Sawatdee Kaa: Wat Pho, Wat Arun & Big C

Kalau dilihat di peta, sepertinya jarak antara Grand Palace dan Wat Pho tidaklah terlalu jauh. Kayaknya sih bisa lah ditempuh dengan berjalan kaki, kalo badan masih seger buger gak laper. Kayaknya lho… kayaknya.
Tapi mengingat rasa capek yang mulai mendera dan matahari yang bersinar penuh semangat, rasanya lebih bijaksana kalau kami menggunakan taksi atau tuktuk untuk sampai ke Wat Pho. Ada beberapa hal yang harus diingat jika pengunjung ingin menggunakan jasa moda transportasi yang dua ini. Jika ingin naik taksi, sebelum menaikinya tanyakan dulu apakah mereka menggunakan argo atau tidak. Jika ingin mencoba naik tuktuk, sebaiknya sebelum itu kita sudah bertanya dulu pada sesame turis atau pada orang lokal, berapa ongkos yang biasa dikenakan untuk jarak tempuh yang kita inginkan.
Seperti saya, sebelum berangkat memang sudah tanya ini itu pada orang-orang yang pernah dan baru saja kembali dari Thailand. Mereka bilang ongkos tuktuk dari Grand Palace ke Wat Pho kurang lebih 50 THB. Maka ketika kami menyetop sebuah tuktuk, dengan yakin gw langsung menawar ke harga 50 THB dari 80 THB yang diminta si supir. Belakangan, setelah tau bahwa jarak yang ditempuh sangat dekat *cuma lurus terus belok dua kali*, saya menyesal juga dengan ongkos 50 THB itu:mrgreen:

Turun tepat di depan Wat Pho, karena belum makan siang dan sulit menemukan benda yang bisa dimakan, kami mampir dulu ke tukang buah di pinggir jalan dan membeli seplastik semangka potong. Saat cuaca panas terik dan susah ketemu makanan, cara paling baik agar tubuh tidak tumbang adalah banyak makan buah dan minum air putih. Itulah kenapa selama di Bangkok, setiap melihat tukang buah bisa dipastikan saya dan Nyonya Besar akan mampir dan berhenti sejenak.

Selesai mengganjal perut dengan semangka, kami segera memasuki kompleks Wat Pho dan membeli tiket seharga 50 THB untuk satu orang pengunjung. Wat Pho memiliki nama resmi yang panjang dan susah diingat: Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhlaram Ratchaworamahawihan, namun lebih dikenal sebagai Wat Pho atau Temple of the Reclining Budha dimana didalamnya terdapat patung Budha yang tersenyum dalam posisi tidur sambil menopang kepala yang panjangnya mencapai 160 kaki atau hampir 50 meter dan tinggi 15 meter. Patung Budha ini terbuat dari bata, gips, dan lapisan emas. Di telapak kakinya terukir 108 lakshana atau lambing suci Budha yang terbuat dari mutiara. Di koridor sepanjang ruangan tempat patung Budha tersebut berada, terdapat 108 mangkuk perunggu. Banyak pengunjung menjatuhkan koin yang memang disediakan ke mangkuk-mangkuk tersebut karena dipercaya dapat membawa keberuntungan.
Wat Pho sendiri merupakan tempat asal lahirnya Thai massage yang terkenal, dan juga kuil terluas dan tertua di Thailand.
Untuk dapat berfoto dengan patung Budha tidur, pengunjung tidak bisa mendekat sesuka hati karena ada pembatas yang mengelilingi patung Sang Budha. Bahkan kita harus pintar dan berani mengambil giliran di spot yang kita inginkan, karena begitu banyaknya pengunjung yang juga ingin berfoto.

wat pho
wat pho 2

Tidak terlalu lama di Wat Pho, kami pun keluar dan menuju Wat Arun yang berada diseberang sungai. Untuk itu, setelah keluar dari Wat Pho, kami berjalan kaki melewati pasar ikan asin dan sampai di dermaga Tha Thien. Sempat membeli magnet kulkas untuk menambah koleksi, kami akhirnya menaiki perahu menyeberangi sungai Chao Phraya. Sama seperti sebelumnya, di atas perahu sang kondektur menagih ongkos sebesar 3 THB per orang.

towards wat arun
towards wat arun 2
towards wat arun 3

Di dermaga seberang, kami disambut oleh foto sang Raja berukuran besar. Tak perlu kaget, rakyat Thailand sangat mencintai Sang Raja. Potret Sang Raja dalam pose-posenya yang mengukuhkan wibawanya tersebar di mana-mana.

Tak perlu berjalan jauh, Wat Arun sudah berada di depan mata.
Walaupun Wat Arun merupakan kuil budha, namun nama Wat Arun sendiri berasal dari nama dewa Fajar dalam agama Hindu, yaitu Aruna, sehingga dikenal juga sebagai Temple Of The Dawn. Berkebalikan dengan namanya sebagai Kuil Sang Fajar, menurut kisah Wat Arun justru paling cantik dilihat saat matahari terbenam.
Pengunjung harus merogoh kocek 50 THB per orang jika ingin memasuki kompleks kuil. Saya bertanya apakah Nyonya Besar ingin masuk atau tidak, dan beliau menjawab tidak. Mungkin sudah terlalu capek terus menerus berjalan sejak pagi. Akhirnya kami hanya berkeliling di sekitar Wat Arun, melihat-lihat kios-kios souvenir yang ada. Salah satunya menawarkan penyewaan baju tradisional Thailand seharga 10 THB per orang.

wat arun
wat arun 2
the great king

Mengingat sudah pukul setengah tiga dan kami belum shalat, saya pun bertanya pada beberapa pedagang tentang cara menuju Masjid Tonson. Seorang turis asal Indonesia yang kebetulan saya tanya juga, bersikeras bahwa di sekitar Wat Arun tidak ada masjid. Sementara saya kukuh pada pendapat saya bahwa ada masjid di dekat sana. Pendapat ini saya dasarkan pada informasi yang saya dapatkan dari situs resmi wisata Thailand. Hanya saya agak bingung bagaimana menuju ke masjid tersebut, melihat sepertinya tidak ada jalan keluar ke arah belakang Wat Arun.
Para pedagang tampaknya mengerti pertanyaan saya. Mereka berlomba-lomba menggambarkan arah menuju Masjid Tonson. Sayangnya, mereka menggunakan bahasa Thailand, dan saya tidak mengerti sepatah katapun yang mereka katakan. Saya hanya bisa mengangguk-angguk sambil tersenyum dan mengatakan terima kasih berkali-kali.

Saya tau, Masjid Tonson yang saya cari berada di Arun Amarin Road, tepatnya dibawah jembatan Anuthin Sawat. Tapi Arun Amarin Road itu di manaaa??? Dan gimana caranya ke sana?

Karena Nyonya Besar sudah mulai lelah, Nyonya Besar pun saya tinggalkan di sebuah kios kecil di sebelah Wat Arun. Sementara Nyonya Besar beristirahat sambil menyeruput kopi, saya berjalan tanpa tau arah, mencari-cari bagaimana supaya bisa sampai ke Arun Amarin Road. Baru setelah saya berhasil menemukan arah dan jalan yang dicari, saya kembali ke kedai kopi tempat Nyonya Besar menunggu.

on the way to masjid tonson
masjid tonson

Berjalan kaki sekitar 10 menit, akhirnya kami sampai juga di masjid yang kami maksud. Masjid Tonson adalah masjid tua yang dibangun pada masa Ayutthaya di tahun 1688, tepatnya di masa pemerintahan King Narai the Great. Pada awalnya, Masjid Tonson dinamakan Kudai Yai yang merupakan singkatan dari Kudi Bangkok Yai. Saat ini, bangunannya terlihat sederhana, jauh berbeda dengan kuil-kuil yang megah yang kami kunjungi sebelumnya. Tak ada adzan yang menandakan masuknya waktu shalat, hanya ada jam digital yang menginformasikan jadwal shalat harian. Saya dan Nyonya Besar menunaikan shalat dzuhur dan asar di sana. Setelah itu, kami segera kembali ke dermaga Wat Arun. Menyeberang ke Tha Thien pier, melanjutkan ke Central Pier, dan kembali ke hotel.

***
Selepas maghrib, kami kembali berpetualang. Melirik itinerary, ini saatnya ke Platinum Fashion Mall, sekalian cari makan malam. Maka dari BTS Ekkamai, kami pun menuju BTS Ratchathewi yang sama-sama ada di Sukhumvit Line. Karena salah membaca peta, kami sempat hampir nyasar setelah turun di stasiun Ratchathewi. Akhirnya diputuskan untuk naik taksi ke mall tujuan. Oya, menyebut Platinum jangan dalam English spelling ya, Platinum should be spelled ‘Platinam’ when you talked to locals, otherwise they wouldn’t understand.

Karena lapar, dan saya tau betul bahwa kalau lapar saya suka lupa diri, maka saya dan Nyonya Besar memutuskan untuk makan terlebih dahulu baru nge-mall. Dan atas alasan rasa yang seharusnya jelas *yakan world wide restaurant ya bok* dan kehalalan *yang sebenarnya gak terlalu jelas juga*, kami pun memilih McDonalds. Karena kelaparan belum ketemu makan berat sejak pagi, saya pesan makanan udah kalap banget. Pas udah terhidang semua baru deh nyadar gak sanggup menghabiskan semua. Akhirnya yang dimakan ditempat cuma Fillet O’Fish-nya, sementara Fried Fries-nya dibungkus bawa pulang.

Selesai makan, langsung masuk mall, terus bengong. Ini kok pada tutup semua tokonyaaa???
Lirik jam, baru juga jam setengah delapan malam. Kenapa udah sepi begini???
Ternyata… Platinum Fashion Mall itu tutup jam 7 malem, sodara-sodara. Baiklah, dengan penuh keyakinan, saya dan Nyonya Besar pun bertekad, kami harus kembali ke sini esok hari!
Sebagai ganti gagal nge-mall di Platinum, kami pun mendatangi Big C. Big C itu semacam hypermarket yang menjual tidak hanya makanan maupun groceries, tapi juga apparel things. Karena trauma dengan Platinum, sebelum masuk Big C kami bertanya pada petugasnya, ini mall tutup jam berapa? Ya kan takut kekunci di dalem ya kakak…
Dan petugasnya menjawab dengan yakin, “we close at midnight.” Okesip. Aman. Baru juga jam delapan lewat.

Saya dan Nyonya Besar langsung ke bagian makanan. Niatnya mau cari oleh-oleh buat orang-orang di tanah air, termasuk buat orang-orang-yang-harus-dikasih-oleh-oleh-karena-kalo-gak-ngasih-bakal-dinyinyirin-dan-diomongin-macem-macem, jadi atas dasar nama baik dan reputasi, saya taruhlah beberapa jenis makanan ke dalam keranjang belanja.
Big C ini termasuk lengkap, mulai dari cemilan biasa baik yang lokal maupun impor, sampe segala jenis manisan dari buah yang dikeringkan ala Thailand, juga ada. Mau manisan apa? Paling standar itu manisan pepaya dan mangga, tapi kalo suka yang agak bule-bule gitu jenis buahnya juga ada. Kiwi, apricot, bahkan persima yang dijadikan manisan juga ada. Kalo manisan duren gimana?
Lupa-lupa inget apakah ada duren yang diolah jadi manisan atau gak, tapi yang jelas kalo duren sih ketemunya dalam dua wujud. Wujud keripik, yang bentuknya kayak brem tapi beraroma dan berasa duren. Wujud sebenarnya, alias masih dalam bentuk buahnya yang asli. Nah yang terakhir ini kami ketemu di depan Big C. Kami beli buat cemilan di hotel. Mungkin kurang beruntung, tapi duren yang kami beli itu rasanya biasa aja. Masih lebih gemuk dan manis surgawi duren yang biasa Mr. Babeh beli di giant deket rumah:mrgreen:

Sebenarnya saya juga penasaran dengan snack semacam pocky tapi dalam ukuran super jumbo yang dibawa oleh orang kantor yang baru saja pulang plesir dari Bangkok. Sudah lumayan diniatkan juga mau beli itu, tapi kok ya sampe saya blusukan ke seluruh gerai makanan yang ada di Big C ini, bahkan di Big C dekat hotel dan juga di Tesco, si pocky jumbo teteup gak keliatan batang idungnya. Ya udah lah, mungkin emang belom jodoh sama si pocky jumbo, jadinya cukup memuaskan diri dengan manisan-manisan buah-buahan.
Dan sesuai namanya, setelah dicoba setibanya di tanah air beta, manisan ini super duper manis! Apalagi yang pepaya. Duh! Abis ngunyah dikit gigi aye langsung ngilu-ngilu:mrgreen:
Kalo gak suka yang manis-manis tapi teteup pengen nyoba manisan, mungkin bisa dipilih buah yang rasa aslinya memang ada kecut-kecutnya kayak apricot atau jeruk atau mangga.

Selesai menimbun manisan di Big C, kami berencana mau muter-muter bentar, window shopping gitu lho ceritanya. Etapi etapi, kok para mas dan mbak ataupun mbakmas udah mulai sibuk beres-beresin gerai masing-masing sih? Katanya tutupnya mitnait, emangnya sekarang udah mitnait, apa? Perasaan blanja-blenji kitorang gak lama-lama banget deh.
Ya emang gak lama, kakak. Tapi sekarang udah jam sembilan malem. Oh gitu… saya baru ngeh bahwa ketika mereka nyebut mitnait, maka jam sembilan malem itu udah dianggap mitnait. Kalo gitu jam 12 malem disebutnya apa dong? Subuh?
Bergegas keluar dari Big C, setelah transaksi duren kami pun menghampiri taksi yang mangkal. Seperti biasa, tanya dulu pake argo atau gak. Abang supir berambut gondrong menjelaskan, bahwa depan Big C gak ada taksi yang pake argo. Baiklah. Saya dan Nyonya Besar pun berjalan sedikit supaya melewati Big C. Dan bener aja, padahal paling cuma beda selangkah dari dinding Big C, tapi taksi yang kami gapai-gapai mau pake argo. Ihiy keren! Supir taksinya disiplin sekali ya!
Selanjutnya, kami turun di BTS Chitlom, dan dari situ nyambung ke BTS Ekkamai dengan menggunakan BTS.

Pengeluaran dalam THB:
.tuktuk dari Grand Palace ke Wat Pho 50
.semangka potong seplastik 20
.entry ticket to Wat Pho 50/person
.magnet kulkas 100/3 pieces
.nyebrang ke Wat Arun pp 6/person
.ngopi di Wat Arun 50/person
.ongkos perahu Tha Thien pier ke Central Pier 15/person
.BTS Saphan Taksin ke BTS Ekkamai 40/person
.butter cake at BTS Ekkamai 25
.BTS Ekkamai ke BTS Ratchathewi 35/person
.taksi argo ke Platinum 50
.dinner at McDonalds 316
.belanja makanan oleh-oleh di Big C 1460
.duren di depan Big C 100
.taksi argo ke BTS Chitlom 40
.BTS Chitlom ke BTS Ekkamai 30/person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s