[Daebak] Experience Korean Taste

Awalnya gw nanya-nanya soal sop durian di pertigaan ramanda yang konon lagi femeus-femeusnya karena rasanya yang nyam-nyam banget dan duriannya yang nendang. Eh pichunotes malah ngajak gw untuk nyoba sop durian itu. Eh ndilalah kok malah jadi end up di tempat ini:mrgreen:
Nggak juga sih… bisa sampai ke tempat ini juga atas usul gw.
Sebenernya gw melemparkan opsi pada Vika, mau makanan arab atau korea. Ternyata Vika preferred Korean taste, dan gw, karena emang udah lama pengen nyoba tempat ini, ya hayuk aja lah.

Terletak persis diseberang perumahan Pesona Khayangan di jalan Margonda nomor 239, Daebak Fan Café tampil tidak mencolok dibandingkan dengan ruko-ruko di sisi kanan dan kirinya.
Daebak sendiri bisa dibilang merupakan bahasa korea slang untuk mengungkapkan kekaguman. Kira-kira bisa diartikan sebagai ‘wow!’ atau ‘awesome!’

tampak depan

front banner

Dipintu masuk, dipasang banner yang sepertinya memuat hampir seluruh informasi mengenai Daebak. Dan disitu ditulis juga kalo mau makan atau takeaway, langsung aja naik ke lantai dua. Bener aja, begitu buka pintu, langsung ketemu sama lorong sempit. Kenapa sempit, karena sebagian besar ruangan digunakan sebagai dapur. Jadi, dapur tempat menyiapkan makanan ada di lantai satu, sementara tempat menyantap ada di lantai dua.

Lantai dua sendiri terbagi menjadi dua ruangan, yaitu Hongdae room dan Bukchon room. Tidak ada yang membedakan kedua ruangan itu, kecuali hiburan yang disuguhkan di masing-masing TV yang dipasang diujung ruangan. Namapun café korea ya, yang dipertontonkan ya nggak jauh-jauh dari boyband dan girlband yang, dalam pandangan mata gw, mukanya sama semua *ya maap deh Korean fans*

daebak inside

bukcheon room

Kalaupun ada perbedaan lain, itu adalah interior kedua ruangan. Bukchon room lebih kalem dan damai dengan gambar-gambar alam dan kuil-kuil korea menghiasi dinding, sementara Hongdae room jauh lebih berwarna, penuh dengan poster artis korea dan tempelan post it dengan warna-warni mencolok mata. Post it-nya sendiri berisi macam-macam pesan, mulai dari yang biasa berisi testimoni tentang Daebak, sampai yang abege banget yang berisi salam penuh cinta untuk artis-artis korea *yang percayalah, dibaca juga nggak sama si artis… ya menurut ngana???*, bahkan ada juga yang menulis menagih janji dinikahi oleh pacarnya, minta dilamar, dan lain sebagainya yang bikin gw dan Vika ngakak miris membacanya. Maklumlah kalo banyak ucapan-ucapan untuk para mega bintang korea, konon Daebak memang café pertama di Indonesia yang dijadikan *atau menjadikan diri sendiri?* base bagi para pemuja K-pop.

doh! ababil to the max

wallcover

Yah… baik gw maupun Vika mengakui bahwa cewek-cewek Korea memang cantik-cantik, dengan penampilan yang begitu seragam. Tubuh semampai, kaki panjang, kulit berkilau bagai porselen, rambut panjang terurai, dan make up melapisi wajah tanpa cela. Mereka semua bagai boneka yang dengan mudah ditemui di mana saja. Di mal, di dalam subway, di area pendidikan…
Cowok-cowoknya pun cantik. Iya, cantik, bukan ganteng. Tak terhitung berapa banyak lapisan yang mereka pakai untuk melapisi wajah. Cowok korea pun senang berdandan. Gw jarang sekali menemukan cowok korea yang ‘cowok’ banget tampilannya. Mengamini Vika, gw setuju ketika dia bilang bahwa kalau mau melihat wajah asli artis korea, lihatlah ketika mereka masih kecil. Itulah wajah asli mereka.

Gw dan Vika memilih duduk di pojok Hongdae room. Selain kami, saat itu dua meja lain terisi dengan remaja-remaja perempuan yang ramai menyantap hidangan sambil berfoto. Gaya berfotonya? Pastinya dengan gaya yang dianggap akan membuat mereka terlihat ‘imut’ dan ‘lucu’.

Kami melihat-lihat buku menu, yang sama seperti post it yang menutupi dinding, juga penuh warna. Menu yang ditawarkan adalah menu yang cukup populer, seperti kimchi, ramyeon, yukgaejang, sundubu jjigae, bibimbab, kimbab, tteokpokki, kimchi jeon, dan kimchi jigae.
Gw mencari albab diantara menu-menu itu, dan tidak menemukannya. Nggak terlalu heran juga sih, lha di korea aja agak sulit menemukan rumah makan yang menyediakan albab.

menu1

menu

Membaca daftar makanan yang tertera di buku menu, gw jadi tersenyum-senyum sendiri dalam hati. Konon, kimchi, ramyeon, yukgaejang, kimchi jeon, dan tteokpokki adalah hidangan yang paling populer diantara pengujung Daebak. Gw mencoba mengingat rasa makanan-makanan tersebut di negeri asalnya. Gw pernah mencicipi ramyeon yang enak di daerah byeokje, rasanya persis seperti mie tek-tek, hanya ada tambahan potongan kue beras dan kue ikan didalamnya. Tak lama sesudah itu, gw mendengar bahwa bahan yang digunakan untuk membuat mie pada ramyeon mengandung sesuatu yang kehalalannya diragukan. Sejak itu gw tidak lagi makan ramyeon.

Cafeteria kampus dulu sering sekali menyediakan masakan berbahan dasar daging babi. Maka pilihan makanan gw jatuh pada sayur-sayurannya, plus sebungkus gim atau nori, alias lembaran rumput laut yang dikeringkan dan bercita rasa gurih. Kadang gw makan hanya kimchi jeon dan nori, atau miyeokguk dan nori. Kimchi jeon itu semacam pancake atau omelet tipis ala korea, disajikan dengan saus asam gurih encer seperti pada saus pendamping sushi, sementara miyeokguk adalah sup bening dengan rumput laut dengan rasa yang cenderung hambar.

Lalu tteokpokki, ah… kue beras dan sedikit potongan kue ikan dengan saus pedas dan sedikit rasa manis, gw tidak terlalu menggilainya. Biasa saja, bagi gw tidak terlalu istimewa. Sementara kimchi, kimchi selalu ada disediakan di restoran korea dan seinget gw, kita tidak perlu membayar untuk menikmati kimchi ini.

Kemudian yukgaejang, sup pedas gurih berisi daging sapi, jamur, dan somyeon yang dimasak dengan kaldu sapi, gw ingat ini adalah makanan ‘spesial’ yang disediakan oleh cafeteria saat kami wisuda.

Ada pula jjampong. Jjampong, selain albab, punya tempat tersendiri di hati gw. Walau hanya satu kali makan jjampong di daerah konkuk, tapi nostalgianya luar biasa.

Vika memesan sundubu jjigae, atau sup tahu semacam tahu sutra, dimasak dengan kaldu sapi, dan didalamnya ada telur yang tidak terlalu matang. Gw mencoba sedikit makanan Vika. Kuah sundubu jjigae-nya segar, gurih kaldunya terasa dan lebih ‘nendang’ daripada yang pernah gw coba di negara asal. Gw cukup yakin cita rasa makanan korea di Daebak ini sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia yang terbiasa dengan makanan berbumbu ‘berani’. Sejauh yang gw ingat, cita rasa makanan korea yang sebenarnya jauh lebih hambar.
Sejak awal, gw berniat memesan chamci kimbab alias kimbab isi tuna. Ternyata Daebak menyediakan hanya kimbab biasa berisi sayuran. Satu porsi terdiri dari 11 potong kimbab. Bersama-sama dengan sundubu jjigae, chamci kimbab termasuk makanan ‘aman’ yang sering juga gw pesan saat sedang jalan ke downtown Seoul.

sundubu jjigae & kimbab

korean tea peach & apple
atas: Sundubu Jjigae IDR 34.545 | Kimbab IDR 26.363
bawah: Korean Tea Peach IDR 16.363 | Korean Tea Apple IDR 16.363
and all are subject to 10% tax

Untuk minumannya sendiri, ada Korean Tea dengan berbagai pilihan rasa, Choco Uyu alias susu coklat, cappuccino, Patbingsu yang berubah nama jadi Podengbinsu karena disajikan dengan es podeng asli Indonesia, dan ada yang unik yang dinamakan fandom punch, minuman racikan yang hanya Daebak yang punya. Sayang, dengan fandom punch yang cukup banyak ragamnya itu, tidak satupun yang diberikan deskripsi, minuman ini dibuat dari campuran apa atau bagaimana rasanya.
Vika memesan Korean Tea dengan rasa peach, sementara gw memesan Korean Tea dengan rasa apel. Rasanya sungguh segar, apalagi dengan adanya potongan buah asli didalamnya.

Menurut gw, rasa makanannya so-so, tapi masih worth the price kok. Tempatnya pun demikian. Biarpun ada AC, tapi ruangan tetap terasa gerah. Yang dingin hanya bagian dibawah AC saja. Walaupun tidak terlalu spesial, pecinta Kpop pasti senang berada di sini. Mungkin, poster sang idola yang menutupi dinding akan membuatnya merasa berada di negara yang sama dengan yang dipuja.

Eniho, nge-date sama Vika ini membuatku merasa minder. Yaabeeess… biasa kan kalo sama Neng Erma, I’m the one who controlled everything, I’m such a control freak, you know…terutama dalam hal foto-memfoto, walaupun gw amateur. Tapi kali ini gw jalan sama Vika, boookk… yang emang beneran fotografer dengan peralatan perang yang juga canggih *elus-elus kamera saku gw*😆

pichu
ini si pichu

17 thoughts on “[Daebak] Experience Korean Taste

  1. vikawahyudi says:

    Dear Uke,
    Aq bingung bagaimana berespon dengan paragraf terakhir yang dirimuh tulis.
    Apakah itu suatu pujian atau suatu ancaman untuk quh…😀
    Tenang saja, Ke! Dalam beberapa minggu (atau dalam hitungan hari ya?!?!?!) ‘kamera tanpa cermin’ itu akan berpindah ke tanganmu kaaannnn?????😉

    But anyway, baca cerita di blog lo itu selalu bisa bikin gw ketawa-ketawa sendiri..🙂

    • ukechin says:

      Dear Vika,

      As i’ve mentioned above, i’m such a CONTROL FREAK… jadi ya selalu gw yang ngatur-ngatur semua dan it gives me some sort of power you know… maka ketika itinerary kencan kita yang akan datang itu kau kritisi, ooohh… betapa hal itu terasa bagai sembilu mengiris hatiku yang sedang patah ini :lol;😆😆

      Tapi gw masih bingung kaaaaannn mau yang mana bok… aku merasa berhutang pada negeri ginseng yang telah mempertemukanku dengan sang pangeran *nyambung nggak ngana?*:mrgreen:

      I take your last words as a compliment, and take this as yours:
      Baca blog lo itu selalu bikin gw iri! Kapan gw bisa menghasilkan foto-foto sekece dirimu?!!! Kapan gw bisa ke New Zealand? Ostrali? Daehan Minguk?:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s