Krung Thep Maha Nakhon, Sawatdee Kaa!

Sama seperti Singapura, negara ini pun tidak pernah masuk ke dalam mimpi-mimpi saya. Tidak pernah saya berhasrat mengunjungi negara ini, tidak peduli pada sebutan surga belanja barang-barang cantik dengan harga murah yang melekat padanya, tidak tertarik untuk melihat pertunjukan setengah laki-laki setengah perempuannya yang tersohor, dan tidak terpesona pada kecantikan ribuan kuilnya yang menjulang dan menyilaukan.
Maka ketika saya menekan tombol enter dan melakukan pembayaran dengan kartu kredit atas dua lembar tiket yang saya beli dalam rangka promo sebuah budget airlines, itu semata karena saya ingin berjalan-jalan bersama Nyonya Besar dan negara itulah yang tampak terjangkau. Saya pikir, ya tidak ada salahnyalah mengunjungi negara itu. Toh kami memang belum pernah ke sana. Sekedar tau, pernah datang dan melihat langsung, dan berpikir saya tidak akan kembali lagi ke sana.

Hari minggu sengaja dipilih sebagai hari keberangkatan agar saya tidak terlalu khawatir akan tertinggal pesawat jikalau saya, misalnya *amitamitjangansampe* baru bisa kembali dari Bandung pada hari sabtu instead of minggu. Pengalaman mengajarkan bahwa, entah kenapa setiap saat saya akan cuti, pasti selalu saja ada sesuatu hal di kantor yang muncul tiba-tiba dan menuntut perhatian ekstra. Kali kemarin misalnya, si Papih seketika amnesia. Lupa bahwa saya sudah mengajukan cuti dan sudah disetujui, dan malah menyuruh saya untuk stay di kantor, jaga gawang sementara yang lain piknik bersama ke Belitong.

Minggu pagi-pagi sekali, dengan diantar Mr. Babeh dan bayi gorilla kami berangkat menuju bandara tepat pukul 4.30 pagi. Sempat galau akan shalat subuh dimana, akhirnya saya dan Nyonya Besar shalat di mobil. Sebenarnya mungkin masih sangat sempat shalat di bandara, tapi kok kayaknya gak tenang aja gitu.

Ini pertama kalinya saya berangkat melalui terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Terminal yang masih bisa dibilang baru, tapi tetap terlihat biasa dan sederhana.

ready to take off
our indonesian passport
and the gate was finally opened

Terminal 3 di pagi itu terlihat ramai. Antrian check-in mengular.Setelah melewati serangkaian prosedur imigrasi dan pembayaran airport tax, kamipun menunggu panggilan memasuki pesawat di boarding room. Menurut jadwal, pesawat yang kami tumpangi akan berangkat pukul 7:20. Itu berarti gate akan ditutup pukul 7, 20 menit sebelum keberangkatan.
Saya memperhatikan sekeliling. Ada yang tidur di boarding room, tapi sebagian besar menunjukkan wajah-wajah gembira yang tidak sabar ingin segera sampai di tujuan dan memulai liburan. Ketika panggilan boarding menggema, saya dan Nyonya Besar bergerak cepat menunjukkan tiket pada petugas maskapai. Saya sudah memesan hot seat, dan karenanya berhak masuk pesawat terlebih dahulu tanpa perlu mengantri lama.
Atas alasan tight budget, memesan hot seat sebenarnya bukan gaya saya. Tapi kali ini saya tidak berpergian sendiri. Ada Nyonya Besar yang kenyamanannya harus diperhatikan, apalagi penerbangan ini memiliki waktu tempuh yang cukup lama. Tiga jam di udara bisa membuat punggung pegal dan mati bosan. Maka pada tiket kami tertera, saya duduk di kursi 1A dan Nyonya Besar di kursi 1B. Leg room yang lebih luas membuat kami bisa meluruskan kaki.

take off!

Pukul 7:20 pesawat Airbus A 320-200 dengan nomor penerbangan QZ 8313 pun lepas landas dengan mulus. Seperti biasa, saya menebarkan pesona pandangan. Pramugaranya sekilas mirip Ario Bayu KW 3 *eh*, pronounciationnya bagus ketika bicara dalam bahasa inggris, dan yang jelas gemar menolong:mrgreen: Dia menyapa seorang nenek yang sedang mengantri toilet, dan ketika mengetahui bahwa nenek itu berpergian seorang diri, sang pramugara pun berkata bahwa dia akan membawakan tas nenek itu saat pesawat mendarat nanti. Wah, sungguh pramugara idaman! *maksud?*

Selain memesan hot seat, saya pun memesan in-flight services berupa Nasi Minyak Palembang ala Farah Quinn dan Uncle Chin’s Chicken Rice. Kasusnya sama dengan hot seat. Bukan gaya saya, tapi lagi-lagi lamanya waktu tempuh membuat saya memutuskan untuk membeli dua makanan yang rasanya biasa-biasa saja itu.

CGK DMK inflight service

Namun, walaupun makanan yang kami santap itu belum bisa disandingkan dengan hidangan ala Garuda, sebagai penumpang saya merasa tetap harus bersyukur. Awak kabin menikmati makanan mereka sambil berdiri, dan tidak bisa langsung habis dalam sekali waktu karena kadang harus terpotong dengan kewajiban melayani penumpang. Sama dengan para frontliner di bank. Waktu istirahat yang dimiliki sangat sempit, tidak bisa santai-santai dan berlambat-lambat, tidak ada cerita berlama-lama ngobrol-ngobrol dengan rekan kerja.

Hampir saja mengalami kebosanan, akhirnya setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga jam, pesawat bersiap mendarat. Langit di luar terlihat kelabu, bangunan-bangunan di bawah tidak terlalu jelas terlihat. Hanya sebuah sungai meliuk-liuk yang terlihat jelas. Itu mungkin Chao Phraya. Pastilah itu Chao Phraya!

Bangkok from up above

Saya membangunkan Nyonya Besar yang terkantuk-kantuk di sebelah saya, memperlihatkan pemandangan yang tertutup awan abu-abu di bawah. Ketika pesawat mendarat sempurna tanpa hambatan, saya melihat landasan yang basah. Ternyata hujan mengguyur bumi tadi.

Kami menjejak daratan.

don mueang airport
arrived at don mueang airport

Inikah Don Mueang International Airport? Bandara yang pernah ditutup tahun 2006 dan dibuka kembali tahun 2007, kemudian saat ini menjadi basis bagi budget airlines termasuk Air Asia yang pindah ke sini sejak 1 Oktober 2012. Selain Air Asia, saya melihat pula beberapa pesawat dengan warna-warni ceria. Nok Air, yang ternyata melayani rute domestik Thailand, bagian moncong pesawat dilukis dan diwarnai sedemikian rupa menyerupai paruh burung seperti dalam permainan Angry Birds. Selain Nok Air, ada juga Orient Thai airlines.
Walaupun katanya bandara yang tua yang dibangun pada awal tahun 1900-an, tapi mungkin setelah renovasi bandara ini tetap terlihat modern dan nyaman. Walaupun kecil, tapi sepertinya masih jauh lebih terintegrasi dan tampak lebih sophisticated jika dibandingkan dengan Bandara Soekarno-Hatta.

Setelah melewati imigrasi, semakin mendekati pintu keluar ‘kedatangan’ berdiri banyak taxi booth beserta tourist information. Sepertinya itu dikelola perusahaan swasta. Sempat agak bingung, kami mendekati beberapa booth untuk mencari tahu perihal transportasi yang bisa membawa kami ke downtown. Booth-booth yang kami datangi rata-rata memasang harga 800 hingga 900 THB untuk jarak tempuh dari bandara hingga hotel kami di daerah sukhumvit. Alasan mereka, hotel kami terletak agak ke pinggir kota. Dan ternyata mobil yang akan digunakan pun jenis Toyota Camry. Hasil menggali informasi dari internet dan dari orang-orang yang pernah berkunjung ke Bangkok, ongkos taksi berargo dari bandara ke daerah sukhumvit berkisar di angka 200 THB.
Kami menggeleng mendengar harga yang mereka patok. Para penjaga booth, yang berpenampilan sangat rapih dengan jas dan dasi, menyarankan kami untuk keluar ke pintu kedatangan, ambil arah kiri, maka kami akan bertemu dengan konter taxi berargo.

Benar saja, begitu kami keluar dan menoleh ke kiri, terlihat antrian calon penumpang taksi. Saat itu ada sekitar 4 hingga 5 jalur antrian. Semua memiliki peraturan yang sama, (i) bayar ongkos taksi sesuai yang tertera di argo, (ii) biaya tol ditanggung oleh penumpang diluar ongkos taksi, dan (iii) selain ongkos taksi sesuai argo, ada tambahan biaya service sebesar 50 THB.
Kembali ke jalur antrian, sebenarnya sepertinya sih ada keterangannya jalur satu itu untuk taksi warna apa dan seterusnya. Cuma ya itu… karton-karton petunjuk ditulis pake huruf palawa atau yang sebangsanya dan gak ada penjelasan dalam huruf latin. Tanpa mengerti apapun, saya memilih jalur antrian sesuai angka kesukaan saya, jalur 3.
Tanpa percakapan yang terjadi antara saya dan mbak-mbak yang duduk di belakang meja jalur 3, saya ditunjukkan supaya mengikuti seorang pengemudi taksi menuju taksi berwarna hijau-kuning. Pak supir membantu memasukkan koper-koper kami ke bangku depan di samping kursinya.

Pak supir sempat bertanya asal negara kami, dan menunjukkan koin 500 rupiah. Dari seorang penumpang asal Indonesia, katanya. Dia juga bertanya apakah kami ingin lewat jalan biasa atau tol. 105 THB, katanya menyebut ongkos tol, setelah mendengar jawaban kami. Saya memberikan uang 1000 THB. Ongkos tol memang sebesar itu, terdiri dari dua pintu seharga 60 dan 45 THB.
Karena kemampuan bahasa inggris pak supir yang kurang memadai, selama perjalanan saya menghabiskan waktu ngobrol dengan Nyonya Besar, mengomentari semua hal yang kami lihat. Mulai dari kemiripan Bangkok dengan Jakarta, hingga gambar Raja Bhumibol dan patung dewa wisnu yang sepertinya ada di mana-mana. Bahkan pak supir pun menghias taksinya dengan gantungan bergambar Sang Raja.

ada Sang Raja

Siang itu jalan yang kami lalui terasa lancar dan lengang. Apakah Bangkok memang seperti itu sehari-harinya atau memang karena kami datang bukan di jam-jam sibuk, saya tidak tau. Yang jelas, dalam waktu 30 menit, termasuk sempat berhenti sebentar karena pak supir harus turun menanyakan jalan menuju alamat hotel yang saya cetak dan saya tunjukkan padanya, kami pun sampai di depan sebuah bangunan dengan cat dinding berwarna magenta dengan tulisan Nantra Ekkamai didepannya.
Untuk meyakinkan diri, saya masuk dan bertanya ke resepsionis, sementara pak supir masih saya minta untuk menunggu. Setelah yakin ini memang hotel kami, koper-koper pun diturunkan. Argo menunjukkan angka 199 THB. Maka saya serahkan 200 THB, plus 50 THB sebagai service fee, dan tak lupa uang kertas senilai 2000 rupiah sebagai kenang-kenangan. Pak supir mengangguk-angguk tersenyum sambil memandangi uang rupiah tersebut agak lama.

Pengeluaran dalam rupiah:
.tol ke bandara Soekarno-Hatta 18.500
.airport tax 150.000/person
Pengeluaran dalam Thailand Baht/THB:
.taksi Don Mueang – Sukhumvit Soi 63 200
.tol 105
.driver charge 50

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s