[Bangkok – Pattaya] Asiatique, Alcazar Cabaret Show & Nongnooch Village

This one was quite a short and sudden trip. We took only 3 days and 2 nights to visit some places at Bangkok and Pattaya, Thailand. This time I went with my colleagues from my previous unit. Bukan, bukan unit Bandung, tapi unit Kelapa Gading, dimana gw sempat bergabung selama 4 bulan sebelum akhirnya gw ditarik ke Kota dan mulai mengarungi hari-hari penuh kesepian di satu ruangan kecil di gedung tua seberangnya Stasiun Jakarta Kota😆

Jadi udah pada tau dong kalau saat di Kelapa Gading itu gw kembali menjadi dayang-dayangnya si Papih yang udah duluan meninggalkan Bandung. Nah si Papih ini dari jaman masih di Bandung udah kepengen banget membawa unit kerjanya ke Bangkok. Nggak tau ada kenangan apa tapi kayaknya si Papih kesengsem berat sama ibukota Thailand itu dan sangat berhasrat mau nonton kabaret ladyboy dan melihat-lihat kebun binatangnya.
Belum sempat membawa Bandung ke Bangkok, eh si Papih keburu di mutasi. Long story short, menjelang akhir tahun gw dikembalikan ke pelukan pelototan si Papih dan pas banget unit Kelapa Gading ‘dipaksa-paksa’ harus ke Bangkok. Emang deh si Papih kalo udah ada maunya… syusyeee:mrgreen: *salim sama si Papih*

Maka pada Jumat, 6 Maret 2015, berangkatlah gw dan rombongan Kelapa Gading menuju Bangkok, seperti biasa menggunakan Air Asia, kali ini dengan nomor penerbangan QZ 256. Lepas landas tepat waktu pukul 12:55 dan sekitar pukul 16 mendaratlah kami di Don Mueang International Airport.

Asiatique
Sesuai itinerary yang dibuat oleh travel, dari bandara kami langsung menuju Asiatique dan dilanjutkan dengan makan malam. Asiatique ini, menurut gw, sebenarnya merupakan pusat perbelanjaan dengan konsep terbuka, dipadu dengan sentuhan kuliner. Ya standar mall sih sebenarnya, tempat buat belanja, makan-makan, atau sekedar jalan-jalan melepas penat. Cuma letaknya yang dipinggir sungai Chao Phraya dan di alam terbuka memberikan nilai tambah berupa kenyamanan dan rasa santai yang lebih bila dibandingkan dengan mall-mall dalam gedung tertutup.
Secara umum, barang-barang yang ditawarkan di Asiatique nggak beda jauh sama barang-barang yang dijajakan di Chatucak atau MBK. Tapi sepertinya Asiatique menawarkan kualitas yang lebih baik dibandingkan 2 tempat itu, maka wajar saja kalau harganya lebih tinggi dibandingkan barang yang sama yang dijual di Chatucak atau MBK.

Gw pribadi nggak beli apapun disini karena terlalu sibuk digiring ke sana ke mari oleh para perempiwi. Sempat pengen beli magnet kulkas untuk menambah koleksi, tapi nggak ada yang bagus jadi ya wassalam.
Oiya kalau mau beli souvenir khas Thailand, ada satu toko yang cukup lengkap, barangnya bagus-bagus, harganya oke dan penjaga tokonya lumayan bisa berbahasa Indonesia dan sedikit bahasa Sunda, terbukti ketika gw bertanya “sabaraha ieu, Mang?”, dia menjawab sesuai pertanyaan.
Kalau kita masuk dari gate Soi 2, tokonya itu terletak di sisi kiri dan merupakan toko pertama yang menjual segala macam souvenir standar khas Thailand, jadi kalo cari cushion dengan sulaman gajah dipenuhi manik-manik atau table runner ya nggak ada ya… Cuma kalo printilan untuk sanak saudara yang tak terhitung jumlahnya sih oke lah, macamnya dompet koin, tempat pensil, cermin, gantungan kunci, tas dengan bordir bunga berwarna-warni, tempat kartu nama, asbak, atau printilan lain yang gw nggak tau apa kegunaannya.

Alfi & Mirma di depan Gate Soi 2 Asiatique, sebelum kalap menghabiskan isi dompet

Alfi & Mirma di depan Gate Soi 2 Asiatique, sebelum kalap menghabiskan isi dompet

Alcazar Cabaret Show
Hari kedua di Thailand diawali dengan berlayar di Chao Phraya dan memberi makan ikan suci bagi umat Buddha, dilanjutkan ke Wat Arun untuk belanja *bukan untuk mengunjungi Wat Arunnya ya… Wat Arun saat ini sedang dalam tahap renovasi*, langsung ke Madame Tussauds di Siam Discovery, makan siang, dan langsung cuuuuusss ke Pattaya. Sebelum sampai ke Pattaya kami dimampirkan dulu di toko madu. Sesuai namanya, toko madu yang katanya berada di bawah pengawasan langsung kerajaan ini menjual berbagai macam produk dari madu seperti royal jelly, bee pollen, dan propolis.
Sepertinya turis asal Indonesia lah yang paling banyak dimampirkan ke sini, terbukti dari tulisan ‘selamat datang’ terpampang di pintu masuk dan mbak SPG-nya yang ternyata orang Indonesia asal Surabaya. Dari penjelasan mbak SPG gw baru tau kalau ternyata propolis itu anti biotik dan karenanya baru dapat diminum ketika seseorang mulai merasakan gejala kurang enak badan, jadi bukan suplemen yang dikonsumsi setiap hari. Juga bahwa untuk minum madu, kita harus menggunakan sendok plastik dan bukan sendok logam yang biasa kita gunakan untuk makan karena logam akan menghilangkan khasiat madu.
Gw dan teman-teman menunaikan shalat dzuhur dan asar di toko madu. Alhamdulillah mereka menyediakan mushala yang cukup layak dan Alhamdulillah juga toiletnya pun toilet basah yang berarti gw bisa cebok *penting banget*

Menuju Wat Arun #1

Menuju Wat Arun #1


Menuju Wat Arun #2

Menuju Wat Arun #2


Menuju Wat Arun #3 - sudah tampak dari kejauhan, sayang sedang direnovasi

Menuju Wat Arun #3 – sudah tampak dari kejauhan, sayang sedang direnovasi

Dari toko madu, kami melanjutkan perjalanan ke Pattaya, langsung makan malam dan pukul 19:30 buru-buru ke tempat akan dilangsungkannya the infamous ladyboy cabaret Alcazar Cabaret Show. Pertunjukan dimulai pukul 20:00, jadi kami masih punya waktu 10 hingga 15 menit untuk melihat-lihat. It was my first experience *and for most of my colleagues, too, perhaps* watching this kind of entertainment.

Dari dalam bus, gw melihat sudah banyak pengunjung berkerumun di sekitar para penampil. Para bintang pertunjukan itu tampak sangat mencolok mata dengan kostum mewah dan riasan tanpa cela. Tubuh ramping cenderung kurus dan kulit mulus bagai porselen, sungguh cantik! Semua mata tertuju pada mereka, berdecak kagum dan iri *terutama yang udah perempuan sejak lahir*:mrgreen:
Begitu menerima tiket, kami langsung masuk ke ruang pertunjukan sambil memegang gelas minuman yang dibagikan gratis, dan duduk sesuai nomor kursi yang tertera di tiket. Tepat pukul 20:00 pertunjukan pun dimulai.

Para ladyboy tampil bergantian. Menari dan menyanyi dengan kostum-kostum yang indah menawan dan tata panggung yang ciamik, sangat-sangat menghibur. Busana yang mereka kenakan tampak mewah dan di saat yang sama juga menimbulkan kesan ribet karena sebagian besar merupakan tipe busana bertumpuk-tumpuk atau layering dengan hiasan mahkota bling-bling atau bulu-bulu atau sayap-sayap di mana-mana, belum lagi sepatu dengan hak lancip super tinggi, gw takut tiba-tiba mereka keserimpet atau terjatuh… which they didn’t! *tepuk tangan*

Mereka menari dan menyanyi bermacam-macam lagu dari beberapa negara di dunia. Ada lagu dan tarian ala India, Russia, Prancis, Korea, hingga Melayu. Kenapa gw bilang Melayu adalah karena mereka menari dengan gerakan menyerupai tari Saman, tapi panggung berlatar belakang Rumah Gadang dan diiringi lagu yang dinyanyikan Siti Nurhaliza, sang diva asal negara tetangga. Terkadang mereka turun ke tempat penonton dan mengajak menyanyi bersama. Tapi sepertinya tak pelak lagi yang jadi fokus utama para penonton hanyalah kecantikan wajah dan kemolekan tubuh para ladyboy. Gw bahkan sering lupa bahwa para penampil itu aslinya terlahir sebagai laki-laki tulen, saking cantik dan luwesnya mereka menari. Dan gw kagum dengan perjuangan mereka bertahan hidup. Mereka mungkin terlihat ceria, selalu senyum, cantik manis molek jelita, tapi siapa yang tau apa yang sebenarnya mereka rasakan? Tidak mudah menjadi seorang ladyboy karena yang gw dengar persaingannya sangat tinggi.
Di antara para penonton, yang paling semangat itu turis-turis asal Korea dan India. Ketika cabaret menampilkan lagu-lagu dan tarian dari negeri mereka, mereka turut bernyanyi dan berjoget dari kursinya masing-masing.

Ini pemandangan pertama yang menyambut kami saat turun dari bus

Ini pemandangan pertama yang menyambut kami saat turun dari bus


Alcazar #1 - all the bro ready to watch the show

Alcazar #1 – all the bro ready to watch the show


Alcazar #2 - set the fire! let's get the party started!

Alcazar #2 – set the fire! let’s get the party started!


Alcazar #3

Alcazar #3


Alcazar #4

Alcazar #4


Alcazar #5

Alcazar #5


Alcazar #6

Alcazar #6


Alcazar #7

Alcazar #7


Alcazar #8

Alcazar #8


Alcazar #9

Alcazar #9


Alcazar #10

Alcazar #10


Alcazar #11

Alcazar #11


Alcazar #12 - end of show | thank you for being so much entertaining!

Alcazar #12 – end of show | thank you for being so much entertaining!

Cabaret selesai pukul 21:15, dan sebelum pertunjukan berikutnya dimulai pukul 21:30, di luar ruangan ratusan pengunjung segera mengerumuni para ladyboy yang tadi tampil. Sebagian besar meminta berfoto bersama. Untuk satu kali foto, pengunjung harus membayar 40 baht. Tapi itung-itungannya agak lucu nih… maksudnya begini, kalau gw sendiri minta foto sama seorang ladyboy, gw harus membayar 40 baht. Gw foto bersama dua orang ladyboy, gw harus membayar 80 baht. Sementara kalau gw dan seorang teman gw, misalnya, berfoto dengan seorang ladyboy, masing-masing harus membayar 40 baht ke ladyboy itu.

Dan ini dia ladyboy favorit gw, mirip banget sama Sandra Dewi. Dan cantiknya cantiiiiiiiiikkk banget… walaupun teteup yaaa, seperti ladyboy lainnya, gw pikir kurusnya kebangetan sehingga nggak imbang sama payudaranya yang dibentuk sebesar itu. Iya cantik, tapi nggak seksi ah! Hihihi… *lha bilang aja lo iri, Ke!*😆😆😆

Mbakbro Ladyboy Kesayangan

Mbakbro Ladyboy Kesayangan

Nongnooch Village
Hari terakhir di Thailand dimulai dengan kunjungan singkat ke Lasser Buddha dan dilanjutkan ke Nongnooch Village. Ada dua pertunjukan yang kami nikmati di Nongnooch Village. Yang pertama, pertunjukan panggung mulai dari tarian tradisional Thailand, musik tradisional Thailand, pertarungan Muay Thai, hingga cerita pertempuran dimana para panglima perang bertempur dari atas gajah masing-masing. Dan ketika meninggalkan pertunjukan, para gajah pun turut meninggalkan kotoran mereka di panggung *eh*
Walaupun tidak semegah Alcazar, pertunjukan seni tradisional ini lumayan menghibur. Oya, mungkin karena hitungannya sederhana juga, nggak ada nomor kursi bagi para penonton dan nggak ada pendingin ruangan. Pertunjukannya sendiri memang semi terbuka. Jadi nontonnya lumayan lah sambil kipas-kipas setelah rebutan kursi sama pengunjung lain.

Begitu selesai menikmati pertunjukan yang disajikan oleh sesama manusia, kami beranjak pada pertunjukan yang dipersembahkan oleh para gajah. Para gajah ini dilatih untuk melakukan berbagai macam kegiatan dan di pertunjukan inilah mereka menampilkan kebolehannya. Mulai dari memasukkan bola ke gawang, melakukan tembakan bola basket ke keranjang, mengendarai kendaraan yang didesain khusus untuk mereka, memijat, hingga melukis. Overall gw seneng banget dengan pertunjukan ini. Mungkin karena pada dasarnya gw suka melihat wajah gajah yang tampak seperti selalu tersenyum, walaupun kalau ingat bagaimana mereka disiksa untuk bisa melakukan ini itu sungguh bikin sedih.
Di akhir pertunjukan, gw pun tergoda untuk berfoto bersama si gajah. 100 baht for 3 pose. Hihihi… lucu rasanya memeluk si gajah yang kulitnya kasar dan berkeriput-keriput itu.

Lasser Buddha - Pattaya

Lasser Buddha – Pattaya


Traditional Art Show #1 - Nongnooch Village

Traditional Art Show #1 – Nongnooch Village


Traditional Art Show #2 - Nongnooch Village

Traditional Art Show #2 – Nongnooch Village


Traditional Art Show #3 - Nongnooch Village

Traditional Art Show #3 – Nongnooch Village


Traditional Art Show #4 - Nongnooch Village

Traditional Art Show #4 – Nongnooch Village

The Food and the Souvenirs
Jujur selama di Bangkok dan Pattaya kali ini gw nggak mencoba banyak jenis makanan. Gw dan beberapa rekan yang juga hobi makan hanya sempat mencicipi Mango Sticky Rice dan sebuah jenis pancake. Niat mulia pengen minum Thai Tea yang murah meriah dan enak bin menyegarkan juga harus kandas karena sepanjang perjalanan, kami sekalipun tidak menemukan abang-abang penjual minuman ini.

Mango Sticky Rice yang pertama kami coba adalah yang dibeli Onni di Asiatique. Jadi jangan tanya berapa harganya ya, karena gw cuma tau minta dan melahapnya secara cuma-cuma. Kalo gw nggak salah inget sih sekitar 100 baht gitu deh. Rasanya? Tentu saja enak!
Mango Sticky Rice ini cemilan khas Thailand yang terdiri dari ketan putih yang terasa manis gurih, diberi topping semacam santan manis gurih juga yang tidak kental tapi juga tidak encer, dan dimakan bersama irisan mangga yang manis dan lembut. Bisa dibilang ini jajanan rakyat, karena mudah sekali ditemukan dimanapun, dengan harga bervariasi.
Gw membeli di dekat tempat pertunjukan Thai Girl Show di Pattaya seharga 50 baht, sementara di Don Mueang International Airport harganya meroket tajam menjadi 180 baht.

Usai menikmati Mango Sticky Rice, gw dan rombongan yang nggak nonton Thai Girl Show melanjutkan perjalanan menyisiri jalan di Pattaya dan berhenti di depan seorang pedagang kaki lima. Itulah si abang-abang penjual pancake yang kami cari-cari. Abang-abang berparas Asia Selatan dan ternyata berasal dari Bangladesh itu segera membuat pesanan kami: sebuah pancake tanpa potongan buah pisang. Adonan pancake dibuat lebar setipis mungkin, persis seperti membuat martabak, lalu dimatangkan diatas wajan bundar pipih. Dalam proses mematangkan adonan roti tadi, sebutir telur dipecahkan diatasnya. Tunggu hingga matang, lipat-lipat pancake, siram dengan susu kental manis, and there you have it!
And it is reaaaaally good. Yum!

Mango Sticky Rice

Mango Sticky Rice


Roti Pancake Abang-abang Bangladesh

Roti Pancake Abang-abang Bangladesh

And now is the souvenirs turn.

Nestea Thai Tea - 90 baht @Asiatique

Nestea Thai Tea – 90 baht @Asiatique


Bags - 400 baht for 6 pcs @Wat Arun

Bags – 400 baht for 6 pcs @Wat Arun


Brooches - 150 baht for 2 pcs @Wat Arun

Brooches – 150 baht for 2 pcs @Wat Arun


Bracelet - 100 baht each @Wat Arun

Bracelet – 100 baht each @Wat Arun


Tempat Kartu Nama - 50 baht @Wat Arun

Tempat Kartu Nama – 50 baht @Wat Arun


Table Runner - 500 baht @Wat Arun

Table Runner – 500 baht @Wat Arun


NaRaYa bag - 320 baht

NaRaYa bag – 320 baht


Starbucks Tumbler - 420 baht each

Starbucks Tumbler – 420 baht each

• Benda pertama yang gw beli adalah Nestea Thai Tea di salah satu kios di Asiatique. Sama sekali nggak tau nama kiosnya, pokoknya dia jualan segala macam jenis makanan kering mulai dari manisan buah yang dikeringkan sampai segala jenis varian pocky. Tokonya dipadati pengunjung yang mungkin, gw sadari kemudian, harganya yang lebih rendah daripada toko sejenisnya. Sejak sebelum keberangkatan gw emang udah ngincar banget Nestea Thai Tea yang katanya enak banget ini. Dan ternyata beneran enak! Nyesel banget cuma beli 2 pak. Mister Babeh ternyata doyan dan bahkan menganggapnya lebih enak daripada teh tarik kesukaannya yang dibawa jauh-jauh dari negeri tetangga. Nyonya Besar di awal-awal menolak minum karena melihat warnanya yang seperti jamu atau bahkan pewarna tekstil *efek kebanyakan nonton Reportase Investigasi*, eh sekarang jadi ketagihan. 1 pak Nestea Thai Tea berisi 13 sachet dan dihargai 90 baht. Di toko sebelah dihargai 100 baht, dan di toko terakhir yang kami singgahi dalam perjalanan ke bandara di hari terakhir dihargai 120 baht. I was so lucky Alhamdulillah. And what value the most is they are halal certified. Ayeaaaaayyy!
• Judulnya aja sih ke Wat Arun. Tujuan utamanya sebenarnya ke kios-kios yang menjual berbagai macam souvenir di samping Wat Arun. Di sini gw beli tas kecil dengan motif gajah bermanik-manik sebagai buah tangan untuk The Darlings di tanah air, 6 buah tas mentok di harga 400 baht dan udah nggak bisa turun lagi. Lebih mahal daripada di Asiatique, di mana sebuah tas dibuka dengan harga 80 baht dan turun hingga 50 baht.
• Masih di Wat Arun, gw melipir ke lapak lain yang tampak lebih sepi namun ternyata menawarkan barang dengan harga lebih murah dibandingkan toko sebelah, dan sepertinya justru punya kualitas barang yang lebih baik juga. Sebuah gelang dihargai 100 baht, sebuah tempat kartu nama dihargai 50 baht, dan sebuah bros berbentuk gajah dihargai 80 baht, tapi kalo beli dua didiskon jadi 150 baht. Di toko sebelah, bros yang sama dengan kualitas sedikit dibawahnya dihargai 100 baht dan nggak bisa turun lagi.
• Now that I being a little bit addicted to Starbucks tumbler I begin to collect it every time I go abroad. Dalam perjalanan menuju Madame Tussauds gw menyempatkan diri mampir ke Starbucks dan di sana gw membeli beberapa tumbler untuk koleksi. Sebuah tumbler dihargai 420 baht. Di bandara, Starbucks menjual sebuah tumblernya dengan harga 450 baht.
• Somehow gw bersyukur gw membeli tumbler Starbucks bertuliskan ‘Pattaya’ di Bangkok karena agak sulit menemukan gerai Starbucks di Pattaya. Selain tumbler bertuliskan ‘Bangkok’ dan ‘Pattaya’, ada juga tumbler yang bertuliskan ‘Phuket’ dan ‘Chiang Mai’. Tapi karena gw tidak mengunjungi kedua tempat tersebut, ya gw nggak beli tumbler-nya lah.
• Seusai makan siang, gw menemukan konter NaRaYa dan being the impulsive me, I bought a simple yet beautiful brown-colored bag for 320 baht and I think it’s so worth it that I regret I didn’t buy more beautiful bags. Now I promise I should go to NaRaYa every time I go to Thailand. Even my mom falling in love with the bag. Enuff said.
• Buat gw, paling susah itu cari oleh-oleh buat para laki-laki di rumah alias buat Mister Babeh dan Bayi Gorila. Paling aman emang beliin mereka kaus atau polo shirt, tapi seleranya agak susah ditebak dan kalo buat Bayi Gorila ada lagi tambahannya. Sesuai namanya, I need to find an extra extra extra large shirt for the baby bro dan itu lumayan pe-er juga. Alhamdulillah ketemu kaus yang yah lumayan lah daripada lumanyun di toko terakhir dalam perjalanan ke bandara. I bought 2 shirts for 200 baht each. Please, don’t ask for the quality.
• Somehow gw nggak ketemu fridge magnet yang menarik bentuknya dan bagus kualitasnya di Asiatique dan Wat Arun, but I found some at Madame Tussauds souvenir shop. Fridge Magnet yang dijual di Madame Tussauds souvenir shop memang berbeda dari yang gw lihat di Asiatique atau Wat Arun, lebih menarik dan kualitasnya pun lebih baik, harganya pun berbeda. 100 baht untuk sebuah magnet. Ada harga ada rupa berlaku di sini. Agak menyesal tidak membelinya karena di toko souvenir di Nongnooch Village, magnet yang sama dijual dengan harga 120 baht tiap buahnya.

So that’s all for Bangkok – Pattaya story. What’s next?😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s