Sawatdee Kaa: The Grand Palace, Wat Phra Kaew & the Queen Sirikit Museum of Textiles

Apakah cerita tentang Krung Thep alias Bangkok sudah selesai?
Belooooommm!!!
Terus ke mana aja sih? Kok gak ada tulisan lanjutan?
Ya maap… akika kan pan sibuk yeee… maklum lah, namanya juga pejabat BUMN *dilempar KUHPerdata*😆

Jadi, setelah menghabiskan hari minggu dengan berkelana di Chatuchak Market dan kalap dengan segala printilan berjudul oleh-oleh dan pernak-pernik rumah, hari senin kami ke mana ya?

Tujuan pertama adalah Phra Borom Maha Ratcha Wang atau yang populer dengan nama The Grand Palace, tempat kediaman resmi raja-raja Thailand hingga tahun 1925. Raja Bhumibol Adulyadej yang bertahta saat ini tinggal di Chitralada Residence.
Karena mendengar bahwa kompleks Grand Palace ini sangat luas *218.000 meter persegi!*, kami pun memutuskan untuk berangkat pagi-pagi. Pukul delapan kurang beberapa menit, kami sudah sampai di stasiun BTS Ekkamai. Untuk mencapai Grand Palace, kami harus turun di stasiun Saphan Taksin yang berada di jalur Silom Line. Ekkamai berada di jalur Sukhumvit Line. Itu berarti kami harus transit di stasiun Siam. Lebih jelasnya seperti ini:
• BTS Ekkamai ke BTS Siam. Naik BTS jurusan Mo Chit, turun di Siam.
• Transit ke Silom Line.
• Naik BTS jurusan Bang Wa, turun di BTS Saphan Taksin.
Setelah sampai di stasiun Saphan Taksin, ikuti saja petunjuk arah ke Central Pier, tempat di mana kami akan naik perahu untuk menuju Grand Palace.
Karena masih cukup pagi, belum terlalu banyak pengunjung yang datang. Saya pun memutuskan untuk mengikuti orang-orang yang berpenampakan seperti turis. Setelah sampai di Central Pier, saya sempat agak bingung mengenai pembelian tiket. Ada booth yang menjual tiket one day pass seharga 200 THB per orang. Dengan tiket tersebut pengunjung bebas berkelana sepanjang sungai Chao Phraya selama satu hari penuh dan mendapat keistimewaan perlakuan berupa diperbolehkan menaiki perahu terlebih dahulu.
Dari beberapa informasi yang saya kumpulkan, untuk mencapai Grand Palace kita cukup membayar ongkos perahu seharga 15 THB. Tapi kenapa tidak ada konter yang menjual tiket yang jauh lebih murah itu? Saya sempat galau, apakah membeli tiket 200 THB atau tidak. Apalagi turis-turis lain di depan kami rata-rata membeli tiket terusan tersebut.
Menimbang-nimbang, saya hitung-hitung sepertinya total ongkos kami untuk menjelajahi sungai Chao Phraya tidak sampai 200 THB. Lagipula harga segitu berada diluar rencana budget kami. Masih dalam keadaan sedikit kebingungan, saya bertanya pada beberapa petugas yang tidak pandai berbahasa inggris. Dari mereka saya dapatkan keterangan bahwa memang ada perahu 15 THB. Perahu tersebut berbendera oranye, dan ongkos akan ditagih diatas perahu. Saya pun mengurungkan niat membeli tiket terusan, dan duduk mengantri.

central pier
central pier 2

Sebuah perahu berbendera oranye datang, dan orang-orang yang membeli tiket terusan dipanggil untuk memasuki perahu terlebih dahulu. Saya mengajak Nyonya Besar untuk mulai berdiri mengantri.
Setelah seluruh orang-orang dengan tiket terusan naik ke perahu, giliran para pengunjung 15 THB dipersilakan naik. Kami memang berlomba-lomba supaya mengantri di garis depan. Tujuannya apa lagi kalau bukan supaya mendapat tempat duduk di perahu.

Saya memilih tempat duduk di pinggir, supaya leluasa melihat pemandangan. Pilihan ini harus dibayar dengan cipratan-cipratan air sungai, baik karena laju perahu maupun karena benturan antara perahu dan dermaga ketika si perahu merapat di dermaga-dermaga sepanjang sungai Chao Phraya.

Chao Phraya merupakan sungai utama yang membelah kota Bangkok. Mungkin bisa disamakan dengan sungai Ciliwung yang membelah Jakarta. Bedanya, walaupun berbau sedikit amis khas bau sungai, Chao Phraya cukup bersih dan dapat dilalui oleh perahu-perahu, menjadikannya salah satu jalur transportasi utama di Bangkok. Sementara Ciliwung semakin hari semakin sempit oleh sampah dan tidak mungkin dilayari. Masa kejayaan ketika Ciliwung masih bisa dilalui oleh perahu-perahu yang mengangkut saudagar-saudagar yang berhenti di masjid-masjid di sepanjang sungai di Kota Tua sudah lama berlalu.

Banyak hotel kelas atas dibangun di sisi sungai ini. Rata-rata memiliki akses langsung ke sungai dengan disediakannya perahu khusus tamu hotel, contohnya adalah Sheraton Hotel. Selain hotel, banyak pula tempat-tempat sembahyang. Ada pula gereja.

chao phraya 3
chao phraya
on board
pier
view from board

Dari Central Pier, jika ingin ke Grand Palace maka turunlah di dermaga N9 atau Tha Chang pier. Kalau ingin ke Wat Pho terlebih dulu bisa turun di dermaga N8 atau Tha Tien pier.
Stick to our itinerary, kami pun turun di Tha Chang pier. Dari situ tinggal berjalan kaki sebentar melewati semacam pasar, kurang dari 10 menit sampailah kami dihadapan tembok tinggi bercat putih. Itulah dinding kokoh sepanjang 1900 meter yang mengelilingi Grand Palace. Setelah mengganti sandal jepit yang kami pakai dengan sepatu yang lebih formal dan mengembangkan payung untuk menjaga mulusnya wajah *eh*, kami pun mulai berjalan mencari pintu masuk utama.
Saya dengar kadang ada saja scam yang mengincar para turis. Biasanya dikatakanlah bahwa Grand Palace tutup karena ada upacara-upacara tertentu dan ujung-ujungnya si turis malah dibawa berkeliling dan berakhir dengan tuntunan belanja di toko suvenir. Untunglah kami tidak mengalami hal itu. Kuncinya sih mungkin jalan lurus sok percaya diri aja. Jangan terlihat bingung atau gimana, walaupun penduduk lokal pasti tau bahwa kami turis.

Di Viseschaisri Gate yang merupakan gerbang utama Grand Palace sudah banyak pengunjung mulai memasuki kawasan Grand Palace. Padahal jam baru menunjukkan pukul 9 pagi.

grand palace
thai flag at grand palace
punggung sang raja

Sejak pandangan pertama saja sudah banyak yang bisa dibidik oleh kamera. Kecantikan bangunan-bangunan yang didominasi warna kuning keemasan memukau mata dari kejauhan. Belum apa-apa, para pengunjung termasuk saya dan Nyonya Besar, sudah mulai berhenti di sana-sini untuk berpose.
Ramainya pengunjung saat itu mengesankan seolah-olah Grand Palace itu bagaikan theme park saja! I was expecting something a little bit more peaceful, I guess…

Untuk dapat memasuki Grand Palace, kita harus membeli tiket seharga 500 THB per orang. Tiket masuk ini terdiri dari dua lembar tiket yang bisa digunakan untuk memasuki The Pavilion of Regalia, Royal Decorations and Coins, Queen Sirikit Museum of Textiles, dan The Temple of Emerald Buddha yang berada di dalam kompleks yang sama, serta untuk memasuki Vimanmek Mansion, Support Abhisek Dusit Throne Hall, Sanam Chandra Palace, dan Arts of the Kingdom Exhibition at Ananta Samakhom Throne Hall yang berada di kawasan yang berbeda.

Dengan tiket di tangan, mulailah kami menyusuri satu demi satu bangunan yang ada di dalam kompleks Grand Palace ini. Ternyata Grand Palace bukan hanya tempat kediaman Raja-raja Thailand zaman dulu, tapi juga tempat penobatan dan kantor-kantor pemerintahan. Bangunan pertama yang kami temui adalah Hor Phra Rajphongsanusorn dan Hor Phra Rajkoramanusorn. Diantara kedua bangunan ini terdapat tempat sembahyang yang digunakan oleh para pengunjung yang ingin bersembahyang. Menoleh ke kiri, dalam sekejap mata kita akan dimanjakan oleh cantiknya Phra Siratana Chedi yang berkilau keemasan. Tidak hanya Phra Siratana Chedi, bangunan lainnya yang berada dalam kompleks Grand Palace ini pun tak kalah cantik dan kilaunya. Seluruhnya terdiri dari pahatan dan detail yang luar biasa rumit dan indah, sungguh-sungguh mengagumkan. Tak heran, kemanapun kami melangkah, kami sering mendengar turis-turis bule berdecak kagum sambil berkomentar, “this is amazing, this is incredible amazing!”
Memang benar, walaupun usianya sudah ratusan tahun, tapi bangunan-bangunan tetap terlihat terawat. Benar-benar objek yang luar biasa menarik bagi pencinta fotografi. Tak henti-hentinya para pengunjung membidikkan lensa mereka pada setiap sudut bangunan. Seluruh titik memiliki daya tariknya sendiri-sendiri.

grand palace 2
grand palace 3
grand palace 4

Tak jauh dari situ terdapat sebuah bangunan bergenting biru dan oranye. Wat Phra Kaew, atau dalam nama resminya Wat Phra Si Rattana Satsadaram, atau dikenal juga dengan nama Temple of the Emerald Buddha, adalah kuil Budha yang paling disakralkan di Thailand. Menurut buku panduan, the Emerald Buddha sebenarnya dibuat dari giok hijau dan ditemukan pertama kali di dalam sebuah stupa di Chiang Rai. Pada saat itu statute tersebut ditutupi dengan plester dan dianggap statuta buddha biasa. Kemudian, kepala biara yang menemukan statute itu melihat bahwa plester di bagian hidung terkelupas, memperlihatkan batu berwarna hijau dibawahnya. Sang kepala biara berpikir bahwa batu itu zamrud. Dari situlah nama the Emerald Budha berasal.

Bersama-sama saya dan Nyonya Besar terdapat rombongan berwajah mongoloid dan berkulit sawo matang. Mereka berperawakan kecil dan mengenakan pakaian tradisional, bau badan yang kurang sedap tercium di udara. Sepertinya mereka datang dari desa untuk berdoa di depan Emerald Budha.
Sebelum memasuki ruangan, kami harus melepas alas kaki. Di dalam petugas sibuk mengatur para pengunjung dan mengingatkan agar kami tidak mengambil foto. Tak banyak yang dapat dilakukan di dalam, selain memperhatikan detail dan penuhnya pengunjung yang ingin bersembahyang.

grand palace 7
Garuda di bagian luar Wat Phra Kaew

grand palace 9
grand palace 8
grand palace 6

Melanjutkan ke kawasan berikutnya, ada the Borom Phiman Mansion. The Borom Phiman Mansion adalah bangunan bergaya barat yang dibangun tahun 1903 oleh Raja Rama V untuk pewaris tahtanya, Raja Rama VI. Bangunan ini digunakan juga sebagai tempat kediaman kerajaan oleh Raja Rama VII, Raja Rama VIII, dan Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX yang bertahta saat ini. Saat ini mansion ini digunakan sebagai tempat menginap tamu-tamu kenegaraan. Sayang saat kunjungan, gerbangnya dikunci, jadilah para pengunjung hanya berfoto dengan Royal Guard yang berjaga didepannya.

Dengan botol minuman ditangan yang kami beli dari kios yang ada didekat The Borom Phiman Mansion, kami melangkahkan kaki ke Chakri Maha Prasat Hall. Bangunan ini dibangun oleh Raja Chulalongkorn atau Raja Rama V, dan selesai pada tahun 1882.

Borom Phiman Mansion
Chakri Maha Prasat Hall
Atas: Borom Phiman Mansion | Bawah: Chakri Maha Prasat Hall

Walaupun saya termasuk banci museum, kami memutuskan untuk melewatkan Wat Phra Kaew Museum, dan langsung menuju Queen Sirikit Museum of Textiles yang terletak di dekat pintu keluar. Salah satu alasannya adalah cuaca sudah sangat panas dan hari sudah cukup siang, sementara kami masih ingin melanjutkan perjalanan ke kuil-kuil selanjutnya.

Queen Sirikit Museum of Textiles yang baru dibuka pada 9 Mei 2012 ini menempati gedung Ratsadakorn-bhibhathana yang dulunya digunakan sebagai tempat Kementerian Keuangan Kerajaan. Sesuai namanya, museum ini dibuka atas prakarsa Ratu Sirikit yang memang dikenal memiliki perhatian tinggi terhadap budaya Thailand. Didalamnya dipamerkan baju-baju yang pernah dikenakan Sang Ratu sejak masih berusia belia hingga saat ini. Ditampilkan secara apik dan menarik, membuat busana-busana yang dibuat dari bahan tenunan tangan para pengrajin Thailand dengan garis desain sederhana itu tampak begitu mewah dan anggun. Memang benar kalau ada yang bilang less is more.
Selain menampilkan busana-busana Ratu Sirikit, ditampilkan pula secara aktraktif testimoni-testimoni para anggota SUPPORT Foundation, sebuah yayasan yang didirikan oleh Sang Ratu untuk melestarikan tenun tradisional Thailand yang sebagian besar anggotanya adalah perempuan pedesaan. Selain untuk melestarikan kebudayaan Thailand, yayasan ini pun bertujuan memberdayakan perempuan dan meningkatkan taraf hidup para anggotanya. Ditunjukkan pula pola-pola busana tradisional dan cara-cara mengenakannya.
Ada juga dokumentasi penampilan Ratu Sirikit selama Sang Ratu mendampingi Raja Bhumibol Adulyadej. Sang Ratu selalu mengenakan busana berbahan tradisional Thailand sebagai caranya memperkenalkan budaya Thailand pada dunia. Tak mengherankan, atas keanggunannya membawakan busana dan kecantikan sederhana khas Asia, Sang Ratu pernah dinobatkan sebagai salah satu perempuan berbusana terbaik di dunia pada tahun 1960-an. Semuanya begitu indah dan informatif, sayang pengunjung tidak diperbolehkan memotret di dalam ruangan.

Setelah mengelilingi Queen Sirikit Museum of Textiles, sepertinya sudah lebih dari 3 jam kami berada di kompleks Grand Palace. Walaupun belum menyambangi Wat Phra Kaew Museum dan The Pavilion of Regalia, Royal Decorations and Coins, kami pun memutuskan untuk menyudahi kunjungan ke Grand Palace dan menuju tujuan berikutnya.

grand palace 5

Pengeluaran dalam THB:
.BTS Ekkamai – Saphan Taksin 40/person
.Chao Phraya Boat from Central Pier to Tha Chang Pier 15/person
.Grand Palace entry ticket 500/person
.Pasteurized milk @Grand Palace 25
.Magnet kulkas @Queen Sirikit Museum 200/2 pieces

2 thoughts on “Sawatdee Kaa: The Grand Palace, Wat Phra Kaew & the Queen Sirikit Museum of Textiles

    • ukechin says:

      Hah???
      Ini kan cuma bagian grand palace, Vik… kalo dilanjut terus sampe seharian sih bisa panjang banget, gak enak juga bacanya.

      Atau maksud lo nanggung yg kayak apa ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s