Siem Reap: Day 3 – Angkor Wat, Ta Phrom, Bayon, Baphuon, Terrace of the Elephant, Cambodian Muslim Restaurant, Angkor Night Market & The Blue Pumpkin

Sabtu, 27 Desember 2014, adalah hari ketiga kami di Siem Reap dan mungkin bisa juga dibilang sebagai ‘it’ day-nya trip kali ini. Tak lain dan tak bukan tentu karena kami akan mengunjungi tempat-tempat paling populer *sekaligus juga paling touristy* di jagad Siem Reap.

Pukul 4 subuh gw dan Didito bangun dengan semangat, seperti biasa Didito langsung terbang ke kamar mandi sementara gw terbang kembali ke alam mimpi. Setelah Didito selesai, giliran gw mandi dan ketika gw keluar kamar mandi, gw melihat Didito sedang menekuri tabletnya. Rupanya dia sedang menunggu konfirmasi dari Bang Ratha.

Awalnya kami memberi tahu Bang Ratha untuk menjemput kami pukul 5 tepat. Namun malam sebelum tidur gw dan Didito sempat ngobrol perihal waktu subuh karena berkaitan erat dengan waktu keberangkatan kami hari ini. Setelah browsing sana sini, kami menyimpulkan bahwa untuk amannya lebih baik kami shalat subuh sekitar pukul 5 lewat 5 menit. Ini berarti terdapat perubahan jadwal keberangkatan, yang awalnya direncanakan pukul 5 tepat menjadi pukul 5 lewat 15 menit. Hasil diskusi itu Didito sampaikan pada Bang Ratha melalui email. Soal komunikasi jadwal dan itinerary dengan Bang Ratha, memang Didito yang banyak in charge karena memang sudah Didito yang menghubungi si abang tuktuk sejak pertama kali kami hunting tuktuk driver. Nah hingga saat gw selesai mandi itu, sepertinya Bang Ratha belum membalas email Didito. Sebenarnya bukan apa-apa sih, cuma kan nggak enak aja kalau dia terlalu lama menunggu. Biarpun dia laki-laki, dia kan juga butuh kepastian *eh* *fokus mulai menyimpang*

Setelah menunaikan shalat subuh, pukul 5:20 kami turun dan langsung disambut senyum manis dan wajah penuh aura kesabaran milik Bang Ratha. Kalimat sambutannya, kalau diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, adalah, “Gimana tidurnya semalam? Nyenyak? Sudah shalat?”

Pukul 5:25 kami memulai perjalanan. Langit masih gelap dan sekitar hotel masih sepi, namun 10 menit kemudian saat kami sampai di check point alias tempat pemeriksaan tiket, antrian wisatawan baik yang hanya ticket checking ataupun yang baru mau membeli tiket sudah mengular. Tuktuk kami ikut berbaris diantara tuktuk lainnya, mobil berjenis elf, ataupun mobil setipe sedan dan bus-bus pariwisata yang bentuknya masih kotak-kotak semua. Karena kami sudah membeli tiket sehari sebelumnya, kami tidak perlu mengantri lama ataupun turun dari tuktuk. Para pemeriksa tiket mendatangi tuktuk kami, mencocokkan wajah kami dengan foto pada tiket, melubangi tiket dan beralih pada tuktuk berikutnya.

Dari check point, Bang Ratha segera melaju menuju destinasi pertama. Trauma akan lamanya perjalanan ke Banteay Srei yang bagaikan Depok ke Kelapa Gading membuat kami sempat bertanya-tanya berapa lama perjalanan kali ini akan memakan waktu. Alhamdulillah, dengan tetap sabar dan penuh ketenangan, dalam waktu 15 menit Bang Ratha berhasil membawa kami melihat satu bangunan yang dari jauh tampak seperti gunungan dalam dunia perwayangan. Seperti biasa, Bang Ratha mencari parkiran sementara kami segera berhamburan turun dari tuktuk dengan penuh antusias. Saat itu pukul 5:50 dan langit masih tetap gelap. Akhirnya kami sampai di tujuan utama dari seluruh rangkaian Siem Reap Trip ini.

Angkor Wat
Konon, belum sah ke Siem Reap kalau belum ke Angkor Wat dan menyaksikan matahari terbit dari baliknya. Dan itulah yang kami lakukan pagi itu. Turun dari tuktuk, kami bergabung dengan wisatawan lain berjalan menapaki jalan lurus bebatuan di tengah kegelapan. Biarpun hampir pukul 6 pagi, tapi semburat sinar matahari belum juga tampak, sementara turis-turis terus berdatangan. Hati-hatilah melangkah di keramaian tanpa cahaya seperti itu, apalagi kita masih harus beradaptasi dengan suasana sekitar.

Gw dan Didito yang berjalan mendahului Vika dan Dani langsung bereaksi mendengar ada orang selain kami bercakap-cakap dalam Bahasa Indonesia. Ketika kami menoleh mencari sumber suara, ternyata suara-suara itu datang dari Vika dan Dani yang sedang menjerat mangsa terbaru berbincang-bincang dengan akrabnya dengan seorang laki-laki yang sampai detik ini tidak kami ketahui tampan atau tidaknya *eh* *ya gelap kakaaaaakkk, apa yang mau keliatan sih* *tapi kalau melihat siluet tubuhnya dalam keremangan sih ya kayaknyaaaaa… hmm…* *tibatiba Bang Ratha terlupakan*

Si cowok berinisial H suspect brondong kedemenannya Vika itu ternyata seorang solo traveller yang sampai ke Siem Reap melalui jalur darat dari Phnom Penh. Seperti biasa, default magnet gw adalah ‘cepat akrab sama cowok TAPI cepat dilupakan juga’. Maka tanpa perlu berlama-lama, hanya selama waktu yang dibutuhkan untuk melewati jalan lurus berbatu memasuki kompleks Angkor Wat dan melewati reruntuhan pertama, kekompakan kami segera terjalin. Terbukti dengan kesamaan jawaban kami ketika Vika bertanya dimanakah spot terbaik untuk mengambil foto, dan dengan penuh keyakinan, gw dan dedek H sama-sama menjawab, “sebelah kiri!”
Dan gw segera dilupakan karena dedek H kembali merapat pada Vika dan Dani. Mungkin dia lelah… atau mungkin dalam kegelapan pun dia bisa melihat mana yang ramping dan mana yang bagaikan logo ban Michelin *pecahkan cermin* *histeris*

Begitu kami keluar dari reruntuhan gerbang Angkor Wat, terpampanglah di hadapan kami siluet Angkor Wat dengan lima menara berundaknya berdiri megah menjulang dengan latar langit mendung abu-abu pagi itu. Sudah terbayang cantiknya pemandangan kala matahari terbit.

Dan bayangan itu pun buyar seketika saat melihat padatnya manusia memenuhi tanah lapang dan pinggiran kolam yang terbentang dihadapan kami. Sama ketika mengejar sunset di Phnom Bakheng sehari sebelumnya, saat itu seluruh sudut terbaik dan titik tertinggi sepertinya sudah ada yang punya, kami hanya bisa bergerilya mencari spot-spot kosong yang tersisa dan berupaya mengambil gambar sebaik yang kami mampu. Vika segera mendirikan tripod dan melupakan sekelilingnya, sementara gw, Didito, dan Dani juga berjuang mencari pijakan sendiri-sendiri dicelah-celah manusia lain yang sibuk dengan kamera atau pasangan masing-masing. Ada yang siap tempur di pinggir kolam lengkap dengan tripod, ada pula yang menggendong pasangannya di pundak agar si pasangan bisa mengambil gambar tanpa terhalang kepala-kepala turis lain yang makin lama makin membludak. Spot terbaik untuk menikmati sunrise memang dipinggir kolam sebelah kiri. Namun tampaknya untuk bisa mendapatkan lokasi itu kita perlu menginap atau setidaknya berangkat dini hari. Langit mendung sehingga matahari yang muncul tampak tak bersemangat, serta pengunjung yang penuh sesak sehingga cantiknya Angkor Wat tertutupi kilatan blitz atau cahaya dari LCD kamera atau bahkan tubuh manusia membuat kami pasrah dan akhirnya menyibukkan diri dengan melakukan wefie atau memperhatikan sekeliling kami di mana banyak sekali pedagang menawarkan dagangannya, mulai dari souvenir berupa magnet kulkas atau syal seharga USD 1 hingga cup noodle dan kopi instan. Sepertinya mereka aware sekali bahwa para turis yang bela-belain nyubuh di Angkor Wat ini kemungkinan besarnya ya belum sarapan dan ngantuk karena lelah dan kurang istirahat. Gw memperhatikan, para pedagang lebih suka menghampiri turis-turis bertampang bule dibandingkan wajah-wajah eksotis nan ayu seperti Vika, Dani, dan Didito, atau yang cantik manis khas Asia Timur seperti gw *eeehh*
Tentu bukan karena para bule lebih cantik atau tampan, tapi karena mereka diduga kuat hampir pasti lebih kaya daripada turis Asia Tenggara yang lebih sering dianggap sebagai turis kismin dari negara berkembang. Kenyataannya kami memang masih butuh nabung berbulan-bulan untuk bisa jalan-jalan itupun dengan budget pas-pasan. Satu hal lain yang lucu dari para pedagang itu, mereka selalu memperkenalkan diri dengan nama-nama fiktif, seperti “Hi! My name is Harry Potter!” atau “Rambo” atau apapun yang terbersit dipikiran mereka.

And finally it’s time to upgrade a little knowledge in brief!
• Angkor Wat yang didirikan pada abad ke-XII merupakan monumen keagamaan terbesar di dunia. Dibangun oleh King Suryavarman II sebagai candi Hindu dalam waktu kurang dari 40 tahun sebagai lambang pemujaan kepada Dewa Wisnu.
• Nama Angkor Wat berarti ‘City of Temples’, pernah menjadi ibukota Kerajaan Khmer.
• Angkor Wat yang terdiri dari 5 menara yang berbentuk seperti gunung merepresentasikan Gunung Meru yang dipercaya sebagai rumah para dewa dalam kepercayaan Hindu.
• Angkor Wat memiliki 3 tingkatan candi, di mana di tingkat pertama dinding candi berhiaskan relief Apsara, cerita-cerita mitologi Hindu, pembangunan Angkor Wat, dan perang dengan Kerajaan Champa.
• Pada akhir abad ke-XIII atau awal abad ke-XIV diubah menjadi candi Buddha, dan bertahan hingga kini.
• Berbeda dengan sebagian besar candi-candi Khmer yang dibangun menghadap timur, Angkor Wat dibangun menghadap barat.
• Keruntuhan Kerajaan Khmer diduga disebabkan oleh perang dan eksploitasi berlebih atas lahan. Selain itu diduga pula kekeringan berkepanjangan menjadi penyebabnya.
• Indonesia dan Kamboja telah setuju untuk menjadikan Candi Borobudur dan Angkor Wat sebagai sister sites, sementara Yogyakarta dan Siem Reap menjadi sister provinces. Atas dasar tersebut, beberapa maskapai Indonesia mulai mempertimbangkan untuk membuka jalur penerbangan langsung dari Yogyakarta ke Siem Reap.

Menjelang pukul 6:30 barulah matahari mulai menampakkan wujudnya, itu pun masih malu-malu. Dengan terus-menerus memupuk kesabaran, kami menghabiskan waktu hingga pukul 7 untuk mengabadikan momen-momen bola pijar itu naik ke angkasa.

Angkor Wat #1 - masih gelap tapi sudah dipadati pengunjung

Angkor Wat #1 – masih gelap tapi sudah dipadati pengunjung


Angkor Wat #2

Angkor Wat #2


Angkor Wat #3

Angkor Wat #3


Angkor Wat #4

Angkor Wat #4


Angkor Wat #5

Angkor Wat #5


Angkor Wat #6

Angkor Wat #6


Angkor Wat #7

Angkor Wat #7


Angkor Wat #8

Angkor Wat #8


Angkor Wat #9

Angkor Wat #9


Angkor Wat #10

Angkor Wat #10


Angkor Wat #11

Angkor Wat #11


Angkor Wat #12

Angkor Wat #12


Angkor Wat #13

Angkor Wat #13


Angkor Wat #14 - finally us!

Angkor Wat #14 – finally us!


Angkor Wat #15 - us again, black and white this time

Angkor Wat #15 – us again, black and white this time


Angkor Wat #16 - still us...

Angkor Wat #16 – still us…


Angkor Wat #17 - without Vika

Angkor Wat #17 – without Vika


Angkor Wat #18

Angkor Wat #18


Angkor Wat #19 - breakfast comes first, Ta Phrom comes second *ihik*

Angkor Wat #19 – breakfast comes first, Ta Phrom comes second *ihik*

Pukul 7 tepat, disaat pengunjung semakin dan semakin ramai, kami beringsut meninggalkan pekarangan Angkor Wat. Perjalanan kembali ke parkiran tempat Bang Ratha menunggu pun tidak berjalan cepat karena kami sering berhenti untuk mengambil foto. Menjelang pukul 7:30 kami bersua kembali dengan Bang Ratha yang sedang bersiap-siap menyantap sarapannya. Kami pun ikut membuka bekal yang dibungkuskan pihak hotel. Sambil mengunyah bekal masing-masing, kami berkonsultasi dengan Bang Ratha selaku satu-satunya anggota Dewan Pembina Siem Reap Trip, mana yang sebaiknya didahulukan, kunjungan ke Ta Phrom atau ke komplek Angkor Thom. Tanpa keraguan, Bang Ratha menjawab mantap, “Ta Phrom. Karena masih pagi, belum banyak turis yang datang. Bagus untuk foto-foto.”
So there we went.

Ta Phrom
Perjalanan dari Angkor Wat ke Ta Phrom memakan waktu 15 menit. Dalam perjalanan itu kami sempat melewati satu danau yang sangat cantik, terlihat seolah dalam lukisan karena dihiasi kabut tipis dan pepohonan yang seolah mengambang di atas permukaan air. Sayang kami tak sempat berhenti untuk memotret, tapi kami sepakat nanti saat pulang, kami harus mampir dan mengabadikan pemandangan indah itu.

Benar kata Bang Ratha, Ta Phrom kala pukul 8 pagi masih sepi. Kami bergegas menyusuri jalan tanah merah berdebu menuju reruntuhan kuil yang tampak teduh karena dipayungi banyak pohon rindang. Sebuah pohon dengan warna kulit keputih-putihan berdiri kekar dengan akar-akarnya mencengkram puing-puing reruntuhan candi. Ketika kami memasuki reruntuhan itu, ternyata itulah tempat paling terkenal di Ta Phrom: pohonnya Angelina Jolie. Gw melihat sekeliling dan terkesan, sungguh betapa perkasanya pohon-pohon yang mungkin sudah berusia ratusan tahun itu. Akar-akarnya menghujam tanah dan memeluk candi, seolah Ta Phrom ini dulunya terkubur dan kembali ditemukan. Gw membayangkan seperti apa kehidupan Kerajaan Khmer dulu, membangun begitu banyak monumen megah diatas lahan yang demikian luas, lalu tiba-tiba lenyap ditelan bumi dan baru kembali ke mata dunia berabad-abad kemudian.

Usai berfoto dengan tumbuhannya Lara Croft, kami melanjutkan eksplorasi ke bagian dalam candi yang sepertinya saat itu sedang mengalami pemugaran atau proyek restorasi. Kami bertemu satu lorong dengan langit-langit yang sangat tinggi. Batu-batu penyusunnya berwarna cokelat dan berpadu dengan warna hijau lumut. Kesan dingin, tua, mistis, dan misterius segera menyergap.

Selama berada di Ta Phrom, bisa dibilang kami kejar-kejaran dengan rombongan turis asal Korea. Kami berusaha menghindari mereka karena mereka cenderung ribut dan sering mendominasi spot-spot foto paling mutakhir. Dengan alasan itu pula kami memilih melipir ke satu lorong panjang yang sepertinya diabaikan wisatawan. Lorong atau mungkin lebih tepat dilihat sebagai selasar itu tampak sunyi, cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah tiang batu penopang candi membuatnya semakin terlihat sepi. Vika menganggap selasar itu sebagai spot yang sangat cantik untuk difoto. Berdasarkan penerawangannya, kami menghabiskan hampir 30 menit berikutnya untuk jepret sana sini.

Tapi selain tenar karena menjadi tempat syutingnya Tomb Raider, ada apa lagi kah tentang Ta Phrom?
• Ta Phrom dibangun oleh King Jayavarman VII sebagai sekolah dan biara Budha pada akhir abad ke-XII atau awal abad ke-XIII dan awalnya bernama Rajavihara.
• Ta Phrom didedikasikan untuk ibunda King Jayavarman VII.
• Ta Phrom dibangun menghadap ke arah timur.
• Dimasukkan ke dalam salah satu Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1992.

Ta Phrom #1

Ta Phrom #1


Ta Phrom #2

Ta Phrom #2


Ta Phrom #3

Ta Phrom #3


Ta Phrom #4

Ta Phrom #4


Ta Phrom #4

Ta Phrom #4

Ta Phrom #5 - with the Jolie's tree

Ta Phrom #5 – with the Jolie’s tree


Ta Phrom #6

Ta Phrom #6


Ta Phrom #7 - renovasi

Ta Phrom #7 – renovasi


Ta Phrom #8

Ta Phrom #8


Ta Phrom #7 - renovasi

Ta Phrom #7 – renovasi


Ta Phrom #9 - photo session

Ta Phrom #9 – photo session


Ta Phrom #10 - photo session

Ta Phrom #10 – photo session


Ta Phrom #11 - Vika took a shot

Ta Phrom #11 – Vika took a shot


Ta Phrom #12

Ta Phrom #12


Ta Phrom #13

Ta Phrom #13

Berminggu-minggu setelah kami sampai kembali ke Indonesia, Vika menyadarkan gw bahwa kami TERNYATA telah MELEWATKAN BEBERAPA pohon Lara Croft lainnya. Jadi selain pohon tempat kami dengan bangganya berfoto sebagai bukti sahih bahwa kami pernah menginjakkan kaki di Ta Phrom, ternyata masih ada tiga atau bahkan lebih *!!!* akar-akar pohon yang melegenda itu dan kami melewatkannya begitu saja karena ketidaktahuan kami. Aaaaarrrggghhh!!! keliatan banget deh kurang risetnya, dan yang jelas itu ya nyesel banget banget banget! Gw pribadi jadi merasa malu selama ini sudah menyandang predikat sebagai ‘itinerary berjalan’. Pada akhirnya, penyesalan ini melahirkan percakapan random antara gw dan Vika:
“Ya udah sih Vik, kita ke sana lagi deh, khusus untuk mendatangi pohon-pohon yang kelewat. Tapi biar mantep sekalian ke Phnom Penh juga.”
“Sewa Bang Ratha sehari cukup kali yeee…”
“Hooh. Ke Siem Reap khusus cuma ke Ta Phrom. Nah kan bisa mampir ke Laos juga.”
“Gw pengen ke Vietnam juga”
“Iiiiihhh… ke Filipina juga bok!. Kedengerannya keren gitu, anti mainstream!”
“Kira-kira butuh berapa hari ya Ke?”
“Ah tapi gw penasaran sama Timor Leste dan Brunei juga, Vik”

Bayon
Hanya sekitar satu jam kami di Ta Phrom, karena niat mulianya memang cuma ingin berfoto bersama tumbuhan Angelina Jolie *mureeeeehhh bener ya tujuannya*
Pukul 9 kami kembali ke pelukan tuktuk Bang Ratha dan 20 menit kemudian Bang Ratha menepikan tuktuknya. Belum sempat kami turun, Bang Ratha dengan sigap mengambil peta Angkor Archaelogical Park yang diselipkan di langit-langit tuktuknya dan segera menjelaskan rute yang harus kami tempuh untuk menuntaskan komplek Angkor Thom ini. “This is East Gate of Angkor Thom,” katanya menerangkan posisi kami saat itu, dan dia mengingatkan kami bahwa dia akan menunggu di dekat Terrace of the Leper King. Itu berarti kami harus keluar di North Gate-nya Bayon. Kenapa dia menunggu kami di sana, karena kalau mengikuti rute yang dia anjurkan, saat kami sampai kembali itu berarti kami sudah khatam keliling komplek Angkor Thom yang berturut-turut dimulai dari Bayon, Baphuon, Royal Palace area, Phimeanakas, Terrace of the Elephant, and last but not least Terrace of the Leper King. Angkor Thom itu sendiri merupakan satu komplek yang berdiri diatas tanah seluas 9 km2 dan terdiri dari beberapa monumen. Didirikan pada akhir abad ke-XII sebagai ibukota kerajaan pada masa King Jayavarman VII.

Seiring masuknya kami ke dalam Bayon, turis-turis pun semakin ramai memenuhi pelataran candi. Di tiap sudut, di tiap puing reruntuhan, di tiap sisi dinding penuh ukiran, seluruh pengunjung berlomba-lomba berpose dan mengabadikan kenangan. Gw berusaha untuk tetap menempel dengan tiga serangkai karena akan sangat merepotkan kalau ada salah seorang diantara kami yang terpisah. Ketika kami naik hingga ke bagian atas Bayon, hal ini agak sedikit menyusahkan karena empat sekawan ini punya selera yang berbeda-beda mengenai objek foto dan bawaannya pengen mencar-mencar aja sih sebenernya.

Bayon mungkin bisa dibilang sebagai candi yang paling unik karena memiliki 37 menara *ada juga yang mengatakan 54 menara* dan beberapa diantaranya berpahatkan empat wajah yang tersenyum. Beberapa kisah meyakini bahwa pahatan wajah itu adalah penggambaran King Jayavarman VII, ada juga yang mengatakan bahwa pahatan itu adalah pahatan wajah Buddha, atau wajah Avalokitesvara atau Lokesvara. Bayon memang dibangun secara khusus untuk Buddha.

Bayon #1

Bayon #1


Bayon #2

Bayon #2


Bayon #3

Bayon #3


Bayon #4

Bayon #4


Bayon #5

Bayon #5


Bayon #6

Bayon #6


Bayon #7

Bayon #7


Bayon #8 - Vika & Uninuna's photo session

Bayon #8 – Vika & Uninuna’s photo session


Bayon #9 - Jendela Rumah 3 Serangkai

Bayon #9 – Jendela Rumah 3 Serangkai


Bayon #10 - how people survive life

Bayon #10 – how people survive life


Bayon #11 - vika

Bayon #11


Bayon #12 - vika

Bayon #12 – vika


Angkor Thom Complex Map

Angkor Thom Complex Map

Selama kurang lebih satu jam kami mengelilingi Bayon dan sepakat untuk mengakhiri kunjungan. Kami pun mencari jalan ke arah North Gate, dan menyempatkan diri berbelok ke kiri. Mengunjungi Baphuon.

Baphuon
Untuk sampai ke Baphuon, pengunjung harus melewati jalan lurus semacam jembatan yang ditopang ratusan pilar batu. Sebelum sampai ke sana, kami melakukan satu hal yang mungkin tidak boleh dilakukan demi menjaga kelestarian candi. Kami sempat berhenti sejenak dan duduk bersender pada salah satu bangunan yang sepertinya merupakan reruntuhan gapura Baphuon. Maafkanlah… cuaca siang itu sangat panas dan setelah berjalan berjam-jam sejak pagi keluar masuk dan mengelilingi candi-candi lainnya, rasa-rasanya kami mulai tumbang, apalagi air minum yang kami bawa sudah habis tak bersisa. Mudah-mudahan saja Bang Ratha membawa air minum cadangan di tuktuknya.

Selang beberapa menit kemudian kami melangkahkan kaki melewati jembatan dan ketika sampai di ujung jembatan, oh… ternyata kami harus kembali menaiki tangga untuk bisa menikmati Baphuon. Vika langsung melipir ke tempat yang agak teduh dan disana kami berdiskusi. Akhirnya disepakati bahwa kami tidak akan mengeksplorasi Baphuon dan sebaiknya langsung ke parkiran mencari Bang Ratha. Bahkan dalam perjalanan kembali ke ujung jembatan di awal pun, kami masih beberapa kali berhenti, entah mengambil foto atau mengistirahatkan kaki sejenak. Saat itu menjelang pukul 12 siang, matahari sedang berada dipuncak kegarangannya.

• Pada masanya dikenal sebagai Menara Perunggu Keemasan yang Menakjubkan, sebagaimana dikisahkan oleh utusan Kaisar Chengzong dari China yang datang pada akhir abad ke-XIII.
• Memiliki sebuah jembatan batu yang ditopang ratusan pilar batu yang ditata secara menakjubkan.
• Beraliran Hindu dan didedikasikan untuk Dewa Siwa, namun disisi barat terdapat patung raksasa Buddha tidur yang ditambahkan pada abad ke-XVI. Hal ini disebabkan oleh dialihkannya Baphuon menjadi candi beraliran Buddha pada akhir abad ke-XV.
• Dibangun oleh King Suryavarman I dan diselesaikan oleh King Udayadityavarman II pada abad ke-XI.
• Walaupun berada di dalam kompleks Angkor Thom, namun Baphuon dibangun sebelum kompleks Angkor Thom didirikan.

Baphuon #1

Baphuon #1


Baphuon #2

Baphuon #2


Baphuon #3

Baphuon #3


Baphuon #4

Baphuon #4


Baphuon #5

Baphuon #5

Keluar dari Baphuon dan berjalan ke arah kiri, gw tertinggal jauh dari Vika, Didito, dan Dani, yang dengan kecepatan ekspres berjalan sambil celingak-celinguk mencari Bang Ratha. Sebenarnya gw tertinggal karena gw masih saja menyempatkan diri berhenti dan memperhatikan reruntuhan candi yang berada di sisi kiri jalan berupa dinding panjang yang dipenuhi relief berbentuk belalai gajah, tak lupa mengambil sedikit gambar dari reruntuhan yang dikenal dengan nama Terrace of the Elephant itu. Terrace of the Elephant digunakan oleh King Jayavarman VII sebagai tempatnya melihat bala tentaranya yang pulang dari medan pertempuran membawa kemenangan.

Terrace of Elephant #1

Terrace of Elephant #1


Terrace of Elephant #2

Terrace of Elephant #2

Selain Terrace of the Elephant, reruntuhan lain yang ada disekitarnya adalah Phimeanakas dan Terrace of the Leper King. Bersama Terrace of the Elephant, mereka menempati satu situs yang dikenal sebagai area Royal Palace.
Secara singkat, Phimeanakas adalah candi Hindu yang dibangun pada akhir abad ke-X pada masa pemerintahan King Rajendravarman, dan dibangun kembali oleh King Suryavarman II. Ada juga sumber yang mengatakan bahwa Phimeanakas dibangun pada awal abad ke-XI oleh King Jayavarman V dan King Udayadityavarman I. Sementara Terrace of the Leper King dibangun pada masa King Jayavarman VII, dan konon dinamai sebagai Terrace of the Leper King karena dua hal. Pertama, lumut yang tumbuh memenuhi bebatuan candi berwarna kehitaman yang mengingatkan pada penderita kusta, dan kedua, ada legenda yang menyebutkan bahwa salah satu raja Angkor yaitu King Yasovarman I mengidap penyakit kusta.

Sementara di sisi kiri jalan adalah reruntuhan kuil, maka sisi kanan jalan adalah tanah lapang yang dijadikan tempat parkirnya tuktuk-tuktuk dan bus-bus pariwisata. Gw menyusul Vika, Didito, dan Dani yang sudah bertemu Bang Ratha dan saat itu sedang sibuk dengan minuman masing-masing. Setelah briefing singkat dengan Bang Ratha, kami meninggalkan kompleks Angkor Thom menuju kota untuk makan siang, kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar.

Menuju Parkiran Tuktuk

Menuju Parkiran Tuktuk


Tempat Tuktuk Mangkal

Tempat Tuktuk Mangkal


Keluar dari Komplek Angkor Thom

Keluar dari Komplek Angkor Thom


Salah Satu Pintu Masuk Angkor Thom

Salah Satu Pintu Masuk Angkor Thom


Salah Satu Pintu Masuk Angkor Thom

Salah Satu Pintu Masuk Angkor Thom


Mystical Lake #1

Mystical Lake #1


Mystical Lake #2

Mystical Lake #2


Mystical Lake #3

Mystical Lake #3


Map of Angkor Archaeological Park #1

Map of Angkor Archaeological Park #1


Map of Angkor Archaeological Park #2

Map of Angkor Archaeological Park #2

Cambodian Muslim Restaurant
Bang Ratha menjanjikan akan membawa kami ke restoran halal lainnya yang dia tau. Maka siang itu kami berhenti di satu tempat makan yang ternyata berjarak hanya beberapa meter dari restoran yang kami singgahi sehari sebelumnya.
Sama seperti restoran terdahulu, gambar makanan yang terdapat dalam menu Cambodian Muslim Restaurant ini pun tidak menggugah selera makan. Hasil investigasi pada pelayan dan tebak-tebak buah kuncup menghasilkan pesanan-pesanan yang mudah-mudahan saja enak rasanya.

Samlor Korkoh with Beef, Lok Lak Beef, Fried Mixed Vegetable with Shrimp, 3 piring nasi putih, 2 buah kelapa segar, 1 ice milo *udah ketauan ya ini pesenan siapa* dan 1 ice Cambodian tea with milk, cukup untuk mengenyahkan rasa lapar. Kalau dari segi rasa ya sudah sih nggak usah dibahas ya boookkk, Alhamdulillah masih bisa makan, halal pula. Kalau belum puas kan masih bisa makan pisang sepuasnya di hotel nanti:mrgreen:

Cambodian Muslim Restaurant - facade

Cambodian Muslim Restaurant – facade


Cambodian Muslim Restaurant - inside

Cambodian Muslim Restaurant – inside


Fried Mixed Vegetables with Shrimp

Fried Mixed Vegetables with Shrimp


Lok Lak Beef

Lok Lak Beef


Samlor Korkoh Beef

Samlor Korkoh Beef


Kelapa Muda

Kelapa Muda

Sekitar pukul 12:45 kami segera kembali ke hotel. Gw dan Didit langsung tertidur pulas, dan sepertinya begitu pula Vika dan Dani. Dani bahkan membatalkan niatnya untuk mencoba pijat refleksi yang disediakan secara cuma-cuma oleh pihak hotel. Setelah tidur siang selama satu sampai satu setengah jam, gw dan Didito memaksakan diri untuk bangun. Bang Ratha berjanji menjemput kami pukul 15:00. Kami masih belum puas dengan sunrise pagi tadi. Maka ke Angkor Wat kami kembali.

Angkor Wat, sore hari
Jangan dikira Angkor Wat hanya laku saat subuh dan pagi hari. Sore hari pun candi dengan siluet mengagumkan ini tetap menarik para pengunjung. Dan walaupun sudah pukul 15:30, matahari masih tetap terik. Keluar dari hotel masih segar, ditambah lagi angin sepoi-sepoi yang membelai wajah saat berada di atas tuktuk. Tapi begitu turun dan melangkah ke dalam kompleks Angkor Wat, panas matahari seketika membuat kami kembali kuyup dengan keringat. Di hotel sih udah cuci muka dan bedakan lagi, tapi begitu nyampe depan candi langsung lepek, tak tersisa dempulan bedak sedikit pun. Jadi kalau kami tetap cantik saat di foto, percayalah itu karena kami memang sudah dari lahirnya cantik menarik menawan hati *walaupun sampe saat ini diduga kuat belum berhasil menawan siapapun* *eeehh*

Di Angkor Wat kami melewati area kolam yang saat pagi tadi dipenuhi turis yang berebut ingin melihat terbitnya matahari. Sore hari itu kami memulai dari sebelah kiri, menaiki tangga dan langsung bertemu lorong panjang yang dipenuhi relief. Berbelok ke kanan dan kembali bertemu dengan anak tangga, sementara sisi kanan dan kirinya adalah lahan hijau. Untuk masuk ke dalam area utama Angkor Wat, kami harus naik tangga itu. Setelah menaiki tangga dan berjalan mengikuti arus turis, kita akan bertemu area utama Angkor Wat. Sampai di situ, Vika langsung berkelana sendiri, sementara gw, Didito, dan Dani, kadang bersatu namun lebih sering bercerai. Walaupun begitu, kami tetap berupaya untuk tidak terpisah terlalu jauh atau terlalu lama. Risikonya terlalu besar kalau kami tercerai-berai di kompleks seluas Angkor Wat.

Gw dan Didito berjalan mondar-mandir menyusuri selasar yang mengelilingi menara utama Angkor Wat. Ada satu sudut yang membuat kami merinding. Saat lewat didepannya aura yang terasa sungguh berbeda. Kami cepat-cepat melangkah sambil berdzikir dan membaca Ayat Kursi. Menurut Dani yang memang sensitif, suasana di sekitar arca di sudut itu memang lain dari area lain disekitarnya, seolah bukan patung biasa tapi ada yang menghuninya.

Dari celah antar pilar yang mengelilingi selasar, gw melihat barisan panjang wisatawan yang mengantri untuk bisa menaiki tangga untuk dapat sampai ke puncak menara candi utama. Diperlukan kesabaran, stamina yang kuat, dan tekad yang besar untuk bisa menaklukkan puncak menara, karena sudut kemiringan tangganya tidak main-main. Tapi sepertinya hal itu bukan hambatan bagi para turis, terutama turis bule atau turis Asia Timur. Penuh semangat mereka mendaki, bahkan gw pun melihat banyaknya wisatawan yang sudah lanjut usia menuruni anak tangga setapak demi setapak. Cara turunnya pun, mungkin untuk mengusir kegamangan akan ketinggian, dilakukan sambil mundur. Gw, Didito, dan Dani, lebih memilih untuk duduk di tepi luar selasar sambil minum, kipas-kipas, dan berselonjor kaki. Kami bertekad menunggu Vika yang kabur sendirian entah ke mana. Setelah Alhamdulillah bertemu Vika, kami memutuskan untuk menyudahi acara Evening with Angkor Wat ini dan kembali ke kota. Tapi tentu saja, setiap melihat spot kosong kami selalu mampir, foto-foto, bahkan kembali ke area kolam untuk lagi-lagi mengambil gambar Angkor Wat secara keseluruhan. Saat kami sedang khusyu membidikkan kamera, beberapa anak kecil berambut merah dan berkulit coklat terbakar matahari menghampiri Didito. Penuh antusias mereka mengira bahwa Didito berasal dari Filipina.

Angkor Wat, sore hari #1

Angkor Wat, sore hari #1


Angkor Wat, sore hari #2

Angkor Wat, sore hari #2


Angkor Wat, sore hari #3

Angkor Wat, sore hari #3


Angkor Wat, sore hari #4

Angkor Wat, sore hari #4


Angkor Wat, sore hari #5

Angkor Wat, sore hari #5


Angkor Wat, sore hari #6

Angkor Wat, sore hari #6


Angkor Wat, sore hari #7

Angkor Wat, sore hari #7


Angkor Wat, sore hari #8

Angkor Wat, sore hari #8


Angkor Wat, sore hari #9

Angkor Wat, sore hari #9


Angkor Wat, sore hari #10

Angkor Wat, sore hari #10


Angkor Wat, sore hari #11

Angkor Wat, sore hari #11


Angkor Wat, sore hari #11

Angkor Wat, sore hari #11


Angkor Wat, sore hari #12

Angkor Wat, sore hari #12

Angkor Wat, sore hari #13

Angkor Wat, sore hari #13


Angkor Wat, sore hari #14

Angkor Wat, sore hari #14

Kembali ke kota
Siang seusai dari Angkor Thom, gw sempat bertanya pada Bang Ratha apakah dia tau di mana Hard Rock Café berada. Niatnya apa lagi kalau bukan mencari oleh-oleh. Kalau ditanya kenapa Hard Rock Café, jawabannya ada dua. Satu, gw tidak menemukan kaus dengan material bahan dan sablon bergambar khas Kamboja dengan kualitas yang oke di Angkor Night Market. Dua, kalau ada starbucks, gw pasti melipir ke sana demi tumbler-nya dan nggak bakalan lirik-lirik Hard Rock Café. Lha emangnya Hard Rock Café ada tumbler-nya? Nggak sih… lalu, cari oleh-oleh untuk siapa kah? Ya untuk our beloved ones laaahh… nggak perlu di mention nama-namanya. Hihihi… Kalo ngerasa, syukur… nggak ngerasa ya… nggak syukur *apa sih apa sih apa sih*

Maka jadilah kami singgah sejenak ke Hard Rock Café yang berlokasi tak jauh dari Old Market. Nggak pake lama kami langsung cabut. Harga t-shirt-nya lumayan bikin mikir berjuta kali buat beli. Rata-rata sehelai kaus dihargai USD 28 hingga USD 35. Bang Ratha, yang ikut mengawal kami hingga ke dalam toko, langsung shock melihat tag price-nya. Sedikit berlari kami menyebrangi jalan raya dan masuk ke satu toko yang menjual kaus dengan merk ‘Papaya’. Di sini, hanya Dani yang sukses menenteng belanjaan. Sayang sekali kaus yang gw taksir tidak tersedia dalam ukuran super besar. Susah juga punya adik ukuran jumbo *eh*

Selesai urusan perkausan, sesuai rencana Bang Ratha pun menurunkan kami di Angkor Night Market. Gw dan Didito sudah bertekad, apapun yang terjadi, kami akan mencoba beberapa makanan yang berjejer di sepanjang Angkor Night Market dan Pub Street. Pokoknya ini waktunya jajaaaaannn!!!

Makanan pertama yang berhasil mencuri perhatian Didito adalah Bok L’Hong. Bok L’Hong adalah salad khas Kamboja yang berisi papaya muda, basil, kol, saus ikan, tomat, jeruk nipis, cabai, dan… kepiting *walaupun gw curiga itu sebangsa cumi-cumi atau gurita*
Rasanya adalah perpaduan antara pedas, gurih, dan asam-asam segar, memang unik! Vika dan Didito seketika jatuh cinta pada makanan ini. Sementara gw? Keberadaan makhluk laut didalamnya membuat gw menolak suapan ke dua.

Gerobak kaki lima berikutnya yang kami singgahi adalah mas-mas penjual Banana Pancake. Biarpun judulnya banana pancake tapi tersedia beberapa topping lainnya dan tidak melulu memakai pisang. Ada topping pisang, telur, coklat, nutella, milo, susu, dan gula. Lumayan juga rasanya untuk makanan seharga USD 1.

Cemilan terakhir adalah Magic Stick Ice Cream. Hal unik dari es krim ini adalah cone-nya yang berbentuk seperti gagang payung. Rasa es krimnya sih biasa saja, malah menurut gw sih kurang terasa susunya. Masih lebih enak es krim cone-nya McDonalds *lho kok*

Berikutnya kami kembali ke Angkor Night Market setelah malam sebelumnya juga mampir ke sini dan gw sempat galau apakah akan membeli beberapa scarf lagi atau tidak. Di kios bagian depan, sehelai syal berbahan sutra palsu dibuka dengan harga USD 10, sementara di lapak bagian belakang ditawarkan seharga USD 5/helai dan mentok di USD 10/3 helai. Masih tetap bingung, gw akhirnya memutuskan untuk tidak membeli syal-syal tersebut. Cukuplah krama hasil perburuan kemarin malam.

Keluar dari Angkor Night Market tanpa tambahan tentengan, kami menemukan pedagang magnet di pinggir jalan yang, berdasarkan pengamatan kami dari lapak ke lapak, menawarkan magnet kulkas dengan kualitas yang agak lumayan. Ada kualitas, ada harga. Si penjual keukeuh tidak mau menurunkan harga jual sebesar USD 1,5 untuk sebuah magnet. Ya sudahlah, terima nasib aja. Kami memang nggak melihat magnet ‘sebagus’ itu selama muter-muter di Angkor Night Market, jadi kami memasrahkan diri mengeluarkan lembaran USD demi seonggok souvenir. Anyway when you’re traveling, do not convert whatsoever into IDR. Walaupun kalo di kurs ke rupiah, agak-agak bikin gondok juga sih *teteuuupp*

Melanjutkan petualangan di malam terakhir di Siem Reap, kami masuk ke Siem Reap Night Market yang berukuran lebih kecil dan lebih rapih daripada Angkor Night Market. Akhirnya disinilah kami berhasil menemukan magnet kulkas yang paling cocok di hati. Magnet berbentuk peta Kamboja ini ditawarkan seharga USD 3/buah dan… cuma bisa turun USD 0,5. Dan di semua toko, si magnet ini mentok di harga USD 2,5/buah. Cakep banget sih kamu, Siem Reap!
Alasan si dedek brondong yang menjaga kios, magnet ini berbeda dari yang lainnya. Produsen magnet ini berasal dari Amerika sehingga harga magnet pun ikut terkatrol walaupun dibuatnya ya di Kamboja Kamboja juga. Sampai sekarang gw masih gagal paham apa hubungan orang Amerika sama harga magnetnya.

Sebelum kembali ke hotel, kami memutuskan untuk ngupi-ngupi cantik di The Blue Pumpkin, yang konon digadang-gadang sebagai salah satu café paling happening di Siem Reap, tempat ngumpulnya para ekspat. Didito, seperti biasa mencoba menu yang tampak aneh: Mango Melba, dengan rasa yang ternyata… juga aneh:mrgreen:
Vika tergoda eclairs yang ternyata biasa saja, sementara gw, karena belum ketemu kopi seharian itu, tentu saja memesan segelas cappuccino dingin. Mmm… kopi Kamboja memang mantap!

Dan akhirnya, kami menamatkan hari itu dengan bersantai sejenak di ruang makan hotel. Sementara Vika dan Dani menyantap cup indomie *seriously it was our indomie!* yang dibeli di salah satu convenience store di Pub Street, Didito menyeruput teh, gw berkali-kali bolak-balik ke mini bar untuk mengambil pisang. Hampir pukul 22:30, kami beranjak ke kemar masing-masing dan memulai packing. Besok sudah saatnya kembali ke tanah air.

Bok L'Hong Seller @Pub Street

Bok L’Hong Seller @Pub Street


Bok L'Hong - Cambodian Salad

Bok L’Hong – Cambodian Salad


Pancake Banana Seller #1

Pancake Banana Seller #1


Pancake Banana Seller #2

Pancake Banana Seller #2


Pancake Banana Seller #3

Pancake Banana Seller #3


Magic Stick Ice Cream

Magic Stick Ice Cream


Vika is feeling ~meh

Vika is feeling ~meh


Didito's Mango Melba @the Blue Pumpkin

Didito’s Mango Melba @the Blue Pumpkin

Pengeluaran:
.Samlor Korkoh Beef USD 4
.Lok Lak Beef USD 4
.Fried Mixed Vegetable with Shrimp USD 3
.Nasi Putih USD 0,50
We shared foods and rice so each shall pay USD 3
.Fresh Coconut USD 1 (Didito’s & Vika’s)
.Ice Cambodian Tea with Milk USD 0,75 (Dani’s)
.Ice Milo USD 0,75
.Magnet bakar USD 1,5
.Rubber fridge magnet USD 2,5
.Ice Cappuccino @the Blue Pumpkin USD 2,25
.Magic Stick Ice Cream USD 2
.Pancake Banana Nutella USD 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s