Sawatdee Kaa: Vimanmek Mansion, Ananta Samakhom Throne Hall, Platinum Fashion Mall, Siam Discovery & Siam Paragon

7 Mei 2013, hari ketiga di Bangkok.
Kalo melirik itinerary *yang selalu, selalu saya bikin secara ambisius* tempat pertama yang ingin kami kunjungi adalah Erawan Museum. Jadi dari BTS Ekkamai naik yang jurusan akhir di BTS Bearing, turun di BTS On Nut yang cuma berbeda dua stasiun dari Ekkamai. Dari BTS On Nut, nyambung lagi naik taksi atau bus. Tapi ya tapiiiii… rencana tinggal rencana. Saya yang bikin itinerary, Nyonya Besar yang menentukan:mrgreen:

Mengingat, pertama, masih banyak tempat yang ingin kami kunjungi dan bahkan berdasarkan pengalaman hari-hari sebelumnya, gak ada satu pun hari yang sukses dijalani stick to the itinerary dalam arti pasti ada yang gak berhasil dikunjungi; kedua, belum ada satu mall pun yang kami khatamkan sementara hasrat kewanitaan meletup-letup belum tersalurkan.
Menimbang, pertama, kami punya tiket terusan Grand Palace yang bisa digunakan untuk memasuki Vimanmek Mansion, sementara kalo mau masuk Erawan Museum itu harus beli tiket lagi seharga 150 THB; kedua, waktu yang kami miliki semakin sempit untuk bisa mengunjungi semua tempat yang ada di daftar dan untuk bisa menikmatinya; ketiga, walaupun saya termasuk banci museum, tapi tak bisa dipungkiri juga kalau saya udah kepengen banget ngubek-ngubek mall dan beli-beli ini-itu ina-anu sesuatu buat diri sendiri dan Nyonya Besar *Nyonya Besar udah mulai bosen juga sama all historical thingy*
Maka kami memutuskan untuk skip aja deh Erawan Museum dan langsung ke Vimanmek Mansion. Oke, mari kita berangkat!

Pertama-tama, dari stasiun Ekkamai naik BTS Sukhumvit Line yang tujuan akhirnya di stasiun Mo Chit. Turun di BTS Victory Monument. Gampang, dalam sekejap kami pun udah turun dari BTS, keluar di exit 3, dan membaca petunjuk selanjutnya. Menurut info yang saya kumpulkan, setelah keluar dari exit 3, kita tinggal berjalan ke Rajavithee Road dan melanjutkan perjalanan dengan taksi atau bus nomor 515, 539, 28, atau 108. Permasalahan dimulai di sini.
Pertama, Rajavithee Road itu di mana kah? Setelah menuruni tangga keluar stasiun, kami harus berjalan ke arah kiri, atau kanan, atau menyebrang, atau duduk manis saja di halte menunggu bus lewat?
Permasalahan terselesaikan dengan bertanya pada penduduk lokal yang ada di sekitar halte. Seharusnya sih begitu ya kakak… tapi orang lokal yang kami tanyai pun menggeleng tidak tahu ketika saya bertanya tentang Rajavithee Road. Ketidaktahuan yang saya curigai karena mereka tidak paham bahasa inggris.
Akhirnya kami berjalan sedikit dan ketemu satu jalan yang ada banyak sekali orang, disitu ada penjual-penjual makanan kaki lima dan tentu ada pembeli-pembelinya dong. Jadi saya bertanya lagi pada mereka-mereka itu. Dan tetep gak ada yang tau! Mereka malah kebingungan dengan nama Rajavithee Road. Doh! Udah mulai mengesalkan nih *tarik nafas* *sabar, sabar*

Kami pun berjalan lagi dan ketemu satu persimpangan jalan seperti bunderan HI di Jakarta. Di tengah-tengah jalan ada satu bangunan semacam monumen yang didepannya, seperti biasa, ada foto Sang Raja. Dipinggir jalan ada beberapa taksi mangkal dan bus-bus yang ngetem nunggu penumpang. Saya lihat nomor bus-bus tersebut. 515, 539, 28, 108… huaaaaahhh… akhirnya ketemu juga! *menghembuskan nafas* *lega*
Ternyata bangunan menyerupai monumen itu adalah Victory Monument. Victory Monument adalah monumen militer yang dibangun pada Juni 1941 dalam bentuk tugu obelisk untuk memperingati kemenangan Thailand dalam perang melawan Perancis yang saat itu menjajah Indocina. Dan persimpangan jalan itu adalah persimpangan tiga jalan protokol di daerah tersebut, yaitu Phahonyothin Road, Phaya Thai Road, dan Ratchawithi Road.

victory monument

Balik lagi ke pembahasan sebelumnya, jadi gimana caranya ke Vimanmek Mansion?
Setelah turun di BTS Victory Monument dan keluar di exit 3, turun tangga, langsung aja berbalik ke kanan, jalan lurus terus sampe ketemu persimpangan jalan yang ada Victory Monument.
Dari situ, terserah mau naik taksi atau mau naik bus. Kalau saya sih pilih naik taksi karena khawatir kesasar kalo naik bus dan karena bisa ngadem di dalam taksi yang ber-AC. Tampilan bus-busnya sendiri mirip-mirip PPD atau mayasari bakti.

Pas buka pintu taksi dan melakukan ritual bertanya-pake-argo-atau-tidak, kami menyebutkan tujuan. Karena beberapa kali saya menyebutkan Vimanmek Mansion dan pak supir tampak kebingungan, akhirnya sayapun menyebut Ananta Samakhom Throne Hall sebagai tujuan, karena dalam pikiran saya, Vimanmek Mansion dan Ananta Samakhom itu tetanggaan.

Selama perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 menit itu kami memperhatikan, dan akhirnya mengetahui bahwa Rajavithee Road ditulis sebagai Ratchawithi Road dalam penulisan alphabet dan ini mengikuti pelafazan penduduk lokal. Ratchawithi Road itu sendiri merupakan jalan raya yang utama yang di sisi kanan kirinya banyak terdapat bangunan-bangunan yang berhubungan dengan kesehatan, mulai dari fakultas kedokteran sampai rumah sakit.

Taksi berbelok ke kiri memasuki jalan besar yang teduh karena pohon rindang di kedua sisi jalan dan tidak dilewati angkutan umum dan berhenti di depan sebuah gedung bergaya barat dengan cat putih. Setelah turun dan membayar 55 THB, kami menghampiri penjaga gerbang yang tampak masih sangat muda. Dengan sigap si penjaga menegapkan tubuh dan merapatkan kaki, menempelkan jari-jari tangan kanannya ke pelipis kanannya, persis seperti saat kita menghormat bendera. Surprisingly, si penjaga gerbang bisa bercakap-cakap dalam bahasa inggris dengan cukup baik, paling tidak, jauh lebih baik dari orang-orang lokal yang selama ini kami temui.

Gedung putih yang menjulang megah bergaya barat itu ternyata Ananta Samakhom Throne Hall, namun saat itu baru pukul 8.30 pagi, dan gerbang Ananta Samakhom baru akan dibuka pukul 9.30.
Saya dan Nyonya Besar pun memutuskan untuk ke Vimanmek Mansion terlebih dahulu, yang menurut si penjaga hanya 10 menit berjalan kaki dari situ.
Kami pun berbalik arah, melewati Abhisek Dusit Throne Hall di sisi kiri jalan, kembali ke jalan raya yang dilewati angkutan umum, berbelok ke kiri, dan benar saja. Hanya salam waktu 10 menit kami sudah sampai di gerbang Vimanmek Mansion yang dikelilingi dinding tinggi bercat merah marun. Beberapa bus besar yang membawa wisatawan-wisatawan parkir dengan manis di halaman gedung. Kami memperhatikan, berbeda dengan Grand Palace dan kuil-kuil lainnya yang didatangi wisatawan dari berbagai suku bangsa, Vimanmek Mansion ini sepertinya dikunjungi oleh wisatawan-wisatawan berwajah oriental berusia separuh baya.

Karena memiliki tiket terusan, kami pun terhindar dari antrian panjang untuk membeli tiket.
Untuk memasuki Vimanmek Mansion, pengunjung harus berpenampilan sopan. Gak ada tuh pake kaos oblong tanpa lengan, rok mini, celana pendek, legging, atau pakaian-pakaian yang transparan. Penampilan yang ideal adalah mengenakan sarung panjang atau rok panjang dengan atasan berlengan yang tidak transparan. Saya saat itu tidak mengenakan legging, tapi sempat khawatir juga karena saya mengenakan tight jeans walaupun dipadu baju panjang sepanjang lutut. Untunglah, saya dan Nyonya Besar dinilai berpakaian pantas sehingga terbebas dari keharusan membeli pakaian-tambahan seharga 50 hingga 100 THB yang memang disediakan pengelola museum bagi pengunjung yang eksibisionis. Membeli? Iya lho, berpakaian kurang pantas akan berujung pada diharuskannya kita menutup tubuh mengenakan sarung yang disediakan pengelola, dan sarung itu bukan dipinjamkan tanpa biaya atau disewa terus kalo udah selesai duit kita bakal dibalikin. Gak begitu, kakak. Sarung itu harus dibeli. Cuaca Bangkok yang panas gerah menyengat membuat banyak pengunjung berpenampilan seadanya. Hal ini tentu membuat pengelola museum panen baht hasil penjualan sarung. Pinter banget kan strategi dagangnya?

vimanmek mansion 3

Setelah melewati urusan tiket dan pakaian, para pengunjung juga harus menitipkan tas dan segala barang bawaan lainnya di tempat khusus. Gak ada toleransi, semua harus masuk loker. Pokoknya kita gak boleh pegang apapun, kecuali paspor. Segala dompet, payung, kamera, apapun, semua harus masuk loker. Di dalam Vimanmek Mansion memang terlarang untuk berfoto ataupun mengambil gambar, pengunjung hanya bisa membuat kenangan didepan gedung. Pilihan loker pun ada dua. Loker kecil dihargai 10 THB, yang agak panjang tinggi dihargai 20 THB. Dan, lagi-lagi, ini bukan penyewaan loker. Kita ‘membeli jasa’ penyewaan loker. Koin baht yang kita masukkan untuk mengunci dan membuka loker masuk ke kas museum. Jenius!

Tangan udah kosong dari segala bawaan, kini waktunya berjalan ke tempat penyimpanan sepatu. Betul, masuk ke dalam Vimanmek Mansion tidak boleh mengenakan alas kaki. Setelah menyimpan sepatu di rak yang disediakan, kami pun mengantri untuk masuk ke dalam. Dari tempat penitipan sepatu hingga pintu masuk digelar karpet merah panjang, mungkin supaya kaki pengunjung tidak melepuh kepanasan dan tidak kotor. Tapi sayang, para petugas museum yang bersepatu dengan entengnya hilir mudik di atas karpet merah tersebut.

Tiba giliran kami untuk masuk, saya menunjukkan paspor bergambar garuda, memperlihatkan bahwa kami warga negara asing. Antrian antara warga Thailand dan warga asing memang dibedakan.
Kami kembali digeledah, memastikan kalau-kalau ada barang yang tertinggal dibadan. Dan… ternyata Nyonya Besar masih mengantungi hape. Sabar, sabar… saya pun duduk menunggu sambil memperhatikan antrian yang sedang diperiksa, sementara Nyonya Besar bergegas ke tempat penitipan barang.
Setelah Nyonya Besar kembali, kami pun diperbolehkan masuk.

Vimanmek Mansion, dikenal juga dengan nama Vimanmek Palace, dibangun tahun 1900 oleh Raja Rama V atau yang dikenal juga dengan nama Chulalongkorn, salah satu raja paling dicintai dari dinasti Chakri. Raja Rama V dikenal sebagai raja yang membawa modernisasi kepada Thailand dan mempertahankan Thailand sebagai negara yang tidak pernah dijajah. Konon, Raja Rama V membangun istana ini setelah terinspirasi dari kunjungan-kunjungannya ke banyak istana-istana kerajaan. Vimanmek Mansion dibuat dari kayu teak, dan diklaim sebagai mansion terbesar yang terbuat dari kayu teak yang disepuh warna keemasan. Mansion ini digunakan sebagai istana kerajaan oleh Raja Rama V selama lima tahun.
Pada tahun 1982, atas prakarsa Ratu Sirikit bangunan ini digunakan sebagai museum untuk memperingati Raja Rama V dengan menampilkan segala hal yang terkait dengan beliau, mulai dari masa kecil hingga keturunan Sang Raja.
Pengunjung tidak diperbolehkan naik hingga ke lantai paling atas, dan ada beberapa ruangan yang tidak boleh dimasuki, seperti kamar tidur, ruang keluarga, ataupun ruang makan. Pengunjung hanya bisa melihat dari pintu yang dibatasi rantai.
Sayang, pengunjung dilarang berfoto dan saya pun lupa mencatat hal-hal yang saya lihat dan baca disana, saking asyiknya menikmati museum berlantai kayu yang terawat baik ini. Lebih disayangkan pula, banyak foto-foto yang tidak menampilkan keterangan peristiwa, atau menampilkan keterangan hanya dalam bahasa Thailand, atau lempengan perunggu yang berisikan keterangan sudah agak memudar sepuhannya. Petugas yang berjaga didalamnya pun tidak membantu. Ketika saya menanyakan sesuatu terkait foto hitam putih yang saya lihat, dimana di dalam foto tersebut disebutkan Sang Raja yang sedang mengunjungi sultan di sebuah daerah di Indonesia pada awal abad 20, si petugas hanya tersenyum tersipu dan menggeleng tidak tahu.
Satu foto yang saya ingat adalah foto yang menampilkan 15 orang saudara perempuan Raja Chulalongkorn, tentu dengan gaya rambut yang sangat khas Thai, pendek licin mengkilap yang dikenal dengan nama ‘dok krathum’ atau ‘close crop hair style’.

vimanmek mansion
vimanmek mansion 2

Setelah menyelesaikan kunjungan ke Vimanmek Mansion dan membeli dua kotak susu rasa pisang yang dijual di toko disamping tempat penitipan barang, dengan mengikuti petunjuk kamipun menuju Ananta Samakhom Throne Hall. Dan barulah kami menyadari, bahwa Vimanmek Mansion dan Ananta Samakhom berada di dalam kompleks yang sama. Setelah melewati Abhisek Dusit Throne Hall, kamipun sampai di bagian belakang Ananta Samakhom.

abishek
Abhisek Dusit Throne Hall – katanya sih ini museum handicraft Thailand. Tapi museum ini tampak sepi sekali. Saat kami melewatinya, tidak terlihat pengunjung seorang pun. Hanya ada tukang kebun yang sedang menyiram tanaman.

ananta samakhon
ananta samakhon 2
Ananta Samakhom Throne Hall – selesai dibangun tahun 1915, dirancang dalam paduan gaya renaisan dan neo klasik oleh arsitek Italia.

Jam sudah menunjukkan pukul 11, dan kami pun entah kenapa merasa cukup dengan museum-museum dan akhirnya hanya berfoto didepannya saja. Gak pake lama, kami langsung menyetop taksi dan, “Platinam ya Pak!”

***
Selain sebagai banci museum, banci foto, dan banci Mr. Engineer *eh*, I consider myself as banci aksesoris. Kalo ketemu yang lucu-lucu, apalagi dengan affordable price, bawaannya udah gatel pengen ngeborong, gak peduli butuh atau gak, punya baju yang metcing atau gak. Impulsif banget.
Nah, berdasarkan petuah orang kantor yang baru balik dari Krung Thep, Platinum Fashion Mall itu surganya aksesoris murah meriah cantik lucu menarik penggoda iman, terutama yang imannya lemah kayak saya. Dia bahkan bilang kalo dia lebih kalap di Platinum daripada di Chatuchak. Kedengerannya promising banget kan si Platinum ini?
Rasa penasaran makin bertambah karena malam sebelumnya kami cuma kebagian melihat kios-kios yang udah tutup aja. Maka begitu turun dari taksi dan disambut hembusan hawa sejuk dari AC di dalam mall, saya dan Nyonya Besar makin gegap gempita gak sabar pengen membuktikan kebenaran cerita-cerita tersebut.

Daaann… cerita-cerita itu sungguh benar adanya. Baru kios pertama aja saya udah kalang kabut kegirangan melihat aksesoris yang memang lucu dan menarik. Menahan diri, saya pun memilih untuk melihat-lihat dulu. Ternyataaaaa… makin ke atas makin bagus-bagus aja lho kakak!!! Bingung, bingung deh! Apalagi, seringnya toko-toko itu menjual barang yang berbeda dengan toko lain. Jadi kalo udah naksir satu benda, ada baiknya kalo langsung dieksekusi:mrgreen:
Contohnya, Nyonya Besar naksir berat sama kalung kupu-kupu. Dengan alasan membandingkan harga, kamipun keliling. Sampe ke lantai paling atas, gak ketemu lagi tuh si kalung kupu-kupu. Alhasil, balik lagi deh ke toko tersebut.
Selain itu, di Platinum barang-barang dijual dengan harga retail dan grosir. Beli dua barang di kios yang sama, udah dapet harga grosir. Dan asyiknya, dua barang yang berbeda itu boleh beda jenis. Misalnya, beli satu gelang dan satu kalung, boleh! Kalap kan? Brilian strategi dagangnya.
Pada satu barang akan tertera dua harga. Misalnya untuk sepasang anting tertulis angka 180 250. Itu artinya, kalo kita beli hanya anting itu, kita kena harga retail 250 THB. Tapi kalo kita beli barang kedua, katakanlah beli kalung, kita akan kena harga grosir untuk si anting, yaitu 180 THB. Dan beda harga retail dengan harga grosir itu kadang jauh juga. Atas dasar penghematan, akhirnya pembeli malah beli minimal dua barang, walaupun mungkin yang disuka hanya barang yang pertama. Sialan banget deh Platinum!😆

Dan yang lucu-lucu dan gak ada duanya di toko lain itu gak cuma aksesoris, tapi juga pakaian, termasuk pakaian anak-anak. Ih beneran deh, yang punya bayi atau anak kecil bisa bingung banget saking lucu dan murahnya pakaian-pakaian di sini. Apalagi, murahnya harga tetap diimbangi dengan kualitas jahitan yang cukup baik. Aaahh top banget deh pokoknya! Gak heran kalo banyak pemilik online shop belanja abis-abisan di Platinum. Emang unik dan murah sih!

platinum treasure

Sekitar pukul tiga, kami beranjak ke food court untuk makan siang yang terlambat. Karena gak yakin dengan kehalalan makanan, akhirnya kami memutuskan untuk makan KFC. Saat mengantri, saya sempat bercakap-cakap dengan seorang ibu berjilbab yang ternyata juga dari Indonesia. Dia menyarankan untuk lebih memilih KFC daripada McD, karena KFC menghidangkan hanya daging ayam, sementara McD masih menjual burger dari daging babi. Dari ibu tersebut saya juga tau bahwa di Platinum ada musala, di lantai 2 dan lantai 5.

Beberapa menu ayam yang dimiliki oleh KFC diolah dengan menyesuaikan dengan cita rasa khas Thailand. Itulah yang kami pesan. Ternyata kami kurang cocok dengan asam pedas dan segar ala Thailand, juga dengan daun-daunan sejenis daun mint yang selalu menyertai setiap menu. Kami kembali pada resep orisinil KFC dalam acara makan-makan berikutnya.

Setelah makan siang dan mengelilingi Platinum sekali lagi, Nyonya Besar mengusulkan agar kami shalat di KBRI. Dalam perjalanan dengan taksi dari Ananta Samakhom ke Platinum kami memang melewati KBRI. Maka keluar dari Platinum, kami pun berjalan ke kiri, dan kurang dari 10 menit, kami sudah sampai di depan gerbang kedutaan. Sambil menunjukkan paspor, kami berkata bahwa kami ingin menumpang masjid untuk shalat. Satpam berkebangsaan Thailand menjawab dengan gaya yang cukup menyebalkan, “Today is not Friday!” cetusnya. Setelah lobi-lobi sedikit, kami diperbolehkan masuk. Kebetulan ada beberapa remaja Indonesia yang akan keluar, si satpam pun menitipkan kami pada mereka, dan mereka menunjukkan masjid pada kami.

Didalam kompleks KBRI ada sekolah mulai dari TK hingga SMA. Pramuka pun ada. Lapangan bola juga ada. Sebelum meninggalkan kedutaan, saya menyempatkan diri memotret Nyonya Besar di depan kedutaan.

our extra territorial
our embassy

***
Dari kedutaan, kami menuju kompleks perbelanjaan berikutnya. Siam Paragon dan Siam Discovery. Sesuai petunjuk dari seorang karyawan kedutaan yang ketemu saat salat, tak perlu naik taksi jika ingin ke dua mall itu. Cukup 10 menit jalan kaki dari kedutaan ke arah kiri, ada seven eleven, masuk ke jalan kecil disebelah seven eleven tersebut. Jalan terus, nanti disebelah kanan ada Bangkok Apartment. Masih jalan lurus sedikit, nanti ada semacam pos penjaga. Di situ ada semacam shuttle bus untuk orang-orang yang ingin ke Siam Paragon. Gak setiap saat ada, ada jadwal-jadwalnya juga. Kebetulan saat kami sampai, shuttle bus-nya sudah tersedia.

Kami hanya melihat-lihat saja di Siam Paragon. Maklumlah, ini mall kelas elit kaum sosialita. Kami hanya numpang duduk melemaskan kaki sambil minum Pearl Pudding Tea di kios Orange Tea. Dingin dan manisnya sungguh pas menyegarkan kerongkongan yang dahaga.
Dari Siam Paragon kami berjalan ke Siam Discovery, dan kembali hanya melihat-lihat. Memang di lantai 6 Siam Discovery ada Madame Tussauds, tapi kami merasa sayang harus mengeluarkan uang sebesar sekitar 800 baht hanya untuk melihat patung lilin dalam ruangan yang tidak terlalu luas. Nanti ajalah melihat Madame Tussauds yang di Hong Kong ya *aamiin*

Boneka lilin kayak gini tersebar di beberapa titik di Siam Discovery, jadi kalo mau foto sama patung lilin tapi males keluar duit, patung gratisan yang mejeng di sudut-sudut tertentu seperti ini bisa dimanfaatkan.

madame tussaud

Tapi yang agak ganggu nih ya, di petunjuk arah di sepanjang Siam Discovery itu, masa’ Madame Tussauds ditulisnya jadi Madame Tussuads?!
Duh! Rasanya kok gimana gitu yaaa…

Selesai ngibing-ngibing cikibung-cikibung di Siam Paragon, Siam Discovery, dan Siam Center, saya dan Nyonya Besar pun untuk mengakhiri hari dengan makan malam di KFC *lagi* dan kembali ke haribaan hotel, bersamaan dengan hampir berakhirnya jam operasional mall-mall tersebut.
malls

Pengeluaran dalam THB:
.BTS Ekkamai – BTS Victory Monument 40/person
.Waffle buat sarapan di BTS Victory Monument 50/3 pieces
.Taksi ke Ananta Samakhom 55
.Loker di Vimanmek Mansion 20/person
.Banana milk di Vimanmek Mansion 15/box
.Taksi ke Platinum 70
.Lunch KFC at Platinum 210/2 persons
.Iced mocca black canyon at Platinum 80/cup
.Pearl pudding tea at Siam Paragon 50/cup
.Dinner KFC at Siam Paragon 237/2 persons
.BTS Siam – BTS Ekkamai 30/person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s