[Snapshots] Palembang

dinner dan pempek
Jalan-jalan ke Palembang tanpa membawa pempek saat kembali ke rumah itu bagaikan sayur kurang garam:mrgreen:

***
Ini kali ketiga gw mengikuti Forum Nasional Legal Officer setelah tahun 2011 gw ikuti di Batam dan tahun 2012 yang diadakan di Bali. Untuk tahun ini, ajang reuni para legal officer diadakan di Palembang. Agak lain dari tahun-tahun sebelumnya dimana Forum diadakan di bulan November, kali ini Forum diadakan di bulan Oktober.
Gw mendapatkan undangan Forum sekitar satu bulan sebelumnya, melalui email blast dari legal kantor pusat. Sementara menunggu disposisi turun dari si Papih, gw udah semangat browsing tiket ke Palembang, dan langsung bujuk-bujuk Pak AP, legal-nya tetangga, untuk ambil penerbangan pagi dari Jakarta. Sebenarnya sih ada penerbangan langsung dari Bandung ke Palembang. Tapi gw agak ragu sama maskapai yang mengoperasikannya, gara-gara pernah rekan kerja batal kunjungan ke tempat debitur gara-gara si pesawat tiba-tiba gagal terbang.

Begitu disposisi keluar, gw langsung pesen tiket. Dapat Garuda untuk penerbangan pukul 7:30, dan menurut jadwal akan mendarat di Palembang pukul 8:40. Sengaja ambil penerbangan pagi supaya bisa jalan-jalan lihat-lihat Palembang. Abis itu langsung telpon Mas IMC, legal-nya Palembang, koordinasi penjemputan dari bandara karena legal group tidak menyediakan antar jemput. Dia agak amazed kayaknya mendengar gw dan Pak AP bakal datang pagi-pagi bener, tapi setelahnya dia bilang kalo Bang Gaby, legal Medan, malah akan mendarat sekitar pukul 7 pagi. Direncanakanlah Mas IMC akan menjemput gw, Pak AP, dan Bang Gaby berbarengan.

Selasa, 22 Oktober, sore, gw pulang ke Depok. Jadi berangkatnya emang terpisah antara gw dan Pak AP. Pak AP yang rumahnya memang di Bandung, berangkat ke bandara rabu dini hari menggunakan angkutan bandara Primajasa, sementara gw berangkat subuh dari depok.

Gw tiba di bandara sekitar pukul 5 pagi dan langsung mencari mushala. Selesai shalat, gw drop baggage di konter garuda. Gw udah check in sehari sebelumnya, dapat kursi 25K. kursi 25K ini membuat gw penasaran akan jenis pesawat yang akan gw gunakan, sampai-sampai browsing di situsnya Garuda, dan sampai pada kesimpulan bahwa gw akan menaiki pesawat berbadan besar; Airbus A330-200 – mungkin pesawat ini pesawat untuk penerbangan jarak jauh, mungkin transit di Palembang, atau mungkin sebelum ke Palembang transit dulu di Jakarta. Ketika hal ini gw tanyakan pada petugas yang menjaga konter drop baggage, dia menjelaskan bahwa pesawat yang digunakan tetap Boeing yang biasa. Cuma penamaan tempat duduknya aja yang diubah. Biasanya kan A-B-C dan D-E-F, nah kali ini jadi A-B-C dan H-J-K. Dan gw senang karena 25K itu disebelah jendela. Gw bisa melihat langit dan awan-awan kesukaan gw, sebagaimana selalu gw lakukan setiap kali terbang😉

Gw bertemu Pak AP dan beberapa orang legal officer lainnya di Mandiri Lounge, dan setelah mencicipi sedikit dari banyak hidangan yang tersedia, kami memutuskan untuk segera menuju gate F4 untuk boarding pukul 7:10 dan menunggu penerbangan pukul 7:30. Setelah delay hampir setengah jam dengan alasan cuaca di Palembang yang kurang bersahabat, pesawat lepas landas tepat pukul 8 pagi.

soetta
langit jawa
The white, the blue… the sky is always beautiful when I’m thinking of you… *eh*😆

***
palembang sky
palembang sky 2

Garuda mendarat mulus pukul 9 kurang beberapa menit di landasan bandara Sultan Mahmud Badaruddin 2, Palembang. Setelah mengambil bagasi, rombongan legal officer pun terbagi dua… walaupun tujuan kami adalah hotel yang sama. Legal officer dari kantor wilayah dijemput oleh perwakilan kantor wilayah, sementara gw, Pak AP, dan Bang Gaby, dijemput Mas IMC.
Selama sekitar 30 menit perjalanan menuju hotel Aryaduta, gw melihat Palembang untuk pertama kalinya. Ternyata kotanya cukup besar, dan satu yang paling terlihat,kotanya bersih. Lalu lintasnya juga cukup tertib, dan yang jelas tidak ada macet.

***
Hotel Aryaduta Palembang, konon, merupakan hotel bintang 5. Namun mungkin karena usianya, dia merupakan hotel bintang 5 pada jamannya. Kalau dibandingkan dengan hotel-hotel lain yang dibangun pada masa lebih kekinian, Aryaduta terlihat agak kuno, dan fasilitasnya pun kurang memuaskan. Contoh paling nyata, ada pada toilet dekat ballroom. Pintu toilet beberapa kali rusak dan mengunci sendiri, selain itu toiletnya pun kurang bersih, banyak noda tertinggal terpampang nyata.

mirrorme

Dua keunggulan Aryaduta, menurut gw, adalah hidangan dan lokasinya. Banyak makanan khas Palembang dikeluarkan saat jam makan, sebut saja tekwan, mie celor, laksa Palembang, hingga martabak ala HAR. Sementara lokasinya terletak dalam area Palembang Square, pusat perbelanjaan yang konon menurut cerita adalah mall paling hits di Palembang. Di Palembang Square inilah gw dan teman-teman legal officer makan siang untuk pertama kalinya. Dan makan di manaaa??? D’Cost. Yuh ah, jauh-jauh ke Palembang makannya di D’Cost. Legal memang luar biasa😆
Dan cerita soal gaulnya Palembang Square? Ya gimana yaaa… gw biasa main di Jakarta… jadi ya… *sombooooonnnggg*😆

***
Petualangan sebenarnya dimulai ketika setelah makan siang dan para laki-laki udah berhamburan entah ke mana, gw kembali ke hotel dan bertemu rombongan Pak Astutu dan para perempuan legal-nya Jakarta. Langsung heboh karena mereka emang temen main gw kalo lagi acara Forum begini.

pilih songket
songket lagiii
Sebelum berwisata Palembang, kita lihat-lihat songket cantik dulu ya… songket yang paling murah berkisar di angka 800.000 rupiah *simpan dompet dalam-dalam di tas* |Pengrajin songket ini khusus diundang Pak Astutu untuk datang ke hotel membawa tenunannya

pindang udang
late lunch pindang musi rawas
Late lunch rombongan legal Jakarta di rumah makan yang terkenal sebagai jagonya pindang patin: PINDANG MUSI RAWAS | Kuah pindangnya sungguh segar dan ikannya pun mantap! | Left to right: Pak Astutu, Tancan, Mbak Di, Rili, Lina, dan Mbak Retno

Foto pindang diatas mungkin foto terakhir yang gw hasilkan selama di Palembang karena setelahnya, entahlah… tapi rasanya seperti tidak ada kesempatan untuk memotret.

Dari Pindang Musi Rawas, kami melanjutkan ke tempat favorit ibu-ibu. Yup, apalagi kalo bukan cari oleh-oleh! Maka di pasar belakang Ramayana lah kami terdampar. Sementara yang lain berbelanja berbagai macam barang entah apa, gw mencatat satu hal. Di pasar ini, sebagian besar penjualnya adalah keturunan Arab.
Waktu hampir dua jam di pasar belakang Ramayana rasanya tidak cukup, padahal pasarnya sendiri kecil dan pilihannya pun sebenarnya tidaklah banyak. Tapi mungkin sudah sifat alami atau bawaan orok para perempuan, nongkrong di satu lapak bisa lama bener. Kami akhirnya undur diri karena para pedagang mulai menutup lapak mereka pada pukul 5 sore.

***
Makan malam diawali dengan mencicipi salah satu pempek yang cukup terkenal karena katanya masih menggunakan ikan belido. Pempek EK Dempo. Tempatnya sih tidak menampakkan kemewahan rasa. Hanya ruko kecil dipinggir jalan. Tapi rasanya… wuiiiiihhh… mantap! Pempeknya lembut, ikannya sangat terasa, dan cukonya, yang disajikan bukan sebagai kuah tapi untuk diminum, benar-benar segar dan pedesnya pas. Sebanding dengan harganya yang memang diatas rata-rata.
Dan setelah mencoba pempek EK Dempo ini, pempek Beringin dan pempek Vico yang gw coba selanjutnya jadi lewat deh rasanya.

Tapi es kacang merah di pempek Beringin itu enak beneeerrr… manisnya pas dan sungguh-sungguh bener-bener menyegarkan deh. Dan untuk beberapa orang, pempek Beringin ini dirasa lebih cocok di lidah orang Jakarta.

***
Wisata kuliner malam hari dilanjutkan keesokan harinya. Sebenarnya malam kedua ini lebih tepat sebagai ajang belanjanya ibu-ibu karena mereka, lagi-lagi, berburu barang.
Dimulai dari berburu songket di daerah Tangga Buntung, dan stuck di sana, yang memang terkenal sebagai area pengrajin songket-songket cantik dengan harga yang juga ciamik. Menjelang pukul setengah 9 malam, barulah kami beringsut ke pempek Candy.

Gw kan galau ya mau beli EK, Beringin, Vico, atau Candy sebagai oleh-oleh untuk orang rumah, jadi lah gw memutuskan untuk tes sana-sini dulu. Makanya ketika teman-teman berduyun-duyun borong Candy, gw mencoba satu porsi dulu dan langsung memutuskan, gw gak mau beli Candy. Mungkin efek makan EK, dan setelah itu makan Beringin, Candy jadi terasa sangat biasa dan sepertinya lebih banyak tepungnya daripada ikannya. Tinggal Vico yang belum dicoba.
Dan setelah dari Candy kami melanjutkan ke Vico, gw pun memutuskan untuk membawa pempek Beringin dan pempek Vico sebagai oleh-oleh. Memang EK yang paling juara dari semuanya, tapi nggak tau kenapa gw kok agak ragu aja gitu mau pesan EK. Oya, kayaknya hampir semua merk pempek punya paket sendiri-sendiri, jadi kalo mau beli oleh-oleh ya tinggal pilih mau paket yang mana. Umumnya tiap paket terdiri dari adaan, lenjer, pempek telur kecil, kapal selam, dan lenjer besar.
Alhamdulillaah-nya orang rumah suka. Untuk rasa, menurut bayi gorilla lebih enak Beringin *ya secara harga juga lebih mihil*, tapi untuk cuko lebih enak cuko Vico. Cuko Beringin cuma berasa pedes aja, katanya. Gw sendiri gak terlalu bisa membedakan.

Karena belum makan malam, dan makan pempek itu hanya dianggap sebagai cemilan, kami pun bergerak lagi. Tapi lagi-lagi terbagi dua antara golongan harus makan nasi dan golongan apa aja masuk. Gw masuk ke dalam golongan kedua, maka bersama Pak Astutu, Tancan, Mbak Di, dan Mbak Retno, kami memilih kuliner femeus lainnya.

Martabak HAR.
HAR itu sendiri sendiri mungkin kependekan dari Haji Abdul Rozak, konon pendiri martabak ini pada tahun 1947. Martabaknya sendiri bukan seperti martabak telur yang sering kita lihat di Jakarta, tapi martabak yang menyerupai roti canai yang dimakan bersama kuah kari sapi. Selain martabak, Martabak HAR juga menyediakan menu lain, seperti kambing ala HAR, dan lain-lain ala HAR. Ilusi mata membuat gw membaca ‘ala HAR’ itu sebagai ‘al-azhar’ ketika pertama membaca menu yang dipajang di dinding:mrgreen:

***
Martabak HAR jadi acara terakhir dalam jalan-jalan gw selama Forum karena Jumat malam gw harus kembali ke Jakarta supaya bisa mengikuti akad nikah si Mantan pada sabtu paginya.

Forum juga berjalan seperti biasa. Materi diskusi kali ini adalah KIK EBA atau Kontrak Investasi Kredit Efek Beragun Aset dan Kekayaan Negara, dengan pembicara para founder Assegaf Hamzah & Partners, salah satu law firm bonafide Jakarta, yaitu Fikri Assegaf dan Chandra Hamzah themselves. Once upon a time, AHP pernah jadi salah satu tempat kerja idaman gw. Nggak usah ditanya ya alasannya:mrgreen:
Diakhir Forum, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, diumumkan pemenang Legal Officer Excellence Award, alias Legal Officer nomor wahid sejagad BUMN ini. Dan pemenangnya adalaaaaahhh… legal Procurement Group, yang mana adek kelas gw jaman di FH dulu.
BUANGGAAAAA BUENEEEEEERRR gw sama lo, Cak!😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s