Hong Kong: Day 4 – A Sudden Escapade

Rabu, 28 Mei 2014

Entah karena apa dan entah kenapa, Hong Kong sepertinya kurang menarik bagi gw untuk mengeksplorasi lebih jauh lagi. Itinerary hari keempat memang sudah dirancang, dan rencananya gw akan ke Nan Liang Garden, Causeway Bay dan sekitarnya, ngadem dan menambah pengetahuan di Museum of History, bersantai di Kowloon Park, dan menghabiskan malam terakhir di Hong Kong dengan menonton Symphony of Light dan menikmati angin sepoi-sepoi di sepanjang Avenue of Stars.

Tapi rencana tinggal rencana. Gw dengan seenaknya mengubah rute perjalanan, hingga terciptalah rute baru tanpa persiapan, hanya bermodal racun nasihat dari Vika dan sedikit kenekatan karena tiba-tiba kok gw kepengeeeeennn banget ke tempat ini. Ada deg-deg-annya sedikit karena rute perjalanan memang totally changed dan karena gw nggak pernah merencanakan sebelumnya, gw pun nggak searching sama sekali soal plan B. Jadilah, sambil ngobrol via whatsapp sama Vika, gw menggali sebanyak mungkin informasi yang ada di internet untuk menihilkan kemungkinan tersasar: gw memang menghindari banyak waktu terbuang. Hari terakhir harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

***
Ke mana gw pergi?

The Ruin of St. Paul's, Macau

The Ruin of St. Paul’s, Macau


Macau – terletak di tepi barat Sungai Pearl Delta di selatan Provinsi Guangdong, Cina – bersebelahan dengan kota Daratan Zhuhai dan terletak sekitar 60 kilometer di sebelah timur Hong Kong. Macau terdiri dari Macau Peninsula, Taipa dan kepulauan Coloane. Macau Peninsula adalah pusat dari wilayah tersebut dan terhubung ke Pulau Taipa oleh tiga jembatan jalan. Beberapa resort hotel besar internasional – dengan infrastruktur pendukung baru – yang terletak di tanah reklamasi antara Taipa dan Coloane di distrik baru yang dikenal sebagai Cotai.

Bangsa Portugis tiba dan menetap di Macau pada pertengahan abad ke-16. Dengan demikian, arsitektur kota, seni, agama, tradisi, makanan dan masyarakat mencerminkan integrasi budaya Cina, Barat dan Portugis. Macau menjadi Daerah Administratif Khusus Republik Rakyat China pada tanggal 20 Desember 1999 dan menjadi wilayah otonomi tinggi di bawah prinsip “Satu negara, dua sistem”. SAR kecil tumbuh seiring perkembangan bangunan di tanah reklamasi, dan dalam jumlah dan keragaman atraksinya. Pada tahun 2005, Pusat Sejarah Macau yang tertulis di Daftar Warisan Dunia UNESCO sebagai hasil dari lanskap yang unik sejarah dan budaya. Macau saat ini memposisikan diri sebagai Pusat Dunia Pariwisata dan Kenyamanan karena berkembang menjadi tujuan wisata bertaraf internasional.

Para nelayan dari Fujian dan para petani dari Guangdong adalah orang-orang pertama yang menetap di Macau, yang saat itu masih dikenal sebagai Ou Mun, atau “gerbang perdagangan”, karena lokasinya yang terletak di muara Pearl River di hilir Guangzhou (Canton). Pada zaman dulu kota pelabuhan merupakan bagian dari Jalan Sutra dengan kapal-kapal menaikkan muatan sutra dari sini menuju Roma.

Di awal tahun 1550-an para pedagang Portugis mencapai Ou Mun, yang disebut oleh penduduk setempat sebagai A Ma Gao, “tempat A Ma”, untuk menghormati Dewi Pelaut, dimana kuilnya berada tepat di pintu masuk Inner Harbour yang terlindungi. Portugis mengadaptasi namanya, yang perlahan-lahan berubah menjadi “Macau”, dan dengan izin penduduk Guangdong berbahasa Mandarin, mendirikan sebuah kota yang dalam waktu singkat menjadi pintu masuk perdagangan besar antara Cina, Jepang, India dan Eropa.

Total penduduk diperkirakan berjumlah 614,500. Lebih dari 90% dari penduduk Macau merupakan etnis Cina. Sisanya termasuk bangsa Portugis, Filipino dan kebangsaan lainnya.

Bahasa Cina dan Portugis merupakan bahasa resmi, dengan dialek Canton yang paling umum dipergunakan. Bahasa resmi digunakan pada instansi pemerintah dalam seluruh dokumen resmi dan komunikasi. Bahasa Inggris umumnya digunakan dalam perdagangan, pariwisata dan bisnis.


Begitulah informasi yang gw baca di http://www.macaotourism.gov.mo

Yep, it’s Macau!

Tidak pernah terlintas dalam benak gw untuk mengunjungi Macau. Tapi sekonyong-konyong gw membuat keputusan untuk pergi ke tempat ini, hanya karena bosan dengan Hong Kong dan bagi seorang control-freak seperti gw, gw merasa tertantang melakukan sesuatu di luar rencana.

Sejak mulai bermain hati dengan Macau *azeeeeekkk*, gw tau gw bisa ke sana tapi hanya untuk beberapa jam saja. Bagaimanapun ada beberapa icon Hong Kong yang belum gw lihat, yang memang gw sengaja letakkan di detik-detik terakhir.

Ada banyak cara ke Macau, jalur darat, laut, maupun udara, bahkan dari Hong Kong International Airport pun bisa langsung ke Macau. Dalam kesempatan kali ini gw akan menggunakan jalur laut dari China Hong Kong Ferry Terminal di Kowloon, dan rencananya akan menggunakan jetfoil dari TurboJET. Informasi jadwal kebarangkatan dan harga tiket dapat dilihat di situs mereka, www.turbojet.com.hk

Oh ya, dari Hong Kong sendiri, ada dua titik keberangkatan ke Macau, yaitu dari daerah Hong Kong Island dan dari daerah Kowloon, Tsim Sha Tsui. Dan ada dua titik tujuan juga, yaitu Macau dan Taipa. Pastikan saat membeli tiket, bahwa tujuan kita adalah Macau dan bukan Taipa, terutama kalau ingin ke Hotel Grand Lisboa, Hotel Wynn, Hotel Sintra, Ruin of St. Paul’s, dan Senado Square.

Walaupun terminal ferry di Kowloon itu konon katanya dekat dengan hostel tempat gw menginap, bisa ditempuh dengan jalan kaki beberapa menit saja, namun belajar dari pengalaman bahwa penunjuk jalan di Hong Kong itu kurang jelas, gw pun berangkat dari hostel lebih pagi dari sebelumnya. Karena mengejar naik ferry yang berangkat pukul 8 pagi, pukul 7 lewat sedikit gw sudah keluar hostel dan berjalan ke arah Masjid Kowloon.

Bagi gw yang menginap di Mirador Mansion di daerah Tsim sha Tsui, untuk mencapai terminal ferry, paling mudah memang melalui Kowloon Park yang terletak di samping Masjid Kowloon. Sesampainya di Kowloon Park, ikuti penunjuk arah ke China Hong Kong Ferry Terminal. Nah pada satu titik, kita akan bertemu jalan bercabang dua. Yang lurus jalannya lebar, dan yang ke kiri, jalannya menyempit dengan pohon rindang disisi kanannya. Ambil yang kiri ya, gw sempat terkecoh dan jalan lurus saja, sampai akhirnya balik lagi dan memilih jalan kecil di sisi kiri itu. Tuh kan, tetep aja ada nyasar-nyasarnya yang walau sedikit, tetap takes time juga.

Setelah melewati jalan kecil yang mirip jalan setapak itu, kita akan ketemu jembatan, dan setelah jembatan akan ada gedung di sisi kanan. Nah di gedung itu ada petunjuk bahwa disitulah letak terminal ferry. Lantai 1 untuk ruang tunggu keberangkatan dan lantai 2 untuk pembelian tiket dan pintu keberangkatan. Gw langsung berjalan cepat ke lantai 2. Agak terkejut melihat keadaan saat itu sudah cukup padat, gw kira gw sudah memilih keberangkatan yang cukup pagi, ternyata banyak orang berpikiran sama. Gw tidak sempat mengambil banyak foto karena gw berkejaran dengan waktu, hanya 15 menit menuju pukul 8. Sambil berjalan cepat, gw mencari-cari konter TurboJET. Tidak sampai di depan loket, seorang cowok yang gw kira adalah calo resmi karena dia melambai-lambaikan tiket didepan petugas konter, menawarkan tiket TurboJET 9 dolar lebih murah daripada harga konter. Gw pun segera menerima tiket seharga HKD 150, walaupun di tiket tertera HKD 159.

China Hong Kong Ferry Terminal sekitar pukul 7.35 pagi, ternyata sudah banyak yang ingin ke Macau

China Hong Kong Ferry Terminal sekitar pukul 7.35 pagi, ternyata sudah banyak yang ingin ke Macau

I'm going to Macau! and am getting this HKD 9 discount ticket! :mrgreen:

I’m going to Macau! and am getting this HKD 9 discount ticket!:mrgreen:

Dengan tiket di tangan, gw mencari gate H dan langsung mengantri bersama calon penumpang lain. Begitu sampai di hadapan petugas pemeriksa, mereka langsung menempelkan nomor kursi pada tiket gw. Sepertinya para petugas di pintu pemeriksaan tiket itu sudah terbiasa dengan banyaknya manusia, mereka bekerja cekatan sekali.

Selanjutnya gw berhadapan dengan petugas imigrasi, dan sama dengan petugas pemeriksaan tiket, mereka pun tak kalah gesitnya. Dengan sisa waktu kurang dari 10 menit menuju pukul 8, gw berlari ke Berth 12. Fiuh… lega ternyata calon penumpang lainnya pun masih berdiri menunggu dibukanya pintu ke dermaga tempat kapal ferry disandarkan.

Ini lagi antri boarding. From Berth 12 we go!

Ini lagi antri boarding. From Berth 12 we go!

Kurang dari 5 menit menuju pukul 8, pintu ke dermaga dibuka dan calon penumpang pun berhamburan memasuki kapal. Wah… kapalnya cukup nyaman dan kursinya juga cukup empuk, bahkan lebih nyaman dan bersih daripada kapal ferry antara Batam-Singapura ataupun Merak-Bakauheni. Perjalanan dari Kowloon Hong Kong ke Macau memakan waktu 1 jam lebih beberapa menit.

***

Macau Ferry Terminal

Macau Ferry Terminal

Setelah turun dari kapal dan menyelesaikan urusan imigrasi di Macau Ferry Terminal, gw mulai mencari petunjuk arah ke halte free shuttle bus. Shuttle bus ini gratis dan sepertinya hampir seluruh hotel mewah mengoperasikan shuttle bus masing-masing. Tujuannya memang untuk memudahkan orang-orang yang ingin mengadu peruntungan di meja judi, maklum lah tujuan orang mengunjungi Macau kan memang untuk menikmati kasino-kasinonya. Tapi jangan khawatir, walaupun kita bukan pengunjung hotel atau kasino, kita tetap boleh menumpang shuttle bus itu kok.

Terminal shuttle bus terletak di seberang jalan. Untuk menuju ke sana kita harus melewati lorong bawah tanah. Sekeluarnya dari imigrasi, ambil sisi kiri dan jalan lurus terus sampai keluar gedung, lalu menuruni tangga menuju lorong bawah tanah. Di depan pintu keluar ada beberapa orang memberikan peta Macau secara cuma-cuma.

Ikuti saja tulisan 'hotel' atau 'casino'. Turun ke bawah ya kalau mau ke halte shuttle bus di seberang jalan

Ikuti saja tulisan ‘hotel’ atau ‘casino’. Turun ke bawah ya kalau mau ke halte shuttle bus di seberang jalan


Semua shuttle bus berkumpul di tempat yang sama

Semua shuttle bus berkumpul di tempat yang sama


shelter for all hotels and casinos free shuttle bus

shelter for all hotels and casinos free shuttle bus


Shuttle bus yang berwarna-warni... Grand Lisboa itu hijau, The Venetian itu biru, City of Dreams itu ungu...

Shuttle bus yang berwarna-warni… Grand Lisboa itu hijau, The Venetian itu biru, City of Dreams itu ungu…

Mudah untuk menemukan shuttle bus yang akan mengantarkan kita ke tempat tujuan. Masing-masing parkir berbaris di tempat yang sudah ditentukan. Tujuan utama gw adalah Senado Square dan Ruin of St. Paul’s. Hotel yang terdekat dari kedua tempat itu, menurut peta, adalah Grand Lisboa. Saat itu hampir pukul 9.30. Setelah sekitar 5 menit menunggu, datang sebuah bus tiga perempat berwarna hijau. Itulah bus yang akan membawa gw ke hotel Grand Lisboa, salah satu hotel mewah dengan monumen menjulang berbentuk kimpo atau kim goan po didepannya. Kimpo adalah sejenis mata uang yang terbuat dari perak atau kuningan yang digunakan di Tiongkok hingga akhir abad ke-20. Bagi yang senang menonton film silat mandarin, pasti familiar dengan uang berbentuk perahu berwarna kuning keemasan itu.

Perjalanan dari halte shuttle bus di seberang Macau Ferry Terminal ke Grand Lisboa Hotel ditempuh hanya selama 15 menit. Begitu sampai, kita akan melihat monumen kimpo yang berkilauan. Monumen ini, karena tinggi menjulang, dari jauh sudah terlihat, dan bahkan terlihat juga dari Ruin of St. Paul’s.

Shuttle bus tidak menurunkan kita didepan lobby hotel, melainkan melalui jalan belakang yang gw perkirakan sebagai tempat parkir. Begitu turun, kita disambut seorang petugas hotel. Sebagian besar penumpang bus tadi langsung menuju kasino, sebagian kecilnya termasuk gw langsung naik eskalator ke atas. Sampai di lantai berikutnya, gw izin sebentar dengan salah seorang petugas hotel untuk mengambil beberapa gambar. Sebaiknya, saat berada di dalam hotel yang terintegrasi dengan kasino, kita bertanya lebih dulu soal boleh tidaknya mengambil gambar. Berdasarkan pengalaman gw, tidak ada kasino yang membolehkan pengunjung mengambil gambar, bahkan walau hanya di depan pintu masuknya.

Grand Lisboa Hotel's Main Lobby

Grand Lisboa Hotel’s Main Lobby


Grand Lisboa Hotel's Main Lobby #2

Grand Lisboa Hotel’s Main Lobby #2

Selesai foto-foto, gw keluar hotel dan langsung berjalan ke arah kanan. Jalan besar itu bernama Avenida do Infante D Henrique. Gw sempatkan berhenti sejenak, memandang berkeliling… rasanya nggak percaya kalau saat ini gw berada di Macau. Tanah Cina dengan citarasa Portugis. Rata-rata nama jalan memang menggunakan bahasa Portugis, tapi papan neon reklame di sepanjang jalan semua bertuliskan aksara Mandarin. Sama seperti di Hong Kong, gerai Bonjour dan Sasa dapat dengan mudah ditemukan di Macau.

Ini becak Macau... mungkin lho :mrgreen:

Ini becak Macau… mungkin lho:mrgreen:


Saat sedang asyik-asyiknya menerapkan Macau dalam memori gw, seorang laki-laki dengan wajah yang mirip sekali dengan dr. House, lengkap dengan ekspresi datarnya, mendekati gw dan sekonyong-konyong berkata, “do you want me to take picture of you?”, sementara tangannya memegang bungkusan entah apa. Gw ingat gw melihat dia juga di dalam hotel, dan dengan serta merta gw menolak tawaran kebaikan hatinya. Gw berjalan menjauh, sementara si dr. House masih berdiri mematung sambil mendekap bungkusan ditangannya. Namapun cewek ya, biar kata gw agak-agak reman kelakuannya, tapi ini lagi di negeri orang lho bok… kalem dikit lah, siapa tau ada yang ketipu gitu kan *salah fokus*

Oke, kembali ke jalan. Peta Macau yang gw dapatkan di Macau Ferry Terminal ini sungguh jelas dan membantu banget deh. Untuk menuju Senado Square dan Ruin of St. Paul’s, kita susuri saja jalan Avenida do Infante D Henrique, terus saja sampe ketemu sambungannya yaitu jalan Avenida de Almeida Ribeiro. Papan nama jalan di Macau, sebagaimana di Eropa, ditempel pada plat di dinding gedung, jadi perhatikan saja gedung-gedung yang terletak paling dekat dengan jalan.

Tidak jauh begitu mulai memasuki Avenida de Almeida Ribeiro, di sisi kanan ada barisan telepon umum dan lapangan terbuka dengan air mancur didepannya, juga ada papan penunjuk arah.

Inilah dia, Senado Square yang kesohor itu.

Senado Square - well, i'm actually expecting something more than this

Senado Square – well, i’m actually expecting something more than this

going deeper on Senado Square - shops are everywhere!

going deeper on Senado Square – shops are everywhere!

Tapi untuk tau bahwa ini Senado Square, cukup bikin gw bolak-balik beberapa kali ke tempat ini dari Ruin of St. Paul’s. Karena gw kan nggak tau gimana bentuknya Senado Square itu ya… iya sih gw tau Senado Square semacam lapangan atau alun-alun di tengah kota, tapi dalam bayangan gw kan, Senado Square itu besaaaaarrr dan dikelilingi gedung-gedung tua. Ternyata Senado Square ini tidak terlalu besar dengan air mancur yang juga biasa-biasa saja. Apalagi saat itu sedang ada panggung dan lampion-lampion didepannya, makin nggak ngeh kalo itu Senado Square. Orang-orang yang berada disekitarnya pun mengaku tak tahu di mana itu Senado Square. Lha kepriben jeh!?

Pertama kali sampai di ternyata-Senado-Square, gw langsung berjalan lebih dalam mengikuti penunjuk arah. Gedung-gedung dikanan-kiri jalan dibangun dengan gaya Eropa, yang cukup menarik perhatian itu adalah sebuah gedung bercat putih disisi kanan bertuliskan ‘Santa Casa Da Misericordia’, sementara disisi kiri terdapat Macau Business Tourism Centre. Seterusnya, bangunan bercat krem dikiri kanan jalan dipenuhi toko-toko berbagai merk ternama, mulai dari Hush Puppies, Giordano, hingga Swarovski diujung jalan, berdekatan dengan St. Dominic’s Church yang bernuansa krem kekuning-kuningan dengan sedikit sentuhan warna putih dan hijau.

Penunjuk arah seperti ini ada di mana-mana. Jelas dan sangat membantu

Penunjuk arah seperti ini ada di mana-mana. Jelas dan sangat membantu


Santa Casa Da Misericordia atau dengan nama lain Holy House of Mercy, dibangun pada tahun 1589 oleh uskup pertama dari Macau

Santa Casa Da Misericordia atau dengan nama lain Holy House of Mercy, dibangun pada tahun 1589 oleh uskup pertama dari Macau


St. Dominic’s Church, salah satu gereja katedral yang dibangun pada tahun 1587 dengan gaya Barok, termasuk ke dalam salah satu UNESCO World Heritage Sites

St. Dominic’s Church, salah satu gereja katedral yang dibangun pada tahun 1587 dengan gaya Barok, termasuk ke dalam salah satu UNESCO World Heritage Sites

Dari sini, jalan semakin menyempit, diapit deretan toko-toko dikanan kiri jalan. Paling banyak itu toko bernama ‘Pastelaria Koi Kei’ dengan nuansa merah yang selalu ramai pembeli. Didepannya dipajang berbagai jenis daging tipis yang dikeringkan, dan dietalase terpisah ditawarkan egg tart yang terkenal itu. Gw tau, gw tidak boleh memakan daging tipis itu. Karenanya, gw juga tidak mencoba egg tart, karena khawatir dan ragu akan kehalalannya.

Gw berjalan terus mengikuti petunjuk arah, dijamin tidak akan kesulitan menemukan Ruin of St. Paul’s. Menanjak sedikit demi sedikit dan jalan pun semakin lebar, dari kejauhan terlihat ikon Macau yang sangat terkenal. Seolah-olah muncul dari antah berantah, ditengah-tengah ratusan toko, dan dipenuhi kerumunan manusia.

And this is it!

And this is it!


The Ruin of ST. Paul’s, pada masanya adalah kompleks St. Paul’s College dan Gereja Mater Dei, yang dibangun oleh Serikat Jesuit untuk menghormati St. Paul, salah satu dari 12 Apostles. St. Paul’s College dibangun pada tahun 1582 hingga 1602, sementara Gereja Mater Dei dibangun pada tahun 1602 hingga 1640.

The Ruin of ST. Paul’s, pada masanya adalah kompleks St. Paul’s College dan Gereja Mater Dei, yang dibangun oleh Serikat Jesuit untuk menghormati St. Paul, salah satu dari 12 Apostles. St. Paul’s College dibangun pada tahun 1582 hingga 1602, sementara Gereja Mater Dei dibangun pada tahun 1602 hingga 1640.


???????????
???????????
Ruin of St. Paul's, from the back

Ruin of St. Paul’s, from the back


Saat itu baru pukul 10.30, tapi cuaca sudah sangat panas dan pengunjung sudah menyemut, berfoto disetiap sudut didepan Ruin of St. Paul’s. Gw menyempatkan masuk ke dalam ke Museum of Sacred Art and Crypt, tapi karena tidak ada penjelasan dalam bahasa inggris, gw segera keluar lagi.

Selanjutnya gw melipir ke Mount Fortress, dan kemudian menyadari mood gw saat itu tidak untuk tumbuhan-tumbuhan, gw pun mengakhiri kunjungan ke Ruin of St. Paul’s ini dan tiba-tiba memutuskan untuk masuk ke Starbucks. Oh, inilah akibat tidak bertemu kopi sejak pagi.

Tanpa diniatkan sebelumnya, gw juga memutuskan untuk mengoleh-olehi diri sendiri, sebuah tumbler Starbucks seharga HKD 110, yang gw bayar dengan koin recehan HKD. Di Macau kita bisa membayar dengan HKD. Jadi misalnya atas suatu barang tertera harga 70 MOP *mata uang Macau*, kita bisa membayar dengan 70 HKD. Tapi kalau kita tidak punya uang pas, dan membayar dengan 100 HKD, toko akan memberikan kembalian dalam MOP.

Pastelaria Koi Kei yang selalu penuh pembeli dan Starbucks, sedikit toko disekitar Ruin of St. Paul's

Pastelaria Koi Kei yang selalu penuh pembeli dan Starbucks, sedikit toko disekitar Ruin of St. Paul’s


 My first ever Starbucks tumblr! Now i’m looking forward to the next! I’m getting addicted, you know... and of course my caramel machiato :-)


My first ever Starbucks tumblr! Now i’m looking forward to the next! I’m getting addicted, you know…
and of course my caramel machiato🙂

Keluar dari Starbucks sambil menyeruput caramel machiato, gw kembali ke jalan yang menuju Senado Square sambil melihat-lihat apakah ada toko souvenir yang bisa gw kunjungi. Gw menemukan satu, dan ternyata itu satu-satunya toko souvenir di daerah tersebut. Tokonya tidak terlalu besar, tapi cukup lengkap. Kalau dari arah Ruin of St. Paul’s, toko ‘Beautiful Souvenirs of Macau’ ini berada di sebelah kiri jalan, agak menjorok ke dalam, dan tidak terlalu jauh dari Ruin of St. Paul’s. Gw dilayani oleh seorang perempuan Filipina. Darinya gw mengetahui, kalau mau ke The Venetian Hotel dari Senado Square, gw harus naik bus nomor 33 jurusan Taipa. Ongkosnya sekitar HKD 4 sampai 5. Noted, tapi tentu gw lebih memilih mencari dulu free shuttle bus menuju The Venetian Hotel, yang katanya mangkal di Sintra Hotel. Nah, berarti PR selanjutnya adalah mencari di mana itu Sintra Hotel?

The one and only souvenir shop

The one and only souvenir shop


Souvenir shop's name card and what is behind? It's from Macau immigration :-)

Souvenir shop’s name card and what is behind? It’s from Macau immigration🙂

***

Sesampainya kembali di Senado Square, gw menyeberangi jalan. Dari situ gw berjalan menyusuri Avenida de Almeida Ribeiro kembali ke arah datangnya gw *ke arah Grand Lisboa Hotel*, diperempatan besar pertama, belok kanan. Itulah Avenida da Praia Grande. Jalan terus sampai bertemu Hotel Metropole di sisi kanan jalan. Seberangi jalan lagi, susuri jalan dan disisi kiri kita akan sampai di Sintra Hotel. Berbeloklah ke kiri, bersebelahan dengan Sintra Hotel kita akan melihat gerai Missha. Didepan gerai Missha ini berdiri dua orang perempuan berseragam ungu memegang papan bertuliskan City of Dreams. Legaaa… akhirnya ketemu juga dengan ‘pangkalan’ free shuttle bus yang akan membawa gw ke City of Dreams. Kenapa City of Dreams dan bukan The Venetian Hotel? Karena itu yang termudah untuk mencapai The Venetian, dan City of Dreams itu terletak berseberangan dengan The Venetian.

Saat itu menjelang pukul 12 siang, seingat gw. Tidak lama menunggu, datanglah sebuah bus tiga perempat berwarna ungu. 20 menit kemudian, supir menurunkan para penumpang didepan lobby City of Dreams.

***
Begitu memasuki lobby, pengunjung disambut dengan pertunjukan putri duyung yang tidak jelas maksud dan tujuannya. Karena tujuan gw yang sebenarnya adalah The Venetian, maka gw tinggalkan si putri duyung yang bertelanjang dada, dan mulai berjalan ke kiri menyusuri lorong yang berkarpet tebal dan dipenuhi toko-toko yang menjual barang-barang mewah. Jalan terus sampai ketemu patung naga memegang bola, belok kiri, nah langsung deh keluar. Dari situ, sebrangi jalan dan sampailah kita di The Venetian Hotel.

The Venetian

The Venetian


The Venetian #2

The Venetian #2


This goddess welcome you! Ini salah satu penanda kemewahan The Venetian Hotel

This goddess welcome you!
Ini salah satu penanda kemewahan The Venetian Hotel


Langit-langitnya dibuat sedemikian elok, bagai istana-istana kerajaan dahulu kala di Eropa *eciyeciyeee*

Langit-langitnya dibuat sedemikian elok, bagai istana-istana kerajaan dahulu kala di Eropa *eciyeciyeee*

Gw mendekati resepsionis dan mengucapkan kata kuncinya, “i want to see the gondola.”

Sang resepsionis segera mengarahkan gw dan dengan mengikuti petunjuknya, sampailah gw di area mall-nya, yang dibuat sedemikian rupa menyerupai kanal di Venesia, Italia, lengkap dengan gondola dan pengayuhnya yang menyanyikan lagu-lagu beraroma italiano, dan langit buatan berwarna biru beserta awan putih penghiasnya.

The Grand Canal #1

The Grand Canal #1


The Grand Canal #2

The Grand Canal #2


The Grand Canal #3

The Grand Canal #3


The Grand Canal #4

The Grand Canal #4

Sebenarnya, gw berbohong pada resepsionis tadi. Gw bahkan tidak ada minat pada gondola. Gw cuma mau ke toko souvenirnya aja😆

Maka setelah mengelilingi kanal dan menahan air liur melihat egg tart-nya Lord Stew yang konon terenak sedunia itu, gw memasuki toko ‘Emporio di Gondola’, toko souvenir yang menjual pernak-pernik khas Macau dengan harga yang aduhai dan kualitas yang aduhai juga.

Dari toko souvenir, gw kembali ke lobby hotel dan kembali bertanya ke resepsionis yang sama, dimana letak free shuttle bus yang akan membawa gw ke Macau Ferry Terminal. “It’s on West Lobby,” mereka bilang. Dan karena saat itu gw berada di East Lobby, maka gw pun berjalan menuju arah yang ditunjuk. Dalam perjalanan ke West Lobby itu, setelah bertemu toko-toko barang-barang premium, gw disuguhkan pemandangan kasino. The real casino! Di sisi kanan kiri gw! Semua jenis permainan judi ada disini, dan ini nyata, bukan cuma dalam God of Gambler aja. Sayang, dilarang mengambil foto disini. Pria wanita, tua muda, tumpah ruah mengelilingi meja judi. Bahkan ada beberapa anak kecil, gw lihat mereka mendampingi keluarga mereka yang lebih tua mengadu nasib.

***
Sekeluarnya dari West Lobby The Venetian, gw langsung melihat barisan free shuttle bus berwarna biru. Tidak lama setelah gw dan beberapa penumpang lain menaiki bus, bus segera berangkat. Dalam perjalanan menuju Macau Ferry Terminal inilah gw berkesempatan melihat Macau Tower yang terkenal sebagai tempat bungee jumping yang paling menantang adrenalin, juga melewati jembatan yang menghubungkan Taipa dengan Semenanjung Macau. Setelah sekitar 30 menit, gw sampai di Macau Ferry Terminal. Untuk ke dalamnya, gw mengulangi rute yang sama seperti pagi harinya: melalui lorong bawah tanah.

Menuju halte free shuttle bus dari The Venetian ke Macau Ferry Terminal

Menuju halte free shuttle bus dari The Venetian ke Macau Ferry Terminal


Akhirnya ngerasain juga naik shuttle bus-nya The Venetian yang lebih cakep daripada shuttle bus-nya Grand Lisboa dan City of Dreams :mrgreen:

Akhirnya ngerasain juga naik shuttle bus-nya The Venetian yang lebih cakep daripada shuttle bus-nya Grand Lisboa dan City of Dreams:mrgreen:


Captured from the bus: Macau Bridge

Captured from the bus: Macau Bridge


Captured from the bus: Macao Tower

Captured from the bus: Macau Tower

Sesampainya di terminal, gw segera membeli tiket di konter TurboJET, melalui pemeriksaan tiket, imigrasi, dan penempelan stiker penanda nomor tempat duduk. Gw sempat-sempatnya berpesan, “i want to sit next to the window.”

***
Kapal seharusnya berangkat pukul 3 sore. Tapi bahkan hingga 5 menit sebelumnya, gw masih duduk menunggu di boarding room. Ternyata kapal memang terlambat sekitar 10 hingga 15 menit.

Waktu tempuh perjalanan pulang ini hampir sama dengan perjalanan pergi pagi tadi. Pukul 4.30 sore gw kembali berurusan dengan imigrasi Hong Kong, dan sebelum pukul 5 gw sudah kembali ke hostel. Menikmati satu cup popmie sebagai makan siang yang sangat terlambat. Macau, you’ve made my day😉

Captured from the board: See you again, Macau! Coloane, perhaps?

Captured from the board:
See you again, Macau! Coloane, perhaps?


My fridge magnet cost HKD 25  each, HKD 5 discount made it HKD 20 each

My fridge magnet cost HKD 25 each, HKD 5 discount made it HKD 20 each


The only thing that fits my budget: cute mug from Emporio di Gondola, a souvenir shop at The Venetian

The only thing that fits my budget: cute mug from Emporio di Gondola, a souvenir shop at The Venetian

Pengeluaran:

.TurboJET HK-MC HKD 150
.Starbucks tumbler HKD 110
.Fridge magnet from ‘Beautiful Souvenir of Macau’ HKD 60 for 3
.The Venetian mug HKD 65
.TurboJET MC-HK HKD 147

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s