How I Want To Be In The Future: IBU PROFESSIONAL

Membaca kisah luar biasa yang sangat inspiratif dibawah di sini

Motherhood Monday: Cerita Ibu Profesional
by sazqueen — Monday, April 8th, 2013 at 7:30 am

in Parenting, Yummy Mommies

Suatu hari, Ayah saya menyodorkan kartu nama bertuliskan “Septi Wulandani” dengan head sign ‘IBU PROFESIONAL’. Ketika menerima dan masih bertanya-tanya siapa, sih, ini yang PD banget ngasih label bahwa dirinya adalah seorang ibu profesional, Ayah saya menceritakan sedikit soal sepak terjang Bu Septi yang mempunyai pola asuh out of the box! Anak pertamanya saja yang baru berusia 16 tahun, sudah kuliah di Singapura, anak keduanya berusia 15 tahun sudah bisa memberdayakan satu desa untuk memaksimalkan potensi desa tersebut di ranah peternakan sapi! Penasaran, saya cek http://www.ibuprofesional.org dan juga akun Twitter-nya di @IbuProfesional. Setelah itu, saya langsung mengirim email. Jawaban yang saya dapat sangat seru, dan inilah cerita soal ibu profesional.

Apa atau siapakah Ibu Profesional?
Ibu Profesional adalah komunitas para ibu dan calon ibu yang selalu meningkatkan kualitas diri dan keluarganya dengan ilmu yang bermanfaat. Sehingga bisa menjalankan aktivitas keluarga secara profesional. Ini adalah sebuah gerakan untuk mengembalikan fungsi ibu sebagai pendidik utama dan pertama untuk anak dan keluarganya, bisa berperan sebagai manajer keluarga, menjadi pribadi yang mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya, dan meningkatkan akhlak mulianya, sehingga bisa menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat sekitarnya. “Jatuh bangunnya suatu bangsa tergantung pada perempuannya” (hadisRasulullah S.A.W) untuk itulah kami memilih memulai mendidik para ibu dan calon ibu terlebih dahulu. Sehingga impian menjadi sebuah bangsa yang unggul dan bermartabat akan bisa kembali terwujud dengan optimis.

Ada alasan khusus ketika mendirikan Ibu Profesional?
Pada awalnya saya termasuk perempuan yang memiliki main-frame, bahwa perempuan yang sukses itu adalah perempuan karir yang bekerja di luar rumah. Kemudian saya mendapatkan SK pegawai negeri bersamaan dengan SK Nikah alias ijabsah🙂 . Saat mau menikah suami saya mengajukan satu syarat, “Aku ingin nantinya anakku dididik oleh ibunya, bukan oleh orang lain meski itu kakek-neneknya sendiri”. Akhirnya saya melepaskan SK pegawai negeri saya, dan menjadi ibu rumah tangga. Ternyata saat itu status ibu rumah tangga, berarti adalah perempuan yang tidak memiliki pekerjaan. Sehingga tidak membuat bangga siapapun, bahkan dirinya sendiri. Inilah titiknya, akhirnya saya berusaha profesional menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga. Hal yang saya lakukan pertama kali adalah menggantungkan daster, dan memakai baju rapi selama di rumah dari pukul 7 pagi sampai 2 siang. kemudian membuat kartu nama dengan pekerjaan Ibu Rumah Tangga Profesional. Sejak itulah banyak perubahan terjadi, saya bangga dengan istilah itu. Inilah awal kemunculan komunitas Ibu Profesional.

Apa misi Ibu Profesional?
Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak­-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-­anaknya.
Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
Meningkatkan rasa percaya diri sang ibu, sehingga tetap bisa mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.
Meningkatkan peran ibu menjadi Agent of Change (agen pembawa perubahan) yang senantiasa akan berbagi dan menularkan virus perubahan kepada masyarakat

O, ya, boleh dong diceritakan ketiga profil anak ibu?
Saya menyebut anak saya sebagai Malaikat Kecil, yg dihadirkan Allah SWT untuk memandu jalan hidup saya.
Bagaimana tidak, Enes (16 th) adalah anak pertama saya yang meminta home education saat dia duduk di kelas 2 SD, akhirnya memaksa saya untuk belajar banyak tentang menjadi guru utama bagi anak-anak. Akhirnya kami menemukan banyak produk cara belajar yang mudah dan menyenangkan dari proses pembelajaran kami di rumah, antara lain Jarimatika, metode belajar berhitung menggunakan jari yang mudah dan menyenangkan. Dia sekarang tinggal sendiri di Singapura menempuh program kuliah di Bussiness Management. Enes adalah anak yang out of the box, selalu berpikiran one step ahead. Saat anak-anak lain ketagihan nonton TV, dialah yang meminta saya untuk meniadakan TV dari rumah, saat usianya 10 tahun. Sekarang adalah tahun ke 6 kami tidak memakai TV di rumah. Enes sangat menyukai olahraga memanah, berenang dan selalu menjadi leader untuk adik-adiknya. Dia terpilih menjadi Young Changemaker Ashoka Foundation pada 2009, sebagai anak muda peduli sampah.
Saat muncul adiknya, Ara (15 th) murid saya bertambah satu, karena dia juga memilih jejak kakaknya untuk belajar di rumah. Selama proses belajar bertiga ini kami selalu semangat menjalankan program belajar yang menyenangkan, sampai muncul produk kedua yaitu Abaca-baca, suatu metode yang membuat anak-anak tidak hanya sekedar bisa membaca melainkan SUKA membaca. Ara lebih easy going, mengikuti apa ide sang kakak. Dia punya kekuatan public speaking, sehingga selalu menjadi juru bicara untuk program-program kakaknya. Akhirnya dia memiliki proyek yang dia beri nama MOO’S PROJECT, menyejahterakan masyarakat peternak, yang menghantarkannya terpilih menjadi Young Changemaker Ashoka Foundation 2008. Sangat menyukai olahraga berkuda, sehingga memiliki cita-cita besar untuk bisa memiliki ranch kuda.
Anak ketiga lahir, Elan (10 th), kekeuh tidak menempuh jalur belajar lewat sekolah sejak TK, katanya, “Biar yang lain sibuk cari ijazah, aku akan sibuk belajar buat perusahaan, nanti yang akan menampung para pemilik ijazah”🙂
Membuat kartu nama yang di bawah namanya ditulis ‘ingin jadi ahli robot’. Kegiatan yang paling dia sukai adalah magang dari satu orang sukses ke orang sukses yang lain. Katanya sukses itu menular. Elan sekarang sedang membuat ROBOCYCLE dengan alasan biar anak-anak di desa bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar pola pikir membuat robot yang sangat bermanfaat. Aktivitasnya sekarang membuat robot dari bahan daur ulang sampah, dan magang kemana-mana sendirian, kami hanya bertugas antar jemput saja. Olah raga yang ditekuninya saat ini adalah berkuda dan berenang.

Kendala apa saja yang terjadi selama mendidik 3 anak dengan cara yang bisa dibilang out of the box ini?

Pertama muncul tantangan dari keluarga dekat yaitu kakek-nenek, om, tante. Yaa, mereka merasa pola pendidikan anak-anak kami tidak wajar. Banyak yag meminta kembali ke jalur yang lumrah saja. Semua pilihan ada di tangan anak-anak, maka merekalah yang berhak menjawab. Karena kami termasuk orang yang sangat demokratis untuk urusan belajar, belajar tidak harus ke sekolah, masih ada wilayah lain yang lebih luas dari sekolah yaitu alam semesta, yang bisa dijadikan ruang kelasnya anak-anak.

Bagaimana cara meyakinkan diri bahwa ibu adalah ibu profesional untuk keluarga sendiri dan juga untuk menularkan semangat yang sama untuk ibu-ibu lainnya?
Pertama adalah keteladanan, saya tidak berani berbicara segala sesuatu yang belum pernah saya kerjakan untuk anak-anak dan keluarga, sehingga semua yang tersampaikan diusahakan dengan keras untuk dilakukan terlebih dahlu. Prioritas saya yang pertama dan utama adalah suami dan anak-anak. Aktivitas lain baru menempati prioritas berikutnya. Kedua dengan perkuliahan offline dan online. Kami membuka perkuliahan offline dan online 1 minggu sekali, sehingga virus ibu profesional ini bisa menginfeksi dengan cepat ke tubuh para Ibu Indonesia. Saat ini tersebar di 8 kota, di antaranya Salatiga, Semarang, Jepara, Yogjakarta, Karawang, Tangerang, Depok, dan di dua negara tetangga, Singapura dan Malaysia.

Kekuatan apa yang menjadi tempat kembali ibu jika sedang jenuh menjalankan semua rutinitas?
Titel ALMH (almarhumah) yang akan nempel di depan nama saya nanti, yang harus saya dapatkan secara cumlaude di Universitas Kehidupan. Itulah yang selalu memicu saya untuk senantiasa tidak berhenti dengan aktivitas belajar dan mengajar, kalau tidak sedang belajar, berarti sedang mengajar demi menjaga amanah dari-Nya. Sehingga jarang sekali saya merasakan jenuh dalam hidup ini sejak berkeluarga, karena anak-anak dan suami selalu menjadi pemicu semangat saya untuk tetap menyala sampai akhir hayat. Insya Allah.

Ada pesan untuk semua ibu diluar sana agar menjadi mommies yang profesional?
Hmm, Be Professional, Rezeki Will Follow. Bersungguh-sungguhlah dalam mendidik anak dan mengelola keluarga, maka kita akan dihargai dengan kesungguhan itu. Jangan pernah risaukan materi, selama kita bersungguh – sungguh menjaga amanah-Nya. Karena Sang Pemberi Amanah selalu menyiapkan satu paket dengan rezekinya, tugas kita menjemput rezeki itu dengan sungguh-sungguh, dan tetap memprioritaskan diri untuk tetap menjaga amanah-Nya dengan baik.

Berkuda, berenang, memanah! Tidakkah ini sesuai dengan ajaran Rasulullaah SAW?

Tidak ada komentar apapun selain, “Even though it seems too good to be true, yet, one day i wanna be a great mom just like her!”
Mari belajar dari sekarang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s