Pulang Basamo: Yang Terakhir Untuk Kali Ini

Ketika berkeliling Bukittinggi menggunakan bendi hari sebelumnya, gw dan Nyonya Besar meminta pada si tukang bendi agar melewati pula Benteng Fort De Kock. Saat itu si tukang bendi menolak, dengan alasan kasihan si kuda karena jalannya mendaki menuju Benteng.

Penasaran, di pagi terakhir kami di Bukittinggi, sebelum sarapan, kami memutuskan untuk kembali mencoba menelusuri jalan mencari keberadaan Benteng. Kenapa gw pake kata kembali, karena pagi-pagi sebelumnya gw dan Nyonya Besar juga mencoba menemukan salah satu situs bersejarah tersebut. Berdasarkan penunjuk jalan di perempatan Pical Ayang, ditunjukkan bahwa jika ingin ke Ngarai Sianok kita harus berbelok ke kiri, sementara ke kanan akan bertemu Benteng Fort De Kock. Mengikuti petunjuk tersebut, kami pun berbelok ke kanan. Bertemu lagi dengan perempatan, dan kali ini tidak ada penunjuk apapun. Bingung harus menempuh jalan yang mana, kami berjalan terus ke depan. Ketemu lagi sama perempatan, dan tetap tanpa penunjuk jalan. Celingak-celinguk, tengok kiri-kanan, gak ada tanda-tanda Benteng. Gw memutuskan untuk berbelok ke kiri. Jalan besar itu dinamakan Jalan Ahmad Yani. Memperhatikan sekeliling, gw menyadari bahwa kami berada di Kampung Cino, semacam Chinatown-nya Bukittinggi, hanya bangunannya tidak terlalu ‘cina’. Keberadaan sebuah rumah semacam klenteng sekaligus rumah duka dengan ukiran naga dan dominasi warna merahlah yang menandakan keorientalan kawasan tersebut.

kampuang cino
kampuang cino 2
kampuang cino 3

Tak jauh dari klenteng terlihatlah sebuah jembatan. Ini pasti Jembatan Limpapeh. Menurut informasi, jembatan sepanjang 90 meter dan lebar 3,8 meter ini menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dengan benteng Fort de Kock, selain itu konon dari atas Jembatan Limpapeh kita bisa menikmati Bukittinggi keseluruhan.
Berarti benar kan, Benteng Fort De Kock memang berada tidak jauh dari situ. Pertanyaannya, di mana? Kedua ujung jembatan pun tidak terlihat.
Begitulah kisah pencarian kami akan Benteng Fort De Kock yang belum menemui titik terang hingga hari terakhir kami di Bukittinggi. Karena itu gw bertekad, pagi hari terakhir itu harus berhasil mengunjungi Benteng!

Kali itu kami berjalan sambil banyak bertanya pada penduduk sekitar, mulai dari tukang bersih-bersih halaman rumah sampai polisi. Memang benar pepatah, malu bertanya sesat di jalan.
Ternyata, untuk ke Benteng Fort De Kock sama sekali gak ribet dan gak jauh dari hotel kami. Benar, dari perempatan Pical Ayang kami berbelok ke kanan. Setelah itu, kan ketemu perempatan lagi tuh… beloklah ke kiri, patokannya Grand Rocky Hotel aja. Udah deh jalan lurus aja terus, ketika jalannya bercabang dua, ambil yang cabang kanan. Jalan sedikit, sampe deh!
Dan jalannya itu lurus-lurus aja ya ternyata, wahai abang bendi yang pemalas!!! Pake alasan kasihan kudanya lah… *getok-getok tukang bendi*

***
Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi saat gw berdiri di gerbang Kebun Binatang Bukittinggi yang ternyata baru buka pukul 7.30 pagi. Sebelum pintu masuk, terpampang site map dalam papan berukuran besar. Seorang bapak, mungkin penjaga, mempersilakan kami masuk tanpa harus membayar tiket yang besarnya kalo gak salah sekitar 5000 hingga 8000 rupiah. Mungkin karena saat itu belum jam operasional, dan bapak itu tau bahwa kami ini turis dari ibukota negara *sombooonngg*

pintu masuk bonbin
bonbin

Gak menyia-nyiakan kesempatan, gw dengan semangat memasuki kawasan kebun binatang, diikuti Nyonya Besar yang tampak ragu dan takut karena masuk secara tidak resmi.
Tentu saja, karena masih pagi, sangkar burung-sangkar burung masih ditutupi terpal, hingga kami tidak bisa melihat mereka. Mungkin juga mereka masih tidur, karena suasana sungguh sunyi, tidak ada bunyi-bunyian suara hewan.

Tidak jauh dari pintu masuk, di tengah lapangan kecil berumput, terhalang oleh pepohonan, terdapatlah sebuah bangunan bercat putih, berbentuk kubus setinggi 20 meter, sangat sederhana, tampak tua dan kusam, dengan lumut di beberapa bagiannya.
Itulah… Benteng Fort De Kock.

papan nama
benteng fort de kock

Kami bengong. Buyar sudah bayangan kami tentang benteng yang gagah perkasa, berdiri menjulang sebagai tempat bertahan dan mengintai.
Menurut kisahnya, Benteng Fort De Kock dibangun oleh Kompeni Belanda sebagai benteng pertahanan penjajah dalam menghadapi perlawanan rakyat Minangkabau, terutama sejak meletusnya Perang Paderi, dan awalnya diberi nama Sterrenschans. Didirikan pada tahun 1825 oleh Kapten Bauer di atas Bukit Jirek Negeri, Bukit Tinggi, pada masa Baron Hendrik Merkus de Kock saat menjadi Komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Di kemudian hari, di sekitar Benteng bertumbuh sebuah kota bernama Fort De Kock, kini menjadi Bukittinggi.
Benteng Fort de Kock dilengkapi dengan meriam kecil di keempat sudutnya, namun saat ini tampaknya sudah dipugar oleh pemerintah, digabungkan dengan taman binatang burung tropis, menjadi tempat bermain warga, bahkan ada wahana permainan anak-anak seperti perosotan disekitarnya.

***
Tak jauh dari Benteng Fort De Kock, terdapat pintu masuk berpagar ke Jembatan Limpapeh. Ini dia ujung kiri jembatan. Sedikit kecewa, gw melihat gembok melingkari pagar tersebut. Karena gw orangnya kepo dan suka ngeyel, gw pun tetap mendekati pagar tersebut, dan ya… gemboknya tidak dikunci, hanya digantungkan di slot pagar *loncat-loncat bergembira*
Dengan gegap gempita, gw mengajak Nyonya Besar melintasi jembatan. Apalagi, gw melihat bangunan berbentuk rumah gadang di ujung jembatan yang satunya. Gw mengenalinya sebagai Museum Rumah Adat Baanjuang yang menyimpan koleksi peninggalan Minangkabau, yang bangunannya sendiri dibangun sekitar tahun 1930-1935 oleh seorang belanda bernama Mandelar Countrelleur. Tidak jelas kenapa dia membangun bangunan ini, apakah sudah terlanjur jatuh cinta pada adat dan budaya Minangkabau?

Kali ini, Nyonya Besar benar-benar menolak ajakan gw. Pertimbangannya, walaupun jembatan terlihat sepi dan ujung seberang pun terlihat demikian, Nyonya Besar khawatir ditangkap oleh petugas sesampainya kami di ujung seberang, atau misalnya jika pintu Museum Rumah Adat Baanjuang dikunci hingga kami harus kembali ke ujung bagian jembatan.
Gw pun menuruti kekhawatiran Nyonya Besar, dan mencukupkan diri untuk berjalan di atas jembatan hanya sampai bagian tengah, melihat Bukittinggi dari atas.
Ternyata, tidak seluruh Bukittinggi bisa terlihat, karena tinggi jembatan yang juga tidak terlalu fenomenal. Dan untuk melihat pemandangan itu pun dibutuhkan cukup usaha, gw harus berjinjit sedikit karena dinding jembatan yang cukup tinggi, mungkin sekitar 150 sentimeter.

jembatan limpapeh
jembatan limpapeh menuju museum adat baanjuang

Sudah pukul 7.30, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Untuk pertama kalinya, kami akan mencoba sarapan makanan yang disediakan oleh Gran Malindo, tempat kami menginap. Menunya standar, bukan masakan khas Minang. Rasanya lumayan. Nyonya Besar menyelinginya dengan memakan kue bawang, yang dibelinya di pasar tumpah di sepanjang jalan di depan Pical Ayang yang kami singgahi saat perjalanan pulang dari Benteng Fort De Kock.

pasar segala ada
ayam segar siap potong
pasar pagi 2

***
Pukul 11 siang, kami check out dari hotel, dan dibantu Pak Zul memasukkan koper ke dalam mobil. Kami kembali akan menggunakan jasa Pak Zul untuk mengantar kami ke bandara.
Awalnya, kesepakatan dengan Pak Zul ini hanya untuk dua hari, yaitu hari pertama dan kedua di mana kami berkeliling ke tempat-tempat jauh, dan disepakatilah harga 500.000 rupiah all in untuk pemakaian selama satu hari. Tadinya kami mau pakai Pak Zul juga untuk mengantar ke bandara di hari terakhir, tapi saat itu beliau menolak harga yang kami tawar, dan kami juga menolak harus mengeluarkan 500.000 lagi hanya untuk 2 jam perjalanan dari hotel ke bandara.
Tiba-tiba Pak Zul menghubungi dan setuju dibayar setengahnya. Jadilah, hari terakhir itu pun kami diantar Pak Zul dengan harus merogoh kocek sebesar 250.000 rupiah.

Pak Zul sendiri orangnya cukup informatif, senang bercerita, dan enaknya adalah dia mau mengikuti itinerary gw. Sebelum memutuskan menggunakan Pak Zul, gw sempat menghubungi penyewaan mobil lain, dan dia gak mau mengikuti itinerary gw. Lha… gw yang jalan-jalan kenapa jadi situ yang ngatur?
Akhirnya dapet lah kontak Pak Zul ini dari Uni Dewi, kakaknya Dina. Begitulah kisahnya.

***
Setelah dua setengah jam perjalanan dengan pake acara mampir di Rumah Gadang Bukit Surungan yang konon menurut cerita merupakan rumah gadang leluhur gw turun temurun, kami sampai di Bandara. Setelah check in dan shalat di mushala bandara yang terletak di lantai 2, kami melipir dan keluar lagi untuk makan siang, yang karena alasan kejelasan rasa, akhirnya pilihan jatuh ke California Fried Chicken. Memang gak banyak pilihan tempat makan di bandara, yang paling banyak adalah yang menawarkan masakan padang. Gak usah ngarepin Solaria apalagi Kopitiam, KFC dan Hoka-hoka Bento aja gak ada. Alhamdulillaah banget deh masih ada CFC:mrgreen:

***
coming home
coming home 2
coming home 3

Pukul 16.00 pesawat Garuda yang membawa kami kembali ke Jakarta pun lepas landas. Seperti biasa, di setiap akhir perjalanan pasti ada rasa sedih terbersit di hati, apalagi yang ditinggalkan demikian cantik dan menawan. Masih banyak yang belum dilihat dan dikunjungi, ingin kembali melihat yang sudah dilihat, belum mencoba Katan Sarikayo, Gulai Itiak Lado Ijo, Sate Padang Danguang-danguang, ampiang dadih, ataupun pisang kapik… belum mencoba the Great Wall of Koto gadang di Ngarai Sianok, belum puas berburu di Pasar Aur Kuning… benar-benar banyak hal yang masih utang dilakukan!

coming home 4
finally touch down jakarta

No worry, gw akan balik lagi deh suatu saat. In syaa Allaah😉
*misalnya, karena minta restu sama ninik mamak* *eh*😆😆😆

Pengeluaran dalam rupiah:
Kue bawang 3000
Lunch di CFC bandara 58.000/untuk berdua
Airport tax 35.000/orang
Rental mobil 1.250.000/3 hari, fuel & driver included
Tip Pak Zul 50.000
Taksi CGK-rumah 210.000

2 thoughts on “Pulang Basamo: Yang Terakhir Untuk Kali Ini

    • ukechin says:

      Setuju! Cuacanya adem, sejuk, ritme kehidupan mengalir tenang. Dan yang jelas kulinernya sedaaaaappp!
      Next time harus ke janjang koto gadang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s