Hong Kong: Day 1 – Nathan Road, Ladies Market & Hui Lau Shan’s Mango Dessert

Tak lama setelah pesawat berhenti sempurna, gw dan para penumpang lainnya pun berhamburan memasuki Terminal 1 Hong Kong International Airport. Belum jauh memasuki bandara, gw melihat satu stand kecil dengan dua wanita etnis mongoloid. Di depan stand tertulis “ethnic minority”. Apa maksudnya? Ternyata stand itu khusus ditujukan kepada para pekerja kerah biru dari negara-negara pengekspor tenaga kerja, seperti Indonesia dan Filipina. Begitu kata dua wanita penunggu stand, menanggapi pertanyaan dengan ketus. Ketidakramahan ini ternyata, mungkin memang karakter umum masyarakat Hong Kong.

Setelah mengambil peta, menyelesaikan urusan imigrasi, dan mengambil bagasi dari conveyor belt, gw mencari ikon bus dan mengikutinya. Untuk menuju downtown Kowloon – Tsim Sha Tsui, gw memang berencana untuk menggunakan bus A21. Tidak sulit kok untuk mencari tempat pemberhentian bus ini. Cukup pasang mata dan ikuti ikon bus. Di beberapa tempat bahkan dipasang nomor dan rute bus secara lengkap, termasuk jadwalnya. Jadi tak perlu takut tersasar. Atau kalau mau lebih siap, sebelum berangkat bisa dibaca-baca dulu situs http://www.hongkongairport.com.

to the bus

rute bus

Sambil berjalan menuju pemberhentian bus A21, telinga gw menangkap percakapan dalam bahasa jawa dengan dialek yang kental. Beberapa perempuan tampak heboh berbicara dengan volume suara yang cukup keras sambil berfoto. Rupanya mereka para TKW. TKW asal tanah air tercinta memang ramah, tapi… *nanti aja ya dibahasnya*

Begitu menaiki bus A21 dan tapping octopus card, gw segera menaruh koper pada tempat penyimpanan koper yang terletak di belakang tangga melingkar yang menuju tingkat 2 bus. Sengaja pilih tingkat 2, gw ingin melihat Hong Kong lebih jelas. Oya, gw tidak membeli octopus card karena sudah dipinjamkan oleh J,teman kantor yang baru saja pulang liburan dari Hong Kong. Alhamdulillaah, masih terdapat deposit saldo sebanyak HKD 180 dalam kartu octopus pinjaman itu. Selama petualangan di Hong Kong ini, gw hanya perlu top up satu kali sebanyak HKD 50, jumlah minimal untuk top up.
Octopus Card itu sendiri semacam kartu sakti yang bisa digunakan untuk hampir segala hal, mulai dari bayar ongkos bus, ding-ding, ferry, hingga belanja di Seven Eleven atau Maxim’s Cake atau gerai-gerai lainnya yang memasang EDC octopus card. Selain di bandara, Octopus Card bisa didapatkan di stasiun-stasiun MTR, dan untuk isi ulangnya, kita bisa melakukan melalui mesin atau di loket pengisian di stasiun MTR, atau di gerai-gerai Seven Eleven. Untuk tau lebih banyak mengenai Octopus Card, silakan meluncur ke http://www.octopus.com.hk

Kembali ke pengalaman pertama naik bus di Hong Kong, kita tidak perlu khawatir dengan terpisahnya kita dari koper-koper kita. Keamanannya terjamin karena ada cctv yang dipasang, sehingga para penumpang bisa mengawasi bawaannya masing-masing. Bus A21 ini memang canggih, selain dilengkapi cctv, kursi penumpang pun bisa diatur tingkat kerebahannya, belum lagi lampu baca yang tersedia di tiap bangku. Kita bisa tetap membaca tanpa mengganggu penumpang lain yang mungkin lebih memilih tidur dalam keadaan redup, misalnya.

Selain itu, dibagian depan bus terdapat papan running text yang menunjukkan nomor dan nama pemberhentian berikutnya. Untuk gw yang menginap di salah satu hostel di Mirador Mansion di kawasan Tsim Sha Tsui, gw harus turun di pemberhentian ke-13.
Tapi gw terkejut ketika melihat papan running text itu. Di sana tertulis nomor bus adalah A22, bukan A21. Gw yakin, sebelum naik bus gw melihat nomor bus adalah A21. Dengan sedikit panik, gw turun menemui supir. Setelah dia bilang bahwa bus itu benar A21, gw pun memberitahunya bahwa papan running text menyatakan bahwa bus itu bus A22. Segera, kesalahan itu diperbaiki. Kini papan running text memperlihatkan nomor bus A21.

inside airport bus A21
Canggih ya… ada pemberitahuan halte selanjutnya, ada cctv… memperkecil kemungkinan nyasar atau tas hilang dicolong orang.
***
Sambil sesekali memperhatikan papan running text, gw memperhatikan Hong Kong dari darat untuk pertama kalinya. Saat pertama meninggalkan bandara, kesan yang gw dapat masihlah Hong Kong adalah suatu kota yang bersih, infrastrukturnya meninggalkan kesan canggih. Semakin memasuki kota, papan toko dengan lampu neon yang mulai menyala, semakin banyak terlihat dan memenuhi pandangan mata, seolah langit tertutup oleh pendar lampu-lampu yang berukuran besar itu. Gedung-gedung, tampak agak kumuh, berdiri menjulang. Bagian bawah difungsikan sebagai toko, lantai-lantai diatasnya sepertinya difungsikan sebagai rumah tinggal. Toko emas Chow Tai Fook, gerai kecantikan Sasa dan Bonjour, toko apparel Giordano dan Bossini, tersebar dimana-mana.
Di pemberhentian ke-13, gw turun, tepat di depan gerai Giordano, yang di Hong Kong ini dapat dengan mudah ditemukan diseluruh penjuru, menjamur menyaingi gerai Seven Eleven. Di seberang, gw melihat Masjid Kowloon berdinding putih.

???????????
???????????
???????????

Di Nathan Road kini gw menapak.

***

Oke, sekarang saatnya mencari hostel tempat menginap.
Nathan Road merupakan suatu jalan yang panjang. Untungnya, walaupun panjang tapi pemerintah Hong Kong memudahkan warganya *dan mungkin juga wisatawan* dalam pencarian alamat dengan memasang petunjuk jalan hampir di setiap persimpangan. Papan petunjuk itu tidak hanya bertuliskan nama jalan, tapi juga nomor gedung-gedung di sepanjang sisi jalan itu. Untuk Nathan Road, nomor genap ada di sebelah kiri kita, sementara nomor ganjil ada di sisi seberang, sederetan dengan Masjid Kowloon.

???????????
mirador mansion entrance
Pintu masuk Mirador Mansion dari Nathan Road. Banyak cowok-cowok berparas timur tengah yang kadang geunggeus nawar-nawarin hostel. Cuekin aja sih, kecuali kalo bisa bikin pesawat terbang *eeeeehhh*

Hati-hati dalam mencari alamat, perhatikan setiap gedung dengan seksama. Karena Mirador Mansion, contohnya, tidaklah memasang papan nama besar. Huruf-huruf didindingnya memang menonjol, tapi warnanya yang hampir sama dengan warna porselen bangunan, mengaburkan mata. Di sepanjang Nathan Road banyak ditemui laki-laki berkulit hitam, atau berparas Asia Selatan. Entah mereka orang India, Pakistan, atau Bangladesh. Rata-rata mereka menawarkan hostel atau tempat makanan halal. Kalau kita sudah melakukan reservasi sebelumnya, tidak usah pedulikan mereka. Pasang muka lempeng dan hindari tatap mata. Paling tidak, seperti itulah yang tertulis dalam lembaran reservasi gw.

Lift di Mirador Mansion terletak tidak tersembunyi, tapi cukup mengecoh karena terletak agak menjorok ke dalam lorong. Ada dua lift, satu untuk lantai genap, dan satu lagi untuk lantai ganjil. Pada dinding lorong terdapat papan informasi hostel-hostel apa saja yang ada di Mirador Mansion itu.

Gw langsung menuju lantai 16, lantai paling atas di Mirador Mansion. Begitu pintu lift terbuka, gw langsung disambut oleh begitu banyaknya jemuran yang melambai-lambai. Yah, memang benar apa yang banyak gw baca, hostel-hostel di Hong Kong sebenarnya hanyalah kamar-kamar yang disewakan di rumah susun, yang umumnya rumah susun dengan tampilan cenderung kumuh, dan lantai dasarnya difungsikan sebagai toko. Memang ada juga warga lokal yang tinggal di gedung ini.
Resepsionis hostel segera menunjukkan kamar gw, yang ternyata terletak di lantai yang sama. Kamarnya berukuran mungil, mungkin hanya 5 meter persegi. Tapi bersih dan nyaman. Tidak masalah bagi gw. Setelah shalat, gw melanjutkan kegiatan sesuai itinerary yang gw susun.

***
Konon, tempat ini merupakan destinasi wajib para wisatawan untuk berburu oleh-oleh murah meriah atau sekedar membuktikan keahlian tawar-menawar harga. Namanya cukup ear-catchy, mungkin mengecoh bagi sebagian orang yang pertama kali mendengarnya. Apakah tempat ini menjajakan perempuan pemuas syahwat? Atau menjual barang-barang khusus kebutuhan perempuan?
Situs http://www.ladies-market.hk menyatakan, asal muasal Ladies Market sebenarnya adalah adanya kesulitan mendapatkan pekerjaan sehingga orang-orang pun memilih profesi sebagai pedagang kaki lima. Namun karena menimbulkan beberapa masalah, pedagang kaki lima ini pun ditertibkan sehingga sah menurut hukum. Dalam perkembangannya, jadilah Ladies Market seperti yang kita kenal sekarang.

Dari stasiun MTR Tsim Sha Tsui yang memang sangat dekat dari hostel, untuk sampai di Ladies Market gw turun di MTR Mongkok dan mengambil Exit E2. MTR Mongkok dan MTR Tsim Sha Tsui berada dalam jalur yang sama, yaitu jalur Tsuen Wan Line, jadi kita tidak perlu transit untuk berganti jalur. Ambil MTR yang bertujuan akhir di Tsuen Wan. Saat didalam MTR, perhatikan pintu sebelah mana yang akan membuka di stasiun tujuan, ini untuk mempermudah kita bergerak mencapai pintu kereta, karena tak jarang kereta dalam keadaan padat.
Dari Exit E2, jalan menyusuri Nathan Road sampai bertemu Shan Tung Street. Tapi kalau agak bingung, dan memang agak membingungkan, tanya saja pada orang sekitar. Orang Hong Kong memang pelit senyum sehingga kesannya kurang ramah, tapi cukup membantu kok.

Waktu baru menunjukkan pukul 7 malam, masih sangat pagi bagi Ladies Market, yang memang semakin malam semakin bergeliat.
Ladies Market itu ternyata merupakan satu lorong jalan yang cukup panjang, yang kanan-kirinya dipenuhi penjual berbagai macam barang, dan dibelakang lapak-lapak itu masih ada toko-toko permanen yang juga menjual berbagai macam barang. Bedanya, harga di toko tentu tidak bisa ditawar lagi. Di perempatan-perempatan jalan, biasanya ada semacam atraksi atau orang-orang yang menawarkan massage.

Apa yang ingin kita bawa sebagai buah tangan? Kaus dengan gambar khas Hong Kong, mulai dari kaus bertuliskan ”I LOVE HK” hingga yang bergambar Bruce Lee, ditawarkan dengan harga HKD 100 untuk 5 sampai 6 helai. Magnet kulkas ditawarkan dengan harga HKD 25/piece untuk magnet berupa replika makanan atau guci-guci khas Tiongkok. Setelah menyusuri jalan dari ujung ke ujung, sepertinya gw cukup berhasil melakukan tawar menawar karena bisa mendapatkan 7 buah magnet replika makanan dengan harga HKD 50. Itupun pake acara pura-pura meninggalkan si penjual dulu, dengan harapan dipanggil kembali oleh si penjual. Pokoknya gw berusaha menerapkan ilmu yang gw serap dari artikel-artikel di internet. Menawar harga di Ladies Market harus kejam! Tawar hingga 70%-nya, jangan pedulikan tampang para penjual yang memang judes dan galak dari sananya. Mereka cemberut? Memang sudah default-nya begitu. Tidak ramah? Sudah setelannya. Mereka tau kok mereka dan wisatawan sama-sama butuh. Mereka tau yang belanja disana *bisa dipastikan* kere, kita tau tawar harga di sana harus sepertiganya.

Di satu kios gw melihat bag hanger yang aduuuuuhhh lucunyaaa…
Si penjual buka harga HKD 29 untuk tiap buahnya. Gw coba HKD 10, dia langsung mencak-mencak. Ketika gw investigasi ke kios lain, ternyata tidak ada yang mau melepas bahkan di harga HKD 15. Oke deh, mungkin ini special case. Akhirnya gw mendapatkan 10 buah bag hanger di harga HKD 130. Itupun disertai sungut-sungut si penjual. Hanya karena kami teman, katanya, dia mau memberi harga segitu. ”Because we’re friend! Friend!” katanya sambil menunjuk mata gw setiap kali mengatakan kata ’friend’. Mungkin karena gw sipit? Mungkin dia merasa satu nenek moyang dengan gw?
Menurut pelajaran sejarah di sekolah dulu, nenek moyang kita memang berasal dari Yun’an selatan di dataran Cina, bukan?
Dan melihat perawakan gw, gw cukup yakin sepertinya nenek moyang gw bukan berasal dari Asia Barat.

Merasa cukup dengan Ladies Market, gw masuk ke satu toko. Bonjour namanya. Biasanya Bonjour menjual alat-alat kecantikan, entah kenapa di Mongkok Bonjour juga menjual makanan-makanan kecil. Termasuk ragam Pocky yang tidak masuk ke Indonesia. Mulai dari Pocky rasa mangga sampai rasa green tea. Tapi sebenarnya yang menjual Pocky berbagai rasa ini bukan cuma Bonjour, tapi juga Wellcome dan Seven Eleven. Pocky yang gw timbun di koper, gw beli di Bonjour dan sebagian besar di Seven Eleven karena hampir tiap saat gw mampir ke Seven Eleven. Kalau di Indonesia gw jadi cewek Indomaret, di Hong Kong gw jadi cewek Seven Eleven:mrgreen:

Dari Ladies Market gw kembali ke hostel dengan menempuh rute yang sama. Tapi gw tidak langsung pulang ke hostel. Ketika baru turun dari bus A21 gw sempat melihat ada gerai Hui Lau Shan di sekitar hostel. Gerai Hui Lau Shan ini konon tempat nongkrong yang lagi heits banget di Hong Kong karena makanan hasil olahan buah mangganya alias mango dessert-nya yang katanya endeuuuuusss banget hingga masuk daftar must try. Biarpun lagi hits-hits-nya, Hui Lau Shan ini ternyata udah cukup berumur juga. Toko pertamanya berdiri tahun 1960 di daerah New Territories.

Keluar dari stasiun MTR Tsim Sha Tsui exit B2, gw menuju Cameron Road dan gerai Hui Lau Shan dengan papan nama merahnya langsung terlihat. Tempatnya kecil, namun selalu terlihat ramai. Di manapun, gerai Hui Lau Shan selalu terlihat ramai. Didominasi warna kuning dan oranye cerah, dindingnya pun dipasang gambar makanan yang disediakan.
Pukul 10 malam mungkin bukan waktu yang tepat untuk mencecap dessert dingin. Tapi gw sudah sangat ingin mencoba mango dessert yang ramai diperbincangkan di forum-forum para travelers atau di blog para pejalan. Gw pun menunjuk Glutinous Rice Balls in Mango Juice with Extra Mango yang tampak menggoda, dan tak sampai 5 menit pesanan gw pun datang.

hui lau shan
Aaaaahhh!!! Aku tak suka bola-bola tepung berasnya. Untung ada satu scoop es krim mangga. Verdictnya?
Enak sih, tapi gw kok tidak merasa dessert ini luar biasa ya? Mungkin nggak apple to apple tapi kalau dibandingkan dengan Sinar Garut sih… kembalikan aku ke Indonesia!!! *apa sih*😆😆😆

Ah tapi yang penting kan i gave it a try. Satu demi satu Hong Kong wish list gw akhirnya bisa dicoret juga, dan bisa kembali ke hostel dengan tenang:mrgreen:

???????????
Nggak terlalu kalap di Ladies Market. Bag hanger dan magnet replika makanan cukup untuk buah tangan. Kipas cina itu titipannya Adedi.

Pengeluaran:
– Airport bus A21 HKD 33 (octopus)
– Ladies Market:
. magnet berbentuk makanan 7 buah HKD 50 (buka harga HKD 25/piece)
. bag hanger 10 buah HKD 130 (buka harga HKD 29/piece)
. kipas cina 2 buah HKD 50 (buka harga HKD 69/piece)
– Bonjour:
. Pocari Sweat HKD 8,20
. Segala macam snacks untuk oleh-oleh HKD 227,50
– Glutinous Rice Balls in Mango Juice with Extra Mango HKD 52

26 thoughts on “Hong Kong: Day 1 – Nathan Road, Ladies Market & Hui Lau Shan’s Mango Dessert

    • ukechin says:

      To be honest Vik, itu untuk 40 orang…dan gw nggak yakin sama kehalalannya *tapi tetep yeuh maxim di embat juga*
      Untuk orang-orang terkasih aku ingin yang pasti-pasti baeee… *ngeles* *sodorin tumbler hk*

    • ukechin says:

      Iya mbak, buat gantung tas. Tapi sampe sekarang belom pernah dipake, asa nggak yakin sama kekuatannya… hihihi…
      Eh btw nanya deh mbak, kalo mau ke jepang, idealnya berapa hari ya untuk tokyo dan kyoto? *pembicaraan melebar*

      • Novriana says:

        Hahaha melebar beneran ini pembicaraannya :p
        Klo dalam kota nya doang mungkin Tokyo sama Kyoto masing-masing dua hari cukup kali ya mbak, tapi klo mau jalan keluar kotanya dikit (misalnya ke Kawaguchiko buat ngeliat Mt. Fuji) mesti disediain waktu terpisah kali ya..

      • ukechin says:

        Really? Tokyo dan kyoto cukup 4 hari??? Udah termasuk museum doraemon & disneyland?
        Eh dirimu sampe kapan tah di jepun? *Ngarep numpang sehari dua hari*

      • Novriana says:

        Buat dalam kota sih mbak, disneyland mah masuk luar kota😀 tapi aku belum pernah ke disneyland jadi gak bisa ngomong apa2😀
        Klo museum doraemon sih setengah hari cukup mestinya.
        Kuliah insyaAllah masih 1.5 taun lagi, tapi abis itu pun mungkin masih bakal di sini tergantung suami yg lagi kerja di sini😀

        Apartemen ku cilik euy mbak asa gak pede ngasih tumpangan, cuman ada satu kamar tidur sama ruangan tipi, masing2 pun seukuran kamar kos2an mahasiswa😀 tapi klo mbak nya gpp nyempil2 mungkin bisa diusahakan sih, hehe..

      • ukechin says:

        Hooo… jadi mungkin 2 hari tokyo, 2 hari kyoto, 1 hari fujiyama, 1 hari disneyland, 1 hari doraemon dll…
        Kalo osaka itu apa yang menarik Mbak? Atau tempat lain yang oke tapi belom tenar dikalangan turis?
        Maaf yaaa jadi tanya jawab gini, mudah2an nggak keberatan mbaknya…
        Eh btw enaknya aku manggil mbak apa ya? Manggil ‘mbak ade’ asa aneh euy…:mrgreen:

      • Novriana says:

        Iya kali ya, kalo disneyland sih katanya mesti satu hari sendiri, trus ya klo ke luar Tokyo gitu ada beberapa pilihan yang bisa bolak balik satu hari aja gak pake nginep.
        Osaka paling castle nya sih ya yang bagus, trus ada Dotonburi juga sama beberapa shopping centre nya gitu. Aku dulu malah niat banget ke Banpaku Kinen Koen, gara-gara baca komik yang judulnya “Monster” dan salah satu scene utamanya ber-background kan Expo ’70, klo pas lagi musim semi ato musim gugur bagus sih kayaknya, ada macem2 bunga gitu di tamannya.

        Hehe, manggil mbak boleh manggil “adek” boleh “ade” juga boleh “mbak ade” juga boleh, udah biasa kok ada juga yang manggil “kak adek”😀

      • ukechin says:

        Wah…banyak yang aku nggak ngerti. Dotonburi dan Banpaku Kinen Koen itu apa ya mbak?
        Aku tuh pengen banget ke hutan bambu itu lho mbak…
        Apa ya di jepang yang wajib kudu harus didatengin supaya “sah” udah ke jepang, gitu?

      • Novriana says:

        Naaah, agak panjang ini mbak kalo mau dijawab lengkap😀
        Dotonburi kayaknya lumayan jadi tempat wajib kalo ke Osaka sih, kalo yang Expo Commemoration Park (Banpaku Kinen Koen) itu rada2 spesifik buat orang yang ngefans😀
        Hutan bambu yang di Arashiyama nya Kyoto ya? Lumayan sih itu bisa sekalian jalan ke spot2 lain di Kyoto mestinya cukuplah dimasukin dalam dua hari😀
        Yang wajib didatengin aku gak bisa komen euy mbak, tergantung orangnya kali ya, tergantung kotanya juga..

        Btw tapi klo aku pribadi sebenernya ngerekomendasiin Hiroshima, rada jauh sih, tapi klo pake JR pass lumayan bisa terus naik shinkansen. Ada museum bom atom juga sama Miyajima nya juga bagus, klo di kota nya sendiri gak terlalu banyak spot yang bisa dikunjungi sih..

    • ukechin says:

      Dear Liza,
      Sama sekali nggak jauh, nggak sampe 5 menit jalan kaki deh… cuma memang harus pasang mata karena signage-nya nggak terlalu terlihat, apalagi kios-kios di lantai dasarnya itu kan memberi kesan kalo si mirador mansion itu hanya gedung pertokoan, padahal dalemnya mah penginapan..

  1. marisa says:

    halo…. mau tanya donk… ladies market itu apa memang hanya menjual barang2 keperluan wanita saja atau umum (laki2 & wanita)?

    • ukechin says:

      Hai Marisa,
      Sejauh penglihatan saya sih, Ladies Market menjual barang2 baik keperluan laki2 maupun perempuan, tapi mungkin karena perempuan itu printilannya banyaaaaakkkkk… jadinya terkesan seolah-olah market khusus wanita 😁

  2. anita says:

    Mau tanya untuk tawar menawar apakah penjual fasih berbahasa inggris ? Dan untuk di mirador mansion itu dinomor genap atau ganjil ? Terimakasih

    • ukechin says:

      Fasih banget sih gak ya mbak, tapi cukup bisa dimengerti kok. Lagipula setiap acara tawar-menawar mereka pasti cekatan menggunakan kalkulator, harga yang kita minta atau yang mereka mau tinggal diketik saja 😊😊😊

      Maksudnya mirador mansion itu di nomor genap atau ganjil itu gimana, mbak?
      Kalau saya kebetulan di lantai paling atas yaitu lantai 16, jadi pakainya ya lift untuk lantai genap 😁

  3. anita says:

    Mau tanya, mirador mansion itu ada di nomor genap atau ganjil ya? Dan apakah penjual disana fasih dalam bhs inggris?

    • ukechin says:

      Sudah dijawab sebelumnya ya mbak, kalau ada yang belum jelas monggo ditanyakan lagi 😉😉😉😊😊😊

  4. anita says:

    Maaf mbak ke double an tanyaknya. Trus kalau MTR disana apakah sudah jelas arah” nya dan gak ribet? Karna saya baca-baca kok rasanya pintu exit disana banyak banget.

    • ukechin says:

      Gak kok mbak, gak ribet, yang penting kita tau dengan jelas di exit mana kita harus keluar. Masih jauuuuuhhh lebih ribet sistem kereta Jepang kok… 😅😅😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s