Sawatdee Kaa: Chatuchak & Terminal 21

Saya mendorong masuk koper-koper dan mengurus administrasi check in. Karena saat itu baru pukul 12 siang, kami belum bisa masuk kamar dan hanya menitipkan koper-koper di resepsionis yang ternyata… seorang ladyboy yang belum jago mentransformasi dirinya menjadi seorang perempuan. Bedaknya belum merata dan suaranya masih terdengar gagah, tapi tubuhnya ramping, bahkan lebih langsing daripada saya:mrgreen: Siang itu dia mengenakan rok selutut dan rambut panjangnya diikat ekor kuda.

“Kayaknya mbakmas ya dia, Ma,” kata saya pada Nyonya Besar.
Nyonya Besar melirik diam-diam. “Ho oh tuh punya jakun,” katanya.

Karena tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Jakarta, kami merasa lebih baik shalat dulu sebelum melanjutkan perjalanan sesuai itinerary. Saya pun bertanya pada Mbakmas, apakah ada tempat kecil bagi kami untuk beribadah. Saya menggunakan bahasa inggris yang dipadukan dengan bahasa tubuh.
Si Mbakmas segera membawa kami ke salah satu kamar hotel yang ternyata adalah kamarnya. Inilah keramahan Thailand pertama yang saya rasakan.

first prayer di kamar mbakmas

Sesuai itinerary yang saya buat, selanjutnya setelah mempercayakan koper pada Mbakmas dan selesai shalat, kami berangkat menuju weekend market paling terkenal dan paling besar di dunia.

Berbekal peta dan rasa percaya diri, kami menyusuri jalan yang saya percaya sebagai Sukhumvit Soi 63 dan mencari stasiun BTS Ekkamai yang merupakan stasiun terdekat dari hotel. Sempat bolak-balik beberapa kali di jalan yang sama dan tidak menemukan stasiun di maksud, ternyata saya salah memahami jalan. Berdasarkan peta, stasiun BTS terletak tidak jauh dari Sukhumvit Soi 63, tepatnya hanya berbelok ke kiri sedikit dari perpecahan jalan antara Sukhumvit Soi 63 dan Sukhumvit Road.
Awalnya saya mengira hotel kami terletak di Sukhumvit Soi 63, ternyata bukan. Hotel saya berada di salah satu lorong di pinggir jalan Sukhumvit Soi 63. Jadi jalan protokolnya itu kan Sukhumvit Road, lalu di kanan kiri jalan itu terdapat jalan lagi, salah satunya Sukhumvit Soi 63. Nah di sepanjang Sukhumvit Soi 63 itu pun ada jalan lagi di kiri kanannya. Di situlah hotel kami berada.

sukhumvit soi ekkamai 63

Dan berdirilah kami di depan anak tangga menuju ke atas tempat Stasiun BTS Ekkamai berada. Ada sekitar 45 anak tangga untuk sampai ke atas, lumayan menguji kekuatan tulang menopang tubuh dan kemampuan mengatur pernafasan😆

Sekarang giliran membeli tiket BTS. Ada beberapa jenis tiket BTS. Ada yang bisa digunakan untuk jangka waktu sekian hari, seperti tiket abodemen kereta api di Indonesia, ada juga untuk penggunaan selama satu hari, atau yang digunakan hanya untuk sekali perjalanan. Selama di Bangkok, kami selalu membeli single trip ticket.
Tiket di beli di mesin khusus yang menjual tiket. Tiket harus dibeli dengan uang pas karena mesin tidak menyediakan kembalian. Untuk itu, kita membutuhkan koin dalam pecahan 10 atau 5 THB. Tidak perlu khawatir jika tidak memiliki koin pecahan. Terdapat konter khusus penukaran uang di setiap stasiun BTS. Kita tinggal datang, sebutkan stasiun tujuan dan berapa tiket yang kita butuhkan. Penjaga loket akan memberikan koin pecahan sesuai kebutuhan, sambil menyebutkan harga tiket. Contohnya ya ketika akan ke Chatuchak ini. Saat itu posisi kami ada di BTS Ekkamai. Untuk sampai di Chatuchak, kami harus naik BTS Sukhumvit Line dan turun di BTS Mo Chit. Harga single trip ticket untuk satu orang dari Ekkamai ke Mo Chit adalah 40 THB. Karena saya memberikan uang kertas 100 THB, penjaga loket memberikan 8 buah koin 10 THB dan selembar uang kertas 20 THB. Dengan koin itulah saya membeli 2 buah tiket BTS. Pencet tombol harga, masukkan koin, dan keluarlah tiket yang berbentuk seperti kartu telepon tersebut. Mudah!
Penggunaannya pun mudah. Masukkan tiket ke pintu otomatis, tarik kembali tiketnya dan gardu akan terbuka otomatis. Simpan tiket baik-baik karena dibutuhkan saat tiba di stasiun tujuan nanti.

BTS single trip card
BTS Station Ekkamai
dalamnya BTS

Bagian dalam BTS pun nyaman, serupa dengan MRT Singapura atau subway Korea. Dan AC-nya luar biasa dingin. Perpindahan suhu sungguh ekstrem. Di dalam BTS dingin sekali, sementara di luar sungguh panas, kering dan lembab tanpa angin.

Tiba di Mo Chit sekitar pukul setengah dua siang, kami berjalan mengikuti petunjuk jalan keluar yang menuju Chatuchak. Chatuchak ya, bukan Chatuchak Park. Sebenarnya sih, kami berjalan mengikuti arus manusia yang tampaknya semua menuju Chatuchak.
Di pinggir jalan dari stasiun menuju Chatuchak, pedagang kaki lima menggelar barang dagangan aneka rupa, termasuk makanan dan minuman.

chatucak

Cuaca saat itu sedang panas-panasnya. Matahari sedang semangat-semangatnya bersinar, angin pun tampaknya sedang enggan bergerak. Saya dan Nyonya Besar berjalan diantara kerumunan orang sambil mengipas-ngipas, mata kami bergerak memperhatikan para pedagang, dan berhenti di depan seorang bapak yang menjual minuman dingin yang tampak menggoda. Sayangnya semua pilihan rasa tertulis dalam aksara keriting bagai hanacaraka, kami pun hanya menunjuk yang tampaknya paling jelas. Minuman coklat dengan jelly. Dan rasanya? Enaaakk!!! Entah karena kehausan atau memang enak, tapi minumannya benar-benar menyegarkan. Persis seperti bubble tea, tapi yang ini bukan teh melainkan cokelat.

Setelah berjalan sekitar 100 meter, ada jalan masuk ke dalam. Saya pun bertanya pada seorang bapak di pinggir jalan, apakah jalan tersebut menuju Chatuchak. Betul, katanya. Chatuchak dibaca sebagai ‘jatujak’ oleh orang lokal.
Sesuai informasi, Chatuchak sendiri merupakan pasar semi permanen yang hanya beroperasi di akhir pekan. Terdiri dari ribuan kios yang menjual berbagai macam barang, mulai dari baju hingga aksesoris rumah hingga binatang peliharaan, Chatuchak yang memiliki luas hektaran merupakan labirin yang sesungguhnya.

Sebenarnya ada peta denah Chatuchak. Lorong mana menjual apa. Tapi percayalah, melihat begitu besarnya Chatuchak, simpan saja peta itu di dalam tas, dan nikmatilah menjelajah Chatuchak atau bahkan berputar-putar di tempat yang itu-itu lagi.
Chatuchak memang surga belanja, apalagi bagi yang sedang giat mengisi perabot rumah. Mulai dari yang biasa hingga yang unik dan antik, semua ada. Dipastikan, bawa uang berapa pun bisa habis di Chatuchak ini. Apalagi kalau memang sudah siap bagasi. Melihat segala pernak-pernik di sana memang bikin lupa daratan dan lupa dompet. Rasanya semua bagus, semua butuh, semua perlu dibeli. Maklumlah, perempiwi, naluri keibuannya suka menggelegar kalo di pasar😆
Cari oleh-oleh berupa benda-benda non makanan juga di sini tempatnya. Mau apa sih? Kain khas Thai? T-shirt biasa? Pashmina? Scarf? Tas etnik? Atau barang-barang dari kulit? Atau cushion cover? Taplak meja? Semua ada. Apalagi sekedar gantungan kunci atau magnet, itu sih gampil!

Kalau banyak orang menyarankan untuk menawar habis-habisan di Chatuchak, saya menambahkan satu hal. Kalau sudah di Chatuchak, terus ketemu suatu barang, terus kita suka, langsung beli. Gak usah nunda-nunda karena pengen lihat harga di tempat lain. Percayalah, harga di tempat lain cenderung tidak jauh berbeda. Dan seringnya, barang-barang antara satu kios dan kios lainnya cenderung berbeda. Kalau kita menunda-nunda membeli, salah-salah kita malah gak dapet barang yang diinginkan itu sama sekali. Karena harga di kios lain yang lebih tinggi, dan kita tidak bisa menemukan kios sebelumnya!
Juga, berdasarkan pengalaman kami, kios yang berada di area depan justru memasang harga lebih murah daripada kios-kios yang semakin jauh mengular ke dalam. Contohnya, sehelai pashmina khas Thai, di kios deretan depan bisa didapatkan dengan harga 80 THB, sementara di kios-kios di bagian dalam, harganya gak bisa kurang dari 100 THB untuk bahan dan motif yang sama.

Kami sendiri menghabiskan waktu sekitar 4 sampai 5 jam di Chatuchak, pokoknya sampai para pedagang mulai menutup kios mereka. Dan saking gegap gempitanya mengelilingi Chatuchak, saya sampai tidak mengambil gambar satu pun di sini.
Tips lain untuk berpetualang di Chatuchak dalam cuaca yang sangat panas adalah, selalu sedia air minum dan jangan cuek sama perut. Bagi kami agak susah menemukan makanan halal. Jadi setiap melihat tukang jajanan makanan ringan dari buah, apapun itu, pasti kami beli. Yang penting perut gak kosong. Karena faktor usia, Nyonya Besar saat ini jika sudah lapar pasti pusing. Makanya yang paling saya jaga adalah Nyonya Besar tidak boleh lapar, gak bisa ngikutin gaya saya yang suka lupa makan kalo lagi jalan-jalan atau suka medit ke diri sendiri.
Dan bukan cuma buah, setiap ada tukang jajanan yang berjilbab, kami pasti mampir. Lihat seorang ibu berjilbab jualan sosis panggang, plus ada tulisan halalnya, langsung borong beberapa tusuk. Kebetulan sosisnya pun besar-besar. Lalu dalam perjalanan dari Chatuchak ke BTS Mo Chit, kami melihat seorang ibu berjilbab dan anaknya menjual makanan berbahan dasar adonan dari tepung yang dibuat tipis sekali seperti kulit martabak. Kemudian diatasnya dipecahkan telur. Setelah matang, dipotong-potong dan diberi topping, bisa pilih, mau potongan pisang atau susu kental manis. Kami memilih susu kental manis. Rasanya? Enaaaaakkk!!! Seperti roti canai telur, tapi ini dimakan dengan susu kental manis instead of kuah martabak. Selama di Bangkok, hanya di Chatuchak lah kami berjumpa dengan makanan itu.

Melanjutkan itinerary, dari Chatuchak kami berencana mengunjungi Terminal 21, sebuah shopping mall yang terhitung baru di Bangkok. Baru dibuka akhir tahun 2011.
Tapi Nyonya Besar kepengennya balik dulu ke hotel, mandi sore, baru pergi lagi. Padahal saya sih kalo traveling sendirian, gak ada deh cerita balik ke hotel, mandi, trus ngider-ngider lagi. Pasti jalan seharian, balik-balik ke hotel tuh udah malem, tinggal mandi dan langsung tidur. Tapi pan namanya juga jalan sama orang tua yaaa… gak bisa disamain lah. Akhirnya pulang ke hotel, dan mulai ngibing-ngibing lagi setelah shalat maghrib.

Tujuannya masih sama seperti tadi. Terminal 21 Shopping Mall. Gak ada niat belanja sih, cuma pengen lihat-lihat aja, ya paling sekalian cari makan malam.
Dari BTS Ekkamai, masih di Sukhumvit Line, kami turun di BTS Asoke. Terminal 21 ini memiliki pintu masuk yang terintegrasi dengan BTS Asoke. Saya jadi ingat Kyobo Bookstore di Korea yang juga terintegrasi dengan stasiun subway.
Saat itu sudah jam setengah delapan malam, praktis waktu yang kami miliki tidak banyak untuk mengelilingi mall yang tutup pukul 22 ini. Kami pun segera mencari tempat makan yang dikira-kira halal, dan setelah mondar-mandir sedemikian rupa dan pertimbangan harga, akhirnya pilihan jatuh pada Secret Recipe karena (i) mengingat Secret Recipe dimiliki oleh orang Malaysia dan menghidangkan menu melayu, kayaknya sih dia halal, dan (ii) banyak orang Arab makan disana *yamaksudnyakanorangArabyangberjilbab*

And the verdict for Laksa Singapura yang kami makan adalah… gak enak! Nyesel juga ngeluarin doku hampir 600 THB untuk makanan yang gak nikmat. Besok-besok mending cari KFC aja deh, jelas rasanya. Rasa ayam *eh*
Abis makan, mulai deh keliling-keliling.
Jadi si Terminal 21 ini kan punya tema di tiap lantainya. Ada yang bertema Jepun, Turki, London, San Fransisco, around the world gitu deh judulnya. Dan dekorasinya pun disesuaikan, misalnya yang Jepun dihias gambar-gambar sakura, terus yang Turki dihias lampu-lampu cantik ala timur tengah.
Yang saya lihat, Terminal 21 ini sepertinya supports local young designers. Jadi toko-tokonya itu menjual barang-barang hasil karya desainer lokal. Lucu-lucu sih dan selalu gak ada yang sama, tapi yang jelas modelnya hampir setipe. Saat ini di Thai lagi hits banget celana pendek yang menyerupai rok mini. Cuma beda di cutting atau jenis bahan, warna, dan motif sih.

Mungkin karena sudah malam dan capek, saya juga sedikit sekali mengambil foto di sini. Mendekati pukul 22 kami beranjak pulang, dan menyempatkan diri mampir di Seven Eleven dekat hotel untuk membeli cemilan bekal di kamar.

Pengeluaran dalam THB:
.tiket BTS Ekkamai-Mo Chit 40/person
.minuman coklat dengan jelly 15
.pepaya 20
.air mineral 10
.sosis ayam 20
.roti canai telur dengan susu kental manis 20
.bread with coconut ice cream 20
.coconut with peanut 35
.tiket BTS Mo Chit-Ekkamai 40/person
.tiket BTS Ekkamai-Asoke 20/person
.dinner at Secret Recipe Terminal 21 583
.tiket BTS Asoke-Ekkamai 20/person
.cemilan di seven eleven 123

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s