Siem Reap: Day 4 – Golden Temple Villa, Kloy Ratha the Tuktuk Driver & Heading Home through Kuala Lumpur

Minggu, 28 Desember 2014. Last day in Siem Reap and practically we didn’t visit any place. Agenda hari ini cuma satu: kembali ke Jakarta. Sama seperti saat keberangkatan, untuk sampai ke Jakarta kami harus transit di Kuala Lumpur.

***
The Hotel: Golden Temple Villa
Pagi hari dimulai dengan ritual seperti biasa. Mandi udah, packing beres, intip-intip kolong tempat tidur untuk lihat-lihat siapa tau ada barang yang ketinggalan juga udah, investigasi menyeluruh terhadap kamar mandi pun udah tamat. Maka jadilah sekitar pukul 5:30 gw dan Didito turun ke lobby untuk mengurus persoalan check out dan lain-lain yang diperlukan. Tak lupa pihak hotel menyerahkan paket sarapan kami berempat yang sudah tersedia dalam dua kantung plastik besar. Selesai check out, tiba-tiba mbak resepsionis mengangsurkan sebuah nampan yang diatasnya terdapat beberapa gulungan krama dalam berbagai pilihan warna. Ada hijau lemon, pink coral, merah marun, dan biru.
“Apa ini, Mbak?”
“Ini kenang-kenangan dari kami, silakan masing-masing ambil satu,” katanya.

Ooooohhh… gw dan Didito berpandang-pandangan, tak bisa berkata apa-apa. Hotel ini keren bin jempolan banget siiiiihhh!!! Udahlah kami selalu disediakan sarapan dalam kapasitas besar, eh ini pake acara kasih souvenir segala. Seumur-umur gw nginep di hotel atau hostel manapun belum pernah dikasih kenang-kenangan. Nggak peduli souvenir itu murah atau mahal, tapi usaha hotel itu memberikan pelayanan dan keramahan terbaik bagi para tamunya patut diacungi jempol. Seolah mereka mau menunjukkan ini lho keramahan rakyat Kamboja, soal harta mungkin kami kalah dengan negara ASEAN lainnya tapi soal keramahtamahan warganya boleh diadu.
Masih excited dengan kejutan krama, mbak-mbak resepsionis mengajak gw dan Didito untuk berfoto bersama. Aaaaawww… speechless lagiiiii…

Sejak awal menginjakkan kaki di hotel tempat kami menginap ini, gw sudah langsung jatuh hati terutama pada keramahan para petugas hotel. Mereka menyapa kami dengan semangat dan selalu tersenyum. Pada titik tertentu gw merasa cara mereka melayani kami terlalu berlebihan. Mungkin itu memang sudah standar prosedur operasional mereka atau pengaruh unsure budaya juga, tapi somehow kami merasa tidak enak hati diperlakukan seolah-olah kami adalah para raja dan mereka ‘jongos’nya. Gimana gw nggak bilang begitu coba, saat menerangkan segala sesuatunya pada kami, mereka akan berlutut di lantai sementara kami duduk di kursi.
Sementara mereka menjelaskan aturan-aturan hotel, keluarlah minuman lemon tea yang segar dan sepiring kecil kacang yang dihidangkan dalam wadah cantik, tak lupa disiapkan juga handuk kecil dengan wangi aroma terapi untuk menenangkan fisik kami yang lelah setelah menempuh perjalanan panjang. Tidak lama kemudian, kami sudah dipersilakan check in dan memasuki kamar masing-masing.

Kamar yang gw dan Didito tempati merupakan kamar yang diperuntukkan untuk 3 orang. Nuansa tradisional dengan warna oranye mendominasi ruangan. Tempat tidur diberi kelambu, dan dinding kamar dihiasi kerajinan tangan khas Kamboja.
Sebuah tv dan dvd player ditempatkan diatas meja kecil disamping lemari baju di samping pintu. Lemari bajunya pun sederhana, terbuat dari kayu biasa dan terdapat beberapa gantungan baju didalamnya. Gantungan bajunya pun bukan yang fancy, tapi gantungan baju rumahan yang terbuat dari kawat atau plastik. Diatas meja yang berfungsi sebagai meja rias, ditaruh beberapa informasi mengenai tur yang tersedia, juga kalimat-kalimat sederhana dalam bahasa Kamboja.
Untuk kamar mandinya sendiri, cukup bersih walaupun, lagi-lagi, tidak berfasilitas semewah hotel pada umumnya dan terlihat sudah cukup tua usianya. Selain kloset duduk terdapat pula bath tub. Soal toilet, concern gw memang lumayan riweuh. Gw harus bisa membersihkan diri seusai buang hajat dan itu harus bersih. Alhamdulillah kedua hal ini terpenuhi.

Golden Temple Villa merupakan hotel yang kami pilih setelah melalui diskusi dan penilaian yang cukup lama berdasarkan review dan testimoni para pejalan di internet. Seingat gw, selain Golden Temple Villa saat itu kami mempertimbangkan Golden Mango Inn yang juga punya rating tinggi. Namun setelah acara berpikir yang panjang, kami sepakat untuk menjatuhkan pilihan pada Golden Temple Villa, kalo nggak salah inget sih karena harga yang sedikit lebih murah daripada kandidat lainnya.
Dan terbukti pilihan kami sungguh tepat. Selain selisih harga, lokasi Golden Temple Villa termasuk bagus banget. Ke Angkor Night Market dan Pub Street tinggal jalan kaki sekitar 10 menit, itu juga jalannya jalan lumayan santai. Ke Angkor Archaelogical Park –tepatnya ke Angkor Wat- sekitar 30 hingga 35 menit dengan menumpang tuktuk. Ke Old Night Market sekitar 10 hingga 15 menit dengan tuktuk. Ke perkampungan muslim juga butuh waktu kurang dari 30 menit saja. Mereka juga menyediakan peminjaman sepeda dan pijat gratis selama satu jam.

Satu hal lain yang cihuy adalah sarapan yang mereka sediakan itu melimpah ruah banyaknya, walaupun soal rasa memang biasa aja. Model sarapannya cenderung bertipe western breakfast dan kita boleh memilih paket sarapan. Contohnya di hari ketiga ketika kami akan mengeksplor Angkor Wat, gw memilih telur mata sapi sementara Dani meminta scramble egg. Dan entah apakah ini efek jajahan Prancis, tapi mereka tak pernah absen menyertakan roti tongkat alias baguette dalam paket sarapan kami.
Sarapan ini pun bisa dibungkus untuk dinikmati di perjalanan. Kita tinggal bilang ke petugas hotel pada malam sebelumnya untuk menyediakan sarapan berisi apa saja *sesuai paket yang bisa dipilih*, esok harinya kita terima beres dan tinggal berangkat karena mereka sudah mengemas sarapan dalam styrofoam dan memasukkannya ke dalam kantung plastik. Begitu pula di hari terakhir ketika kami akan melaju ke bandara.

Dan setelah berfoto bersama mbak-mbak resepsionis dengan krama tersampir di pundak masing-masing, mbak resepsionis pun berkomentar mengenai penampakan fisik gw.
“Seperti orang Jepang,” katanya.
“Oya?” gw tidak heran dengan perkataannya, “Mata saya ya, Mbak?” karena mata gw memang sipit dan itu seringkali membuat orang-orang salah menduga.
“Bukan,” katanya. Lalu apa dong? “Giginya,” yakin si mbak resepsionis, “giginya seperti gigi orang Jepang.”

Golden Temple Villa #1

Golden Temple Villa #1


Golden Temple Villa #2

Golden Temple Villa #2


Golden Temple Villa #3

Golden Temple Villa #3


Golden Temple Villa #4

Golden Temple Villa #4


Golden Temple Villa #5

Golden Temple Villa #5


Golden Temple Villa #6

Golden Temple Villa #6


Golden Temple Villa #7

Golden Temple Villa #7


Golden Temple Villa #8

Golden Temple Villa #8


Golden Temple Villa #9

Golden Temple Villa #9


Golden Temple Villa #10

Golden Temple Villa #10


Golden Temple Villa #11

Golden Temple Villa #11

***
The Tuktuk Driver: Kloy Ratha
Menjelang pukul 6 pagi, Vika dan Ade turun dan setelah menerima krama masing-masing, kami pun berpamitan untuk yang terakhir kalinya pada staff hotel. Bang Ratha, yang sudah siap dengan tuktuk andalannya, dengan sigap membantu kami mengangkat koper, ransel, dan segala bentuk bawaan lainnya ke atas tuktuknya, dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga keseimbangan tuktuk tetap terjaga. Oh ya, untuk menuju Siem Reap International Airport, kami masih tetap menggunakan jasa baik Bang Ratha, dan ini atas kemauan dia sendiri lho, gratis pula!

Hmm… bener-bener nggak salah pilih tuktuk driver merangkap tour guide selama di Siem Reap ini deh. Jauh sebelum keberangkatan, kami memang sempat bingung mau pake jasa siapa untuk berkeliling Siem Reap. Ada beberapa tuktuk driver yang direkomendasikan para travel blogger yang bertebaran di internet. Selain itu, hotel tempat kami menginap pun menawarkan jasa paket tur yang cukup menggoda. Didito yang mendapat tugas untuk mengurus soal hotel dan tour guide selama di Siem Reap beberapa kali email-emailan dengan pihak hotel, hasilnya pihak hotel tidak bisa menyediakan customized tour sesuai itinerary kami. Masih sempat bingung apa mau ngikutin itinerary-nya hotel atau gimana, nggak tau kenapa kok gw *karena gw yang dapet jatah cari tour guide, Didito bagian bookingnya aja* balik lagi balik lagi ke Bang Ratha. Tiap buka google nyari tuktuk driver pasti nyampenya ke doi deh. Yasuds lah, mungkin ini namanya jodoh, akhirnya gw pun menyodorkan Bang Ratha ke forum. Karena udah punya tanggung jawab masing-masing dan udah mulai males cari-cari lagi, akhirnya diputuskanlah untuk pake si Bang Ratha ini. Didito pun buru-buru email si Abang, takut dia keburu di booking orang secara dia kan laris banget kayaknya yaaa…

Setiap saat di grup whatsapp, kami pasti menanyakan perkembangan si Abang pada Didito, udah ada jawaban atau belum, udah kayak nanya lamaran diterima atau ditolak *eh*
Ketika email pertama dibalas dan Didito melaporkan pada kami, we were like… yaudah Dit, sikat kabeh!!! *agak barbar memang, tapi terimalah kenyataan*
Dan terpilihlah Kloy Ratha sebagai tuktuk driver sekaligus tour guide kami.

Pertama kali ketemu, gw agak amazed dengan ekspresi wajahnya yang kelihatan polos. Dia menunggu kami di depan lobby hotel, mengenakan kemeja dan celana panjang berwarna putih agak kusam, tubuhnya tidak tinggi, bahkan sedikit lebih pendek daripada gw. Wajah polos dan perawakannya yang kecil dengan cepat mencuri hati kami, ditambah lagi senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya dan mata yang – menurut Dani- melelehkan batu yang paling keras sekalipun *asikasikasik*
Sambil memperkenalkan diri dia berkata bahwa sebenarnya dia sudah ada di depan hotel sejak pukul 08:30 pagi, padahal kami janjian pukul 10:00. Thus, dia sudah melihat kami yang tergopoh-gopoh menurunkan barang dari mobil dan ditinggalkan si supir penjemput yang cemberut.

Bang Ratha bicara bahasa inggris tidak terlalu lancar, tapi cukup untuk bisa berkomunikasi. Dia selalu antusias menanyakan apakah kami puas dengan hidangan Kamboja dan selalu bergabung bersama kami saat dia sudah menyelesaikan makan siangnya. Dia bahkan bertanya apakah kami dapat tidur dan beribadah dengan nyaman, dan tidak pernah terlihat kesal dengan tingkah polah kami. Sambil tertawa dia meminta agar kami mempromosikannya pada teman-teman sesama Indonesia dan kami menyemangatinya untuk belajar sedikit kata-kata dalam Bahasa Indonesia karena menurut kami itu bagus untuk bisnisnya. Kalimat pertamanya adalah ‘selamat pagi’ dan dia menyerah saat itu juga.

Dan seluruh kebaikannya itu terus berlanjut hingga saat-saat terakhir kami di Siem Reap.

Sebelum kami naik ke atas tuktuk, Bang Ratha memberikan kepada kami masing-masing sehelai krama dan kartu namanya. Tak lupa berpesan agar kami jangan melihat pemberiannya dari harganya dan syukur-syukur kalau kami mau membantu mempromosikannya pada pelancong lain. Oh tentu sajaaaaa, Kakak Rathaaa!!! Tanpa keraguan sedikit pun kami pasti sangat merekomendasikan orang Indonesia yang ke Siem Reap untuk menggunakan jasamu yang tiada tara!

Kami langsung sibuk dengan krama masing-masing, dan pastinya nggak lupa berfoto bersama Bang Ratha: the best tuktuk driver ever.

Dengan riang gembira kami memulai perjalanan pagi itu. Jalanan utama Siem Reap masih sepi, udara masih segar, dan Bang Ratha pun mengemudikan tuktuknya dengan kecepatan sedang. 20 menit kemudian kami sudah tiba di gerbang bandara. Dan Bang Ratha tetap melajukan tuktuknya masuk ke area bandara.
“Bang, serius nih boleh masuk?”
“Iye neng, neng tenang aje ye! Abang udah paham bener dah dimari.”
Dan benarlah, kami diturunkan persis didepan pintu keberangkatan. Beneran cakep deh Siem Reap!

Setelah menurunkan barang-barang, kami pun mengucapkan salam sampai jumpa lagi dengan Bang Ratha. Sungguh deh, nggak bakal nyesel pake jasanya si abang ini. USD 35 nett untuk pelayanan selama 2 hari yang memuaskan ditambah dianterin ke bandara gratis? Dan dilayani dengan penuh senyum, keramahan, dan kesabaran? More than worth it!

And this was us with Mr. Kloy Ratha or we addressed him ‘Bang Ratha’, yang selama perjalanan selalu kami sebut sebagai ‘temannya Didito, pilihannya Uke, persetujuannya Vika, demenannya Dani’ semata-mata karena Didito yang selalu kontak dengan Bang Ratha, gw yang memilih dia, Vika yang menyetujui, dan Dani yang ngegebet *eh*
Gw pribadi menganggapnya sebagai ‘nan cie pamainan mato’, alias orang yang dengan melihatnya timbul rasa sayang.

Before heading airport, with our tuktuk driver Mr. Kloy Ratha | highly recommended!

Before heading airport, with our tuktuk driver Mr. Kloy Ratha | highly recommended!


Mr. Kloy Ratha's name card | satisfaction guaranteed!

Mr. Kloy Ratha’s name card | satisfaction guaranteed!


Cambodian's Krama from Mr. Kloy Ratha & Hotel (the green-coral one)

Cambodian’s Krama from Mr. Kloy Ratha & Hotel (the green-coral one)

***
Sama seperti jalan raya yang kami lalui, Siem Reap International Airport pagi pukul 7:25 itu pun masih tampak lengang. Berhubung ini bandara mungil banget, dari tempat kami diturunkan Bang Ratha, hanya beberapa langkah saja kami sudah sampai di konter check in. Kami sebenarnya sudah melakukan web check in sebelumnya, jadi tujuan kami menghadap konter hanya untuk dropped baggage. Biarpun barang-barang kami bisa masuk kabin, tapi karena kami memang prepare membeli bagasi 20 kg, kami lebih memilih untuk memasukkan barang ke bagasi supaya langkah terasa lebih ringan.

Dari konter dropped baggage kami melipir sejenak mencari kursi untuk bisa menyantap sarapan yang dibungkuskan pihak hotel. Mine was a slice of banana pancake, grilled potato, baguette *and they put some butter too, of course* and fruit slices. Banana pancake-nya sendiri lebih mirip okonomiyaki daripada pancake karena tebal banget, sumpah deh makan pancake-nya aja udah kenyang banget itu. Belum lagi fruit slices-nya yang terdiri bukan dari sejenis buah aja, tapi lima jenis sekaligus! Nanas, papaya, buah naga, pisang, dan apel. Gw dan tiga serangkai berjuang keras berusaha menghabiskan makanan yang disediakan. Dan ditengah upaya memamah itu, tiba-tiba Vika berkata,
“Ya ampun, Ke! Tripod lo ketinggalan di hotel!”

Kesunyian tiba-tiba menyergap.

“Ya udah, Vik, lo ganti aja sama Joby Gorilla Pod,” I grinned.

Siem Reap, pagi hari - sepi

Siem Reap, pagi hari – sepi


Siem Reap, pagi hari - tenang

Siem Reap, pagi hari – tenang


Siem Reap International Airport

Siem Reap International Airport


Breakfast at Airport

Breakfast at Airport


Selesai sarapan, kami bergegas menuju pemeriksaan x-ray dan imigrasi. Berbeda dengan saat dropped baggage yang lancar jaya, proses x-ray dan imigrasi terhitung lama. Mengikuti ukuran bandara yang memang petite, pemeriksaan x-ray dilaksanakan hanya pada 2 konter. And what’ve took us so long adalah karena seluruh calon penumpang harus melepas semua yang melekat di badan, kecuali pakaian, tentu saja. And when I’m saying ‘semua’ that includes our shoes and belt. Sabuk pinggang oke lah, tapi sepatu? Soetta aja nggak begini-begini amat deh… berasa mau masuk Amerika aja *kata orang-orang yang pernah ke sono*.
Setelah mengantri pemeriksaan x-ray yang bener-bener makan waktu itu, kami langsung berhadapan dengan petugas imigrasi. Paspor diperiksa dan dicap, akhirnyaaa kami pun melenggang dengan terburu-buru menuju boarding room yang sebenarnya berjarak kurang dari 100 meter dari konter imigrasi. Jadi, jangan salah kira negara kecil seperti Kamboja punya tata cara cukai yang juga enteng ya… pengalaman membuktikan bahwa untuk mengantri pemeriksaan x-ray saja kami butuh waktu sekitar 20 menit karena mereka berupaya menjalankan semua prosedur sesuai aturan mereka.

Hanya menunggu beberapa menit di boarding room, panggilan untuk memasuki pesawat yang akan membawa kami ke Kuala Lumpur pun menggema. Pukul 08:35, pesawat Air Asia AK 543 lepas landas tepat waktu.

Siem Reap International Airport

Siem Reap International Airport


***
Siem Reap's sky

Siem Reap’s sky


Kuala Lumpur's sky

Kuala Lumpur’s sky


Kuala Lumpur's

Kuala Lumpur’s


Pesawat mendarat sempurna mendekati pukul 12 local time di klia2. Berhubung penerbangan kami bukanlah connecting flight, maka kami harus mengeluarkan bagasi dulu dan kemudian kembali mengulangi proses keberangkatan seperti biasa, mulai dari check in dan seterusnya. Kami punya waktu sekitar 3 jam hingga penerbangan kami berikutnya yang menurut jadwal akan lepas landas pukul 14:55. Secara teori, 3 jam harusnya cukup untuk melalui semua proses yang diperlukan. Nah prakteknya gimana? Ya pada prakteknya juga cukup kok… cukup untuk membuat kami rushing dari satu titik ke titik lain, berlari-lari kecil sradak-sruduk sambil geret-geret barang, hampir menyerupai peserta Amazing Race:mrgreen:

Seperti yang sudah banyak orang bilang, klia2 itu luas dan luasnya itu bener-bener yang bisa bikin kita agak panik kalau harus mengejar pesawat. Begitu turun dari pesawat yang membawa kami dari Siem Reap ke Kuala Lumpur, untuk menyelesaikan urusan imigrasi memakan waktu sekitar 30 menit. Mengambil bagasi dan drop baggage lagi kembali memakan waktu sekitar 30 menit. Menunggu Didito dan Dani ke kamar kecil ada kali sekitar 15 hingga 20 menit karena seluruh toilet penuh sehingga mereka harus mencari toilet yang nggak terlalu mengular antriannya. Begitu melihat Didito dan Dani muncul dari kerumunan orang, gw dan Vika serta merta bertanya mau makan siang di mana. Kami mengedarkan pandang ke seluruh penjuru level 3 klia2 dan akhirnya, karena Didito juga sangat ingin makan nasi lemak, pilihan pun jatuh pada Bibik Heritage yang menyediakan hidangan-hidangan peranakan.

Nggak mau mikir lama-lama, gw dan Vika memilih makanan dan minuman yang sama: Nasi Goreng Nyonya dan Teh Tarik hangat. Entah memang enak rasanya atau karena kami lapar, bagi kami nasi goreng berporsi besar dengan lauk yang mantap dan kuah gurih itu terasa pas di lidah. Teh tariknya pun terasa pas manisnya. Begitu pula dengan Didito dan Dani, sepertinya mereka juga merasa puas dengan menu masing-masing.

Nasi Goreng Nyonya & Teh Tarik @Bibik Heritage

Nasi Goreng Nyonya & Teh Tarik @Bibik Heritage

Kami berusaha menuntaskan makan siang secepat mungkin, dan langsung melanjutkan perjalanan menuju boarding room. Niat masih mau cari-cari oleh-oleh sama sekali nggak bisa dijalankan karena kami benar-benar sudah berkejaran dengan waktu. Dalam perjalanan menuju boarding room yang entah kenapa terletak di ujung dunia, karena belum mendirikan shalat kami pun segera berbelok ke mushala terdekat. Seusai shalat kami langsung berlarian lagi ke boarding room. Kami baru bisa bernafas lega setelah bergabung dengan calon penumpang lain yang sudah siap di boarding room. Sambil menunggu, Vika membuka-buka handphone dan masuklah bertubi-tubi whatsapp ataupun sms yang menanyakan posisi, keberadaan dan kabar kami. Nina bahkan sempat whatsapp dengan Vika, dan mengingat kondisi Nina yang sedang hamil tua, gw pun mengusulkan agar kami berfoto di boarding room dan mengunduhnya pada media sosial sekedar untuk menenangkan hati sahabat kami yang satu itu.

Hari kepulangan kami ke Jakarta memang bertepatan dengan hilangnya pesawat Air Asia QZ 8501 yang melayani rute Surabaya – Singapura. Pemberitaan massif di media membuat kami dan orang-orang terdekat merasa cukup khawatir dengan penerbangan kali ini. Apalagi di luar tampak awan tebal dan langit mendung, bahkan pesawat kami pun harus menunda penerbangan hingga hampir 40 menit lamanya hingga cuaca dirasa cukup baik.
Ketika akhirnya pesawat lepas landas, kalimat Senior Flight Attendant -seorang perempuan bersuara berat- saat menutup sesi penjelasan keselamatan penerbangan pun cukup membuat kami menciut. Baru kali itu gw mendengar seorang pramugari menyelipkan doa dalam kalimatnya.
“May God bless us all!”
Gw dan Dani berpandang-pandangan dan saling nyengir kikuk. Selama berada di ruang udara gw berusaha untuk tidak tidur tetapi fokus membaca doa. Kursi gw yang tepat berada di sebelah jendela tidak membantu, karena sepanjang perjalanan yang gw lihat adalah awan tebal berwarna kelabu, dan sepanjang perjalanan itu pula penumpang diminta untuk tetap memasang sabuk pengaman karena hampir selama berada di atas kami mengalami turbulence, sambil Senior Flight Attendant yang tadi terus menerus menutup kalimatnya dengan ‘may God bless us all’.

Alhamdulillah Allah be with us

Alhamdulillah Allah be with us


***
Setelah 2 jam mengarungi ruang udara antara Kuala Lumpur dan Jakarta, Alhamdulillah kami mendarat dengan selamat di Soekarno-Hatta. Begitu sampai di gedung utama bandara langsung saja kami mengabari our beloved ones bahwa kami sudah kembali safe and sound. Dan ternyata, yang merasa ciut nyali karena kalimat ibu-ibu Senior Flight Attendant bukan hanya gw dan Dani, Vika dan Didito pun merasakan hal yang sama. Walaupun untuk Dani punya cerita tambahan tersendiri.

Dani: “Itu mas-mas-nya yang ngomong ‘ai-ai yang lainnya’ ganteng!”, lapornya ketika sudah kembali mengenakan sabuk pengaman.
Gw: “Kok tau?”
Dani: “Kan dia ngetemnya deket wc”

Saat di pesawat Dani memang beberapa kali bolak-balik ke toilet. Dan memang beberapa kali kami mendengar permintaan dari kru pesawat agar penumpang mematikan ‘aipad, aifun, aipod, dan ai-ai lainnya’. Setibanya di darat, Dani pun antusias kembali menceritakan penemuannya pada Vika dan Didito.

Siem Reap Map

Siem Reap Map


the Travelling stuff

the Travelling stuff


Siem Reap & Kuala Lumpur souvenir beside the krama: Starbucks tumbler, Cambodian money and stamps, fridge magnets

Siem Reap & Kuala Lumpur souvenir beside the krama: Starbucks tumbler, Cambodian money and stamps, fridge magnets

Pengeluaran:
.Uang & perangko Kamboja for collection USD 13
.Hot Milo on board RM 6
.Nasi Goreng Nyonya @Bibik Heritage klia2 RM 13
.Teh Tarik @Bibik Heritage klia2 RM 4,5
.Taksi from Soetta to home IDR 75.000 (and I don’t know the rest because I was the one who was being dropped off first)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s