porsinya pas untuk sarapan.
teh manis hangat pical ayang
lontong sayur pical ayang
***
Mungkin karena merasa sama-sama orang Minang, dari dulu gw kagum banget sama Bung Hatta. Ketika akhirnya bisa jalan-jalan ke Bukittinggi, gw udah bertekad pokoknya harus harus harus banget berkunjung ke rumah kelahiran Bung Hatta. Gak apa-apa deh ada tempat lain yang terlewatkan, yang penting rumah kelahiran Bung Hatta gak boleh dilupakan.
And I was sooooo right!
Waktu hampir satu setengah jam yang gw dan Nyonya Besar habiskan di Rumah Kelahiran Bung Hatta bener-bener terasa kurang. Rasanya pengen balik lagi dan stay lebih lama di situ.

Jalan Soekarno-Hatta No. 37, Desa Aur Tajungkang, tak jauh dari Pasar Atas berdiri sebuah rumah dua lantai tempat Bung Hatta dilahirkan. Saat ini rumah tersebut dikelola oleh pemda setempat. Ibu Desi, seorang petugas honorer, ditempatkan di situ untuk merawat dan mendampingi pengunjung yang ingin menyaksikan dari dekat sejarah Bung Hatta. Rumah tersebut dibuka untuk umum setiap hari sejak pukul 8 pagi. Tidak dipungut bayaran, tapi pengunjung diminta untuk mengisi buku tamu dan diharapkan untuk memberikan sumbangan sukarela untuk perawatan bangunan bersejarah itu. Jangan lupa untuk melepas alas kaki sebelum memasuki rumah tersebut.

rumah kelahiran bung hatta
Masuk ke dalam Rumah Kelahiran Bung Hatta bagaikan masuk ke dalam mesin waktu, baik bagi gw maupun bagi Nyonya Besar. Bagi gw, selain karena gw pengagum Bung Hatta, juga karena gw penyuka sejarah, dan selalu merasa terpesona, takjub dengan kenyataan mengagumkan bahwa Bung Hatta is a hero for real. Sementara bagi Nyonya Besar, Rumah Kelahiran Bung Hatta mengingatkannya akan masa kecilnya dulu, karena Nyonya Besar tumbuh dan besar di rumah yang bentuk dan tata letak ruangannya mirip dengan Rumah Kelahiran Bung Hatta.

Rumah Kelahiran Bung Hatta terdiri dari bangunan utama, lumbung padi, dan bangunan tambahan.
Bangunan utamanya melebar ke samping, terdiri dari dua lantai. Dinding bagian luar bangunan utama terbuat dari papan, bagian dalamnya dilapisi bilik. Sementara bagian belakang berdinding bilik tanpa dilapisi papan.
Pada bagian depan bangunan utama terdapat teras kecil melebar. Di sebelah kiri, dimana di bagian luar terdapat papan informasi jam buka Rumah Kelahiran Bung Hatta, adalah ruang baca Bung Hatta. Ukurannya kecil, mungkin 2×2,5 meter. Hanya terdapat sebuah dipan dan meja yang mungkin digunakan Bung Hatta untuk membaca. Berhadap-hadapan dengan ruang baca, disisi kanan terdapat Saleh Sutan Sinaro, salah seorang mamak/paman Bung Hatta, ruangan mana berfungsi pula sebagai tempat penyimpanan barang-barang pos untuk dibawa ke daerah Pasaman. Paman Bung Hatta itu memang diberi kepercayaan oleh Belanda kala itu untuk mengurus pos dan segala sesuatunya.

Masuk ke ruang utama yang luas, terdapat dua set meja-kursi kayu tempo dulu diberi alas taplak meja rajutan khas Minang. Rupanya ini merupakan ruang makan untuk tamu. Selain dua set meja-kursi, terdapat pula lemari rendah dari kayu, mungkin dulu berfungsi sebagai tempat penyimpanan perkakas. Foto-foto hitam putih dengan bingkai yang sederhana tersebar diseluruh dinding rumah, menghujani pengunjung dengan kenangan kehidupan Bung Hatta.
lantai satu
lantai satu 2

Dibelakang ruang baca Bung Hatta, terdapat sebuah kamar dengan luas sekitar 2,5×7 meter dengan jendela menghadap ke halaman belakang. Selain tempat tidur besi berkelambu, ada meja bundar kecil dan sebuah mesin jahit kuno di dekat jendela. Foto sang pemilik kamar, Saleh Sutan Sinaro, dipasang di salah satu dinding biliknya.
kamar salah satu paman bung hatta
ini pamannya si empunya kamar

Sementara, berhadap-hadapan dengan kamar Saleh Sutan Sinaro, terdapat sebuah ruangan dengan ukuran yang persis sama, berfungsi sebagai kamar tidur Mamak Idris, seorang paman Bung Hatta yang lain. Yang unik dari kamar ini, ada sebuah sumur lama didalamnya, diberi batas dari rantai.
Dibelakang kamar Mamak Idris, ada ruangan kecil yang jika ingin memasukinya, kita harus keluar ke bagian belakang dan mengenakan bakiak kayu, atau biasa disebut tarompah oleh penduduk setempat. Ruangan berukuran sekitar 2,25×2,25 meter itu merupakan ruang makan keluarga. Terdapat sebuah meja makan persegi empat yang terbuat dari kayu, di pojok dibawah tangga terletak lemari perkakas, diatasnya ditaruh rak berisi piring kaleng dan gelas kaca yang digambari bunga warna-warni.
bagian belakang rumah
family living room

Dari jendela kamar Mamak Saleh, terlihat di halaman belakang rumah berdiri dua buah lumbung padi yang cukup besar. Salah satunya diberi keterangan sebagai “lumbung padi saleha/idris”. Saleha adalah ibu Bung Hatta.
Berjejer ke samping setelah lumbung padi, terdapat bangunan tambahan terbuat dari beton. Berturut-turut adalah kamar bujang, dapur, kamar mandi, dan ruang perlengkapan bendi. Di samping rumah terdapat ‘garasi’ bendi. Keluarga Bung Hatta merupakan satu-satunya keluarga yang memiliki bendi pribadi pada saat itu. Dengan menggunakan bendi itulah, Bung Hatta diantar ke sekolah.
lumbung padi dan kamar bujang bung hatta
kamar bujang
kamar bujang 2
sepeda bung hatta
Kamar bujang merupakan kamar Bung Hatta. Berukuran sekitar 3×4 meter, didalamnya terdapat tempat tidur, meja dan kursi baca, sebuah lemari, dan sepeda Bung Hatta. Sebagaimana anak laki-laki Minang lainnya, menginjak usia 10 tahun Bung Hatta belajar ilmu agama dan tidur di surau.

dapur
Di sebelah kamar bujang, terdapat dapur dengan atap yang cukup tinggi, terbuat dari seng dan berventilasi, mungkin supaya asap kala memasak menggunakan kayu bakar tidak membuat sesak ruangan 2,5×3 meter itu. Didalamnya terdapat rak perkakas dan tungku memasak, serta bale-bale. Setelah dapur, terdapat kamar mandi, yang didalamnya hanya terdapat bak mandi sepanjang dinding kamar mandi. Dan disebelah kamar mandi, ada ruangan tempat menyimpan perlengkapan bendi.

Kembali ke ruang makan keluarga, kami menaiki tangga menuju ke lantai dua. Lantai dua memiliki balkon. Masuk ke ruangan, di tengah bangunan terdapat ruangan luas dengan satu set meja-kursi, mungkin ini ruang keluarga. Di sisi kiri, diatas kamar Mamak Saleh, terdapat kamar tidur Pak Gaek. Pak Gaek, bernama Ilyas gelar Bagindo Marah, adalah kakek Bung Hatta dari ibu.
Berhadap-hadapan dengan kamar Pak Gaek, tepat diatas kamar Mamak Idris, itulah kamar tidur Saleha.
kamar tempat bung hatta lahir
Di kamar itulah Bung Hatta lahir pada 12 Agustus 1902, sebagai anak dari pasangan Saleha dan Haji Muhammad Djamil. Ayah Bung Hatta meninggal dunia pada umur 30 tahun saat Bung Hatta berusia delapan bulan.

Gw dan Nyonya Besar menutup kunjungan ke Rumah Kelahiran Bung Hatta dengan mengisi buku tamu dan memberi sumbangan seikhlasnya. 90 menit benar-benar tidak cukup untuk menyerap dan menikmati semua sejarah dan kenangan yang disajikan di rumah itu.
Suatu saat gw akan kembali mengunjungi Bukittinggi. Dan kembali pula mengunjungi Rumah Kelahiran Bung Hatta.

Pengeluaran dalam rupiah:
Roti Canai 8000
Roti Canai Telur 8000
Bandrek Susu 6000
Teh Talua 6000
Sarapan di Pical Ayang:
Lontong Sayur dengan Telur 6500/orang
Teh manis hangat 2000/orang
Kacang goreng 2000/plastik kecil
Sumbangan Rumah Kelahiran Bung Hatta se-ikhlas-rela-ridha-nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s