[Parapat – Medan] Makan-makan & Cindera Mata

 

Just a short, simple post on what we ate *and shopped* in Medan – Parapat Trip. Enjoy reading!

SAMSUNG CSC

Lontong Sayur Medan – berbeda dengan Lontong Sayur Betawi dan Lontong Sayur Padang yang terbilang minimalis dalam hal isi, Lontong Sayur Medan bisa dibilang cukup meriah dengan irisan labu siam, wortel, kacang panjang, telur balado, rendang daging, kering tempe teri kacang, kacang tanah goreng, dan disiram sayur nangka kuah kuning. Hal lain yang membedakan adalah penggunaan tauco medan dan tiadanya kerupuk merah. Ada banyak modifikasi isi Lontong Sayur Medan, seperti yang gw makan di Warung Alam Ndeso dalam perjalanan dari Bandara Kualanamu ke Parapat. Mi goreng, kering kentang, tekoka, kulit tangkil, buncis, perkedel, dan telur balado adalah racikan Lontong Sayur Medan yang gw santap.

SAMSUNG CSC

Roti Ganda isi selai srikaya IDR 18.000 – toko roti Ganda yang sangat tersohor ini terletak di Jalan Sutomo, Pematang Siantar. Tak sah rasanya jika tak singgah ke toko ini dan mencicipi roti dengan old-school style *coba bayangin roti Tan Ek Tjoan atau Lauw* yang disajikan dengan isian selai srikaya atau mesjes coklat dan krim putih. Begitu memasuki toko, harum roti memenuhi rongga hidung. Kue-kue yang dijual disini pun masih mempertahankan gaya lama, mungkin seperti Sakura Anpan kalau di Jakarta. Sayangnya, toko roti yang berdiri sejak tahun 1979 ini belum mengantongi sertifikat halal.

SAMSUNG CSC

Lemang Pulut Asli Tebing Tinggi IDR 25.000 untuk bambu kecil – masih di Pematang Siantar, Uci mengajak kami membeli lemang pulut di satu sudut pasar. Pulut alias beras ketan, di Tapanuli Selatan dan Pontianak digunakan sebagai pengganti ketupat. Lemang Pulut, adalah beras ketan yang dilapisi daun pisang dan dimasukkan ke dalam wadah bambu alias lemang, kemudian di bakar. Rasanya hampir sama dengan lamang tapai di Minang, sama-sama gurih namun dengan rasa asin yang lebih dominan daripada lamang tapai Minang.

SAMSUNG CSC

Sate Memeng Mang Ayeb – terletak di Jalan Irian Barat, sate yang sudah ada sejak tahun 1945 merupakan salah satu tujuan utama si Tante bernostalgia di Medan. Di warung kecil yang selalu ramai ini ditawarkan sate ayam, sate kambing, sate sapi, dan menu lainnya seperti Mie Rebus Medan. Ada 5 tusuk sate dalam satu porsinya. Yang gw suka, satenya benar-benar terdiri dari daging, daging, dan daging, tanpa jeroan. Potongannya pun besar dan empuk. Tapi yang cukup istimewa adalah bumbu kacangnya. Rasanya beda aja dari bumbu kacang sate pada umumnya, benar-benar enak dan mantap, belum lagi taburan bawang goreng yang melimpah. Such a perfect dinner we had!

Mie Rebus Medan – sementara gw memilih sate ayam, Nyonya Besar berkeingingan mencicipi Mie Rebus Medan yang ada dalam menu Sate Memeng Mang Ayeb. Mie Rebus Medan ini, ternyata disebut juga sebagai Mie Keling karena konon berasal dari peranakan India. Kuahnya hitam pekat dan kental dan terbuat dari udang yang digiling. Sementara untuk mie-nya, mie-nya kenyal dan agak besar, dengan campuran tauge, telur rebus, bawang goreng, irisan daun seledri, tahu cina, kentang kukus (yang kemudian di goreng), dan disajikan dengan kerupuk. Rasanya? Sama seperti sate-nya, Mie Rebus Medan ini pun sama endeuuuss, walaupun porsinya memang nggak terlalu mengenyangkan.

SAMSUNG CSC

Mie Balap – sebenernya ini sama aja dengan bihun goreng dan kwetiau goreng yang bisa kita temui dimanapun. Yang bikin beda itu mungkin pembuatannya ya. Pembuatannya sangat cepat, makanya dikasih nama Mie Balap. Tapi jangan salah, rasanya bener-bener enak. Somehow pas aja gitu racikan bumbu-bumbunya. Tenar sebagai sarapan masyarakat Medan, dan dimakan dengan sate kerang yang ternyata, lumayan enak juga rasanya *but still sate kerang is not my cup of tea* *tapi Jeng Kue Seus suka banget si sate kerang ini* *bukan info penting, abaikan*:mrgreen:

SAMSUNG CSC

Restoran Tiptop – ini mungkin salah satu restoran paling tua di Medan, berdiri sejak tahun 1929 dengan nama Jangkie dan menjadi tempat kongkow kaum ekspatriat pada zamannya. Menu istimewanya adalah bitterballen, bistik, dan ice cream cake *yang mana menurut gw sih nggak ada yang istimewa dengan rasanya*. Hal lain yang menyenangkan adalah, rest room a.k.a toilet mereka bersih!

Soto Sinar Pagi IDR 25.000 – terletak di Jalan Sei Deli, menyajikan soto medan dengan daging sapi ataupun daging ayam yang melimpah lengkap dengan 2 buah perkedel dan peyek udang yang sangat crunchy dan enak. Recommended!

Merdeka Walk – ke sini karena di ajak Uci dan Iqbal, adiknya, nggak makan apa-apa sih kecuali ngemil Roti Tissue dan Pancake Durian, cuma pengen tau tempat gaul paling heits seantero Medan.

Durian Ucok & Pancake Durian Pelawi – mungkin gw datang ke Medan di saat yang kurang tepat ya… tapi bagi gw rasanya durian Bang Ucok ini tidak terlalu istimewa. Anyway kalo untuk pancake durian yang dibawa ke Jakarta, gw beli di Pancake Durian Pelawi sebelum ke Bandara Kualanamu. Soal rasa ya sebelas duabelas lah sama Pancake Durian Nelayan.

Bolu Meranti – siapa yang nggak kenal bolu gulung Meranti? Konon kurang sah berkunjung ke Medan kalau pulang tanpa Bolu Meranti. Bolu gulung sederhana yang buat gw sih nggak istimewa banget ya… ya sebagaimana rasa kue bolu pada umumnya aja, kecuali topping-nya yang gw akui, nggak pelit sama sekali.

Bika Ambon & Lapis Legit Zulaikha – satu lagi makanan khas Medan selain Durian Ucok dan Bolu Meranti yang sering kita lihat ditenteng wisatawan di Bandara Kualanamu atau Polonia dulu. Gw pada dasarnya biasa aja sih sama bika ambon, tapi untuk yang satu ini kekecualian deh. Dan ternyata, lapis legitnyaaa… juga enaaakk!!! Baik bika ambonnya maupun lapis legitnya, rasa manisnya pas dan nggak bikin gatel tenggorokan.

Kaos “Medan Bah” – menjadi satu dengan Durian Ucok, gambar kaos “Medan Bah” cukup menarik dan catchy, pilihannya juga banyak. Harganya reasonable dengan kualitas bahan yang oke. Sayangnya, ownernya *atau penjaga tokonya ya?*, seorang pemuda bertubuh gempal, kurang ramah dalam melayani pembeli.

Kaos “Tauko Medan” – dibandingkan dengan toko tetangga, gambar kaos “Tauko Medan” lebih sederhana dengan bahan yang lebih tipis. Tapi, kebalikan dari toko tetangga, para abang dan kakak “Tauko Medan” ini cukup ramah pada pembeli.

And the last… oleh-oleh yang di beli di pinggir jalan dekat Pasar Peringgan dalam perjalanan ke Bandara Kualanamu: Jambu Bangkok! Super enak dan crunchy! Nyesel banget cuma beli setengah kilo! Maafkan nggak ada fotonya, karena begitu beli langsung habis di santap selama perjalanan ke Bandara:mrgreen:

So it’s a wrap! Mauliate Godang, Medan!

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s