[Kambing Bakar Cairo] Terlezat Ke-2 Se-Timur Tengah

Pas lagi seru-serunya penghitungan suara Pilkada Jabar minggu lalu, Neng Erma dalam akun twitternya mengindikasikan bahwa seorang tokoh masyarakat didaerahnya mau bakar-bakar kambing jika dan hanya jika pasangan dengan nomor urut tiga tampil sebagai jawara.
Seiring dengan berjalannya waktu, hasil pemantauan memperlihatkan bahwa sepertinya pasangan ganteng nomor tiga tidak sukses mendulang suara. Untuk mengobati kekecewaan Neng Erma, gw pun mengusulkan agar kami mengambingkan diri sendiri. Gak usah nunggu Bang Jojo di Jendela Rumah Kita yang heits banget jaman gw belum khawatir karena belom nikah di usia 30 *eh* duduk di Gedung Sate untuk makan kambing bakar:mrgreen:

Maka pada suatu hari rabu selepas jam lima sore, gw dan Neng Erma meluncur ke Jalan Pelajar Pejuang 45 No. 104, tepatnya ke sebuah tempat makan tepat di seberang Hotel Horison, yang dengan gagah berani gegap gempita mengusung nama…

KAMBING BAKAR CAIRO
Terlezat ke-2 se-Timur Tengah

Etdaaaaahhh… pede bener, Bang!
Gw dan Neng Erma makin gatel pengen nantangin abang kambing yang jumawa luar biasa ini:mrgreen:

Kambing Bakar Cairo terletak di lantai dua, sementara lantai satu digunakan sepertinya untuk semacam distro gitu. Saat kami datang, suasana sepi masih sangat terasa. Sepertinya kami pengunjung pertama malam itu. Gak ada non smoking area, jadi kami memilih untuk duduk di balkon agar bisa menghirup udara segar kalau-kalau nanti ada pengunjung yang merokok.

Mas-mas pelayan menghampiri, dan mulailah kami melihat-lihat menu, dan berujung dengan bawelnya gw melontarkan banyak pertanyaan terkait menu dan membuat Neng Erma geleng-geleng kepala. Neng Erma geleng-geleng kepala bukan karena gw lagi kumat cerewetnya, tapi karena mas-mas pelayan yang gak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan gw, seperti “Soto Mesir itu apa, Mas?” atau “Yang terlezat nomor satu se-timur tengah itu siapa?” atau “Apa bedanya milkshake biasa sama milkshake spesial?”

Aaahh!!! Kurang serpis ekselen nih!😆

Sementara Neng Erma shalat maghrib di mushala mereka yang menurut Neng Erma kemudian apa adanya, gw melihat-lihat sekitar dan mendapatkan informasi mengenai kenapa daging kambing mereka non kolesterol. Ternyata, menurut banner besar berwarna merah yang mereka pasang di salah satu dinding, itu karena mereka menggunakan kambing berusia 3 bulan dan dinetralisir dengan rempah-rempah, kemudian dibakar hingga kering agar hilang kadar kolesterolnya. Proses pembakaran memakan waktu sekitar 20 menit.

Neng Erma belum kembali, sementara si mas pelayan sudah kembali membawa pesanan kami.

Kambing Bakar Cairo
Kambing Bakar Cairo 250gr [IDR 37.000] | Nasi Putih [IDR 5000] |Roti Maryam Coklat Keju [IDR 16.000] | FresTea [IDR 5000] | Lemon Squash [IDR 13.000] | Milkshake Vanila Spesial [IDR 15.000] + Tax 10%

Milkshake-nya spesial karena ditambah topping satu scope es krim diatasnya. Rasanya? Alhamdulillaah standar milkshake. Manis, tapi gak manis-manis banget. Lemon Squash-nya Neng Erma kecut-kecut asem menyengat gitu. Seger lah.
Roti Maryamnya… roti maryam itu apa ya, cari info sana sini, katanya sejenis roti canai khas timur tengah. Jadi saat adonan roti dibikin tipiiiiiisss banget, trus dipelintir jadi kayak stik panjang gitu, udah itu digulung-gulung jadi kayak konde, cuma kalo konde kan kayak cepol bola gitu, nah roti maryam ini tetep datar bentuknya. Gw dan Neng Erma memilih roti maryam yang dikasih topping mesjeis dan keju. Sayangnya, menurut kami toppingnya itu too much. Bener-bener menyelimuti roti maryam sehingga roti maryamnya sendiri kurang dominan dan jadi berkurang rasa khasnya.

Sekarang, mari kita pelototin menu utamanya.
Kambing bakar yang kami pilih adalah bagian paha. Gak tau deh siapa diantara kami yang dapet paha atas dan paha bawah. Kambing bakarnya disajikan menggunakan hot plate, dilengkapi kecap, sambal, merica bubuk, irisan tomat, irisan timun, dan sebutir jeruk nipis. Ini pertama kalinya kami makan kambing bakar, jadi bener-bener gak ada bayangan gimana cara makannya. Jeruk nipisnya mesti dikepret ke mana, kecapnya gimana dan mericanya mau digimanain, blank bener-bener.
Jadi langsung potong trus kunyah aja deh:mrgreen:

Potongan pertama, wah… gampang banget lepasnya si daging dari tulangnya ya! pas di makan, hmmm… hempuuuuukkk!!! Dan emang, karena fresh dari pembakaran, aroma kambing prengusnya gak kecium. Enyaaakkk…
Tapi… kambing bakar ini memang harus dimakan panas-panas. Dingin sedikit aja, langsung deh hawa-hawa kambingnya merebak, dan aura-aura kambingnya pun terasa.

Btw, mereka punya minuman spesial yang gw belum pernah jumpai di tempat lain. Namanya Jus Chaparrela yang dibuat dari buah pala. Jelas bukan minuman khas timur tengah, tapi asli indonesia, karena buah pala berasal dari Kepulauan Banda, Maluku. Kami gak memesan minuman ini karena masih sangsi akan rasanya. Belum bisa ngebayangin gimana jadinya buah pala dijadiin jus. Tapi yang jelas, menurut flyer yang kami ambil dari meja kasir, buah pala memiliki beragam khasiat, seperti meremajakan kulit, menambah kualitas tidur, menjaga stamina, mengatasi gejala maag, mencegah rematik, melancarkan metabolisme, menolak masuk angin, dan mengatasi jerawat.

Jadi, mereka bilang mereka terlezat ke-2 se-timur tengah, dan “Anda tidak ketagihan, jangan anda bayar.”
Wah… gw dan Neng Erma gak ketagihan nih, walaupun enak. Beneran kami boleh gak bayar?😮

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s