Pulang Basamo: Bersama Mami Dari Bukittinggi

Hari ketiga di Sumatera Barat kami awali dengan lagi-lagi sarapan di Pical Ayang. Soalnya ada menu yang belum kami coba. Jadi kali ini gw memesan bubur kampiun dan teh susu, sementara Nyonya Besar memesan bubur candel dan kopi susu.
Bubur kampiun merupakan makanan khas Bukittinggi, biasanya disantap saat sarapan, dan saat bulan Ramadhan berubah jadi sajian berbuka puasa.
Menurut asal-usulnya, bubur kampiun ditemukan pada awal tahun 1960-an. Saat itu masyarakat masih trauma akibat pergolakan PRRI, nah untuk menghilangkan trauma tersebut dan mengembalikan suasana kembali kondusif, para tokoh masyarakat di desa Jambuair-Banuhampu, Bukittinggi, mengadakan beberapa perlombaan, termasuk diantaranya lomba membuat bubur. Tersebutlah seorang nenek, Amai Zona namanya, terlambat datang di tempat perlombaan. Karena tidak memiliki persiapan apapun, beliau hanya memasukkan bubur-bubur yang tidak habis dijualnya tadi pagi untuk dicicipi oleh Dewan Juri. Saat diumumkan para pemenangnya, dikatakanlah bahwa sang champion dari lomba tersebut adalah nenek Amai Zona. Ketika ditanyakan pada nenek Amai Zona apa nama masakan hasil racikannya tersebut, sang nenek menyebutnya Bubua Kampiun *dari kata champion, sepertinya*, maka jadilah sampai sekarang bubur tersebut dinamai Bubur Kampiun.
bubur kampiun pical ayang
Sesuai dengan asal-usulnya yang merupakan hasil campur-campur, bubur kampiun memang memiliki beragam isi. Ada bubur sumsum, kacang hijau, pisang, candil, ketan hitam, srikaya, kemudian disiram kuah santan dan gula merah. Bubur kampiun yang kami nikmati di Bukittinggi terdiri dari lupis ketan putih, bubur ketan hitam, candil, bubur sumsum, kolak ubi, kolak pisang, dan bubur delima dari tepung kanji. Kemudian disiram santan dan kuah kental gula merah ke atasnya. Rasanya sungguh legit dan sangat manis. Bagi yang tidak menyukai makanan manis, disarankan untuk tidak mencoba bubur kampiun ini. Soalnya, rasa manisnya emang gak main-main. Maniiiiisss banget sampe kadang agak eneg juga. Minuman pendamping yang cocok seharusnya sih teh tawar hangat, jangan kayak gw yang malah pesen teh susu:mrgreen:
And by saying teh susu, itu bukan teh tarik atau teh susu instan, tapi bener-bener teh murni trus dikasih susu kental manis, yang ketebalan susu kental manis itu ada kali sekitar 1 ½ senti untuk ukuran gelas belimbing. Nah… kebayang kan manisnya bakal kayak apa. Susunya lebih dominan daripada teh-nya.
Kopi susunya pun demikian. Minggir kopi susu instan dalam sachet! Ini saatnya kopi hitam dengan susu kental manis untuk tampil. Dan yes… sama kayak teh susu, nasib kopipun kalah dominan daripada susu kental manis. Susu kental manis, you rock!😆

Bubur candel pesanan Nyonya Besar sendiri, mirip dengan biji salak. Terbuat dari campuran tepung ketan dan tepung sagu, dihidangkan dengan kuah kental bubur sumsum dari tepung beras dan cairan gula merah. Manisnya, jangan tanya.

***
Setelah mandi, agenda pertama kami adalah jalan-jalan dengan ibunya Dina, yang akrab disapa ‘Mami’, dan emang udah ‘dibooking’ khusus oleh Dina untuk nemenin kami blusukan ke Pasar Aua Kuning dan cari karupuak jangek di Tanah Jua.
Berhubung baik Nyonya Besar maupun Mami belum pernah ketemu satu sama lain sebelumnya, sejak sehari sebelumnya beliau-beliau udah heboh tilpun-tilpunan. Jam 9 pagi lewat sedikit, datanglah Mami dengan kuda perangnya, ditemani seorang temannya sesama ibu-ibu penggiat pengajian, yang akrab dipanggil ‘Mama’, yang sejujurnya karena faktor tampak-depan, pada awalnya gw salah mengira ‘Mama’ sebagai neneknya Dina:mrgreen:

***
Pasar Simpang Aur, atau dikenal dengan nama Pasar Aur Kuning, adalah persinggahan pertama kami. sejak awal gw udah bilang ke Dina bahwa gw pengen cari jilbab bersulam khas Sumatera Barat.menurut Dina, Pasar Aur Kuning adalah tempat yang tepat untuk berburu benda-benda tekstil murah meriah jika dibandingkan dengan Pasar Atas. Ketika sampai di Pasar Atas, harga untuk barang yang sama bisa naik berkali-kali lipat. Jilbab dengan sulam pita yang gw temui dihargai 30.000 sehelai di Pasar Aur Kuning, sementara di Pasar Atas dibandrol 85.000 rupiah sehelai.

Kalau ingin lebih bisa membayangkan seperti apa Pasar Aur Kuning, mungkin hampir bisa disamakan dengan Tanah Abang di Jakarta ya… sementara Pasar Atas mungkin lebih mirip dengan Tamrin City. Sumpeknya, riuhnya, sampe barang-barang yang dijajakan di Pasar Aur Kuning ya sebelas dua belas banget, hampir gak ada bedanya sama Tanah Abang. Sebagian besar barang yang ditawarkan memang berbagai jenis pakaian, kebanyakan pakaian muslim dan perlengkapan shalat. Yang banyak dicari wisatawan biasanya perlengkapan shalat dengan aksen strimin khas Bukittinggi atau bordir kerancang yang memang cantik dan rumit pengerjaannya.
Karena kecantikan dan kerumitan pembuatannya, harga perlengkapan shalat dengan aksen bordir kerancang dipasang harga paling murah itu sekitar 1.100.000 rupiah. Itu bener-bener udah paling murah di pedagang grosir di Pasar Aur Kuning, kalaupun bisa ditawar, penjualnya gak akan mau turun lebih dari 100.000 rupiah. Ketemu-ketemunya ya di harga 1.000.000 rupiah. Keterbatasan kemampuan membuat gw membawa pulang hanya mukena beraksen strimin dan hanya bisa memandangi mukena bordir kerancang dengan perasaan pilu😆

***
Karena kami juga ingin membeli karupuak jangek di daerah Tanah Jua, kami pun segera meninggalkan Pasar Aur Kuning. Nyonya Besar sebenarnya kurang puas karena singkatnya waktu muter-muterin Pasar. “Besok-besok kalo ke Bukittinggi lagi, kita spend seharian di sini yuk,” kata beliau. Gw sih iya aja, sambil langsung ngitung tabungan:mrgreen:

Sejak sebelum berangkat, Nyonya Besar udah ribut mau ngeborong karupuak jangek. Jadinya disampaikanlah keinginan tersebut ke Mami, dan dibawalah kami ke Tanah Jua, ke rumah produsen karupuak jangeknya langsung sehingga dapat harga lebih murah daripada beli di pasar. Tanah Jua itu adanya di Bukittinggi juga, cuma bentuknya perumahan gitu, jadi kayaknya jarang diketahui wisatawan.
Beda dengan kerupuk pada umumnya yang dibuat dari tapioka, karupuak jangek dibuat dari kulit sapi atau kulit kerbau yang dikeringkan. Proses menggoreng karupuak jangek hingga menjadi setengah matang bisa memakan waktu hingga delapan jam.

***
Hampir tengah hari ketika gw dan Nyonya Besar mampir di toko sentra oleh-oleh Ananda yang berada di jalan Kapeh Panji. Kami memilih untuk membeli sedikit oleh-oleh di sini dan bukannya di Christine Hakim di Padang, karena kami memang tidak punya rencana untuk mengelilingi kota Padang. Sesuai dengan namanya sebagai sentra oleh-oleh, Ananda menyediakan cukup banyak pilihan makanan khas Sumatera Barat. Mulai dari keripik sanjai Christine Hakim, dakak-dakak, keripik pisang aneka rasa, berbagai olahan rendang kering, hingga ikan bilih yang dikeringkan dengan beberapa pilihan, ada yang diberi cabai hijau atau digoreng renyah.
Untuk memudahkan dibawa-bawa, oleh-oleh yang kami beli, termasuk rombongan karupuak jangek, dimasukkan ke dalam dus besar oleh pelayan Ananda.

***
Kini waktunya bersantai sejenak, sambil melototin poto-poto baraleknya Dina dan iri-dengki ngeliat workshop jahitnya Uni Dewi, kakaknya Dina. Iyes sodara-sodara, abis dari Ananda, gw dan Nyonya Besar melipir sejenak ke rumahnya Dina yang bisa dicapai dengan koprol lima kali dari Ananda.
Rumahnya Dina memang terletak di pinggir jalan raya Kapeh Panji, atau disebut juga jalan raya Padang Luar, dan terkenal seantero Bukittinggi karena butik Uni Dewi yang heits bangets!

Gw dan Nyonya Besar duduk selonjoran sambil makan nasi kapau Uni Cah hasil traktiran Mami dan mendengarkan asal muasal kisah cinta Dina dan suami tercinta. Nasi kapau Uni Cah terletak gak jauh juga dari rumahnya Dina, porsinya luar biasa besar. Rasanya satu bungkus nasi kapau bisa buat makan 3 orang cewek. Gw makan sebungkus berdua sama Nyonya Besar, itu pun masih bersisa dan dibungkus pulang buat makan malam di kamar hotel nanti.
Nasi kapau itu sendiri, menurut gw, gak jauh beda sama nasi padang sih. Bedanya dengan nasi padang yang gw jumpai di Jakarta adalah, lauknya booo’… sumpah lauk nasi kapau Uni Cah ini nendang banget! Baik dari segi rasa maupun ukuran. Endang bambang markondang! Gw biasanya gak terlalu suka nasi padang, tapi nasi kapau? Akika cinta!:mrgreen: *cium tangan Mami*

***
Usai dzuhur dan dikembalikan ke hotel dalam keadaan kekenyangan cuma buat naruh oleh-oleh, Mami menurunkan gw dan Nyonya Besar di depan Taman Monumen Bung Hatta. Mami kembali ke rumahnya sementara gw dan Nyonya Besar memulai jalan-jalan menelusuri Bukittinggi.

***
Kalau punya waktu dan energi berlebih, gak ada salahnya menikmati Bukittinggi dengan berjalan kaki. Bukittinggi memang merupakan kota kecil, di mana sebagian besar tempat-tempat wisatanya berada dalam jarak berdekatan sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Tak jauh dari hotel Gran Malindo tempat kami menginap, berdirilah Jam Gadang. Sebelum sampai Jam Gadang, kita akan melewati terlebih dahulu Taman Monumen Bung Hatta yang didirikan tahun 2002 untuk memperingati satu abad kelahiran beliau. Taman ini berada di pertigaan jalan Jam Gadang dan jalan H. Agus Salim. Dipenuhi oleh pepohonan rindang, menambah hijaunya kawasan tersebut, serasi dengan alam sejuk Bukittinggi. Ditengah-tengah taman, berdiri patung Bung Hatta dengan pose melambaikan tangan kanannya. Sayang, berkali-kali kami melewati taman tersebut, kadang pagi atau sore atau malam hari, pintu pagar taman tersebut selalu dalam keadaan terkunci.

Melewati Taman Monumen Bung Hatta, sampailah kami di kawasan Jam Gadang yang dikelilingi oleh Istana Bung Hatta, Plaza Bukittinggi, dan Pasar Atas.
pasar ateh
Salah satu lorong di Pasar Atas

Istana Bung Hatta, dikenal juga dengan sebutan Gedung Negara Tri Arga, berada berhadap-hadapan dengan bagian belakang Jam Gadang. Pada awalnya,bangunan ini merupakan tempat kediaman asisten residen belanda di Bukittinggi, kemudian pada masa penjajahan jepang digunakan sebagai tempat kediaman panglima pertahanan jepang. Setelah kemerdekaan, sekitar tahun 1946, bangunan ini digunakan sebagai istana wakil presiden saat itu. Kemudian pada tahun 1947 beralih fungsi menjadi pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Istana ini dikelilingi oleh pepohonan rindang, dan didepannya terletaklah patung setengah badan Bung Hatta.

Membelakangi Istana Bung Hatta, berdiri megah Jam Gadang yang dibangun tahun 1926. Konon, mesin yang menggerakkan Jam Gadang hanya ada dua unit di dunia, satu di Jam Gadang sendiri dan satunya lagi di Big Ben di London, Inggris. Mesin tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam melalui Pelabuhan Teluk Bayur. Mesin jam itu sendiri diproduksi di Jerman pada tahun 1892.
jam gadang
jam gadang in the early morning
jam gadang at night
sekitar jam gadang
Ada beberapa keunikan Jam Gadang, pertama, konon Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan besi penyangga maupun adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur, dan pasir putih. Kedua, angka empat romawi (IV) ditulis menjadi III. Ketiga, bentuk atap Jam Gadang yang berganti mengikuti penguasa saat itu. Pada masa penjajahan Belanda, atapnya berbentuk kubah layaknya kubah istana dalam arsitektur eropa. Jaman Jepang, atapnya berganti menjadi atab bangunan khas Jepang. Setelah kemerdekaan, diganti menjadi atap menyerupai gonjong atau tanduk kerbau khas Minangkabau.

Jam Gadang kini menjadi ikon pariwisata Bukittinggi atau bahkan Sumatera Barat. Lain dulu lain sekarang. Pada masa awal kemerdekaan, disinilah pertama kalinya Merah Putih dikibarkan. Jauh sebelum itu, pada masa penjajahan sirine Jam Gadang berfungsi untuk menandakan berakhirnya jam malam. Kemudian pada era 1970-an, bagian bawah Jam Gadang pernah digunakan sebagai loket karcis terminal, pos polisi, dan gudang.
Kini, sirine Jam Gadang berfungsi untuk mengingatkan waktu shalat Jumat, dan penanda waktu imsak dan berbuka saat bulan puasa. Selain itu, selain menjadi titik nol kota Bukittinggi, Jam Gadang pun menjadi semacam meeting point atau tempat gaul dan kongkow-kongkownya muda-mudi Bukittinggi. Pagi, siang, sore, maupun malam, kawasan Jam Gadang selalu ramai pengunjung. Mulai dari anak sekolah, orang pacaran, penjual makanan dan pernak-pernik lainnya, maupun mereka yang mencari nafkah dengan mengenakan kostum boneka dan senang memaksa pengunjung memberikan uang atau sekedar bertingkah menyebalkan dengan menutupi kamera saat pengunjung ingin berpose di depan Jam Gadang. Sungguh mengganggu!

Satu hal yang patut diapresiasi dari kawasan Jam Gadang adalah keberadaan semacam papan informasi yang menjelaskan sejarah jam Gadang.

Di depan Jam Gadang berderet bendi menunggu calon pengguna jasa. Kebetulan saat itu mulai turun hujan, gw dan Nyonya Besar akhirnya naik ke atas salah satunya dan berkeliling Bukittinggi selama kurang lebih 40 menit.
si bendi pemalas
Ditengah jalan kami melihat sebuah kios kecil di kawasan Kampuang Cino di belakang Pasar Atas yang menjual Katan Durian. Kami pun berhenti sejenak karena gw emang udah pengen banget mencoba makanan yang satu ini. Sejak sampai di Bukittinggi gw emang udah pengen banget nyobain Puluik Durian. Tanya sana-sini, gak ada yang tau apa itu puluik durian. Ternyata nama yang benar adalah Katan Durian alias Ketan Durian. Puluik adalah sebutan bagi ketan yang belum dimasak.

Penyajiannya sederhana. Ketan putih disajikan bersama beberapa buah durian. Udah itu aja. Tapi dasar pecinta durian, gw sih bahagia-bahagia aja, apalagi daging duriannya gemuk-gemuk dan manis *jilat-jilat jari*
katan durian
***
Sempat tidur-tiduran sebentar di hotel selepas berkeliling Bukittinggi dengan menumpang bendi, sekitar pukul setengah empat sore, gw dan Nyonya Besar memutuskan untuk keluar kamar. Persis diseberang hotel, terletaklah Taman Panorama yang buka mulai pukul 7.30 pagi hingga 5.30 sore. Untuk masuk ke dalam Taman Panorama, kita dikenakan retribusi 3000 rupiah/orang.

Saat kami berkunjung ke Bukittinggi, the Great Wall of Koto Gadang belum diresmikan, maka Taman Panorama merupakan tempat yang tepat untuk menikmati keindahan lembah-lembah hijau dan tebing-tebing jurang yang curam Ngarai Sianok yang membentang sepanjang 15 km. Pemandangannya benar-benar indah dan bisa membuat kami berlama-lama ingin menikmatinya. Waktu yang tepat untuk menikmati biru hijaunya pemandangan adalah diatas jam sembilan pagi dan sebelum jam lima sore, karena diluar waktu-waktu tersebut, bisa dipastikan Ngarai Sianok akan ditutupi kabut tebal.
take a look at Ngarai Sianok
ngarai sianok 3
ngarai sianok
ngarai sianok 2

Di dalam Taman Panorama juga terdapat Lubang Jepang atau dikenal juga dengan nama Goa Jepang, yang untuk memasukinya dikenai retribusi sebesar 5000 rupiah. Konon gua ini direncanakan akan digunakan Jepang sebagai markas perang Asia untuk wilayah Sumatera, tapi sebelum mimpi itu jadi nyata, Jepang keburu menyerah pada sekutu dan akhirnya meninggalkan gua tersebut.
taman panorama
monumen taman panorama
loket masuk lubang jepang
Gua Jepang ini memiliki panjang 4 hingga 5 km dengan lorong masuk berupa tangga menurun yang panjang sebelum akhirnya kita bisa melihat ruang demi ruang yang ada didalamnya, mulai dari ruang makan sampai penjara maupun tempat penyiksaan. Menurut pemandu, bagi orang-orang yang sudah cukup tua atau menjelang senja, tidak disarankan untuk memasuki Lubang Jepang ini, karena terowongan yang panjang dan bentuknya yang semakin lama semakin menyempit hingga oksigen pun kurang terpenuhi dengan baik. Gw dan Nyonya Besar tidak masuk ke sana, hanya memandangi dari depan saja.

Pengeluaran dalam rupiah:
Sarapan di Pical Ayang 18.000:
Bubur Candel, Bubur Kampiun, Kopi Susu, Teh Susu
Karupuak Jangek 80.000/kg
Kerupuk siram mi dan kuah kacang *depan Jam Gadang* 3000
Bendi 50.000
Katan Durian 20.000
Taman Panorama 3000/orang

2 thoughts on “Pulang Basamo: Bersama Mami Dari Bukittinggi

  1. alrisblog says:

    Bubur kampiun dan katan durian menggugah selera. Makanan di Bukittinggi memang enak, mungkin ditunjang juga oleh udaranya yang sejuk. Ondeh lamak bana ma katan durian tu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s