[Marugame Udon] Udon & Tempura

Asal muasalnya adalah ketika sepulang gw mengadopsi baby S, gw dan Vika memutuskan untuk cari makan di mall terdekat sambil cuci mata, ya siapa tau ada yang lain yang bisa diadopsi gitu kan. Nah sementara Vika shalat, gw melihat-lihat sekeliling mencari-cari tempat makan karena emang udah waktunya makan siang. Sekonyong-konyong mata gw tertumbuk pada satu gerai yang terlihat rame banget. Antriannya mengular naga panjangnya and when it comes to food, queue should be a good sign, iya nggak sih? Iya aja lah kakak…:mrgreen:

Sempat terpikir apa mau makan di tempat itu aja, tapi karena pas nanya Vika sebagai ratu mall dan ternyata dia juga belum pernah makan di sana, niat itu gw urungkan. Tapi satu hal jelas, sepulangnya gw langsung cari info sana-sini, kasak-kusuk di internet dan menemukan banyak review yang buagus banget dan menggiurkan soal si tempat itu. Bahkan tempat itu sampai digadang-gadang sebagai the best place to eat that kind of … *sengaja dikosongin biar penasaran* *yakaleee penasaran*😆
Nah… jadi kepikiran kan, makin mupeng kan… *so easy to seduce me yaaa*

Kesempatan datang ketika gw dan Nyonya Besar cari-cari bahan di Mayestik. Dari sebelum berangkat gw emang udah meminta Nyonya Besar untuk makan di sana.
Doh! Emangnya makan apa sih Ke? Kok ribet banget prolognya?:mrgreen:

Makan ini lhooo…
.
.
.
.
.
*hening*
*ditinggal pembaca* *yakalo ada* *kalo ada yang ninggalin, maksudnya*
.
.
.
.
.
Oke, sebelumnya kita lihat dulu apa kata Wikipedia mengenai santapan kali ini.

Udon (饂飩?, usually written as うどん) is a type of thick wheat flour noodle of Japanese cuisine.Udon is often served hot as a noodle soup in its simplest form, as kake udon, in a mildly flavoured broth called kakejiru, which is made of dashi, soy sauce (shōyu), and mirin. It is usually topped with thinly chopped scallions. Other common toppings include tempura, often prawn or kakiage (a type of mixed tempura fritter), or aburaage, a type of deep-fried tofu pockets seasoned with sugar, mirin, and soy sauce. A thin slice of kamaboko, a halfmoon-shaped fish cake, is often added. Shichimi can be added to taste.

Dan melihat bentuk mie-nya yang tebal, gw teringat pada jjambbong atau champong, salah satu hidangan Korea berupa mie yang disajikan dengan kuah merah yang pedas dengan beberapa jenis makanan laut dan sedikit sayuran didalamnya. Hanya sepertinya tekstur mie pada udon lebih tebal dan kenyal. Jjambbong sendiri diperkirakan berasal dari Jepang, masuk ke Korea dan mendapat pengaruh dari Cina.
Jadi jelas dong makan apa gw dan Nyonya Besar kali ini. Dan di mana lagi makannya kalo bukan di meja makan tempat makan udon paling hip di jagat Jakarta!

???????????

Kebetulan gw masuk dari South Gate-nya Gandaria City, jadi begitu masuk langsung naik eskalator di sisi kanan kita dan sampailah kita di Upper Ground. Begitu menjejakkan kaki di Upper Ground, tanpa perlu mencari-cari kita bisa langsung menemukan posisi Marugame Udon karena letaknya yang memang mencolok mata. Tepat di tengah, dan dengan huruf-huruf neon ukuran besar yang berpendar terang benderang. Dari jauh terlihat antrian pengunjung yang ingin memesan makanan.
Dan ternyata, kalo gw nggak salah membandingkan dengan tempat lainnya yang sejenis di sana, Marugame Udon menempati area yang lebih luas. Konsepnya open kitchen, dimana pengunjuang harus memesan terlebih dahulu baru boleh memilih tempat duduk. Itupun ditentukan, ada area untuk pengunjung yang datang hanya berdua dan area lain untuk pengunjung yang datang dengan kelompok lebih dari dua orang. Pengunjung yang hanya dua orang ditempatkan di depan open kitchen. Jadi sambil makan, kita bisa melihat lalu lalang orang dengan leluasa, juga melihat-lihat ada apa di Ground Floor.

???????????
???????????
???????????

Konsep open kitchen ini entah bagaimana memberikan energi dan semangat tersendiri bagi pengunjung, paling tidak itu yang saya rasakan. Melihat para petugas meracik makanan dengan sigap di belakang tumpukan mangkok, panci berisi kuah panas, ataupun barisan tempura, membuat kita merasa senang dan bersemangat juga. Sikap cekatan mereka membuat saya berpikir bahwa mereka well trained dan nggak hanya itu, mereka juga melayani dengan hati. They smiled, nggak ada tuh yang namanya cemberut. Bahkan mereka menjelaskan dengan sabar hal-hal yang ditanyakan pengunjung. Wajar kan konsumen ingin tau tentang segala sesuatu yang dibelinya? Dan jempol juga buat pengunjung lain yang antri, nggak ada yang mengomel karena antrian jadi berjalan pelan.

Kami melihat-lihat menu yang terbagi menjadi dua bagian besar yang terdiri dari 8 pilihan udon dan 4 pilihan nasi dengan harga tertinggi ada di angka IDR 50.000. Nyonya Besar memilih Tori Baitang Udon [IDR 40.909], udon yang disajikan dengan kuah kaldu kental berwarna putih pucat dan tiga buah bola-bola ayam dengan ukuran yang cukup besar. Sementara gw dari awal tak tergoyahkan memesan Mentai Kamatama Udon [IDR 45.455], udon yang disajikan dengan saus spesial, diberi topping telur ikan mentaiko dan telur ayam ½ matang *kayaknya banyakan mentahnya sebenarnya* yang dipecahkan didepan gw. Nyonya Besar mengernyit.

???????????

Untuk minumannya, yang jelas tertera ada 3 pilihan. Ocha dingin, ocha panas, dan air mineral. Tapi ada juga pilihan minuman soda kalengan, yang ini gw tau begitu melihat isi lemari pendingin didepan kasir. Ocha dingin dan sebotol kecil air mineral sama-sama dihargai IDR 9.091, dan khusus untuk ocha kita bisa refill sesuka hati.

Sebagai pelengkap makanan utama, kita bisa memilih Inari *sejenis nasi dipadatkan trus dibungkus tofu goreng gitu ya* dan Tempura yang tersedia dalam berbagai varian. Mulai dari kakiage alias tempura sayur, broccoli tempura, ebi tempura, cuttlefish tempura alias tempura sotong, tori tempura alias tempura ayam, dan lainnya. Ada 2 harga yang dibandrol untuk inaki dan tempura ini, yang dibedakan dari warna papan nama yang ditaruh di depan tempura-tempura itu. Kecuali Inari yang papan namanya berwarna putih dan dihargai kisaran IDR 10.000, tempura terbagi menjadi tempura dengan papan nama warna hitam dan warna merah. Mungkin papan hitam itu kelas premium ya, karena dihargai lebih mahal daripada yang papan merah. Tempura berpapan nama warna hitam, seperti ebi tempura dihargai kisaran IDR 12.000/pieces, sementara tempura berpapan nama warna merah, seperti broccoli tempura dihargai IDR 10.000/pieces. Kami memilih 1 buah ebi tempura [IDR 12.727], 1 buah tori tempura [IDR 10.909], dan 1 buah cuttlefish tempura [IDR 10.909].

???????????

Poin plusnya, gw pernah baca pada suatu sumber, konon katanya, tempura yang dihidangkan sangat-sangat segar ‘baru matang dari penggorengan’. Jadi kalau sudah lewat beberapa menit sesuai standar mereka dan tidak ada yang mengambil tempura tersebut, tempura itu akan dikembalikan ke dalam dan tidak akan dihidangkan.
Nah setelah kelar urusan pesan makanan comot tempura dan bayar-membayar, kita bisa menambahkan topping sesuai keinginan. Mulai dari wijen, cacahan jahe, sampai irisan cabe, lengkap disediakan di satu konter berbarengan dengan sumpit dan sendok.

Lalu gimana rasa si udon? Is the udon really that good?
Something claimed really good usually turned out that it wasn’t that good.

But not for this one.
Honestly, the udon is really GOOD!!!

???????????
???????????
Enough speaking. The review said it right. Mentai Kamatama Udon pilihan gw was superb! S.U.P.E.R.B.
Walaupun setengah matang, tapi nggak ada amis-amisnya sama sekali. Oh, cara makannya, you ask? Di aduk jadi satu dong, sehingga merata semuanya. Dan ya, disantap panas-panas. I assume kalo rasa lezatnya mungkin akan berkurang sedikit kalau dimakan saat sudah mendingin. Sementara Tori Baitang Udon-nya Nyonya Besar juga mantaaaaappp!!! Kuah kaldunya gurih dan bola-bola daging ayamnya pun cihui. Apalagi porsinya juga mengenyangkan. Sampe makan tempuranya pun harus pelan-pelan saking kenyangnya:mrgreen:

Dan apa kabar tempura?
???????????
Kebetulan saus khusus tempura disediakan di tiap meja. Kalo gw dan Nyonya Besar kan makan tempura sebagai makanan penutup, jadi setelah udon habis, tiba waktunya makan gorengan yang dicocol ke saus tersebut. And it was good! Tempuranya besar-besar dan itu memang tempura, maksud gw, bukan tepung goreng ala tempura-tempuraan dimana yang tebel itu justru tepungnya:mrgreen:

Tapi teteuplah, paling juara itu udonnya.
Sekarang jadi ketagihan, dan pengen ke sana lagi buat nyobain varian lainnya. Marugame Udon the best place to eat udon they said…

???????????
???????????

They said the truth😉

6 thoughts on “[Marugame Udon] Udon & Tempura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s