Kuala Lumpur: Day 1 – Merdeka Square, KL City Gallery, Suria KLCC, Petronas Twin Towers

Dalam beberapa kali kesempatan, gw dan Vika sering berandai-andai ingin kembali traveling bersama setelah perjalanan pertama kami ke Singapura awal tahun 2014. Gw menawarkan banyak destinasi impian gw, tapi seringkali ditolak mentah-mentah oleh Vika. Alasannya antara tiga hal, kalo nggak dia yang fakir cuti, ya dia udah pernah ke sana, atau merasa bisa ke sana dalam rangka dinas kantor. Lha iya dia sih udah hampir mengunjungi semua opsi yang gw ajukan, sementara gw? Aku mah apa atuh da, hanya butiran Legal Officer yang hampir nggak pernah dinas ke tempat-tempat kece. Kalau diajak meninjau usaha debitur pun paling jauh cuma investigasi kandang ayam di daerah Cianjur *bukan curcol, cuma menceritakan kenyataan hidup :mrgreen:*

Dari sekian banyak tempat yang kami diskusikan, ketemulah satu tempat yang sepertinya cukup menarik untuk dieksplorasi. Untuk menghindari pengambilan jatah cuti yang terbatas, gw dan Vika memilih untuk pergi pada akhir tahun, memanfaatkan long weekend momen Natal selama 4 hari. Sebagai ahli dalam bidang perjalan-jalanan, Vika langsung bergerak sigap mencari tiket promo sejak awal Mei, setelah menghubungi dua pemeran lainnya yang akan gw perkenalkan di bawah ini: seorang ahli matematika dan seorang calon notaris.

Kenapa bulan Mei? Karena kami berusaha mendapatkan tiket dengan harga serendah mungkin. Kami akan terbang pada peak season di mana harga tiket pasti lagi mahal-mahalnya. Dan bagi gw, sejujurnya traveling di akhir tahun tidak masuk ke dalam rencana tahunan gw dimana itu berarti I had no budget for that. Jadi, sangat perlu bagi kami untuk mengatur rencana budget perjalanan secara matang dan ditekan sekecil-kecilnya. Selain tiket pesawat, kami mulai lirik-lirik penginapan dan cari tau soal biaya hidup di negara tujuan. Vika dan gw bekerja sama membuat itinerary lengkap dengan perkiraan biaya dan meneruskannya ke Didito dan Dani.

Rancangan itinerary yang bolak-balik antara anggota trip membuat pembelian tiket agak tersendat. Vika mulai khawatir karena harga tiket beranjak naik. Dengan kemampuannya nge-push orang, akhir Mei, Vika pun membuat kami sepakat dengan satu dari beberapa budget yang dirancang. Tiket dibeli, tugas selanjutnya pun turun pada gw: membuat itinerary secara detail. Sementara Didito mengambil peran sebagai pencari penginapan. Sekitar Agustus atau September, penginapan pun dipesan, sementara gw berhenti sejenak dari berkutat dengan itinerary.

Di saat yang bersamaan, menyisihkan uang tiap bulannya pun mulai dilakukan. Berdasarkan proyeksi asal-asalan gw, sepertinya cash flow bulanan gw tidak terlalu terganggu dan rencana trip kali ini bisa dilaksanakan dengan baik. Semuanya tampak oke sampai pertengahan Desember ketika nilai tukar rupiah terhadap dollar semakin melemah tajam, sementara gw harus menukar uang untuk bekal bertahan hidup di negeri orang. Budget menjadi terganggu dan cash flow gw pun terguncang *lebaaaaayyy*

Sekitar satu atau dua minggu sebelum keberangkatan, the Funtastic Four mengadakan rapat kecil-kecilan. Salah satu hasil rapat adalah menugaskan Dani untuk melakukan web check in. Kenapa Dani? Karena selain dia yang belum dapat beban moral, Dani juga TERNYATA YA TERNYATA nggak tau gimana caranya web check in. Alhamdulillah ya Dan, sekarang jadi tau kan caranya web check in😆

Dan sungguh betapa bertanggung-jawabnya Dani, masing-masing boarding pass dilipat rapih dan dimasukkan ke dalam empat amplop terpisah, dibubuhkan nama masing-masing diatasnya, dan diberikan dengan penuh khidmat diatas bus HIBA Depok-Bandara yang membawa kami menuju Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta pada Kamis, 25 Desember 2014 *kecup Dani*

***

Belajar dari pengalaman-pengalaman terdahulu, menjelang keberangkatan biasanya ada saja hal-hal yang sedikit banyak bisa menghambat kelancaran acara. Menimbang hal itu gw pun memutuskan untuk mengajukan cuti selama 2 hari, masing-masing 1 hari sebelum dan sesudah perjalanan. Again being si Papih’s legal officer, mantan bos gw di Bandung yang sekarang balik lagi jadi bos gw di Kelapa Gading, cuti disetujui dengan mulus. Dan kali ini tanpa embel-embel “kalo kamu cutinya buat kawin, baru saya izinin.” Tau aja deh si Papih kalo cari jodoh itu ternyata tidak semudah yang gw kira walaupun dulu kuliah di tempat di mana 9 dari 11 fakultas ngumpul jadi satu *apa sih*😆

Pukul 04:30 pagi, dengan diantar bayi gorilla gw pun diantar ke terminal Depok. Tepat pukul 5 bus HIBA Depok-Bandara meninggalkan terminal, dan 1 jam kemudian all the ladies sudah tiba di Soekarno Hatta. Tanpa check in karena sudah web check in sebelumnya, kami langsung menuju satu kedai yang paling kesohor di dunia perbakmian dan perpangsitan. Setelah memenuhi hak perut masing-masing, kami pun memulai rentetan prosedur yang harus dilalui untuk keluar dari perbatasan negara. Pemeriksaan paspor, bayar airport tax, periksa tiket, dan akhirnya masuk boarding room. Sesampainya di boarding room, secara bergiliran kami langsung menuntaskan hajat hidup masing-masing. Tepat saat Vika sedang ‘mencairkan deposito’-nya, terdengar suara petugas Air Asia mengaung-ngaung di udara, memanggil-manggil Vika untuk segera menghadap penghulu petugas maskapai. Ada apa nih? Penuh rasa penasaran dan sambil harap-harap cemas semoga tidak ada masalah dengan penerbangan, gw dan Didito mendekati petugas maskapai, menggantikan Vika yang masih konsentrasi di toilet.

Hasil tatap muka dengan petugas maskapai berakhir dengan persetujuan kami untuk berpindah tempat duduk demi persatuan satu keluarga *eh*

Sebenernya ini blessing in disguise juga sih. Awalnya kami duduk terpisah, tapi karena perubahan tempat duduk malah bisa jadi duduk bareng. Hanya Didito yang terpisah, itu pun masih dalam deret yang sama. So I have my seat changed from 28E to 12B.

Long story short, setelah penantian boarding yang seolah tiada akhir, kami memasuki pesawat. Air Asia AK 383 lepas landas tepat waktu pada pukul 08:30. Foto-foto, take off, tidur, foto-foto lagi, tidur lagi, landing, jalan kaki lamaaaaa sekali mengarungi KLIA 2 yang ternyata keren dan luas sekali, melewati proses imigrasi, so here we were… Malaysia!

Untuk mencapai downtown Kuala Lumpur, ada beberapa alternatif transportasi yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kemampuan, tentunya. Ada bus, taksi, KLIA Transit dan KLIA Ekspres. Mengingat budget yang makin terbatas, opsi taksi bahkan tak pernah terpikir dalam benak kami. Untuk menghemat waktu, kami sepakat untuk mengggunakan KLIA Ekspres yang mampu mencapai KL Sentral dalam waktu 33 menit. Penginapan kami memang terletak di KL Sentral, sengaja memilih lokasi tersebut untuk memudahkan mobilitas dari dan ke KLIA 2. Setelah membeli tiket KLIA EKspres seharga RM 35, kami kembali disibukkan dengan persoalan toilet. Berganti-ganti Vika, Didito, dan Dani keluar masuk toilet dan membuat gw cukup senewen juga karena jam sudah menunjukkan pukul 12:30, hanya 5 menit lagi hingga KLIA Ekspres tiba.

Turun ke Platform A, kurang dari satu menit KLIA Ekspres pun tiba. Interiornya sungguh nyaman, kereta api luar kota yang kita punya pun tentu masih kalah jauh😦

Selain bersih dan kursi yang nyaman, KLIA Ekspres juga menyediakan tempat khusus penyimpanan koper. Dan benar saja, berangkat dari KLIA 2 pukul 12:35, pukul 13:10 kami sudah tiba di KL Sentral. Cukup akurat lama perjalanannya. Untuk informasi lebih lengkapnya bisa dilirik-lirik www.kliaekspres.com

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #1: Didito & I

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #1: Didito & I

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #2: Vika & Dani

Inside KLIA Ekspres from KLIA 2 to downtown Kuala Lumpur | Roommate #2: Vika & Dani

KL Sentral #1

KL Sentral #1


KL Sentral #2

KL Sentral #2

KL Sentral #3

KL Sentral #3

KL Sentral #4

KL Sentral #4

Stasiun KL Sentral di Kuala Lumpur ini mungkin seperti Stasiun Gambir atau Stasiun Manggarai di Jakarta. Namun KL Sentral terasa lebih modern dan dinamis, juga lebih bersih dan tentunya lebih canggih. Sambil menunggu waktu check in hotel, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Ada begitu banyak pilihan tempat makan yang membuat kami bingung mau makan apa, dan begitu melihat kedai ayam penyet, Dani serta merta mengajak makan di situ, yang sekonyong-konyong ditolak mentah-mentah dan penuh ketegasan oleh Didito. Rule #1 No fast food dan Rule #2 No makanan yang ada di Indonesia. Tentu saja gw dan Vika mengamini pernyataan Didito ini *kecup Didito*

Walaupun akhirnya kami ended up di satu kedai bernama Meal’s Station dan menyantap makanan yang sebenarnya bisa ditemui juga di Indonesia, tapi paling nggak, nggak seumum ayam penyet lah:mrgreen:

Dani’s lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Chicken Rendang RM 9,90 & Honey Jasmine Tea RM 4

Dani’s lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Chicken Rendang RM 9,90 & Honey Jasmine Tea RM 4

My lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Wholegrain Cheesy Tuna RM 8,50 & Hazelnut White Coffee RM 4,30

My lunch at Meal’s Station, KL Sentral | Wholegrain Cheesy Tuna RM 8,50 & Hazelnut White Coffee RM 4,30

Rasa makanannya sih standar, entah karena saat itu gw lapar atau memang sandwichnya enak, tapi buat gw makanannya enak-enak aja. Gw emang sengaja pesan sandwich karena nggak terlalu doyan makanan santan-santanan yang ditawarkan di buku menu. Dan selain itu gw akhirnya berhasil menambah semangat dengan cara… minum kopi, yang rasa kopinya cukup mantap, which is I like it so much🙂

Beres urusan perut, kini giliran urusan bobo-bobo ayam malam nanti. Langsung ke My Hotel @Sentral yang ditempuh hanya dengan berjalan kaki selama 5 menit, karena sudah pukul 14:00 kami pun bisa langsung check in. Karena pemilihan siapa tidur sama siapa sudah dilakukan secara membabi-buta jauh-jauh hari, kami pun langsung menyimpan koper, ransel dan segala antek-anteknya di kamar. Bersih-bersih seadanya lalu shalat, pukul 15:30 kami kembali melanjutkan perjalanan tidak sesuai itinerary:mrgreen:

***
Kenapa tidak sesuai itinerary? Karena gw sebagai perancang itinerary dan pencinta museum memasukkan Muzium Negara sebagai tempat pemberhentian pertama. Namun melihat sempitnya waktu, akhirnya kami sepakat untuk meniadakan rencana tersebut dan langsung ke tujuan kedua yang sudah lama diidam-idamkan Vika.

Untuk mencapai Dataran Merdeka, dari KL Sentral kami menumpang Kelana Jaya Line LRT dan turun di stasiun Masjid Jamek.  Sebelumnya tentu kita harus membeli tiket perjalanan. Kami membeli single tiket seharga RM 1,3 di mesin penjualan tiket. Mesin penjualan tiket dengan layar sentuh ini merupakan sesuatu yang baru bagi gw, tapi pengoperasiannya cukup mudah kok. Cukup tentukan stasiun tujuan dan jumlah tiket yang akan dibeli, masukkan uang ke dalam mesin dan keluarlah token berwarna biru. Tokennya berbentuk seperti koin plastik dalam permainan othelo. Untuk penggunaannya, cukup tempelkan token tersebut pada pintu gate dan ketika akan keluar di stasiun tujuan, masukkan token ke dalam gate. Jadi, tokennya nggak bisa dikoleksi sebagai cindera mata bukti bahwa kita sudah ke Kuala Lumpur *gagal fokus*

Yang mau tau lebih lanjut soal moda transportasi di Malaysia lengkap dengan ongkosnya bisa dilihat di www.myrapid.com.my

Dengan mengikuti petunjuk arah menuju pintu keluar ke Dataran Merdeka atau Masjid Jamek, diseberang kita akan melihat Masjid Jamek. Seberangi jalan raya yang dikenal sebagai Jalan Tun Perak itu, berjalan ke arah kanan menyusuri jalan dan pada lampu merah pertama berbeloklah ke kiri. Itulah Jalan Raja. Sederetan bangunan tua langsung terlihat disisi kiri jalan, sementara Dataran Merdeka berumput hijau ada di sisi kanan. Lampu-lampu jalan berhias Bunga Raya berkelopak merah berdiri di kedua sisi jalan.

Bagi pecinta sejarah dan bangunan tua, rasanya wajib mengunjungi tempat ini. Dan sepertinya Dataran Merdeka ini memang menjadi salah satu spot wajib kunjung bagi para turis, selain sebagai meeting point warga lokal. Selain Dataran Merdeka, tourism spot lainnya adalah Kuala Lumpur City Gallery yang terkenal dengan tulisan raksasa I LOVE KL berwarna merah didepannya. Nah untuk sampai ke KL City Gallery, kita terlebih dahulu akan melewati bangunan-bangunan bersejarah tadi. Berturut-turut di sisi kiri jalan terdapat Old Sessions & Magistrates Court Building yang dibangun pada tahun 1910, kemudian Panggung Bandaraya KL yang dulunya dikenal sebagai the Old City Hall, lalu Former High Court Building yang dibangun dengan gaya arsitektur Moorish, selanjutnya Sultan Abdul Samad Building yang kini difungsikan sebagai kantor Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan, dan Government Office yang terletak persis sebelum perempatan jalan.

Sementara di sisi kanan terbentang Dataran Merdeka dengan tiang bendera setinggi 100 meter, the Cathedral of St. Mary –gereja Anglikan tertua di Malaysia, dan Royal Selangor Club. Tidak ketinggalan Victoria Fountain yang sudah berusia 100 tahun lebih, berdiri di dekat mural para Bapak Malaysia.

Everyone was busy taking picture… or doing some weird pose :mrgreen:

Everyone was busy taking picture… or doing some weird pose:mrgreen:

Didito, Vika, Dani & Me | Our very first complete complete picture in Kuala Lumpur taken in front of Sultan Abdul Samad building on the way to Kuala Lumpur City Gallery

Didito, Vika, Dani & Me | Our very first complete complete picture in Kuala Lumpur taken in front of Sultan Abdul Samad building on the way to Kuala Lumpur City Gallery

the Uninuna

the Uninuna

Heading KL City Gallery

Heading KL City Gallery

KL City Gallery

KL City Gallery

Sah! Pose wajib di depan photo spot paling spektakuler: the giant I LOVE KL

Sah! Pose wajib di depan photo spot paling spektakuler: the giant I LOVE KL

PROBLEM?!

PROBLEM?!

And with me, too, in front of Kuala Lumpur map

And with me, too, in front of Kuala Lumpur map

Mengunjungi KL City Gallery ini sebenarnya tidak dipungut biaya. Tapi kalau kita mau menyaksikan the Spectacular City Model Show, kita harus membeli tiket seharga RM 5. Nantinya tiket ini bisa digunakan untuk membeli sesuatu di toko souvenir Arch atau di café nya. Berhubung seinget gw nggak ada benda seharga RM 5 atau kurang di toko itu, ya paling nggak RM 5 nya bisa dipake untuk diskon dari harga sebenarnya deh. And that’s what I did with the fridge magnet I bought for myself.

Untuk mengelilingi KL City Gallery tidak diperlukan banyak waktu. Sepertinya 1 jam sudah cukup untuk mengetahui sejarah Kuala Lumpur sekaligus melihat the Spectacular City Model Show. Memang didalam galeri ini tidak banyak yang bisa dilihat. Selain sejarah Kuala Lumpur, ada juga penjelasan mengenai bangunan-bangunan bersejarah yang terletak di sekitar Dataran Merdeka lengkap dengan miniatur bangunannya, juga kisah mengenai Dataran Merdeka itu sendiri.

Setelah itu pengunjung bisa langsung menuju ke lantai 2 tempat show diadakan. The Spectacular City Model Show itu sendiri merupakan pertunjukan selama kurang lebih 10 hingga 15 menit yang ditata demikian cantik dan apik yang bercerita tentang perkembangan Kuala Lumpur sejak dulu dan rencana pengembangan di masa depan.

Di depan para pengunjung terhampar miniatur Kuala Lumpur yang terdiri lebih dari 5000 bangunan dengan skala 1:1500, kemudian pertunjukan pun dimulai dengan kecanggihan teknologi, perpaduan permainan lampu dan efek suara yang mampu membuat gw iri terhadap pesatnya kemajuan negara serumpun itu.

Kunjungan ke KL City Gallery kami tutup dengan mendatangi toko souvenir di lantai 1. Ditata dengan mengutamakan kenyamanan pengunjung, suvenir-suvenir yang ditawarkan pun cukup beragam dan semuanya dibuat dengan detail yang rumit yang gw yakini memerlukan keahlian tingkat tinggi para pengrajinnya. KL City Gallery ini buka sejak pukul 9 pagi hingga pukul 6:30 petang. Lengkapnya bisa dibaca di http://www.klcitygallery.com

Diorama Kuala Lumpur #1

Diorama Kuala Lumpur #1

Diorama Kuala Lumpur #2

Diorama Kuala Lumpur #2

Diorama Merdeka Square | depicted Sultan Abdul Samad Building, City Theater – Panggung Bandaraya KL, Former High Court Building, National Textile Museum, Kuala Lumpur City Gallery, Kuala Lumpur City Library, Flag Pole, Victorian Fountain, Royal Selangor Club

Diorama Merdeka Square | depicted Sultan Abdul Samad Building, City Theater – Panggung Bandaraya KL, Former High Court Building, National Textile Museum, Kuala Lumpur City Gallery, Kuala Lumpur City Library, Flag Pole, Victorian Fountain, Royal Selangor Club

Craftmen Center

Craftmen Center

History of ARCH

History of ARCH

A Beautiful Creation, one of many Arch’s displays

A Beautiful Creation, one of many Arch’s displays

Sekitar Merdeka Square

“Bahasa Melayu | I just love it somehow”

 

ARCH Souvenir Shop #1

ARCH Souvenir Shop #1

ARCH Souvenir Shop #2

ARCH Souvenir Shop #2

ARCH Souvenir Shop #3

ARCH Souvenir Shop #3

One of my favourite photos of Dani, Vika & Didito | Anyone interested to them may contact me :mrgreen:

One of my favourite photos of Dani, Vika & Didito | Anyone interested to them may contact me:mrgreen:

I know Vika loves us so much as she always wanted to take pictures of her beautiful friends :lol:

I know Vika loves us so much as she always wanted to take pictures of her beautiful friends😆

A very important photo: Legs | Seriously, we're in Kuala Lumpur!

A very important photo: Legs | Seriously, we’re in Kuala Lumpur!

Selepasnya dari KL City Gallery, kami masih sempat bermain-main sejenak di Dataran Merdeka. Sekitar pukul 5 barulah kami benar-benar meninggalkan kawasan itu. Itu pun masih harus saling mengingatkan satu sama lain agar jangan terlalu lama mengambil foro karena kami masih punya destinasi lainnya.

Kami kembali ke stasiun Masjid Jamek dan kembali mengambil jalur Kelana Jaya Line untuk sampai ke tujuan berikutnya: Petronas Twin Towers. Setelah membeli single tiket seharga RM 1,6 per orang, kami segera menaiki kereta dan turun di stasiun KLCC. Stasiun KLCC penuh sesak dan itu sempat membuat gw terpisah dari rombongan. Untunglah gw segera kembali ke jalan yang benar sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan ke Suria KLCC.

Kenapa Suria KLCC? Jawabannya singkat: karena Suria KLCC merupakan shopping mall dan konon saat itu sedang diadakan sale besar-besaran. Namapun perempuan ya bok, denger kata ‘sale’ radar kami langsung mencuat, kecuali radarnya Didito yang sepertinya lebih mencuat kalau menghadapi rumus-rumus matematika. Dan tepat seperti perkiraan gw, saat gw berniat belanja justru saat itu lah gw tidak tertarik pada barang-barang yang ditawarkan, selain karena udah pusing juga melihat padatnya manusia. So it came up I didn’t by anything there.

Selain itu semua orang pasti tau lah kenapa almost all tourist goes to KLCC. Selain Suria KLCC, dibagian atasnya terdapat Petronas Twin Towers, lalu ada Aquaria KLCC, KLCC Park, dan KL Convention Centre, yang saat itu semuanya dipenuhi lautan manusia yang sepertinya memanfaatkan momen natal untuk berlibur.

Menyadari tidak ada yang menarik hati, kami pun memutuskan untuk mencari makan malam dan memilih food court agar dapat memilih makanan sesuai selera masing-masing. Mengitari seluruh kedai makanan yang ada, gw dan Dani ended up dengan makanan ala Italia, sementara Vika dan Didito memilih makanan yang tampak lebih sehat: laksa dan mie organik.

Gw membandingkan harga dan rasa makanan di food court itu dengan harga dan makanan di food court mal-mal di Jakarta. Gelar bahwa Jakarta merupakan salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi sepertinya benar. Harga makanan di food court Suria KLCC lebih murah dibandingkan dengan harga makanan di food court mal-mal di Jakarta. Rata-rata harga berada di kisaran RM 8 hingga RM 15. Silakan dikonversi ke rupiah. Terbilang masuk akal dan sebanding dengan rasa yang diberikan. Rasanya lumayan enak dan yang jelas porsinya besar. Sementara food court di Jakarta, yaa… harga mungkin sama tapi soal rasa dan porsi, silakan bandingkan sendiri.

Vika’s dinner | Kind of Laksa, Suria KLCC Foodcourt

Vika’s dinner | Kind of Laksa, Suria KLCC Foodcourt

Didito’s dinner | Organic Noodle, Suria KLCC Foodcourt

Didito’s dinner | Organic Noodle, Suria KLCC Foodcourt

Vika & Didito: Happy Faces Happy Tummies

Vika & Didito: Happy Faces Happy Tummies

Dengan perut penuh, kami menuju KLCC Park untuk mengabadikan Petronas Twin Towers. Nggak didalam mal, nggak di food court, nggak di taman, rasanya seluruh warga Kuala Lumpur plus turis tumpah ruah malam itu. KLCC Park benar-benar ramai. Pohon natal yang sengaja dipasang sebagai dekorasi dekat pintu keluar mal, juga area sekitar kolam air mancur dipadati pengunjung. Sebagian besar tentu sibuk berfoto ria. Kami beringsut menjauhi keramaian, berusaha mendapatkan spot yang bagus untuk mendapatkan Si Kembar yang menawan.

Masing-masing pengunjung asyik dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang sekedar duduk-duduk, ada yang berasyik masyuk, ada yang berpiknik, ada yang penuh keseriusan dan kesabaran duduk dekat tripodnya, siap membidik Menara Kembar. Gw, Vika, dan Didito mulai beraksi dengan kamera masing-masing, sementara Dani, selain sibuk dengan kameranya, juga langsung mengeluarkan senjata andalannya: kertas minyak, bedak tabur, dan tentu saja… gincu.

Sebagai veteran perang, tentu saja Vika sudah sangat berpengalaman mengambil foto pada malam hari. Sementara gw masih dalam tahap mengambil hati anak orang *eh*
Jadilah hasil jepretan gw nggak ada apa-apanya dibandingkan Ibu Pejabat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia *eh* *uhuk*

Pada saat yang bersamaan dengan berpendarnya Petronas Twin Tower yang membuat langit disekitarnya ikut menyala, berlangsung pertunjukan Dancing Fountain. Air mancur menari mengikuti irama lagu disertai warna-warni yang berganti-ganti, merah, hijau, ungu, biru, kuning. Tidak sepanjang hari kita bisa menyaksikan pertunjukan ini, hanya pada pukul 12:00 sampai pukul 14:00 dan pukul 18:00 sampai pukul 23:00 pada hari kerja. Sementara pada akhir pekan dan hari libur besar, pertunjukan diadakan mulai pukul 10:00 hingga pukul 00:00.

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #1

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #1

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #2

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #2

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #3

Night View | the Petronas Twin Towers & Suria KLCC, with Dancing Fountain #3


***

Hujan turun sangat deras saat kami kembali ke penginapan dengan menggunakan jalur Kelana Jaya Line, sekitar pukul 9 malam. Untungnya penginapan kami sangat dekat dari stasiun KL Sentral. Sambil berlari-lari di tengah guyuran hujan, dalam 5 menit kami sudah tiba di hotel.

My Hotel @Sentral adalah hotel yang Vika pilih. Hmm… bukankah diatas disebutkan Didito yang in charge soal hotel? Iya, betul, tapi itu untuk hotel di tempat lain, bukan di Kuala Lumpur ini *sok misterius*

My Hotel sendiri merupakan salah satu budget hotel yang terdapat pada beberapa titik di Kuala Lumpur. Selain terletak di lokasi strategis, harga yang terjangkau dengan fasilitas yang cukup nyaman membuat hotel ini menjadi favorit dan pilihan banyak flashpacker. Kami memesan 2 kamar tipe My Twin yang didalamnya terdapat twin bed, lemari, meja rias, sofa dan meja kecil, dan tentu saja toilet lengkap dengan sabun, sampo, dan air panas. Disediakan juga teh, kopi, air mineral, juga mini safe deposit box. My Hotel cukup bersih dan yang jelas dekat dengan kawasan Little India yang terkenal dengan keramaian dan gemerlap lampunya. Di sekitar hotel juga terdapat beberapa restoran yang buka 24 jam. Overall, gw puas dengan hotel ini.

My Hotel @Sentral, Brickfields, Kuala Lumpur | Jalan Tun Sambanthan 4 No. 1, Brickfields, Kuala Lumpur, RM 60 / person / night

My Hotel @Sentral, Brickfields, Kuala Lumpur | Jalan Tun Sambanthan 4 No. 1, Brickfields, Kuala Lumpur, RM 60 / person / night

Resepsionis

Resepsionis

Vika & Dani’s room at My Hotel @Sentral

Vika & Dani’s room at My Hotel @Sentral

Our room at My Hotel @Sentral

Our room at My Hotel @Sentral

No fancy, yet clean and comfortable toilet

No fancy, yet clean and comfortable toilet


***

How many times I’ve said that I am a fetish for fridge magnet? *belum pernah brooohh, baru kali ini lo ngaku :mrgreen:*

Jadi ke mana pun gw pergi gw selalu mencoba untuk mendapatkan magnet kulkas khas suatu negara. Sebenarnya kebiasaan ini justru baru dimulai ketika gw mulai traveling dengan uang sendiri, sepulangnya dari Korea. Jadi koleksinya memang belum terlalu banyak:mrgreen: dan gw menghindari membeli magnet negeri-negeri asing itu di Indonesia, walaupun gw tau di Mangga Dua juga ada yang menjual magnet kulkas dari berbagai negara.

Dan untuk petualangan di Kuala Lumpur kali ini, gw memutuskan untuk mengoleh-olehi diri sendiri satu buah magnet kulkas seharga RM 4 yang gw beli di Arch, toko souvenir yang terletak di dalam KL City Gallery. Sebenarnya harga sebuah magnet ini adalah RM 9, namun karena gw sudah membeli tiket untuk melihat KL Model seharga RM 5, untuk mendapatkan magnet ini gw cukup menambah RM 4 saja.

Hal lain yang gw suka dari magnet ini, selain detailnya yang cantik dan ciamik, adalah informasi yang disertakan di bagian belakang plastik pembungkusnya. Seperti magnet yang gw beli ini, terdiri dari Bunga R

Fridge Magnet from ARCH Kuala Lumpur City Gallery cost RM 9 each | depicted Bunga Raya, Petronas Twin Towers, Sultan Abdul Samad Building, and KL Tower

Fridge Magnet from ARCH Kuala Lumpur City Gallery cost RM 9 each | depicted Bunga Raya, Petronas Twin Towers, Sultan Abdul Samad Building, and KL Tower

aya, Petronas Twin Towers, Sultan Abdul Samad Building, dan KL Tower.

Bunga Raya, nama lokal dari hibiscus, adalah bunga nasional Malaysia, yang diperkirakan telah dikenalkan sebelum Abad ke 12 dari tempat asalnya di Cina, Jepang, dan Kepulauan Pasifik. Petronas Twin Towers, diperkenalkan sebagai the world’s tallest twin towers dengan tinggi mencapai 452 meter yang kedua menaranya dihubungkan dengan skybridge sepanjang 58 meter. Sultan Abdul Samad Building, yang dibuka secara resmi pada April 1897 oleh Sir Frank Swettenham untuk digunakan sebagai gedung administrasi pemerintahan dan kini difungsikan sebagai kantor Kementerian Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan. Yang terakhir, KL Tower, selesai dibangun pada 1996 dan merupakan the world’s fourth tallest tower dengan tinggi 421 meter.

See what you got buying the magnet? Knowledge *ehm* *benerin jilbab*

***
Gw memaksakan diri mandi sebelum tidur malam itu. Kalo diikutin sih sebenernya udah capek banget dan rasanya pengen banget langsung menjatuhkan diri ke kasur. Tapiiiii mengingat pilihannya adalah mandi malam atau mandi keesokan hari, gw memilih mandi malam aja deh *buka aib sendiri*

Perkiraan gw bahwa setelah mandi justru gw malah akan segar bugar, ternyata benar. Bukannya langsung tidur, gw dan Didito malah sibuk ber-whatsapp ria dengan… Vika dan Dani *etdaaaaahhh* *yaabis yang itu nggak bisa di whatsapp… gimana dooonnngg* juga dengan Nina yang kami tinggal di tanah air. Kami benar-benar tumbang menjelang pergantian hari, disertai keheranan gw melihat Didito yang tidur dengan kaki di atas.

So this is it, all the first day story. Didito and I went to sleep around midnight since we need to catch up for the next day’s adventure. Oh yeah, we really lack of good sleep at the time😉

Pengeluaran:
.Tiket pesawat Jakarta – Kuala Lumpur pp IDR 1.679.500
.HIBA Depok – Bandara IDR 50.000
.Bakmi GM Bakso IDR 42.000
.Airport tax IDR 150.000
.KLIA Ekspres RM 35
.Hazelnut White Coffee RM 4,3
.Sandwich Tuna Mayo RM 8,5
.My Hotel @Sentral RM 60
.Kelana Jaya Rapid KL St. KL Sentral to St. Masjid Jamek RM 1,3
.Tiket KL Model at KL City Gallery RM 5
.Arch fridge magnet RM 4
.Kelana Jaya Rapid KL St. Masjid Jamek to St. KLCC RM 1,6
.Beef Lasagna RM 8,5
.Iced Milo, regular RM 3
.Kelana Jaya Rapid KL St. KLCC to St. KL Sentral RM 1,6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s