Hong Kong: Day 3 – The Giant Buddha, Po Lin Monastery, Ngong Ping 360 Cable Car, Citygate Outlet, Causeway Bay Area & Ebeneezers Kebab

Selasa, 27 Mei 2014

Malam sebelumnya, sebelum tidur dan sesaat setelah bangun pada pagi harinya, gw memeriksa ulang rencana perjalanan di hari ketiga ini. Hari ini tujuannya nggak banyak, hanya ke Giant Buddha dan Po Lin Monastery, lalu ke Citygate Outlet, dan berakhir di Temple Street Night Market.
Lalu kenapa bisa berubah ke Causeway Bay, ya begitulah gw. Kalau bosan mulai menerpa, gw kadang suka seenak-enaknya mengubah itinerary. Ini salah satu enaknya solo traveling, gw bisa jalan ke mana pun sekehendak hati *tapi nggak enaknya, gw nggak punya foto diri sendiri* *nggak jago selfie*

Sesuai informasi yang gw kumpulkan sebelum berangkat, perjalanan ke Lantau island, tempat di mana Giant Buddha berada, cukup jauh. Gw juga berniat untuk menaiki tangga hingga ke puncak Giant Buddha, maka gw nggak mau siang bolong nangkring di puncaknya, mengingat cuaca Hong Kong saat itu benar-benar panas. Cuuuuusss… mendekati pukul 7.30 gw sudah keluar hostel. Kalau kemarin gw memulai perjalanan dari MTR Tsim Sha Tsui, kali ini gw mencoba MTR East Tsim Sha Tsui. Kedua stasiun ini sama dekat jaraknya dari Mirador Mansion. Keluar dari Mirador Mansion, berjalan ke arah kiri dan berbelok ke kiri lagi, kita langsung ketemu salah satu pintu masuk MTR East Tsim Sha Tsui.

MTR East Tsim Sha Tsui ini merupakan stasiun yang terhubung langsung dengan MTR Tsim Sha Tsui, gampangnya mungkin 2 stasiun yang menempati tempat yang sama. Nggak heran kalau pintu masuk/keluarnya pun banyak, sampai huruf N, kalau nggak salah ingat. Dan ternyata, ada lebih banyak toko di MTR East Tsim Sha Tsui dibandingkan MTR Tsim Sha Tsui. Barang-barang yang ditawarkan pun cukup bermerek juga. Seperti biasa, mata gw bergerilya mencari gerai seven eleven atau maxim’s. Kali ini gw memilih maxim’s cream cheese bun dan sebotol nescafe smoovlatte mocha untuk bekal sarapan. Duh! itu cream cheese bun-nya enak pisan! Rasa dan kelembutannya mirip banget sama cream cheese breadnya Tous les Jours.

Untuk menuju Giant Buddha, kita harus turun di stasiun paling akhir yaitu MTR Tung Chung. Untuk itu, dari MTR East Tsim Sha Tsui gw turun di MTR Nam Cheong untuk kemudian transit ke Tung Chung line, dan turun di stasiun terakhir. Perjalanan memakan waktu hampir satu jam, dan begitu sampai, gw langsung keluar melalui exit B menuju Citygate Outlet. Begitu keluar stasiun, di depan mata berdiri gagah Citygate Outlet mall. Jalan terus ke arah kiri, ikuti petunjuk ke arah Ngong Ping 360 Cable Car.

seperti biasa, ikuti saja petunjuknya

seperti biasa, ikuti saja petunjuknya

terminal bus-nya yang sebelah kanan... kelihatan kan papan yang ada tulisan 23 Ngong Ping? tapi antri bus-nya bukan di situ ya, tapi di sisi seberangnya lagi

terminal bus-nya yang sebelah kanan… kelihatan kan papan yang ada tulisan 23 Ngong Ping? tapi antri bus-nya bukan di situ ya, tapi di sisi seberangnya lagi

Saat itu baru pukul 8.20, cable car belum beroperasi. Informasi mengenai cable car ini dapat dibaca di http://www.np360.com.hk. Nah disebelah eskalator menuju terminal cable car itu, terlihat pagar-pagar kan… itu adalah terminal bus yang salah satunya akan membawa kita ke Ngong Ping. Gw mencari tempat antrian calon penumpang New Lantao Bus No. 23, bus yang akan gw tumpangi yang menurut jadwal akan berangkat pukul 8.30. Mengenai bus ini dapat dilihat di http://www.newlantaobus.com.
Perjalanan dengan bus ini lumayan menghemat budget jika dibandingkan dengan menumpang cable car, walaupun memang lebih lama karena ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Jalan yang dilalui berkelok-kelok, sepi, tidak sering dilintasi kendaraan, dan cukup sempit, tapi pemandangannya lumayan indah. Samar-samar dari kejauhan kita bisa melihat the Giant Buddha tertutup kabut.

Pukul 9.05 gw sampai di Ngong Ping. Saat turun dari bus, terdengar salam yang familiar.
“Assalamu’alaikum”. Seorang pria berpakaian salwar kameez berwarna putih lusuh menyapa gw. Setelah berbasa basi sedikit, gw memulai penjelajahan di komplek the Giant Buddha dan Po Lin Monastery.
???????????
***
Karena masih cukup pagi, pengunjung masih sangat sedikit, bisa dibilang hampir tidak ada. Tapi cuaca sudah panas, matahari sudah bersinar terik menyengat. Begitu turn dari bus, kita akan melihat New Pau Lau, pintu gerbang yang disambung dengan Bodhi Path, sebuah jalan lurus yang dikanan kirinya berdiri 12 patung Twelve Divine Generals, yang dipercaya sebagai penjaga waktu sekaligus penggambaran 12 shio dalam budaya Tiongkok.

New Lau Pau, Bodhi Path dan Twelve Divine Generals di kanan dan kirinya

New Pau Lau, Bodhi Path dan Twelve Divine Generals di kanan dan kirinya

???????????
Diujung Bodhi Path terdapat Di Tan, panggung berbentuk bundar yang biasa digunakan sebagai tempat dilaksanakannya upacara-upacara keagamaan. Dan disebelah Di Tan ini kembali kita temui gerbang yang mirip dengan New Pau Lau, kali ini adalah gerbang menuju Po Lin Monastery.

Gate to Po Lin Monastery

Gate to Po Lin Monastery

???????????
???????????
The Giant Buddha baru mulai beroperasi sejak pukul 10 setiap harinya. Maka gw pun menyasar tujuan lain sambil menunggu jam buka. Nah, satu-satunya tempat lain yang tidak ada jam buka tutupnya adalah Wisdom Path.
Untuk mencapai Wisdom Path ini kita harus berjalan melalui jalan setapak menembus hutan. Walaupun judulnya hutan tapi tidak perlu khawatir, karena jalan setapaknya sudah cukup bagus dan petunjuk jalannya juga cukup jelas. Yang perlu dikhawatirkan adalah kotoran hewan yang kadang bertebaran di sepanjang jalan setapak, atau bangkai cacing yang terinjak. Bagi gw pribadi, ada tambahan yang perlu gw khawatirkan. Karena gw orangnya kan penakut ya, begitu masuk hutan langsung merinding, jadilah selama perjalanan pergi dan pulang dari Wisdom Path, gw komat-kamit baca ayat kursi.

Oh ya, ketika akan memulai pencarian Wisdom Path, gw melihat ada petunjuk juga mengenai Tea Garden Restaurant. Imajinasi langsung terbang tinggi dong, langsung membayangkan cafe cantik bergaya shabby chic di tengah kebuh teh untuk nge-teh ala high tea… atau kedai minum teh bernuansa tradisional dengan rimbun bambu dan gemericik air terjun…
Dan khayalan itu hancur berkeping-keping setelah melihat wujud Tea Garden restaurant yang sebenarnya. Nih!

Pataaaaahhh... hatiiiii.. kuuuuu... jadinyaaa...

Pataaaaahhh… hatiiiii.. kuuuuu… jadinyaaa…

Oke, melanjutkan langkah hingga akhirnya sampai di Wisdom Path yang terletak benar-benar di tengah kesunyian hutan. 38 batang kayu setinggi 8 hingga 10 meter yang khusus diimpor dari Afrika, di tiap batangnya diukir inskripsi dari Heart Sutra yang menjadi dasar bagi 3 agama utama di Tiongkok: Budha, Tao, dan Konfusian. Sebelumnya, Wisdom Path ini dinamakan Heart Sutra Inscription. Naiklah terus hingga ke batang kayu yang ditancapkan paling atas, kita bisa melihat Laut Cina Selatan. Hati-hati ya dalam menaiki tangga di Wisdom Path ini. Awal-awalnya, tangga yang ada memang masih dalam kondisi baik, tapi semakin ke atas, semakin tak terbentuk.
???????????
???????????
???????????
***
Kembali ke area Ngong Ping Piazza dengan melewati jalan yang sama, karena belum juga pukul 10 maka gw mengefektifkan waktu dengan mengunjungi Po Lin Monastery terlebih dahulu. Po Lin Monastery, atau dalam bahasa Indonesia mungkin bisa diartikan sebagai Biara Po Lin, atau lebih jauh lagi mungkin Biara Lotus, karena Po Lin berarti ‘lotus’.
???????????
???????????
???????????
???????????
???????????
Sayangnya, saat itu Po Lin Monastery tampaknya sedang dipugar sehingga tidak memungkinkan bagi pengunjung untuk masuk dan meresapi nilai-nilai Buddha didalamnya. Gw hanya mengetahui bahwa Po Lin Monastery ini adalah tempat retret bagi umat Buddha sedunia. Namun bagi yang ingin tau lebih dalam, bisa membuka http://www.plm.org.hk untuk informasi lebih lengkap.

Saat gw sedang khusyu’ mengambil beberapa gambar didepan tepat dupa di gerbang Po Lin Monastery, seorang perempuan muda berwajah melayu mendekati gw dan menyapa dalam logat jawa timuran yang kental. Ternyata dia adalah salah seorang TKW yang, menurut pengakuannya, bekerja di komplek Po Lin Monastery itu. Saat itu dia sedang menunggu taksi untuk membawa majikannya yang sudah sepuh berobat ke kota. Gw melirik ke arah yang ditunjuknya. Seorang nenek sedang duduk termangu dibawah pohon di depan salah satu pojok Po Lin Monastery.
“Betah, mbak, kerja di sini?” gw bertanya.
“Aku mau pulang, udah bosan. 8 tahun aku disini mbak, aku mau hidup enak aja di kampung.”
“Tapi sepertinya majikan mbak orangnya baik.”
“Ya begitulah mbak, baik ukuran orang sini. Kita harus berani melawan, kalau diam terus bisa habis kita diinjak-injak.”

Gw manggut-manggut seolah setuju dengan perkataannya. Melirik arloji, ternyata sudah pukul 10. Berarti the Giant Buddha sudah buka.

***

Giant Buddha viewed from Po Lin Monastery

Giant Buddha viewed from Po Lin Monastery

Akses ke salah satu patung Budha terbesar di dunia ini dibuka mulai pukul 10 hingga pukul 6 sore, dan sebenarnya gratis, jika kita tidak berminat masuk ke museum yang terdapat di bawah patung Budha tersebut. Tapi karena ketidaktahuan gw, gw pun manut ketika dipanggil-panggil oleh ibu setengah baya yang berjaga di loket penjualan tiket. Uang sebesar HKD 33 pun berpindah tangan untuk selembar tiket. Dengan tiket itu, selain menikmati museum, pengunjung bisa mendapatkan free mineral water atau es krim atau free lunch di vegetarian restaurant di Po Lin Monastery. Si ibu penjaga konter tiket menyarankan supaya gw mencoba free lunch saja, karena “Mineral water atau es krim kan bisa didapatkan di mana saja, kamu sudah jauh-jauh datang ke sini, coba lah sesuatu yang lain. Menu yang kami tawarkan vegetarian, dan hanya menu terbaik yang kami sajikan.”

let's hike! hike!

let’s hike! hike!

Gw mulai mendaki 268 anak tangga menuju Giant Buddha. Giant Buddha adalah salah satu patung Buddha terbesar di dunia yang mengundang pemeluk agama Buddha datang berbondong-bondong untuk beribadah. Patung setinggi 34 meter ini terbuat dari perunggu, dibangun pada tahun 1993 dengan menghadap ke utara ke wilayah Cina daratan, sementara patung Buddha lain biasanya dibangun menghadap ke arah selatan.

Begitu sampai di atas, kita akan melihat 6 buah patung dengan ukuran jauh lebih kecil, yang dikenal sebagai the Offering of the Six Devas, 3 di sisi kanan dan 3 di sisi kiri. Masing-masing patung membawa 6 hal yang menurut ajaran Budha, dibutuhkan untuk masuk ke dalam nirwana, yaitu bunga (amal), dupa (moral), lampu (kesabaran), obat (semangat), buah (meditasi), dan alat musik (kebijaksanaan). Dari sini kita juga bisa melihat, konon katanya, Macau saat cuaca cerah, sementara di sisi lain, nampak cable car bolak balik di kejauhan.

the Offering of the Six Devas #1

the Offering of the Six Devas #1

the Offering of the Six Devas #2

the Offering of the Six Devas #2

???????????

Konon, nun jauh di sana itu Macau...

Konon, nun jauh di sana itu Macau…

Masuk ke museum, gw merasa menyesal karena gw tidak paham sama sekali apa yang dipamerkan di sana, karena semua hal diterangkan dalam bahasa mandarin. Pengunjung juga tidak diperbolehkan mengambil foto didalamnya. Pas banget gw merasa lapar, gw pun segera keluar dan bergegas menuju restoran khusus vegetarian di Po Lin Monastery.

***
Namanya gratisan ya, pilihan menu yang bisa kita pilih pun tidak banyak. Gw diberi sepiring bihun goreng dan sebotol fanta orange, dan dua buah cemilan yang bisa gw pilih sendiri: shrimp roll & fried wonton.
Mungkin karena judulnya vegetarian, jadi ya tidak ada topping apapun pada bihun gorengnya. Polos blas, tanpa telur, bahkan wortel pun tak ada. Rasanya? Hambar, kakaaaaakkk:mrgreen:

my free vegetarian lunch!

my free vegetarian lunch!

***
Kalau saat datang tadi gw menumpang New Lantao Bus No. 23, saat pulang gw mencoba naik cable car. Nah untuk sampai ke terminal cable car, wisatawan harus melewati Ngong Ping Village, yang menurut gw, tak lebih dari kumpulan toko-toko souvenir. Lagi-lagi jebakan batman. Tapi kali ini gw tidak tergoda, karena walaupun barang yang ditawarkan sungguh lucu dan menggoda iman minta dibeli, harga yang cukup mahal dan tidak bisa ditawar mampu meredam hasrat belanja gw.
Oh well… sempat tergoda untuk membeli sebuah payung sih, karena gw kan memang nggak punya payung. Tapi niat itu gw urungkan karena gw harus fokus pada cita-cita gw membeli payung disneyland! *penting* *banget* *obsessive compulsive*

Setelah membeli tiket single trip untuk standard cabin dan tak lama mengantri, petugas cable car mempersilakan gw memasuki kabin. Selain gw, ada seorang gadis asal mindanao, filipina, sehingga dalam kabin itu total ada 2 orang saja. Kami saling bercerita, terutama kesan terhadap Hong Kong, dan rupanya gadis itu punya kesan yang sama dengan gw.
“Membosankan,” katanya sambil memandang pemandangan diluar kabin, “Hong Kong begitu-begitu saja, tidak ada yang berubah. Berbeda dengan Thailand. Saya senang sekali ke sana, sudah berkali-kali dan tidak pernah bosan, mereka punya banyak hal dan makanannya pun enak-enak.”
Lalu kenapa dia datang kembali ke Hong Kong?
“Karena ini liburan keluarga besar, pertama kalinya.”

Dia juga bilang ingin mengunjungi Candi Borobudur, dan bertanya, jika dia ke Indonesia, selain ke Borobudur ke mana lagi dia bisa pergi.
“Oh, you’ll need your entire life to explore Indonesia. We have so many beautiful places and islands you won’t get bored with!”
Lalu gw menjelaskan sedikit tentang Jakarta dan Jogja.

view #1

view #1

view #2

view #2

view #7

view #3

view #6

view #4

view #5

view #5

view #4

view #6

view #3

view #7

Sedikit tips, untuk lebih menikmati cable car, jangan hanya duduk. Cobalah berdiri, dan rasakan sensasinya ketika cable car meluncur turun!

***
Tujuan selanjutnya: Citygate Outlet!
Ini mall terkenal sekali dikalangan penggila belanja terutama barang-barang branded. Terkenal karena diskon gila-gilaan sepanjang tahunnya. Nah setelah turun dari cable car dan menuruni eskalator, jalan lurus sedikit langsung ketemu pusat perbelanjaan paling hits bagi perempuan-perempuan *dan laki-laki juga sih* modis alias modal diskon:mrgreen:
Namapun perempuan yaaa… ngedenger ada tempat belanja barang branded dengan harga miring kan langsung semangat aja gitu bawaannya. Makanya gw dari sebelum berangkat pun udah sibuk browsing sana-sini, cari model terbaru dan sebagainya, udah tau apa yang diincer dan tetek bengeknya. Begitu masuk mall, setelah puas keliling-keliling, gw langsung ke sasaran tembak. Ya kan emang udah kepengen banget sama satu… err dua sih… oke deh, beberapa merk.

Apa daya setelah keluar masuk toko, entah kenapa tidak ada yang menarik hati… apalagi setelah gw bandingkan dengan harga online shop di Indonesia, harganya masih tetap lebih mahal di Citygate Outlet. Dan seketika kesadaran *dan sifat medit gw* menyergap… apa nggak sayang keluar uang sampe jutaan hanya untuk sebuah tas atau sepatu atau apapun itu yang sifatnya sekunder? Duit segitu banyak mending buat traveling berikutnya, iya nggak sih? *kode*

Akhirnya gw cuma beli beberapa kaus dan polo shirt bertuliskan I LOVE HK di konter Giordano. Kenapa harus di Giordano sih beli-beli t-shirt-nya? Kan t-shirt dengan sablon pasaran gitu bisa didapatkan di Ladies Market atau Temple Street Night Market?
Jawabannya, karena ini buat keluarga gw, jadi ya gw lebih concern… dan pepatah ada harga ada rupa itu emang bener banget. Si Giordano ini sablonannya oke dan bahannya pun bagus, tebal tapi adeeeeemmm… dapet deh 2 buah polo shirts dengan harga HKD 290 dan 3 buah t-shirts dengan harga HKD 320. Eh apa kebalik ya? Ya pokoknya jumlahnya HKD 610 lah *eh* *tapi kayaknya bener kebalik*
Harga kaus-kaus dan apparel things lainnya memang jauh lebih murah dibandingkan dengan Giordano di Indonesia, dan untuk beberapa barang malah lebih murah daripada konter Giordano di tempat lain di Hong Kong, misalnya tas ransel berbahan parasut dibandrol HKD 160 untuk 2 buah, sementara di tempat lain, harga segitu ya harga untuk 1 buah tas.
Abis itu masih menyempatkan diri melipir ke konter Esprit, dan langsung keluar lagi karena model-modelnya udah terlalu last season banget. Ya mungkin juga karena emang bukan selera gw aja sih…

Sekitar 3 hingga 4 jam jogging di Citygate Outlet, seperti kemarin gw pun kembali ke hostel untuk shalat dan melanjutkan itinerary. Temple Street Night Market.

***
Yakin nih, Temple Street Night Market? Dalam keadaan kaki yang semakin cekot-cekot dan bosan yang semakin mendera, gw berpikir dan menduga-duga dengan sok taunya kalau Temple Street Night Market itu ya sebelas dua belas sama Ladies Market. Barang-barang dan suasana yang ditawarkan kemungkinan ya itu-itu saja. Berbekal keyakinan itu gw pun mengubah itinerary. Ke Causeway Bay gw terbang. Tujuannya ya nge-mall lagi yuuukk kakaaakk…😆

Karena pagi tadi gw pilih MTR East Tsim Sha Tsui sebagai titik tolak, kali ini gw kembali ke MTR Tsim Sha Tsui. Seperti biasa, gw naik Tsuen Wan line arah Central dan transit di MTR Admiralty, terus transfer ke Island line arah Chai Wan dan turun deh MTR Causeway Bay. Di sini, pilih exit… errr lupa *dikeplak pembaca* *ya maap* ya pokoknya rajin-rajin nengok peta yang ada di stasiun itu lah, kalo gw sih waktu itu langsung pilih exit yang terdekat dengan Jardine’s Bazaar karena udah nawaitu mau ke Forever 21 dan H&M. Kalau nggak salah gw keluar di exit F2 daaaaannn… langsung disambut gerai Forever 21 yang berdiri tinggi megah, maklum lah Forever 21 di Causeway Bay ini kan katanya flagship store-nya di Hong Kong. Seperti biasa gw langsung gerilya, sempat bolak-balik karena bimbang melihat sebuah celana, dan sebagaimana kebiasaan gw juga… ujung-ujungnya nggak jadi beli, dan nyeselnya baru muncul pas udah balik ke Indonesia:mrgreen:

Dari Forever 21 udah langsung berantakan deh tujuan-tujuan selanjutnya. Gw udah nggak merhatiin jalan karena di situ kan emang komplek perbelanjaan, jadi ya ke manapun isinya mall, mall, mall, mall, dan mall. Jadi kegiatan gw ya cuma keluar masuk gedung, dan pulang tanpa membawa satu pun hasil kekalapan belanja *kekep dompet erat-erat*.

***
Setelah roti maxim’s, mango dessert Hui Lau Shan, tekad gw berikutnya adalah gw harus makan kebab Ebeneezers yang konon dinobatkan sebagai kebab terenak seantero Hong Kong. Maka setelah keluar dari MTR Tsim Sha Tsui, dengan terseok-seok *kaki gw bener-bener udah lecet-lecet, bro* dan nyasar-nyasar berkali-kali sampe akhirnya yaaa akhirnya ketemu lah si gerai Ebeneezers ini di Ashley Road *sujud syukur*
Ebeneezers punya gerai di mana-mana, tapi gw pilih yang paling dekat dengan hostel karena niatnya kan emang makan malam trus pulang dan langsung tidur. Bisa dilihat lokasi Ebenezeers ada di mana aja itu di http://www.ebeneezers.com
???????????
???????????
Gw langsung pesan lamb kebab dan… jreeeeennnggg!!!

my lamb kebab: it's huge! and it's HKD 83! OUCH!

my lamb kebab: it’s huge! and it’s HKD 83! OUCH!

Porsinya mantap braaaaayyy!!! Dan mihil jooo… HKD 83 aja. Gw jatuh miskin seketika😆

Rasanya? Enak, tapi gw nggak bisa bilang they serve the best kebab in town karena selama di Hong Kong hanya di situ lah gw makan kebab. Tapi kalau boleh dibandingkan dengan kebab yang gw coba di Kuala Lumpur sih, menurut gw lebih mantap kebab yang di KL *dan lebih murah jo! MYR 12!* dagingnya lebih banyak, tapi memang porsi kebab ebeneezers ini nendang banget lah. Worth trying😉

***
Sekian petualangan hari ketiga. Rasanya pengen ngesot aja deh balik ke hostelnya, saking udah nggak kuatnya kaki gw *tapi masih tetep maksa-maksain melipir ke Market Place, nimbun Pocky*:mrgreen:
Dan hari ketiga ini mungkin hari di mana gw nyampe hotel paling awal dibandingkan hari lainnya. Sekitar jam 10 malam udah nyelonjor di kasur, ngobrol sama Vika memohon petunjuk itinerary esok hari.

Expenses:
.maxim’s cake cream cheese bun HKD 7,5
.nescafe smoovlatte mocha HKD 11,9
.new lantao bus no. 23 HKD 17,2 (octopus)
.the Giant Buddha HKD 33
.Ngong Ping 360 Cable Car single trip standard cabin HKD 105
.Giordano “i love hk” HKD 610 for 3 t-shirts and 2 polo shirts
.top up Octopus Card HKD 50
.ebeneezer’s lamb kebab HKD 83
.cemilan di supermarket Market Place HKD 80,8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s