A Little Something on the Office Snob

Masih menyambung cerita sebelumnya ya, karena tiada yang hits dalam hidup gw kecuali gw ganti Bapak aja, jadi sekarang mau cerita sedikiiiiittt aja ya soal keadaan saat ini.

Jadi kan mulai awal minggu ini Papihku yang dulu udah positif banget di Kelapa Gading dan nggak bakalan balik-balik lagi dong ke Bandung, sebagaimana Bapak pun udah totally in charge secara de facto maupun de jure di unit gw.

Nah pas banget kan si Bapak baru dateng dan beberapa hari yang lalu ada kejadian yang membuat gw memberanikan diri untuk ‘I need to talk to him’. Itupun setelah di-encourage dan di-support oleh temen-temen legal officer unit-unit lainnya: para bapak yang ribut berkicau di whatsapp. Awalnya kan gw ngerasa apa perlu sih ngomong sama Bapak, ntar disangka ngadu atau yang semacamnya. Apalagi gw kan legal officer yang penakut dan manja, yang selalu sembunyi dibalik bayangan si Papih dulu.

Tapi para bapak justru menyemangati gw untuk bicara karena memang kejadiannya agak keterlaluan dan kalo menurut salah seorang diantara mereka, itu udah kelewatan banget sih untuk seorang legal officer.
Ditambah lagi kan gw diskusi secara pribadi sama legal officer-nya Bapak di daerah asalnya dulu, jadi bertambah lah agenda yang mau gw bicarakan pada Sang Pemimpin Muda yang konon hanif ini.
Gw nggak ada maksud mengadu atau apapun, gw cuma ingin Bapak tau begini lho kondisi Bandung yang sebenernya. Gw nggak bisa mengubah sesuatu hal karena gw powerless, maka gw mengharapkan Bapak lewat kuasa dan wewenangnya bisa meluruskan yang bengkok yang selama ini dianggap biasa. Gw hanya ingin membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.

Setelah disemangati dan diberani-beraniin para bapak penghuni whatsapp, gw pun meyakinkan diri untuk bicara, walaupun pake ritual mules-mules sebagaimana kalo gw mau melakukan sesuatu diluar kebiasaan.
Tapi Bapak sibuk sejak pagi, kunjungan ke debitur ini itu dan lain sebagainya. Jadilah gw menunggu sampai beliau kembali ke kantor sore hari. And just at the time I wanted to knock his door… he left. He turned off the light and took his bag and left. Hati gw mencelos. Ah… gw patah hati.

Semangat gw jadi agak mengendur. Gw nggak ingin apa yang ingin gw bicarakan menjadi suatu hal yang basi.

On another story, it seemed that si Papih lagi kangen-kangennya sama Bandung. He gave a call to some of my colleagues and talked random things. I stated a protest to one of them.
“Kenapa si Papih nggak telepon gw? Besok-besok kalo si Papih telepon, bilangin ya kalo LO-nya yang polos yang dikembangkan olehnya ini minta ditelepon.”

Gw hanya mengulang pernyataan si Papih sih. Once upon a time not so long ago, someone told me that si Papih said that, “Waktu datang pertama kali, Ruske itu masih polos sekali. Lalu saya kembangkan dan arahkan dia.”

😆 Emangnya gw pohon, dikembangkan😆
How I looooove Papih!:mrgreen:

Ah and you know something? Sometime I feel like Bapak read my writing. I don’t know… I just sense it. Oh my, oh my…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s