Calon Manten Jadi Mantan!

*lap keringet*


..
.
.
.
.
.
Buktinya bisa dilihat pada foto dibawah ini.

cium cium cium
Pasangan pengantin yang *tampak* malu-malu | Lama-lama *mungkin* malu-maluin😆😆😆

Yeeeeeeesssss sidang pembaca yang terhormat, terhitung sejak Sabtu, 26 Oktober, yang lalu, Calon Manten RESMI jadi MANTAN. Mantan Calon Manten, maksudnya… alias jadi penganten beneran. Jadi ratu sehari, dengan kebaya panjang berjuntai-juntai menyapu lantai, dengan blink-blink keemasan, dengan bulu mata palsu yang memberatkan mata, dengan long torso yang menyesakkan dada tapi penting demi mendapatkan perut rata, pinggang ramping dan pinggul bagai gitar spanyol.
Calon Manten is finally A BRIDE FOR REAL! *tabuh gendang* *tebar confetti*

***
Jumat malam, gw terbirit-birit ke bandara demi mengejar pesawat yang akan membawa gw kembali ke Jakarta. Lho, ini kok tiba-tiba ganti topik? Nggak juga sih, ceritanya gw mau berkisah dulu perjuangan gw untuk bisa menghadiri akad nikah si Mantan yang digelar pagi-pagi hampir pagi buta.
Kenapa gw bilang hampir pagi buta, karena menurut run down kan akad akan dimulai pukul 8 pagi, tapi karena kesibukan bapak penghulu kita yang terhurmat, doi meminta agar mempelai bersiap di garis depan sejak pukul 7 pagi😮 *tepuk tangan untuk pak penghulu*

Oke, kembali ke masalah hidup gw, singkat cerita gw pun ALHAMDULILLAAH berhasil mengejar pesawat menuju Jakarta. Malah pesawatnya pake acara delay setengah jam, lumayan bagus mungkin ya untuk maskapai yang terkenal dengan semboyan ‘Late Is Our Nature’😆
Gara-gara Garuda Indonesia gak ada jadwal penerbangan yang cukup malam, jadilah gw menggunakan maskapai itu… untuk pertama kalinya.

Penerbangan hampir satu jam itu gw isi dengan tidur, terbangun karena benturan keras roda pesawat dengan landasan saat pendaratan yang tidak terlalu mulus, dan dilanjutkan tidur sebenar-benarnya di rumah. Subuh-subuh gw bangun, dandan secantik yang gw bisa dengan kosmetik seadanya *you know… moisturizer, BB cream, loose powder, compact powder, blush on dan sedikit lip balm*, dan rame-rame nebeng Pichu menuju gedung dilangsungkannya akad dan resepsi.

***
Beberapa bulan sebelum acara, si Mantan memberikan kami masing-masing sebuah kaftan mini warna magenta untuk dipakai sebagai seragam. Untuk bawahannya, kami sepakat untuk menggunakan bahan berwarna krem keemasan pilihan Adedi yang kami beli di Mayestik.

Sabtu pagi itu, sekitar pukul 7, dengan berseragam kaftan magenta kami berkumpul di ruang rias pengantin, namun tidak bertahan lama karena ruangan sungguh gerah. Rupanya AC mati. Kami pun keluar ruangan, duduk-duduk menunggu segalanya siap.

manten sendu dari samping
manten sendu
Ini manten mukanya kok sendu banget? Colek nih *eh*

***
Menjelang pukul 8, semakin banyak orang berkumpul di sekitar meja akad. Sebagian lagi duduk di bawah tenda, atau di kursi-kursi di taman. Acaranya memang diadakan semi-outdoor.
Prosesi akad dimulai dengan petuah-petuah dari pak penghulu. Abah *ayahnya si Mantan* duduk berhadapan dengan calon suami si Mantan, sementara ibunya duduk di barisan depan para hadirin. Tak lama, Abah mendatangi ruang rias pengantin. Melalui pengeras suara, kami mendengar si Mantan meminta maaf dan izin untuk menikah.

Abah kembali ke tempatnya, dan sejurus kemudian, ijab kabul dilaksanakan dengan lancar, dalam satu kali tarikan nafas, tanpa pengulangan. Gw membayangkan si Mantan sedang jungkir balik di ruang rias.

Pak suami pun menjemput si Mantan di ruang rias. Setelah mereka berdua duduk dihadapan Abah, pak penghulu, dan para saksi, prosesi standar kembali dijalankan. Nasihat perkawinan dari pak penghulu, tandatangan para saksi, tandatangan buku nikah, pemberian mahar, pasang cincin, dan tentunyaaa… ciuman pertama *di dahi, maksud gw*:mrgreen:

Prosesi ijab kabul dilanjutkan dengan prosesi adat Sunda, yang rasanya berlangsung lamaaaaa sekali saking bersemangatnya sang pembawa acara. Saking lamanya, sampa-sampai seolah-olah ada dua acara saat itu. Pasangan pengantin sibuk dengan prosesi adat, sementara para hadirin hadirot sibuk sendiri-sendiri, entah menyantap hidangan yang disediakan atau mengobrol.
Sayangnya batere kamera gw habis total tepat setelah selesainya ijab kabul, maka gw pun termasuk ke dalam golongan hadirin yang ramai berceloteh.

mahar
tandatangan
gagah
pasang cincin
Look at the third image, itu mantennya gagah bener yak duduknya:mrgreen:

***
Gw, Pichu, Adedi, Teteh, Dinah, dan Dede pun melipir mencari pojokan adem dan spot oke yang enak buat ngobrol dan pepotoan, sementara pasangan suami istri paling gres berganti baju. Beberapa saat kemudian Nina dan Fathar tiba, dan segera bergabung dengan kami.
Sekitar pukul 11, kami kembali ke tengah-tengah acara karena terdengar kabar burung bahwa mempelai akan segera tiba.

Suasana sudah sangat meriah dan udara siang itu juga sungguh cerah dan gerah, ketika akhirnya sang bintang lapangan dengan berbusana paduan krem keemasan dan merah, muncul dengan menggunakan becak.
Dan kembali dilanjutkan dengan prosesi adat.

Karena beberapa alasan, gw pun undur diri, mohon pamit pada si Mantan tidak bisa menghadiri acara hingga selesai.

the bride and the groom
Kepada si Mantan dan Pak Suami,

Barakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair
“Semoga Allah memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis, dan semoga Allah (tetap) memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara), dan semoga Dia (Allah) mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.

Akhirul kalam, semoga hanimumun di pulau dewata dapat mendatangkan hasil yang diharapkan ya boookk…😆:mrgreen:😆

fine ladies
Love,
The Ladies in Line *penting ya bok ditulis*😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s