Pulang Basamo: Padusi Nan Rancak!

Sekitar 90 menit sejak kami meninggalkan Rumah Kelahiran Bung Hatta, kami tiba di daerah Batusangkar, Tanah Datar. Batusangkar memiliki banyak situs bersejarah yang tersebar yang tidak terlalu menarik pusat perhatian pengunjung, karena tampilannya yang sederhana dan tidak terlalu mencolok, dengan papan nama yang biasa-biasa saja. Makam tokoh-tokoh adapt termasuk didalamnya. Selain situs-situs sejarah, Batusangkar juga memiliki banyak rumah yang dibangun dengan arsitektur rumah gadang, atau bahkan Rumah Gadang yang asli digunakan turun temurun. Nuansa budaya Minang yang masih kental memang terasa disini.
Tapi diantara tempat wisata sejarah itu, ada dua yang tidak boleh dilewatkan.

Istano Basa Pagaruyung, dahulu berfungsi sebagai pusat pemerintahan raja-raja dari trah Pagaruyung, atau dengan kata lain dikenal sebagai tempat kedudukan Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Kerajaan Pagaruyung. Raja terakhir Pagaruyung bernama Sutan Alam Bagagarsyah yang lahir tahun 1789. Beliau memerintah dimasa Perang Paderi antara tahun 1821 hingga 1837, kemudian dibuang ke Banten tahun 1833 oleh penjajah Belanda kala itu, dan meninggal dunia antara tahun 1848-1849.

istana basa pagaruyung 2
istana basa pagaruyung
Menurut informasi yang gw baca *karena pas di sana gw gak hitung juga sih* Istano ini memiliki 11 gonjong. Gonjong adalah ujung atap runcing yang menyerupai tanduk kerbau. Juga memiliki 72 tonggak dan 4 lantai yang menyimpan sisa benda peninggalan kerajaan di masa lalu.
Di lantai satu terdapat singgasana raja dan kamar tidur para puteri, raja, dan permaisuri. Lantai dua dan tiga menyimpan benda-benda peninggalan kerajaan yang digunakan pada masa itu. Sementara lantai empat dipercaya sebagai tempat berkumpulnya arwah raja-raja terdahulu.
Sebagaimana rumah gadang, Istano juga memiliki rangkiang di halamannya. Rangkiang adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Kenapa rangkiang didirikan di halaman rumah gadang, ini melambangkan bahwa urang Minang dalam kehidupan bermasyarakatnya selalu saling peduli satu sama lain dan siap membantu.
Bangunan ini bukan istana yang asli, karena istana yang asli sudah terbakar tahun 1804.
Sebenarnya wisatawan bisa melihat-lihat langsung seluruh ruangan dalam istana ini, sayang saat kami berkunjung saat itu masih sedang dalam tahap renovasi hingga kami hanya bisa berpose didepannya. Untuk memasuki kawasan Istano Basa Pagaruyung, pengunjung tidak dipungut biaya apapun alias gratis.

Di sini kita bisa menyewa busana pengantin Minang dengan harga IDR 30.000/orang. Mampirlah ke bawah panggung Istano, kita akan menemui busana pengantin dengan banyak pilihan warna. Sebagian besar pengunjung menyewa pakaian berpasangan dengan pasangan mereka atau dengan rombongan mereka, untuk kemudian sibuk berfoto di sekitar Istano. Sebagian kecil memilih untuk tidak menyewa pakaian, tapi berfoto bersama gw yang memang ikut menggunakan busana warna merah. Seriously, bukannya gw narsis, tapi memang mereka yang minta foto sama gw and I really didn’t understand why:mrgreen:
Nyonya Besar menolak menyewa pakaian Minang karena “Mama kan udah waktu ke sini sama Papa.”
nan padusi

Selain mengagumi kemegahan Istano Basa Pagaruyung, pengunjung juga bisa melakukan transaksi jual beli buah sawo yang banyak dijajakan di dalam area Istano atau di depan kawasan Istano. Gw mengenalnya sebagai buah sawo, beberapa masyarakat lokal yang gw temui menyebutnya dengan nama ‘Saus’.
transaksi sawo
***
Setelah dirasa cukup, kami beranjak ke Istano Silinduang Bulan. Menurut sejarah, pendirian dan penamaan Istano Silinduang Bulan bertujuan untuk menandai dimulainya perhitungan tahun menurut kalender hijriyah dan berlakunya hukum syariat di kerajaan Pagaruyung secara resmi. Sebelumnya, kerajaan Pagaruyung diketahui menganut agama Budha Tantrayana. Jika Istano Basa Pagaruyung digunakan sebagai pusat pemerintahan kerajaan Pagaruyung, Istano Silinduang Bulan yang berukuran 28×8 meter ini digunakan sebagai tempat kediaman keluarga kerajaan.
Berbeda dengan Istano Basa Pagaruyung yang memiliki tangga tunggal untuk memasuki istano, Istano Silinduang Bulan memiliki dua buah tangga yang menuju ke satu pintu.
Istano ini dibakar pada saat Perang Paderi tahun 1821 dan rata dengan tanah. Kemudian kembali didirikan tahun 1869 oleh Yang Dipertuan Gadih Puti Reno Sumpu. Yang Dipertuan Gadih Puti Reno Sumpu adalah salah satu dari dua raja murni terakhir kerajaan Pagaruyung. Ia lahir pada 1833 dan berdaulat di Rantau Sengingi, Kampar Kiri, kemudian kembali ke Pagaruyung dan meninggal dunia pada 1912. Raja Murni adalah keturunan raja-raja Pagaruyung asli, yaitu mereka yang kedua orangtuanya mempunyai darah salah satu dari Rajo Nan Tiga Selo, atau ‘yang tiga sila’.

Sama dengan Istano Basa Pagaruyung, Istano Silinduang Bulan pun telah beberapa kali terbakar. Bahkan sebagai akibat kebakaran yang terjadi tahun 2010 lalu, hingga kini istano tersebut belum selesai direnovasi dan karenanya pengunjung belum bisa menikmati kecantikannya. Gw dan Nyonya Besar termasuk yang kurang beruntung, belum bisa menyaksikan keelokan peninggalan budaya Minang masa lampau.

***
Pernah dengar Desa Pariangan di Tanah Datar?
Gw pertama kali mendengar nama tersebut beberapa saat sebelum berangkat ke Minang. Melihat landscape dan pemandangan rumah gadang-rumah gadang yang berdiri menjulang seolah keluar dari kabut di tengah-tengah sawah, membuat gw memasukkan Desa Pariangan ke dalam daftar wajib kunjung selama di Minang. Apalagi ada keterangan yang menyatakan bahwa Desa Pariangan ini merupakan desa tertua dan tempat asal nenek moyang suku Minangkabau saat ini. Ketika kami menyampaikan keinginan mengunjungi tempat tersebut, Pak Zul menyepakati bahwa Desa Pariangan memang “ooo iya itu tempat dari mana orang Minang berasal!”
Desa ini dikenal juga dengan nama Nagari Tuo Pariangan.

Dari Istano Basa Pagaruyung kami meluncur ke Desa Pariangan. Seperti biasa, jalan yang ditempuh selalu penuh tikungan. Mendekati tempat tujuan, terdapat beberapa penunjuk jalan yang sederhana, ketika sampai di gerbang Desa, ada gapura sederhana dan papan bertuliskan selamat datang di tempat wisata sejarah Desa Pariangan.
Ada sambutan yang cukup luar biasa ketika kami berbelok akan memasuki gapura. Seorang laki-laki tergeletak di tengah jalan! Orang disekitarnya bersikap tidak peduli.
Ternyata, menurut Pak Zul, itu biasa di sana. “Itu orang epilepsi. Gak ada yang menolong karena takut tertular. Biar saja, nanti juga sadar sendiri.”

Selepas gapura, jalan yang ditempuh tetap berkelok-kelok dan semakin menanjak. Selain itu, jalanan pun tidak terlalu lebar dan semakin ke atas semakin menyempit. Tidak mengherankan, Desa Pariangan memang terletak di lereng Gunung Merapi yang hingga kini masih aktif.
Biarpun judulnya desa yang berusia sangat tua, tidak semua rumah bergaya rumah gadang. Rumah dengan sentuhan modern pun banyak ditemui. Namun, memang masih banyak rumah dengan atap bergonjong, atau kita kenal sebagai rumah gadang. Dari fasad rumah, terlihat bahwa usia rumah gadang-rumah gadang tersebut memang sudah cukup tua. Warna cat kayu yang tampak kusam dan lapuk seolah membenarkan hal itu.
Yang cukup menarik perhatian adalah makam Datuk Tantejo Gurhano, yang oleh penduduk lokal disebut sebagai Kuburan Panjang. Walaupun papan nama di depan situs menginformasikan panjang makam adalah 7×25,5 meter kurang lebih, tetapi makam ini dipercaya bahwa tidak ada orang yang bisa mengukur panjang kuburan tersebut dengan tepat, setiap orang pasti mendapatkan hasil pengukuran yang berbeda. Itulah kenapa disebut sebagai Kuburan Panjang, selain mungkin karena ukurannya yang jauh diatas rata-rata panjang badan manusia masa kini. Konon, Datuk Tantejo Gurhano adalah seorang yang memiliki kesaktian dan juga seorang arsitek Balairung Nagari Tabek. Konon pula, karena tinggi badan Sang Datuk yang luar biasa, ia membangun balairung tersebut sambil duduk.

Dalam area tersebut juga terdapat beberapa buah batu yang tampaknya digunakan sebagai tempat duduk dan bersandar. Hal ini dipahami dari keterangan pada papan penunjuk, bahwa dahulu kala tempat tersebut digunakan sebagai tempat para tetua bermusyawarah.

Kalau membandingkan antara pemandangan yang ada di depan mata dan gambar yang pernah gw lihat di internet, gw sebenarnya ragu apakah benar yang gw kunjungi ini adalah Desa Pariangan Tanah Datar. Gw tidak menemukan pemandian air panas yang katanya digunakan penduduk asli sebagai tempat mandi sehari-hari. Bahkan katanya jalan di sana sempit sehingga tidak bisa dilewati mobil, dan berundak-undak. Tetapi kami tidak pernah turun dari mobil *kebetulan saat itu memang hujan rintik-rintik yang lumayan besar*, bahkan hingga sampai di puncak di mana kami tidak melihat rumah-rumah penduduk lagi.
Mungkin gw salah menduga lokasi, mungkin juga yang gw kunjungi memang Desa Pariangan tapi gw aja yang kurang mengeksplorasi.
desa pariangan tanah datar
***
Sekitar pukul 3 sore, kami menepi di pinggir jalan raya yang menghubungkan Tanah Datar dan Solok, menikmati birunya Danau Singkarak. Hanya sejenak, selanjutnya kami melanjutkan perjalanan untuk bisa melihat Danau Singkarak lebih dekat.
Di pinggir danau terdapat banyak rumah makan, yang tentunya menawarkan masakan minang. Gw dan Nyonya Besar agak ragu untuk mencoba karena tidak yakin dengan rasanya. Akhirnya kami hanya duduk-duduk di bawah pohon, melempar pandangan jauh ke seberang, menyipitkan mata karena matahari yang bersinar terik. Walaupun bukan musim liburan, tapi mungkin karena hari itu adalah libur nasional, ada beberapa keluarga bercengkrama dan anak-anak kecil berenang atau bermain perahu.
Di danau vulkanik ini hidup pula jenis ikan yang diperkirakan hanya hidup di danau ini. Ikan Bilih, merupakan spesies ikan endemik, berukuran kecil seperti ikan teri, dan menjadi salah satu buah tangan khas Sumatera Barat. Ada yang mengatakan bahwa ikatan antara ikan bilih dan danau singkarak sangat erat sampai-sampai si ikan tidak dapat dibudidayakan di tempat lain. Tapi terdengar kabar bahwa saat ini, ikan bilih telah berhasil dibudidayakan di Danau Toba, dan oleh warga setempat di Sumatera Utara sana dikenal dengan nama ikan pora-pora.
danau singkarak
danau singkarak 2
danau singkarak 4
danau singkarak 3
Gw teringat Danau Maninjau dengan keramba-keramba ikannya yang hanya gw pandangi dari ketinggian Puncak Lawang hari sebelumnya. Kenapa gw merasa, Danau Maninjau jauh lebih cantik dari Danau Singkarak. Mungkin kabut yang menyelubungi Danau Maninjau menambah aura misterius hingga menambah keelokannya. Mungkin itu sebabnya kenapa gw merasa menyesal belum bisa menikmati Danau Maninjau secara utuh.

Tapi bagaimanapun juga Danau Singkarak tak kalah terkenal dari Danau Maninjau. Justru sekarang mungkin lebih terkenal, terutama sejak diadakannya Tour de Singkarak secara rutin. Sepertinya, Tour de Singkarak menjadi alat promosi pariwisata Sumatera Barat yang cukup mujarab.

***
Dalam perjalanan kembali ke Bukittinggi, kami mampir disebuah masjid yang terlihat kecil, namun ternyata cukup besar dan yang terpenting, rapih dan bersih! Baik tempat shalatnya maupun toiletnya. Tapi gw cukup shock ketika keluar dari toiletnya, beberapa orang ibu tampak santai buang hajat tepat didepan pintu toilet. Di luar! Di luar lho… berarti kan tidak ada pintu sebagai sekat penutup! Aaaaarrrggghhh!!!
masjid quba sepulangnya dari singkarak
Sudah senja ketika kami kembali memasuki Bukittinggi. Nyonya Besar terlihat sendu. Kami memang belum makan siang. Pak Zul menawarkan akan mengantar kami ke Soto Padang Koto Baru yang konon terkenal itu. Gw dan Nyonya Besar pernah mendengar dari Dina perihal soto padang koto baru yang katanya enak itu. Maka kami bersemangat menerima ajakan itu.
“Berapa lama untuk bisa sampai ke sana?” gw bertanya saat kami masih berada di posisi jalan raya payakumbuh, “ada 15 menit?” sambung gw.
“Nggak. Gak ada lah 15 menit,” jawab Pak Zul.

Setelah lewat 15 menit, kemudian 20 menit, kemudian 25 menit… ternyata kami belum juga sampai di tujuan. Ternyata, ketika mereka bicara ‘gak ada lah 15 menit’ atau berapa menit pun, itu berarti waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan, lebih daripada yang dikatakan.

Langit sudah gelap dan hujan turun dengan derasnya. Pada awalnya, Pak Zul terlihat ragu karena melihat ada dua toko bersebelahan dan sama-sama menawarkan soto padang. Ketika kami akhirnya masuk ke salah satunya yang bertuliskan Soto Koto Baru Pak Datuak, lebih dikarenakan Pak Zul berpendapat bahwa soto padang langganannya sudah berdiri sejak lama, jadi tidak mungkin mereka menempati bangunan yang tampak masih baru. Tempat makan yang kami singgahi memang terlihat sederhana.
suspect soto padang kotobaru
soto padang koto baru
Soto padang pesanan kami pun datang. Menurut gw, porsinya pas. Untuk rasa, hmm… baik gw maupun Nyonya Besar sepakat, masih lebih lezat soto padang Hayuda yang kami santap di Jakarta. Gurih kuahnya kurang terasa, dan potongan daging sapi yang diiris tipis dan digoreng kering terlalu sedikit. Mungkin karena lapar, kekurangan itu tidak kami bahas.

***
Gw gak pernah bosan menyantap roti canai. Karena itu gw berencana untuk membeli di Martabak Kubang Hayuda yang gw singgahi malam sebelumnya, untuk cemilan di hotel.
Ketika turun dari mobil, gw malah tergoda dengan martabak bandung yang mangkal di dalam area Hayuda, tepat di pintu masuk. Apa sih martabak bandung itu?
Ternyata sama saja dengan martabak bangka yang selama ini kita kenal. Hanya varian rasanya yang jauh lebih banyak. Gw memesan seporsi martabak bandung rasa pisang keju. Sambil melihat proses pembuatan martabak, gw mengakrabkan diri dengan uda-uda martabak.
Menurut si uda, martabak bandung ini satu kesatuan dengan Hayuda. Lalu apa bedanya dengan martabak bangka? Ya, gak ada:mrgreen: terus kenapa dikasih nama martabak bandung? Ya untuk menarik pembeli aja😆
Ngomong-ngomong, makanan yang ditawarkan Hayuda kan gak terlalu banyak ragamnya ya jika dibandingkan dengan Hayuda cabang Jakarta atau Depok, ternyata memang disesuaikan dengan selera orang-orang daerah yang sederhana. Berbeda dengan masyarakat ibukota yang lebih jamak dan cenderung mencari menu-menu unik, masyarakat daerah lebih menyukai cita rasa umum sewajarnya. Pantas gw gak melihat roti canai keju atau roti canai srikaya atau roti canai durian dalam menu Hayuda, sementara surga dunia itu gw temui di Hayuda Jakarta dan Depok.

Sambil bersantai di hotel, gw dan Nyonya Besar menikmati martabak bandung pisang keju. Tampilannya persis sama seperti martabak bangka. Tapi, kulitnya lebih tipis, dan isinya pun lebih minimalis. Pisang yang dipotong tipis dan disebar kemudian diberi taburan keju menimbulkan sensasi rasa asam-asam manis.
Hmmm, not bad lah ya untuk menutup hari😉

Pengeluaran dalam rupiah:
Sewa pakaian Minang 30.000
Sawo 10.000/12 buah
Soto Padang Pak Datuak 12.000/porsi
Teh manis hangat 2000/gelas
Kopi hitam 2000/gelas
Martabak Bandung Hayuda rasa pisang keju 15.000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s